Penelitian ini bertujuan untuk memberikan ringkasan cerita, melihat penggunaan majas metafora dan gaya bahasa perbandingan, dan menjelaskan makna dan peran majas dalam mewakili prinsip budaya, aturan moral, dan perspektif masyarakat Batak Karo dalam Turi-Turin (Legenda) Lau Kawar. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang menggunakan teknik deskriptif-analitis sebagai kerangka kerja stilistika. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik simak, baca, dan catat dari teks Legenda Lau Kawar, yang terdiri dari kata, frasa, dan kalimat yang mengandung ungkapan kiasan. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengategorikan, dan menginterpretasikan makna sosiokultural dan nilai moral menggunakan prinsip semantik kognitif dan stilistika. Hasil penelitian menemukan tujuh ungkapan kiasan utama, yaitu "usia senjanya", "ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna", "apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang", "lupa diri", "deraian air mata yang menemaninya", "guntur menggelegar bagai memecah langit", dan "keganasan alam yang sungguh mengerikan itu". Majas perbandingan yang digunakan tidak hanya memperindah cerita secara estetis, tetapi juga memiliki makna dalam menggambarkan penderitaan orang tua, mengingatkan pada bahaya sikap hedonis yang berlebihan, dan menegaskan keyakinan orang Karo bahwa pengabaian terhadap orang tua dan kelalaian moral secara kolektif akan memicu kemurkaan alam.
Copyrights © 2026