Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam
Vol 1, No 01 (2012): Jurnal Edukasi Islami - Januari 2012

Dr. Sarbini, M.H.I (Konsep Pendidikan Robaniyah)

Ernawari Ernawati (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta)
Sintha Wahjusaputri (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta)
Giyanti Giyanti (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta)
Hari Setiadi (Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta)



Article Info

Publish Date
07 Jan 2012

Abstract

SDM (Sumber Daya Manusia) yang unggul dalam perspektif Islam disebut sebagai kelompok masyarakat sābiqun bi al-khairāt [1](pemenang lomba kebaikan atau pencetak rekor kebaikan). SDM unggul yang nerupakan kelompok masyarakat sābiqun bi al-khairāt adalah sumber daya yang merefleksikan delapan karakter khusus yang dimilikinya, yaitu:Memiliki rasa takut kepada Allah Swt (al-khauf min Allah).Memiliki kekuatan iman (quwwah al-imān)Memiliki tauhid yang bersih (tajrīd al-tauhīd)Mengenal urgensi waktu dan umur (ma`rifah qīmah al-awqāt wa al-a`mār)Tekad yang jujur, cita-cita yang tinggi dan kemauan yang kuat.Semangat kompetitif dalam setiap kebaikanHati yang bersih (salāmah al-shadr)Peniti jalan pendahulu mereka yang shalih.[2]Adian Husaini dalam catatannya yang disampaikan dalam diskusi sabtuan di INSIST, 12 Juni 2010 M mengatakan bahwa inilah hakekat dari tujuan pendidikan, yakni mencetak manusia yang baik, sebagaimana dirumuskan oleh Prof. S.M. Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and Secularism: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”[3]Tujuan pendidikan yang menurut Ahmad Tafsir telah difahami oleh para pemikir sejak 600 tahun SM ini[4], pada tataran kebijakan dan aplikasinya di dunia pendidikan di Indonesia –menggunakan istilah Ibn Taimiyah-[5] masih bersifat `ilm al-yaqīn (informasi ilmiyah yang diyakini), belum sampai kepada `ain al-yaqīn (realita yang diyakini) apalagi sampai kepada haq al-yaqīn(perwujudan hakiki keyakinan).[1] Qs. Fathir [35]: 32[2] Intisari dari Qs. Al-Mu`minun [23]:57-61. Baca: Māzin Ibn `Abd al-Karīm al-Freh, al-Rāid Durūs Fi al-Tarbiyyah wa al-Da`wah, Saudi Arabia: Dār al-Andalus al-Khadrā, 2006, Cet ke-3, Juz. I, hlm. 332-336[3] http://www.insistnet.com[4]http://www.knowledge-leader.net/2011/12/pendidikan-agama-islam-sebagai-basis pendidikan-karakter/[5] Khālid Abū Syādī, Rihlah al-Bahts `An al-Yaqīn, Thanthā: Dār al-Basyīr, 2006, Cet ke-1, hlm.13

Copyrights © 2012






Journal Info

Abbrev

ei

Publisher

Subject

Education

Description

Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam focuses on publishing articles that contain ideas, research results, and literature studies in the field of Islamic Education. Edukasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam Scope are: Al Quran and Hadith-based Islamic Education, Media and Learning Resources in ...