Setelah Perang Dunia I, manusia modern mengalami kegelisahan spiritual. Novel Siddhartha karya Hermann Hesse merepresentasikan kegelisahan tersebut dalam menemukan kebahagiaan. Fokus permasalahan dan tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan usaha manusia untuk menemukan kebahagiaan abadi dalam kerangka filosofis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sumber datanya adalah teks novel yang dianalisis secara interaktif-dialogis, serta menggunakan eksistensialisme sebagai basis teorinya. Tampak pada hasil penelitian bahwa dogma agama yang secara formal telah dipelajari, bahkan dilakukan, dirasakan oleh tokoh utama Siddhartha belum mampu memberi kepuasan dan kedamaian batin. Tokoh utama, sebagai subjek yang bebas atas dirinya sendiri, dari perspektif eksistensialisme, berusaha keras untuk menawar kenyataan dan ingin mengubahnya sesuai dengan peran kehendak. Pencarian spiritualitas secara personal dilakukan sang tokoh untuk menemukan dimensi baru dari hakikat kehidupan. Alam dengan segenap isinya menjadi bagian penting dalam menemukan chiffer-chiffer atau tanda-tanda kebesaran transendensi.
Copyrights © 2016