Artikel ini mengkaji satire lingkungan dalam karikatur editorial dan meme internet yang mengangkat isu alih fungsi hutan menjadi ladang kelapa sawit di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tanda-tanda visual dan verbal yang digunakan dalam karikatur dan meme, menganalisis bagaimana makna satire dibangun melalui sistem tanda, serta menjelaskan peran teks visual tersebut dalam membentuk kritik dan kesadaran publik terhadap kebijakan sawit dan dampak ekologisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis teks dan analisis semiotik visual–verbal Roland Barthes, yang meliputi tingkat denotasi, konotasi, dan mitos. Objek penelitian terdiri atas empat teks visual digital, yaitu dua meme dari platform Instagram dan X serta dua karikatur editorial dari Threads dan Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karikatur dan meme merepresentasikan sawit sebagai simbol kerusakan ekologis melalui metafora visual seperti malaikat maut, perbandingan akar pohon, serta narasi “sawit juga pohon” yang disajikan secara satir. Pada tingkat mitos, teks-teks visual tersebut membongkar naturalisasi wacana negara yang menyamakan sawit dengan hutan serta menormalisasi deforestasi atas nama pembangunan dan kepentingan ekonomi. Temuan ini menegaskan bahwa meme dan karikatur berfungsi sebagai teks budaya yang efektif dalam menyampaikan kritik lingkungan, membangun narasi tandingan, dan mendorong pemikiran kritis masyarakat di ruang publik digital. Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika, budaya visual, dan sastra kontemporer, sementara secara praktis memperkaya pemahaman tentang potensi media visual digital sebagai sarana pendidikan kritis dan literasi lingkungan
Copyrights © 2026