Taman Wisata Waduk Selorejo (TWWS) mengalami kerusakan parah pada erupsi Kelud tahun 2014. Kerugian materiil dan non materiil begitu besar sehingga berdampak pada sumber penghidupan masyarakat sekitar karena mayoritas mereka sebagai pelaku usaha di wisata tersebut. Hampir satu dekade pasca erupsi, pihak pengelola belum merekonstruksi sarana prasarana penunjang wisata sehingga terjadi perubahan pendapatan pelaku usaha. Atas dasar rasional tersebut maka tujuan dan fokus dalam artikel ini adalah untuk menggali lebih dalam dan mengetahui perbandingan ekonomi pelaku usaha pra dan pasca erupsi Kelud 2014. Penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Data yang digunakan mencakup data primer dan sekunder yang didapatkan melalui teknik wawancara dan kajian data dari Perum Jasa Tirta. Subyek penelitian adalah pelaku usaha di TWWS yang bertahan hingga saat ini. Obyek penelitian ini adalah perubahan ekonomi pelaku usaha sebelum dan sesudah erupsi Kelud 2014. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi pra lapangan, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa segmen pelaku usaha terbagi menjadi dua yaitu segmen jasa dan barang, serta pelaku usaha mengalami penurunan pendapatan rata-rata hingga 50% akibat berkurangnya jumlah pengunjung. Penelitian ini diharapkan akan memperkaya kajian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan menjadi salah satu rujukan dalam pembelajaran kontekstual terpadu, serta menjadi salah satu evaluasi kritis bagi perum Jasa Tirta untuk melihat dampak nyata dari kebijakan yang telah ditetapkan terhadap ekonomi pelaku usaha di TWWS. Saran setelah adanya penelitian ini diharapkan adanya sinergi dari pengelola, pemangku kebijakan, dan pelaku usaha agar dapat mengoptimalkan kembali wisata yang telah menjadi penghidupan masyarakat sekitar. Taman Wisata Waduk Selorejo (TWWS) suffered severe damage during the 2014 eruption of Mount Kelud. The resulting material and non material losses were substantial, impacting the livelihoods of local residents, the majority of whom operate businesses within the tourism site. Nearly a decade after the eruption, management has yet to reconstruct the supporting tourism infrastructure, leading to changes in business operators incomes. Based on this context, this article aims to delve deeper into and compare the economic conditions of business operators before and after the 2014 Kelud eruption. This study employs a qualitative, descriptive research design. Data sources include primary and secondary data obtained through interviews and a review of records from Perum Jasa Tirta. The research subjects are business operators at TWWS who have remained active to date, while the object of study is the economic change experienced by these operators before and after the eruption. Data collection techniques included pre fieldwork observation, interviews, and documentation. The findings reveal that business operators fall into two segments services and good and that they have experienced an average income decline of up to 50% due to reduced visitor numbers. This research is expected to enrich Social Studies (IPS) scholarship, serve as a reference for integrated contextual learning, and provide a critical evaluation for Perum Jasa Tirta regarding the tangible economic impact of its established policies on TWWS business operators. The study concludes by recommending synergy among management, policymakers, and business operators to revitalize the tourism site, which serves as a vital source of livelihood for the local community.
Copyrights © 2026