Abstract: Waste accumulation in Islamic boarding schools requires practical management that is linked to religious values and disaster-risk reduction. This community service activity aimed to improve the knowledge and skills of the Hidayatul Qur'an Islamic Boarding School community in sorting and processing environmentally friendly waste through an eco-theological approach. The program involved 30 participants and employed participatory training through a pre-test, eco-theology and waste-risk education, waste sorting practice, production of compost or eco-enzyme, reuse of inorganic waste, post-test, and reflection. Evaluation used descriptive comparison of knowledge scores, observation of practical skills, and participant responses. The activity resulted in increased understanding 63,75 to 89,75 or by 26%, participants' ability to classify waste, and an initial action plan for source-based waste management. The integration of tawhid, khalifah, amanah, mizan, and the prohibition of environmental damage strengthened the meaning of waste management as both religious responsibility and risk prevention. Sustainability requires internal facilitators, segregated bins, periodic monitoring, and institutional waste-management rules.Abstrak: Timbulan sampah di lingkungan pesantren memerlukan pengelolaan praktis yang dikaitkan dengan nilai keagamaan dan pengurangan risiko bencana. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan komunitas Pondok Pesantren Hidayatul Qur'an dalam memilah dan mengolah sampah ramah lingkungan melalui pendekatan eko-teologi. Program melibatkan 30 peserta dengan metode pelatihan partisipatif berupa pretest, edukasi eko-teologi dan risiko sampah, praktik pemilahan, pembuatan kompos atau ekoenzim, pemanfaatan kembali sampah anorganik, posttest, dan refleksi. Evaluasi menggunakan perbandingan deskriptif skor pengetahuan, observasi keterampilan, dan tanggapan peserta. Kegiatan menghasilkan peningkatan pemahaman rata 63,75 menjadi 89,75 atau peningkatan 26%, kemampuan peserta mengelompokkan sampah, serta rencana aksi awal pengelolaan sampah dari sumber. Integrasi nilai tauhid, khalifah, amanah, mizan, dan larangan merusak lingkungan memperkuat pemaknaan pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab keagamaan sekaligus pencegahan risiko. Keberlanjutan program memerlukan fasilitator internal, tempat sampah terpilah, monitoring berkala, dan aturan kelembagaan.
Copyrights © 2026