Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Tradisi Songgot-Songgot Di Desa Aloban Bair : Kajian Tradisi Lisan Yohana Dwikartika Hutabarat; Castia Stephani Sinaga; Eldawati Limbong; Dion Nardi Pangaribuan; Immanuel Silaban
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): June
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10290

Abstract

The oral tradition of Songgot-Songgot among the Toba Batak people in Aloban Bair Village, Central Tapanuli, is a secret ritual known as mangupa/mangelek tondi, performed to restore the spirit following a disaster, including the flash flood of November 2025 that claimed 11 lives and triggered a trauma crisis, as well as the TNI’s piping project in April 2026. This qualitative study based on secondary data documents the 7 ritual stages (manggogot—scattering yellow rice and eggs; dekke nai arsik; mandok hata; tangiang; ulos Habonaran), symbolic meanings (reconstruction of the tondi; the duality of life and protection), and a 300% increase in frequency following the disaster. The findings confirm its effectiveness as communal psychospiritual therapy (85% recovery rate among victims), the assimilation of Protestant Christianity (97.65% of GKPI residents), and digital adaptation in the face of globalization and youth migration. Preservation strategies include audiovisual documentation, integration of trauma healing by the Social Services Department, indigenous school curricula, “Songgot Aloban” tourism (potential revenue of Rp500 million/year), and recommendations for a Central Tapanuli Regency Regulation. The research fills a gap in local linguistic anthropology, supports post-disaster policies, and revitalizes Batak Toba identity as a sustainable asset.
ANALISIS ARSITEKTUR SIWALUH JABU DAN FILOSOFI KOMUNAL DALAM RUMAH TRADISIONAL KARO BATAK Febe Elnosa Kasih; Ginto Sianturi; Dion Nardi Pangaribuan; Dody Rinto Simanjuntak; Immanuel Silaban
TANDA Vol 6 No 05 (2026): BAHASA DAN BUDAYA
Publisher : COMMUNITY OF RESEARCH LABORATORY SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69957/tanda.v6i05.3089

Abstract

Penelitian ini menganalisis desain Siwaluh Jabu, rumah tradisional masyarakat Batak Karo, dengan fokus pada tata ruang, makna simbolis elemen arsitektur, serta penerapan prinsip Rakut Sitelu dan Perbaba dalam desain fisiknya. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif etnografis, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam bersama tokoh adat, dan dokumentasi visual pada lima rumah tradisional di Sumatera Utara. Analisis tematik menunjukkan bahwa tata ruang Siwaluh Jabu merefleksikan hirarki sosial, nilai gotong royong, dan kosmologi kolektif masyarakat Karo. Elemen struktural seperti panggung, sulap, dan garuk-garuk mengandung makna simbolis terkait kosmologi, identitas klan, dan ritual. Penerapan prinsip Rakut Sitelu (kesatuan manusia, alam, dan spiritual) serta Perbaba (keseimbangan dan keadilan) terlihat pada orientasi bangunan, pemilihan material alami, dan teknik konstruksi fleksibel yang adaptif terhadap iklim tropis serta potensi bencana vulkanik. Hasil penelitian ini memberikan kontribusi pada studi arsitektur vernakular Nusantara dan memberikan rekomendasi kebijakan konservasi berbasis partisipasi komunitas Karo.
KEBERADAAN, MAKNA, DAN FUNGSI RITUAL ERPANGIR KU LAU PADA BATAK KARO Anggun Yuni Sarah Saragih; Febe Elnosa Kasih; Ginto Sianturi; Dion Nardi Pangaribuan; Revi Angel Sonata Sitorus; Immanuel Silaban
TITIK DUA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 3 (2026)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/titikdua.v0i0.90066

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keberadaan, menafsirkan makna, dan menjelaskan fungsi ritual Erpangir Ku Lau dalam kehidupan masyarakat Karo. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Informan meliputi pemimpin ritual, tokoh adat, penyelenggara, dan peserta ritual yang ditentukan melalui teknik bola salju. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara semiterstruktur, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik melalui pengodean, pengelompokan kategori, dan penafsiran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat melalui penyesuaian pelaksanaan dan pewarisan pengetahuan. Air, tumbuhan, dan doa dimaknai sebagai simbol penyucian serta keharmonisan hubungan manusia, alam, dan dunia spiritual. Ritual berfungsi sebagai sarana pengungkapan harapan, dukungan sosial, dan pewarisan identitas budaya. Ketenangan serta harapan kesembuhan merupakan pengalaman subjektif pelaku, bukan bukti efektivitas klinis.
BAHASA FIGURATIF DAN REPRESENTASI NILAI MORAL DALAM LEGENDA LAU KAWAR: KAJIAN STILISTIKA Febe Elnosa Kasih Kasih; Anggun Yuni Sarah Saragih; Revi Angel Sonata Sitorus; Ginto Sianturi; Dion Nardi Pangaribuan; Warisman Sinaga
TITIK DUA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 3 (2026)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/titikdua.v0i0.89778

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan ringkasan cerita, melihat penggunaan majas metafora dan gaya bahasa perbandingan, dan menjelaskan makna dan peran majas dalam mewakili prinsip budaya, aturan moral, dan perspektif masyarakat Batak Karo dalam Turi-Turin (Legenda) Lau Kawar. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang menggunakan teknik deskriptif-analitis sebagai kerangka kerja stilistika. Data penelitian dikumpulkan melalui teknik simak, baca, dan catat dari teks Legenda Lau Kawar, yang terdiri dari kata, frasa, dan kalimat yang mengandung ungkapan kiasan. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi, mengategorikan, dan menginterpretasikan makna sosiokultural dan nilai moral menggunakan prinsip semantik kognitif dan stilistika. Hasil penelitian menemukan tujuh ungkapan kiasan utama, yaitu "usia senjanya", "ia seakan-akan merasa seperti sampah yang tak berguna", "apakah mereka sudah menganggapku seperti binatang", "lupa diri", "deraian air mata yang menemaninya", "guntur menggelegar bagai memecah langit", dan "keganasan alam yang sungguh mengerikan itu". Majas perbandingan yang digunakan tidak hanya memperindah cerita secara estetis, tetapi juga memiliki makna dalam menggambarkan penderitaan orang tua, mengingatkan pada bahaya sikap hedonis yang berlebihan, dan menegaskan keyakinan orang Karo bahwa pengabaian terhadap orang tua dan kelalaian moral secara kolektif akan memicu kemurkaan alam.
STRUKTUR FRASA NOMINA BATAK TOBA DALAM KERANGKA TEORI X-BAR Dion Nardi Pangaribuan; Febe Elnosa Kasih; Anggun Yuni Sarah Saragih; Revi Angel Sonata Sitorus; Ginto Sianturi; Immanuel Silaban
TITIK DUA: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6, No 3 (2026)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59562/titikdua.v0i0.90067

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyusun aturan struktur frasa yang mengontrol pembentukan frasa benda dalam bahasa Batak Toba serta menganalisis hubungan hierarkis antar elemennya berdasarkan pendekatan Tata Bahasa Generatif dan Teori X-Bar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data didapat dari penutur asli bahasa Batak Toba dengan menggunakan cara mendengarkan, mencatat, wawancara, serta tes penilaian kebenaran tata bahasa. Data tersebut dianalisis dengan cara distribusional dan substitusi, kemudian diproses secara sistematis, disajikan dalam bentuk diagram pohon sintaksis, serta diperiksa secara formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara pembentukan frasa nomina dalam bahasa Batak Toba mengikuti aturan struktur frasa endosentrik dengan pola di mana bagian inti nomina berada di depan, sedangkan bagian pewatasnya kemudian mengikuti. Unsur-unsur seperti frasa adjektif, frasa preposisi kepemilikan, dan klausa relatif terikat ditempatkan di sebelah kanan inti kata, sedangkan penentu (determiner) ditempatkan di sebelah kiri. Selain itu, pemetaan Teori X-Bar menunjukkan bahwa struktur dalam frasa benda mengikuti prinsip percabangan dua arah, dimulai dari tingkat kata dasar (N0), kemudian proyeksi menengah (N'), hingga frasa paling tinggi (NP/DP), dengan partikel tunjuk berada di bagian paling luar sebagai tanda akhir dari frasa tersebut.