Masa remaja, periode peralihan dari anak-anak ke dewasa, rentan terhadap tekanan sosial dan berbagai masalah kesehatan mental, tuntutan akademik, dan minimnya pemahaman tentang cara menjaga kesehatan psikologis. Di Indonesia, ada peningkatan signifikan pada jumlah remaja yang mengalami gangguan kesehatan mental dan emosional namun kesadaran untuk mencari bantuan profesional masih rendah. Kondisi ini mendorong perlunya upaya edukatif untuk meningkatkan pemahaman dan persepsi remaja mengenai kesehatan mental sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah berasrama seperti pondok pesantren. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menentukan bagaimana sosialisasi kesehatan mental mempengaruhi pengetahuan dan sikap siswa kelas IX SMP Muhammadiyah 5 Samarinda. Kegiatan dilaksanakan dengan quasi-experimental design one group pretest-posttest, melalui metode ceramah diskusi, dan workshop interaktif partisipatif. Pengukuran dilakukan dengan instrumen yang sama pada tahap pretest dan posttest, kemudian dianalisis menggunakan uji Paired Samples t-test dan N-Gain. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan skor pengetahuan yang signifikan pada kelompok putra (dari 11,68 menjadi 16,75; p = 0,000) maupun kelompok putri (dari 11,90 menjadi 16,84; p = 0,000), dengan nilai N-Gain sedang untuk kedua kelompok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosialisasi kesehatan mental efektif meningkatkan pengetahuan siswa, meskipun perlu ditindaklanjuti dengan program berkelanjutan agar perubahan sikap dan perilaku dapat lebih optimal. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi sekolah dan guru bimbingan konseling dalam membangun budaya peduli kesehatan mental di lingkungan pendidikan.
Copyrights © 2026