Hutan mangrove memiliki manfaat secara ekologi, sosial, dan ekonomi, dari sisi pemanfaatan ekonomi, hutan mangrove dapat digunakan sebagai objek ekowisata. Ekowisata hutan mangrove memiliki nilai manfaat yang tinggi bagi masyarakat sekitar untuk peningkatan ekonomi mereka. Pengamatan burung dalam ekowisata hutan mangrove dapat dinikmati oleh wisatawan lokal maupun internasional. Ekowisata pengamatan burung (aviturisme) merupakan bentuk wisata yang memiliki dampak negatif minimal, dari berbagai segi. Hutan mangrove Desa Nelayan Seberang Medan Belawan sangat mungkin untuk memiliki kekayaan jenis burung yang berpotensi untuk digunakan di dalam kegiatan aviturisme. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian terhadap potensi aviturisme di hutan mangrove Desa Nelayan Seberang. Penelitian ini menggunakan pengamatan langsung dengan metode point count, dan analisis data menggunakan Indeks Keanekaragaman jenis Shannon-Wienner (H’) dan Kemerataan (Evenness). Penelitian ini mencatat 16 jenis burung yang diidentifikasi dari total 122 individu, yang menunjukkan bahwa hutan mangrove tersebut memiliki tingkat keanekaragaman burung sedang (H’=1,7) kondisi lingkungan mengalami tekanan (E=0,1) kondisi tertekan. Kekayaan jenis, tingkat diversitas, dan kemerataan komunitas burung dapat menjadi modal ekologis terhadap pengembangan aviturisme karena menunjukkan adanya variasi jenis burung yang dapat dijadikan objek daya tarik wisata. Keberadaan beberapa jenis burung dengan berbagai karakteristik dan perilaku dari burung didukung oleh komunitas yang relatif beragam dan tidak sepenuhnya di dominasi oleh satu jenis, dapat memperkaya pengalaman aviturisme sekaligus menunjang daya tarik wisata.
Copyrights © 2026