Tujuan – Penelitian ini menganalisis bagaimana Syafiq Basalamah, penceramah Salafi, membingkai ketaatan kepada pemimpin Indonesia di Instagram.Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis framing Gamson dan Modigliani terhadap tujuh unggahan akun @syafiqrizabasalamah_official, dipilih secara purposif dari periode 1 Agustus - 5 September 2026 yang berkaitan dengan pemimpin atau pemerintah. Unggahan ditranskripsikan dan dikode berdasarkan framing devices dan reasoning devices, lalu disintesis menjadi bingkai inti (core frame).Temuan – Ketaatan kepada pemimpin dibingkai sebagai kewajiban agama yang bersyarat, bukan “taat buta”, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ketaatan disertai doa dan nasihat lembut, sedangkan kritik keras tidak dianjurkan. Kesulitan sosial dan ekonomi lebih dikaitkan dengan kondisi moral masyarakat daripada kebijakan pemerintah. Tidak ada unggahan yang mengkritik kebijakan tertentu, sehingga menurut pembacaan peneliti kebijakan merugikan yang bukan maksiat tidak memiliki kanal respons yang jelas.Keterbatasan penelitian/implikasi – Penelitian ini hanya mencakup tujuh unggahan dari satu penceramah pada satu platform dan menganalisis konten, bukan resepsi khalayak, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi. Penelitian selanjutnya perlu melibatkan penceramah dan platform lain serta respons khalayak.Implikasi praktis – Temuan dapat menjadi bahan literasi media digital untuk membantu khalayak membedakan kewajiban agama, doa, dan kritik kebijakan melalui kanal yang sah.Orisinalitas/nilai – Kajian terdahulu tentang media sosial Syafiq Basalamah berfokus pada isi pesan dakwahnya. Penelitian ini menerapkan analisis framing secara khusus pada pesan ketaatan kepada pemimpin dalam konten ringkas pendakwah Salafi populer.
Copyrights © 2026