Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

False realities: Hoaxes on the Palestine–Israel conflict in Indonesia’s digital media Abiano Al Affan
Priviet Social Sciences Journal Vol. 6 No. 4 (2026): April 2026
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v6i4.1431

Abstract

Hoaxes are among the major digital challenges with the potential to erode national values. The significant impact of hoax content has drawn the attention of many parties to further explore this issue. One of the most discussed topics in recent times is the Palestine–Israel conflict. Studies on hoax content related to the conflict on Indonesian social media remain limited. This study aims to examine which platforms are most frequently used in disseminating hoax content, identify the dominant themes, and analyze how hoax content constructs false realities based on McCornack’s (1992) Information Manipulation Theory (IMT). Content analysis and semiotic analysis were employed as the research methods. Data were obtained from hoax news reports published on the official government website (www.komdigi.go.id). The findings reveal that Facebook is the platform with the highest prevalence of hoax content, followed by TikTok, Instagram, X, WhatsApp, and YouTube. The military theme dominated, followed by humanitarian, political, religious, and other themes. The construction of hoax content aligns with IMT, demonstrating violations of quality, quantity, manner, and relevance. These findings contribute to a deeper understanding of how digital hoaxes operate in conflict-related contexts and provide insights for digital media practitioners in designing effective hoax mitigation strategies.
DARI KRITIK MENJADI PANIK: ANALISIS NARASI KONTEN INFLUENCER TENTANG PONDOK PESANTREN TRADISIONAL Abiano Al Affan
Bayan lin-Naas : Jurnal Dakwah Islam Vol. 10 No. 1 (2026): Bayan Linnaas Vol. 10 No.1 2026
Publisher : Fakultas Dakwah Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28944/bayanlin-naas.v10i1.2680

Abstract

Criticism on social media toward traditional pondok pesantren has the potential to influence public opinion, particularly when voiced by influencers with large followers. This study aims to analyze the narrative construction presented in contents of two influencers, Guru Gembul and Herri Pras, who criticize traditional pondok pesantren. Research employs qualitative approach using narrative analysis of YouTube video contents produced by both influencers throughout 2025. Analysis focuses on narrative structure, narrative functions and characters, narrator positioning, and interpretation based on Stanley Cohen’s Moral Panic Theory. Findings reveal that the narratives constructed by both influencers follow a pattern of equilibrium, disruption, awareness of disruption, and attempts at restoration. Traditional pondok pesantren are represented as sources of disruption to what are considered ideal Islamic values through issues such as feudalism, anticriticism culture, moral deviation, and decline of Islamic education. Within this narrative structure, pesantren figures are positioned as folk devils or moral threats, while influencers position themselves as parties who awaken public awareness. Furthermore, as dramatic narrators, influencers construct narratives that tend to be subjective, emotional, and prone to negative generalizations about traditional pesantren. This study demonstrates that social media has significant potential to shape public opinion regarding religious institutions, while also creating stigma, polarization, and moral panic when information is not conveyed in a balanced and critical manner.
Etika Komunikasi Digital dalam Perspektif Konsep Adab Syed Muhammad Naquib Al-Attas Abiano Al Affan
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 3 Agustus 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i3.1391

Abstract

Perkembangan media sosial telah melahirkan berbagai persoalan etika komunikasi digital. Berbagai kajian mengenai etika komunikasi digital telah dilakukan, namun sebagian besar masih menggunakan kerangka etika Barat atau memandang etika sebagai sesuatu yang relatif sehingga belum menawarkan landasan yang kokoh dalam perspektif Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep adab menurut Syed Muhammad Naquib Al-Attas serta merekonstruksi relevansinya sebagai landasan etika komunikasi digital. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif-konseptual. Data diperoleh dari karya-karya Al-Attas yang membahas konsep adab, kemudian dianalisis secara konseptual dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adab menurut Al-Attas merupakan kemampuan menempatkan segala sesuatu sesuai hakikat dan kedudukannya berdasarkan perspektif Islam. Berdasarkan konsep tersebut, penelitian ini merumuskan kerangka etika komunikasi digital yang terdiri atas tiga dimensi, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, serta komunikasi dan media. Kerangka ini menegaskan bahwa pembentukan etika komunikasi digital tidak cukup mengandalkan regulasi dan literasi digital, tetapi juga memerlukan pembinaan adab sebagai fondasi moral dan intelektual. Penelitian ini berkontribusi dengan menawarkan kerangka konseptual etika komunikasi digital berbasis adab yang dapat menjadi landasan bagi pengembangan kajian maupun praktik komunikasi digital dalam perspektif Islam.
Framing Ketaatan Kepada Pemimpin Dalam Komunikasi Digital Salafi: Studi Pada Instagram Syafiq Basalamah: Framing Obedience to Leaders in Salafi Digital Communication: A Study on Syafiq Basalamah’s Instagram Abiano Al Affan
Citizen : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 6 No. 4 (2026): CITIZEN: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : DAS Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53866/jimi.v6i4.1574

Abstract

Tujuan – Penelitian ini menganalisis bagaimana Syafiq Basalamah, penceramah Salafi, membingkai ketaatan kepada pemimpin Indonesia di Instagram.Desain/metodologi/pendekatan – Penelitian kualitatif ini menggunakan analisis framing Gamson dan Modigliani terhadap tujuh unggahan akun @syafiqrizabasalamah_official, dipilih secara purposif dari periode 1 Agustus - 5 September 2026 yang berkaitan dengan pemimpin atau pemerintah. Unggahan ditranskripsikan dan dikode berdasarkan framing devices dan reasoning devices, lalu disintesis menjadi bingkai inti (core frame).Temuan – Ketaatan kepada pemimpin dibingkai sebagai kewajiban agama yang bersyarat, bukan “taat buta”, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Ketaatan disertai doa dan nasihat lembut, sedangkan kritik keras tidak dianjurkan. Kesulitan sosial dan ekonomi lebih dikaitkan dengan kondisi moral masyarakat daripada kebijakan pemerintah. Tidak ada unggahan yang mengkritik kebijakan tertentu, sehingga menurut pembacaan peneliti kebijakan merugikan yang bukan maksiat tidak memiliki kanal respons yang jelas.Keterbatasan penelitian/implikasi – Penelitian ini hanya mencakup tujuh unggahan dari satu penceramah pada satu platform dan menganalisis konten, bukan resepsi khalayak, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi. Penelitian selanjutnya perlu melibatkan penceramah dan platform lain serta respons khalayak.Implikasi praktis – Temuan dapat menjadi bahan literasi media digital untuk membantu khalayak membedakan kewajiban agama, doa, dan kritik kebijakan melalui kanal yang sah.Orisinalitas/nilai – Kajian terdahulu tentang media sosial Syafiq Basalamah berfokus pada isi pesan dakwahnya. Penelitian ini menerapkan analisis framing secara khusus pada pesan ketaatan kepada pemimpin dalam konten ringkas pendakwah Salafi populer.