Kelompok tani merupakan kelembagaan kunci dalam mempercepat swasembada dan ketahanan pangan, namun banyak di antaranya, termasuk Kelompok Tani Sappe Walie di Desa Labissa, Kabupaten Bone, masih terkendala lemahnya pengelolaan limbah pertanian dan kapasitas organisasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis hasil pelaksanaan program pemberdayaan Bio-Siklus yang dilaksanakan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut melalui intervensi terpadu pada aspek produksi dan manajemen organisasi. Program dilaksanakan melalui lima tahapan: sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, serta program keberlangsungan, yang mencakup dua aspek, yaitu produksi (pengembangan kompos, biocar, dan silase dari limbah tani-ternak) dan manajemen (renovasi organisasi dan perencanaan usaha). Capaian program diukur melalui pengukuran kuantitatif kondisi sebelum dan sesudah pelaksanaan ( sebelum-sesudah ). Hasil menunjukkan kapasitas produksi meningkat dari 80% melalui penerapan mesin pencacah, pencetak pelet, dan instalasi pirolisis, sementara diversifikasi produk meningkat hingga 90% dengan lahirnya produk kompos, biocar, silase, dan pelet. Pemahaman dan keterampilan mitra meningkat dua kali lipat. Pada aspek manajemen, penataan organisasi dan kemampuan perencanaan usaha masing-masing meningkat lebih dari 80%, dengan keinginan usaha meningkat hingga 85% melalui penerapan konsep integrasi pertanian. Program pemberdayaan Bio-Siklus efektif memperkuat kapasitas produktif dan kelembagaan Kelompok Tani Sappe Walie, menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah berbasis sumber daya lokal yang dipadukan dengan penguatan kelembagaan merupakan strategi yang relevan bagi pembangunan ekonomi pedesaan berkelanjutan.
Copyrights © 2026