Praktik kepemimpinan patrimonial kerap kali dipandang sebagai pola kepemimpinan yang tidak efektif serta lamban. Penelitian ini membahas tentang suatu pola kepemimpinan patrimonial yang digunakan secara sukarela oleh masyarakat untuk menjaga kelangsungan aktivitas koletif pengelolaan air bersih secara bersama di Jawa Timur. Praktik kepemimpinan patrimonial secara tersirat membagi masyarakat dalam dua dimensi yang berbeda yakni dimensi structural serta dimensi kultural.Berdasarkan studi di lapangan, praktik kepemimpinan patrimonial justru efektif dalam mengelola potensi konflik maupun persaingan memperebutkan sumberdaya sosial di masyarakat melaui mekanisme relasi patron-klien. Relasi Patron-Klien dibangun tanpa melalui prosedur-prosedur birokrasi yang formal yang berlaku.
Copyrights © 2017