Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2026 menyebabkan SD Negeri 49 Beram Kabupaten Landak mengalihkan kegiatan pembelajaran dari sekolah ke rumah. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi digital yang inklusif dalam pembelajaran jarak jauh dengan memperhatikan pemanfaatan teknologi, ketimpangan akses fasilitas digital, serta penyediaan alternatif pembelajaran berbasis cetak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal. Data dikaji melalui rekap akses belajar peserta didik, dokumentasi pembelajaran, dan pengamatan terhadap praktik belajar dari rumah. Hasil menunjukkan bahwa sekolah tidak menerapkan satu moda digital secara seragam, melainkan mengembangkan pola layanan berdasarkan kondisi akses peserta didik. Dari 66 peserta didik, 50 siswa (75,8%) mengikuti pembelajaran melalui WhatsApp dan/atau Zoom Meeting, 9 siswa (13,6%) menggunakan kombinasi WhatsApp dan modul cetak, sedangkan 7 siswa (10,6%) menggunakan modul cetak. Guru juga memanfaatkan ChatGPT untuk membantu penyusunan bahan ajar, aktivitas pembelajaran, LKPD, latihan, ringkasan materi, serta kebutuhan perencanaan pembelajaran lainnya. Temuan menunjukkan bahwa ketersediaan jaringan internet belum otomatis menghasilkan pemerataan partisipasi pembelajaran digital karena akses perangkat dan kondisi belajar di rumah berbeda. Sekolah merespons melalui kombinasi pembelajaran digital dan cetak, termasuk mekanisme orang tua mengambil serta mengembalikan materi dan tugas. Kebaruan kajian ini terletak pada penggambaran transformasi digital sebagai layanan PTJJ adaptif dan inklusif dalam situasi darurat kabut asap pada sekolah dasar di Kabupaten Landak.
Copyrights © 2026