Kegiatan permainan tradisional berpotensi mendukung aktivitas fisik dan pengenalan budaya, tetapi bukti yang melaporkan kedua indikator secara bersamaan dalam pendidikan komunitas masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perubahan kategori kebugaran jasmani dan skor indikator pelestarian budaya setelah permainan benteng dan gobak sodor di Sekolah Adat Jero Juangga, Lombok Timur. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimental satu kelompok dengan pengukuran sebelum dan sesudah pada 30 peserta yang dipilih secara purposif. Kebugaran diringkas melalui distribusi kategori Tes Kebugaran Jasmani Indonesia (TKJI), sedangkan skor budaya dianalisis secara deskriptif menggunakan uji Wilcoxon dan uji tanda eksak. Sebelum kegiatan, 15 peserta (50,0%) berada pada kategori kurang; sesudah kegiatan, 19 peserta (63,3%) berkategori baik dan empat (13,3%) baik sekali. Rerata skor budaya berubah dari 2,93 menjadi 3,53; 17 skor meningkat, 10 tetap, dan tiga menurun. Uji Wilcoxon yang dilaporkan menghasilkan W = 25,5 dan p = 0,0016, tetapi kecocokan pasangan peserta belum terverifikasi. Temuan menggambarkan perubahan kedua indikator tanpa membuktikan pengaruh kausal maupun pelestarian budaya berkelanjutan.
Copyrights © 2026