Penelitian risiko usahatani umumnya menyoroti sisi produksi dan harga, sedangkan sisi biaya belum diperiksa secara setara padahal ikut menentukan keragaman pendapatan. Penelitian ini mengukur risiko ekonomi usahatani jagung pada empat indikator, yaitu produksi, harga, penerimaan, dan pendapatan, serta menelusuri sumber keragaman pendapatan pada komponen biaya. Data primer dikumpulkan dari 109 petani jagung di Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, yang terdiri atas Desa Buanamekar (n = 60) dan Desa Sindangbarang (n = 49). Risiko diukur dengan simpangan baku, koefisien variasi, dan batas bawah pendapatan, yang seluruhnya dihitung per hektar agar tidak bias oleh perbedaan luas garapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko produksi tergolong rendah (KV = 0,2097; L = 3.106,44 kg/ha), demikian pula risiko harga (KV = 0,0812; L = Rp5.113,00/kg) dan risiko penerimaan (KV = 0,2224; L = Rp18.165.780). Sebaliknya, keragaman pendapatan tergolong tinggi dengan KV sebesar 1,0020 dan batas bawah negatif sebesar Rp−15.206.772 per hektar. Sumber keragaman tersebut terletak pada sisi biaya, yaitu koefisien variasi total biaya sebesar 0,7864 atau 3,54 kali koefisien variasi penerimaan, dengan komponen input produksi sebagai komponen paling beragam (KV = 1,3938). Perbandingan tersebut menjadi temuan utama karena membandingkan dua besaran yang sejenis. Penerimaan dan biaya per hektar tidak berkorelasi (r = 0,069; p = 0,479), sehingga usahatani berbiaya tinggi tidak memperoleh penerimaan yang sepadan, dan sebanyak 10,1 persen responden mengalami pendapatan negatif. Pengendalian biaya karena itu menjadi jalur utama penurunan risiko usahatani jagung di lokasi penelitian, bukan peningkatan produksi maupun stabilisasi harga.
Copyrights © 2026