Orang Dayak Kayaan mengikuti liturgi misa dalam Bahasa Kayaan sudah selama tiga dekade. Penulis mengkaji pengaruh inkulturasi ini terhadap Budaya Dayak Kayaan dalam hal sistem kepercayaannya. Penelitian ini menggunakan metode ethnografi, data diambil melalui wawancara yang mendalam dan tinggal bersama responden. Temuan penelitian ini adalah bahwa terjadinya enkulturasi pada Budaya Dayak Kayaan telah mengubah Ritual Adat Kayaan. Ritual Adat Kayaan saat ini menyerupai ritual dalam Agama Katolik. Studi ini juga memperlihatkan bahwa proses enkulturasi ini telah menghilangkan Agama Kayaan (agama asli), yang tersisa hanyalah sebutan Tanangaan untuk sebutan tuhan dalam bahasa asli.
Penggunaan Bahasa Kayaan yang sebelumnya terbatas pada acara-acara tertentu saja sekarang mewarnai proses liturgi . Yang paling menarik dari proses enkulturasi ini adalah adat dan sastranya menggunakan padanan kata yang berbunyi mirip dalam doa-doa di Katolik. Pesta Budaya Dange walaupun menyajikan sesajian ala Dayak Kayaan tetapi doa-doa yang disampaikan bermuatan ajaran agama yaitu Katolik. Jadi dialektika enkulturasi Agama Katolik dengan Budaya Kayaan, Ibarat kontestasi yang tidak seimbang, kemenangan berada dalam Gereja Katolik.
Reproduksi nilai dasar Katolisisme dalam bidang pendidikan dan pembangunan sosial, sudah merembet ke bidang yang sangat mendasar yakni agama tradisional. Bahkan Agama Kayaan sudah hilang. Penelitian ini perlu dilanjutkan mengingat aspek enkulturasi itu luas dan telah menampilkan Orang Kayaan yang baru.
Copyrights © 2017