Tulisan ini bertujuan mengungkap motif cerita bidadari “Lalan Belek” dari Rejang, Bengkulu dengan menggunakan teori motif index Stith Thomson. Cerita bidadari khususnya di Indonesia sangat menarik dan banyak versinya. Umumnya setiap etnis di Indonesia memiliki cerita bidadari.Keberagaman cerita bidadari dari setiap etnis itu, merupakan mozaik yang indah dalam kehidupan berbangsa. Berapa jumlah Motif index dan motif indeks apa saja, kearifan lokal apa yang terdapat dalam cerita bidadari “Lalan Belek” merupakan masalah yang dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriftif. Hasil yang didapat,antara lain, motif manusia menikah dengan bidadari kemudian urusan rumah tangga merupakan urusan perempuan. Padahal dalam perkawinan yang ideal, laki-laki dan perempuan harus bekerja sama dan saling mengisi. Perkawinan laki-laki bumi dengan bidadari (putri dari Kahyangan) merupakan perkawinan dua dunia yang berbeda dan perkawinan dua makhluk dari dunia yang berbeda itu (khususnya cerita “Lalan Belek”) berakhir tidak bahagia. Mereka berpisah karena ingkar janji.Abstract: This article aims to reveal the story of an angel motif "Lalan Belek" of Rejang, Bengkulu using index motive theory by Stith Thomson. Angel story is very interesting, especially in Indonesia it has many version.Commonly each ethnic in Indonesia has an angel story. The plurality of story in each ethnic is a beautiful mosaic in the life of the nation. What number of motive index and what kind of it, and the local knowledge is the issue that is expressed in this study from in the story of an angel "Lalan Belek" . This study uses descriptive analysis method. The results, among other things, are human motives married to an angel then the household by the women. Although the ideal marriage is when men and women must work together and complement each other. Male earth mating with an angel (daughter of heaven) is a marriage of two different worlds and the marriage of this type (especially the story "Lalan Belek") end up unhappy. They split up because of broken promises.
Copyrights © 2015