cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Share : Social Work Journal
ISSN : 23390042     EISSN : 25281577     DOI : -
Core Subject : Social,
Share Social Work Journal adalah jurnal yang memuat hasil-hasil penelitian lapangan dan atau pustaka mengenai isu-isu kesejahteraan sosial, di tingkat nasional, regional dan internasional. Share Social Work Journal adalah tempat publikasi yang tepat sebagai sumber referensi dan juga sebagai sumber diskusi topik-topik yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial karena telah ber ISSN printed dan elektronik. ISSN p: 2339-0042 ISSN e: 2528-1577
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal" : 5 Documents clear
ANALISIS PROGRAM POSYANDU JIWA BERBASIS COMMUNITY CARE DI PROVINSI JAWA TIMUR Pristhalia Vernanda Gunawan; Risna Resnawaty
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.34834

Abstract

ABSTRAK Penyandang Disabilitas Mental atau yang dikenal sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa/ODGJ sering dihadapkan pada permasalahan yang kompleks yang didasari oleh pengabaian hak-hak yang setara dengan warga negara lainnya, salah satunya adalah hak untuk memperoleh jaminan akan kesehatan yang baik melalui akses layanan atau fasilitas kesehatan. Provinsi Jawa Timur sebagai sala h satu provinsi dengan kasus ODGJ tertinggi terutama pada kasus kesehatan jiwa melalui penelantaran dan pemasungan, berupaya melakukan tindakan yang responsif dengan membentuk Program Posyandu Jiwa yang berbasis community care. Pelaksanaan Program Posyandu Jiwa berbasis community care mendorong keterlibatan peran keluarga dan masyarakat dengan bantuan tenaga kesehatan profesional untuk mencapai tujuan yang optimal. Oleh karena itu, kehadiran program ini sebagai suatu inovasi perlu untuk dianalisis lebih jauh terkait dengan pelaksanaan Program Posyandu Jiwa dan peran yang dijalankan oleh  relawan dan tenaga professional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengacu pada analisis elemen program yang digagas oleh Chambers dan konsep atau teori tentang community care. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Posyandu Jiwa terdiri dari lima tahapan meja yaitu layanan konsultasi dan cek kesehatan fisik; layanan terapi psikofarma dan non psikofarma; layanan pemberian makanan tambahan (PMT), nutrisi, dan vitamin; layanan pelatihan keterampilan hidup sehari-hari dan produktivitas; dan layanan konsultasi bagi keluarga ODGJ. Adapun peran tenaga profesional terdiri dari peran motivasi dan rehabilitasi, sedangkan peran relawan terdiri dari peran teknis maupun peran pencegahan. Saran dalam proses pelaksanaan Program Posyandu Jiwa adalah perlu melibatkan unsur penerima manfaat pada proses evaluasi dan monitoring mengingat kompleksitas masalah yang dialami oleh ODGJ semakin berkembang dan untuk mewujudkan optimalisasi Program Posyandu Jiwa di Provinsi Jawa Timur. Serta mengadakan peningkatan kapasitas bagi para kader Posyandu Jiwa. ABSTRACTPeople with Mental Disabilities or known as People With Mental Disorders/ODGJ are often faced with complex problems based on the neglect of rights that are equal to other citizens, one of which is the right to obtain guarantees for good health through access to health services or facilities. . East Java Province as one of the provinces with the highest ODGJ cases, especially in mental health cases through neglect and shackles, seeks to take responsive action by establishing a Community Care-based Mental Health Post Program. The implementation of community care-based Posyandu Mental programs encourages the involvement of the role of families and communities with the help of professional health workers to achieve optimal goals. Therefore, the presence of this program as an innovation needs to be analyzed further related to the implementation of the Posyandu Jiwa Program and the role played by volunteers and professionals. The method used in this study is a qualitative method with reference to the analysis of program elements initiated by the Chambers and the concept or theory of community care. The results of the study revealed that the implementation of the Posyandu Jiwa program consisted of five table stages, namely consultation services and physical health checks; psychopharmaceutical and non-psychopharmaceutical therapy services; supplementary feeding (PMT) services, nutrition and vitamins; daily life skills and productivity training services; and consulting services for ODGJ families. The role of professionals consists of the role of motivation and rehabilitation, while the role of volunteers consists of a technical role as well as a prevention role. Suggestions in the process of implementing the Mental Health Posyandu Program is that it is necessary to involve beneficiaries in the evaluation and monitoring process considering the complexity of the problems experienced by ODGJ is growing and to realize the optimization of the Mental Health Posyandu Program in East Java Province. As well as conducting capacity building for Mental Health Posyandu cadres. 
METODE HIPNOTERAPI UNTUK PENANGANAN KLIEN DENGAN KEBIASAAN MEROKOK Agung Purwanto; Budi Muhammad Taftazani; Eva Nuriyah Hidayat
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.35080

Abstract

ABSTRAKKebiasaan merokok memiliki dampak negatif yaitu mulai dari menimbulkan berbagai macam penyakit berat hingga kematian dan bagi kelompok masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah dapat menyebabkan berkurangnya biaya untuk memenuhi kebutuhan dasar. Salah satu bentuk intervensi yang dapat dilakukan bagi perokok untuk menghilangkan kebiasaan merokoknya yaitu dengan menerapkan metode hipnoterapi. Metode hipnoterapi lazim digunakan dalam praktik pekerjaan sosial khususnya dalam arena pekerjaan sosial klinis atau pekerjaan sosial medis. Metode ini sejalan dengan perspektif berbasis kekuatan dan keterhubungan antaran fikiran dan tubuh. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana proses hipnoterapi kepada individu dengan kebiasaan merokok. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan informan dua subjek klien yang menjalankan terapi dan seorang hypnotherapist.. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan metode hipnoterapi pada klien dengan kebiasaan merokok terbagi menjadi tujuh tahapan yaitu pra induksi, induksi, deepening, depth level test, suggestion therapy, hypnotherapeutic technique dan terminasi. Terdapat perbedaan pada bagian suggestion therapy dan hypnotherapeutic technique yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing klien. Perbedaan terletak pada teknik manipulasi dan substitusi. ABSTRACTSmoking habits have negative impacts ranging from causing various serious diseases to death and for people with low economic income it can lead to reduced costs to meet their basic needs. One form of intervention that can be done to individual smokers can be done by applying hypnotherapy methods. Hypnotherapy methods are commonly used in social work practices especially in the arena of clinical social work or medical social work. This method is in line with the strength perspective and connection between mind and body approach. This paper aims to describe the process of hypnotherapy to individuals with smoking habits.This study operates descriptive qualitative method with three informants, that is two clients who accept therapy and a hypnotherapist. Interviews and observation use as data collection techniques. The results showed that the hypnotherapy method for clients with smoking habits was divided into seven stages, namely pre-induction, induction, deepening, depth level test, suggestion therapy, hypnotherapeutic technique and termination. However, because there are differences in each client's goals, namely reducing and stopping, the suggestion therapy and hypnotherapeutic technique sections are adjusted to these goals. The difference lies in the technique of manipulation and substitution. However, there are similarities in the purpose of the technique given to both, which is to eliminate comfort in smoking activities. 
UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS KELUARGA DALAM PENGASUHAN ANAK (Studi Kasus Pada Proses Perlindungan Anak Terlantar oleh Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) Ciumbuleuit Kota Bandung) Gina Indah Permata Nastia; Sri Sulastri; Eva Nuriyah
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.37040

Abstract

ABSTRAKPenelantaran anak merupakan salah satu kasus perlakuan salah terhadap anak yang banyak terjadi di Indonesia, disamping kekerasan dan eksploitasi. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia dengan persentase anak terlantar yang tinggi, yakni sebesar 1,26% atau sebanyak 22.122 anak terlantar. Angka tersebut merupakan angka tertinggi di Pulau Jawa. Masalah penelantaran anak ini perlu diatasi, karena memiliki sejumlah konsekuensi terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak. Guna menangani masalah tersebut, diperlukan upaya perlindungan anak terlantar melalui lembaga pengasuhan alternatif, yakni panti asuhan. Namun, panti asuhan di Indonesia memiliki permasalahan rendahnya kualitas sistem pelayanan, di mana panti asuhan di Indonesia lebih berfungsi sebagai lembaga yang menyediakan pelayanan berupa akses terhadap pendidikan daripada sebagai lembaga yang menyediakan pengasuhan alternatif terakhir bagi anak yang mendukung sistem pengasuhan berbasis keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelayanan bagi keluarga dalam proses perlindungan anak terlantar oleh Rumah Perlindungan Sosial Asuhan Anak (RPSAA) Ciumbuleuit Kota Bandung, sebagai upaya peningkatan kapasitas pengasuhan keluarga. Adapun penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan jenis penelitian deskriptif kualitatif, dengan jumlah informan sebanyak 11 orang, yakni terdiri dari 5 orang pekerja sosial yang bertugas di RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung, dan 1 keluarga yang menerima pelayanan dari RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan bagi keluarga oleh RPSAA Ciumbuleuit Kota Bandung belum dilaksanakan secara maksimal, mulai dari tahap pendekatan awal hingga tindak lanjut. Oleh karena itu, lembaga perlu mengatur kembali pelaksanaan tahap asesmen hingga tindak lanjut, serta mengembangkan pelayanan bagi keluarga yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan keluarga.   ABSTRACTChild neglect is one of the most common cases of child abuse in Indonesia, in addition to violence and exploitation. West Java is one of the provinces in Indonesia with a highest percentage of neglected children in Java, namely 1.26% or 22,122 neglected children. This problem needs to be addressed, because it has a number of consequences on children’s development and growth. In order to deal with this problem, it is necessary to protect neglected children through alternative care institutions, namely orphanages. However, orphanages in Indonesia have low quality service system. They function more as institutions that provide services in the form of access to education rather than as institutions that provide the last alternative care for children that supports a family-based care system. This study aims to describe families’ services in the neglected children protection process by the Children's Social Protection Home (CSPH) Ciumbuleuit Bandung City, as an effort to increase the capacity of family care. This research uses qualitative research methods and qualitative descriptive research types, with the number of informants as many as 11 people, consisting of 5 social workers on duty at CSPH Ciumbuleuit Bandung City, and 1 family receiving services from CSPH Ciumbuleuit Bandung City. The results showed that services for families had not been implemented optimally by CSPH Ciumbuleuit Bandung City, starting from the initial approach stage to follow-up. Therefore, the institution needs to reorganize the implementation of the assessment to follow-up stage, as well as develop services for families that are appropriate with the problems and needs of the family.
DISKURSUS CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) DALAM MEWUJUDKAN SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) Meilanny Budiarti Santoso; Santoso Tri Raharjo
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.37076

Abstract

Corporate social responsibility (CSR) masih menjadi konsep yang ambigu. Ambiguitas terjadi antara lain karena konsep CSR melintasi beberapa disiplin ilmu, yang secara konseptual tidak diajarkan secara komprehensif di lembaga pendidikan dan secara global telah menantang peran serta tanggung jawab dari karyawan, perusahaan dan juga Negara. Terlepas dari persepsi ambiguitas berdasarkan tinjauan literatur yang luas tersebut, secara konsepsual CSR terkait dengan konsep pembangunan berkelanjutan yang pada umumnya dianggap berhubungan dengan pengambilan keputusan bisnis yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Bahkan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) menjadi isu tersendiri dalam program-program CSR di seluruh dunia, demikian pula Indonesia. Kajian ini dilakukan secara kualitatif dan melalui studi pustaka. Dari ketiga aspek yang berbeda, namun saling berhubungan, studi ini menemukan ada sejumlah besar penelitian yang menilai hubungan antara CSR dengan kinerja bisnis keuangan (ekonomi) dan CSR dengan aspek manusia (sosial), tetapi kurang menilai hubungan CSR dengan aspek lingkungan. Penelitian tentang aspek lingkungan yang sudah dipelajari oleh para pakar masih terbatas, dan berbagi literatur secara signifikan menunjukkan kurangnya integritas atau universalitas. Beberapa hasil penelitian mengklaim bahwa hal tersebut dikarenakan kurangnya kerangka kerja analitis yang sistematis, sehingga kondisi tersebut menantang berbagai pihak untuk mengembangkan berbagai tools untuk mendorong praktik CSR dengan memperhatikan ketiga aspek tersebut, khususnya terkait aspek lingkungan.
PELIBATAN PEMANGKU KEPENTINGAN DALAM PENGEMBANGAN WISATA KEBUN KELULUT SANGATTA SELATAN (STUDI KASUS PT PERTAMINA EKSPLORASI DAN PRODUKSI ASSET 5 SANGATTA FIELD Maulana Irfan; Yudhistira Anugerah Pratama
Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/share.v11i2.37779

Abstract

ABSTRAKPelibatan pemangku kepentingan merupakan salah satu indikator yang dapat memberikan dampak positif terhadap keberlanjutan bisnis perusahaan, sebab hal tersebut dapat mengurangi resiko konflik dari masyarakat yang berada di wilayah operasional perusahaan. Keterlibatan pemangku kepentingan juga dapat membantu perusahaan dalam menentukan prioritas masalah guna meningkatkan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi melalui program-program tanggung jawab sosial. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field sebagai salah satu perusahaan ekstraktif menyadari bahwa pelibatan pemangku kepentingan dapat mendukung keberlangsungan aktivitas bisnisnya. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field bersama dengan masyarakat menginisiasi program pengembangan Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan yang bertujuan meningkatkan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi yang ada di wilayah Sangatta Selatan. Artikel ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, sebab pembahasan merupakan penjabaran terkait peran pemangku kepentingan yang berasal dari pemerintah, perusahaan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan media serta hubungan yang terjalin antara PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field dengan pemangku kepentingan melalui komunikasi, konsultasi, dialog, dan kemitraan guna mengefektifkan pencapaian tujuan bersama melalui Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan. Hasil lapangan menunjukkan dampak dari stakeholder engagement memudahkan perusahaan dan pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas masalah. Tetapi, dalam implementasinya Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan masih terdapat hambatan, diantaranya belum terwujudnya aula pelatihan dan penerbitan P-IRT bagi Kelompok Tani Trigona Reborn dan Posyandu Bersemi. ABSTRACTStakeholder engagement is one of the indicators that can have a positive impact on the sustainability of the company's business, because it can reduce the risk of conflict from the community in the company's operational area. Stakeholder engagement can also help companies determine prioritization issues to improve environmental, social, and economic performance through social responsibility programs. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field as one of the extractive companies realizes that stakeholder involvement can support the continuity of its business activities. PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field together with the community initiated the development program of Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan aimed at improving environmental, social, and economic performance in the South Sangatta region. This article uses qualitative descriptive methods, because the discussion is an explanation of the role of stakeholders from the government, companies, civil society organizations, academics, and the media and the relationship between PT Pertamina Eksplorasi dan Produksi Asset 5 Sangatta Field with stakeholders through communication, consultation, dialogue, and partnership to effectively achieve common goals through Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan. Field results show the impact of stakeholder engagement makes it easier for companies and stakeholders to determine problem priorities. However, in its implementation of the Kebun Wisata Kelulut Sangatta Selatan there are still obstacles, including the realization of the training hall and the issuance of P-IRT for Kelompok Tani Trigona Reborn and Posyandu Bersemi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 2 (2025): Share : Social Work Journal Vol 15, No 1 (2025): Share : Social Work Journal Vol 14, No 2 (2024): Share : Social Work Journal Vol 14, No 1 (2024): Share : Social Work Journal Vol 13, No 2 (2023): Share : Social Work Journal Vol 13, No 1 (2023): Share : Social Work Journal Vol 12, No 2 (2022): Share : Social Work Journal Vol 12, No 1 (2022): Share : Social Work Journal Vol 11, No 2 (2021): Share : Social Work Journal Vol 11, No 1 (2021): Share : Social Work Journal Vol 10, No 2 (2020): Share: Social Work Journal Vol 10, No 1 (2020): Share: Social Work Journal Vol 9, No 2 (2019): Share: Social Work Journal Vol 9, No 1 (2019): Share: Social Work Journal Vol 8, No 2 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 8, No 1 (2018): Share: Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 2 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 7, No 1 (2017): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 2 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 6, No 1 (2016): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 2 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 5, No 1 (2015): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 2 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 4, No 1 (2014): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal Vol 3, No 2 (2013): Share Social Work Journal More Issue