cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013)" : 21 Documents clear
HUBUNGAN USIA REPRODUKSI DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pratiwi, Lilis; Suparman, Eddy; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.1182

Abstract

Abstract: Age is the most significant risk factor for the development of myoma uteri. The issue of myoma uteri in women's reproductive health continues to increase. The high incidence of myoma uteri between the ages of 35-50 years shows an association of myoma uteri with estrogen. This study aimed to determine the relationship between the incidence of myoma uteri during this stage in the RSUP Prof. Dr. R.D. Manado Kandou from March until October 2012. This study was a retrospective observational descriptive analytic cross-sectional approach. This was carried out by using the Chi Square. A 95% confidence level (α ≤ 0.05) and P ≤ 0.05 showed there was a relationship between the independent variables and dependent variables. Based on 353 cases of all diseases in the Obstetrics-Gynecology section between the ages of 18-49 years, those who suffered from myoma uteri were 108 cases. Those aged between 34-49 years (101 cases, 93.5%), suffered most from of myoma uteri while those aged between 18-33 were only 7 cases (6.5%). The Pearson Chi-Square test value was 43.394 and obtained P = 0.000. These results indicated there was a very significant correlation between the incidence of reproductive ages with myoma uteri (P = 0.000; α = 0.01). Conclusion: the high incidences of myoma uteri during reproductive ages showed no association with estrogen myoma uteri. Keywords: reproductive age, myoma uteri. Abstrak: Usia merupakan faktor risiko yang paling bermakna untuk perkembangan mioma uteri. Salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita ialah mioma uteri dengan insidensi yang terus meningkat. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen pada usia reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Maret sampai dengan Oktober 2012. Penelitian ini bersifat observasi analitik deskriptif retrospektif dengan cross sectional design. Uji statistik menggunakan Chi square test. Dengan tingkat kepercayaan 95% (α ≤ 0,05), jika P ≤ 0,05 maka terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dari 353 kasus untuk semua penyakit ginekologi di Bagian Obstetri-Ginekologi yang berusia antara18-49 tahun, terdapat 108 kasus dengan mioma uteri. Usia 34-49 tahun merupakan kasus terbanyak dengan mioma uteri yaitu 101 kasus (93,5%); dan yang berusia 18-33 tahun terdapat tujuh kasus (6,5%). Uji Pearson Chi-Square memperlihatkan nilai 43,394 dengan P = 0,000. Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri (P = 0,000; α = 0,01). Simpulan: Dari hasil penelitian di Bagian Obstetri-Ginekologi RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 1 Maret - 31 Oktober 2012 diperoleh bahwa kasus ginekologi terbanyak pada pasien berusia 18-49 tahun ialah mioma uteri, dengan usia tersering 34-49 tahun. Kata kunci: usia reproduksi, mioma uteri.
PROFIL PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI YAYASAN-YAYASAN MANULA DI KECAMATAN KAWANGKOAN Mongisidi, Rachel; Tumewah, Rizal; Kembuan, Mieke A. H. N.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3297

Abstract

Background: The cognitive impairment in elderly people is the major cause of the inability to execute the daily activity and of the major reason of the happening of care-dependence. There has not been any research about the profile of cognitive functions impairment in the District of Kawangkoan. Thus, the purpose of this research was to obtain the profile of cognitive functions impairment in the District of Kawangkoan. Methods: This was a descriptive survey with the design of cross-sectional study, which rolls out, the results of MMSE, TMT A, TMT B and CDT; the age, sex, education, occupations, family history of cognitive decline, marital status, the number of children, and the history of stroke and DM, and also the smoking profile of the participants. The subjects of this research were the elderly people that were the members of the old people foundations in the District of Kawangkoan. Results: There were 61 participants of this research, consisting of four males (6.6%) and 57 (94.4%) females participants. The result of this research shows that the MMSE scores were mostly normal (72.1%), the TMT A and the TMT B scores were both mostly abnormal (95.1% and the latter 72.1%), the CDT scores mostly normal (67.2%). In all these three instruments have the absolute result that was, the elderly people with older age has more numbers of participants with cognitive functions impairment than the younger age. The result also shows that the group of subjects with higher education has less numbers of cognitive decline subjects than the group of subjects with lower education. The subjects that had a former occupation as a teacher have the normal cognitive functions as the results of all the tests. Subjects that were married and have children, and do not have a history of stroke, DM and smoking got the score of normal cognitive functions. Conclusions: The cognitive functions of elderly people based on the MMSE and CDT scores, show that most of them have a normal cognitive functions where as the result of the TMT part A and the TMT part B show the opposite result that is most of the participants have an abnormal score. Key words: Cognitive functions impairment – Elderly peopleLatar Belakang: Penurunan fungsi kognitif pada lansia merupakan penyebab terbesar terjadinya ketidakmampuan dalam melakukan aktifitas normal sehari-hari, dan juga merupakan alasan tersering yang menyebabkan terjadinya ketergantungan terhadap orang lain untuk merawat diri sendiri. Belum pernah ada penelitian tentang profil penurunan fungsi kogntif di Kec. Kawangkoan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui profil penurunan fungsi kognitif pada lansia di Kecamatan Kawangkoan. Metode: Penelitian survey deskriptif dengan rancangan penelitian potong lintang, yang memaparkan data hasil pemeriksaan MMSE, TMT A, TMT B, CDT, umur, jenis kelamin; riwayat pendidikan, pekerjaan, keluarga dengan penurunan fungsi kognitif, status pernikahan dan jumlah anak, riwayat penyakit stroke, diabetes mellitus dan merokok. Subjek penelitian adalah para lansia yang menjadi anggota dari yayasan-yayasan manula yang ada di Kec. Kawangkoan. Hasil: Terdapat 61 sampel dari total 65 subjek penelitian. Sampel terdiri dari 4 orang berjenis kelamin laki-laki (6.6%) dan 57 perempuan (94.4%). Penelitian menunjukkan hasil pemeriksaan MMSE menunjukkan 72.1% normal, TMT A 95.1% tidak normal, pemeriksaan TMT B 72.1% tidak normal dan CDT67.2% normal. Pada hasil pemeriksaan ditemukan hasil absolut pada ketiga jenis pemeriksaan ini yaitu lebih banyak terdapat penurunan fungsi kognitif pada lansia dengan umur yang lebih tua. Profil fungsi kognitif berdasarkan riwayat pendidikan menunjukkan bahwa sampel dengan pendidikan kurang dari sembilan tahun sebagian besar mengalami penurunan fungsi kogntif. Riwayat pekerjaan guru seluruhnya memiliki hasil fungsi kognitif yang normal sedangkan sampel yang riwayat pekerjaannya petani lebih banyak mengalami penurunan fungsi kognitif. Sampel yang tidak menikah dan tidak memiliki anak memiliki hasil penurunan fungsi kognitif yang dominan daripada yang menikah dan memiliki anak. Pada hasil ditemukan bahwa sampel yang memiliki riwayat stroke, DM dan merokok positif memiliki hasil penurunan fungsi kognitif yang dominan disbanding yang tidak memiliki riwayat stroke, DM dan merokok. Kesimpulan: Hasil pemeriksaan fungsi kognitif berdasarkan pemeriksaan MMSE dan CDT menunjukkan bahwa sebagian besar lansia masih memiliki fungsi kogntif yang normal sedangkan pada TMT A dan TMT B ditemukan hasil sebaliknya di mana ditemukan hasil sebagian besar mengalami penurunan fungsi kognitif. Kata Kunci: Penurunan fungsi kognitif – Lansia
PENGARUH GAYA HIDUP MEROKOK TERHADAP KEJADIAN INFARK MIOKARD AKUT (IMA) DI RSU BETHESDA TOMOHON Kalalo, Geiby F.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3294

Abstract

Abstrak : Kebiasaan dan rutinitas yang merugikan memiliki kekuatan untuk merusak kesehatan seseorang seperti kebiasaan merokok yang merupakan contoh kebiasaan untuk memudahkan seseorang terkena penyakit kardiovaskuler.2 Sekitar 1,5 juta kasus infark miokard terjadi setiap tahun di Amerika Serikat dengan tingkat kejadian tahunan adalah sekitar 600 kasus per 100.000 orang.3 Data di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita menunjukkan IMA pada usia muda pada tahun 2008 adalah 108 kasus dari total 1065 kasus IMA.4 Menurut prediksi WHO, pada tahun 2020 penyakit jantung dan stroke yang saat ini menjadi penyebab kematian utama di negara maju nantinya menjadi penyebab kematian pertama di dunia.2 Tujuan : Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi pengaruh gaya hidup merokok terhadap kejadian infark miokard akut di RSU Bethesda Tomohon. Metode : Metode penelitian yang dilakukan bersifat case control retrospektif. Hasil : Karakteristik responden berdasarkan umur didapatkan bahwa pada kelompok kasus sebagian responden dengan gaya hidup merokok berat pada umur ≥ 50 tahun sebesar 56%, sedangkan pada kelompok kasus sebagian responden dengan gaya hidup merokok berat pada umur 30-50 tahun sebesar 36%. Untuk karakteristik berdasarkan lamanya merokok didapatkan bahwa sebagian responden yang lamanya merokok ≥ 10 tahun memiliki persentase lebih besar dibandingkan dengan lamanya merokok 5-10 tahun dimana pada kalompok kasus sebesar 76% dan kelompok kontrol sebesar 84%. Gaya hidup merokok berat yang tidak terjadi IMA dan yang terjadi IMA memiliki persentase responden lebih besar dibandingkan dengan gaya hidup merokok sedang, dimana gaya hidup merokok berat yang tidak terjadi IMA sebesar 28% sebanyak 14 responden dan yang terjadi IMA sebesar 30% sebanyak 15 responden. Kesimpulan :. Kejadian IMA pada kelompok kasus dan kelompok kontrol sebagian besar terjadi pada gaya hidup merokok berat. Pengaruh gaya hidup merokok berat dengan kejadian IMA, memiliki signifikan pengaruh yang sangat kuat.Kata Kunci : Infark Miokard Akut, Gaya Hidup MerokokAbstract : Habits and routinity that gives bad effects have the potential to ruin a persons health, just like the smoking habit as the example that make someone has cardiovascular disease. There’s about 1,5 million myocardial infarction happened every year in USA with annual incidence of 600 cases for each 100.000 person. The database of Harapan Kita Heart Center shows that IMA cases of the young people on 2008 is 108 cases from the total 1065 IMA cases. According to who prediction on 2020, heart disease and stroke which was the main cause of deaths on developed countries will be the world’s main cause of deaths too. Objective: The purpose of this research is to identify the influence of smoking habits to IMA disease at Bethesda Hospital Tomohon. Methods: The methods on this research is case control retrospective. Result: The characteristic of the respondents according to their age, most of them has severe smoking habits at the age of ≥ 50, the percentage is 56%. While the others with severe smoking habits at the age of 30-50 is at 36%. For the characteristic according to how long they’ve been smoking, ≥ 10 years has more percentage than those who have been smoking for 5-10 years, where on the case group at 76% and the control group at 84%. Severe smoking habits who didn’t had IMA and those who had IMA, had higher respondents percentage than those with medium smoking habits, with those with severe smoking habits and don’t had IMA is 14 respondents at 28% and those who had IMA is 15 respondents at 30%. Conclusion: IMA cases on case group and control group mostly happened on those with severe smoking habits. Smoking habits has a very strong and significant influence to IMA cases.Key Words: Acute Myocardial Infarction, Smoking Habits
HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT ARTERI PERIFER DENGAN FAKTOR RISIKO KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DM TIPE 2 Simatupang, Maria; Pandelaki, Karel; Panda, Agens L.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.1179

Abstract

Abtract: Peripheral arterial disease (PAD) is one of the complications that occurs in patients with type 2 diabetes mellitus due to the process of atherosclerosis. Age, hypertension, obesity, LDL cholesterol, and smoking are the cardiovascular risk factors that can be found in diabetes patients. Ankle brachial index (ABI) is a simple way to confirm the diagnosis of PAD. This study used a cross sectional design. The subjects numbered 100 patients with type 2 diabetes mellitus who were examined in the Metabolic Endocrine Clinic of Prof. Dr. R.D Kandou Hospital. Data of variables were based on the patients’ medical records, interviews about smoking, and blood pressures measured on ​​legs and arms in a supine position. A Chi-square test showed that there was a correlation between blood pressure and ABI values ​​(P = 0.049). Moreover, there was no correlation between risk factors of age (P = 0.144), obesity (P = 0.488), LDL cholesterol (P = 0.197), and smoking (P = 0.512) with ABI values. Multivariate analysis showed that there was a significant correlation between blood pressures and ABI values ​​(P = 0.037). Conclusion: From all the examined cardiovascular risks, the most correlated with the incidence of PAD in patients with type 2 diabetes mellitus was blood pressure. Keywords: cardiovascular risk factors, PAD, type 2 diabetes mellitus Abstrak: Penyakit Arteri Perifer (PAP) merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) akibat proses aterosklerosis. Usia, hipertensi, obesitas, kadar kolesterol LDL dan merokok merupakan faktor risiko kardiovaskular yang dapat ditemukan pada pasien diabetes. Ankle Brachial Index (ABI) merupakan cara sederhana untuk mendiagnosis PAP. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 pasien DMT2 yang melakukan pemeriksaan di Poliklinik Endokrin Metabolik RSUP Prof.Dr.R.D. Kandou Manado. Pengukuran variabel berdasarkan pada catatan rekam medik pasien, anamnesis riwayat merokok, dan pengukuran nilai tekanan darah kaki maupun tangan dalam posisi berbaring. Uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tekanan darah dan nilai ABI (P = 0,049), sedangkan faktor risiko usia (P = 0,144), obesitas (P = 0,488), kolesterol LDL (P = 0,197) dan riwayat merokok (P = 0,512) tidak didapati adanya hubungan. Analisis multivariat, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat bermakna antara tekanan darah dengan nilai ABI (P = 0,037). Simpulan: Dari semua faktor risiko kardiovaskular yang di teliti, tekanan darah yang paling berhubungan dengan kejadian PAP pada pasien DMT2. Kata kunci: DMT2, faktor risiko kardiovaskular, PAP
PERBANDINGAN FEV1 (FORCED EXPIRATORY VOLUME IN ONE SECOND) PADA MAHASISWA YANG AKTIF DAN TIDAK AKTIF BEROLAHRAGA Hutapea, Mulia D.S.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.3299

Abstract

Abstract: Exercise or physical activity is a part of the basic necessities of daily life in particular improvement of the standard of health. Several studies have shown that reduced physical activity may lower lung resistance and is a major cause of morbidity and mortality. Physical training or exercise causes an increase in respiratory muscle endurance so that respiratory function will increase. One assessment is a measure of lung function FEV1 (force expiratory Volume in One Second), which can provide information on the maximum rate of air flow in the lungs. The purpose of this study to determine the ratio of FEV1 in male students active and inactive exercises in the department of General Medicine, Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. This research method is analytical cross-sectional approach (Cross-Sectional). The sample was selected using the sampling purpose / non-probability sampling. The results of this study showed significant differences between the average value of FEV1 in subjects of active and inactive exercise (p <0.05). Conclusion: The value of FEV1 in male students who actively exercise is higher than that is not actively exercising.Key words: Physical exercise, FEV1.Abstrak: Olahraga atau aktivitas fisik merupakan sebagian dari kebutuhan pokok dalam kehidupan sehari-hari khususnya peningkatan taraf kesehatan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa berkurangnya aktivitas fisik dapat menurunkan daya tahan paru serta merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Latihan fisik atau olahraga menyebabkan terjadinya peningkatan daya tahan otot pernapasan sehingga fungsi pernapasan akan meningkat. Salah satu penilaian fungsi paru adalah pengukuran FEV1 (Force Expiratory Volume in One Second) yang dapat memberikan informasi tentang laju aliran udara maksimal dalam paru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan FEV1 pada mahasiswa pria yang aktif dan tidak aktif berolahraga di jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Metode penelitian ini bersifat analitik dengan pendekatan potong lintang (Cross-Sectional). Sampel dipilih menggunakan metode purpose sampling/non-probability sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan signifikan antara nilai rata-rata FEV1 pada subyek yang aktif dan tidak aktif berolahraga (p<0.05). Simpulan: Nilai FEV1 pada mahasiswa pria yang aktif berolahraga lebih tinggi dibandingkan yang tidak aktif berolahraga.Kata Kunci : Olahraga/aktivitas fisik, FEV1.
HUBUNGAN USIA REPRODUKSI DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pratiwi, Lilis
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.3286

Abstract

Abstract: Age is the most significant risk factor for the development of myoma uteri. The issue of myoma uteri in women's reproductive health continues to increase. The high incidence of myoma uteri between the ages of 35-50 years shows an association of myoma uteri with estrogen. This study aimed to determine the relationship between the incidence of myoma uteri during this stage in the RSUP Prof. Dr. R.D. Manado Kandou from March until October 2012. This study was a retrospective observational descriptive analytic cross-sectional approach. This was carried out by using the Chi Square. A 95% confidence level (α ≤ 0.05) and P ≤ 0.05 showed there was a relationship between the independent variables and dependent variables. Based on 353 cases of all diseases in the Obstetrics-Gynecology section between the ages of 18-49 years, those who suffered from myoma uteri were 108 cases. Those aged between 34-49 years (101 cases, 93.5%), suffered most from of myoma uteri while those aged between 18-33 were only 7 cases (6.5%). The Pearson Chi-Square test value was 43.394 and obtained P = 0.000. These results indicated there was a very significant correlation between the incidence of reproductive ages with myoma uteri (P = 0.000; α = 0.01). Conclusion: the high incidences of myoma uteri during reproductive ages showed no association with estrogen myoma uteri.Keywords: reproductive age, myoma uteri.Abstrak: Usia merupakan faktor risiko yang paling bermakna untuk perkembangan mioma uteri. Salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita ialah mioma uteri dengan insidensi yang terus meningkat. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen pada usia reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Maret sampai dengan Oktober 2012. Penelitian ini bersifat observasi analitik deskriptif retrospektif dengan cross sectional design. Uji statistik menggunakan Chi square test. Dengan tingkat kepercayaan 95% (α ≤ 0,05), jika P ≤ 0,05 maka terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dari 353 kasus untuk semua penyakit ginekologi di Bagian Obstetri-Ginekologi yang berusia antara18-49 tahun, terdapat 108 kasus dengan mioma uteri. Usia 34-49 tahun merupakan kasus terbanyak dengan mioma uteri yaitu 101 kasus (93,5%); dan yang berusia 18-33 tahun terdapat tujuh kasus (6,5%). Uji Pearson Chi-Square memperlihatkan nilai 43,394 dengan P = 0,000. Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri (P = 0,000; α = 0,01). Simpulan: Dari hasil penelitian di Bagian Obstetri-Ginekologi RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 1 Maret - 31 Oktober 2012 diperoleh bahwa kasus ginekologi terbanyak pada pasien berusia 18-49 tahun ialah mioma uteri, dengan usia tersering 34-49 tahun.Kata kunci: usia reproduksi, mioma uteri.
1 GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF PADA LANSIA DI TIGA YAYASAN MANULA DI KECAMATAN KAWANGKOAN Ramadian, Daniar Aprilia
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3288

Abstract

AbstractBackground: An increasing number of elderly people raises various social, economic, and health problems. Health problems are often occur in the elderly is impaired cognitive function. The rapid examination and practical, high value is the examination of the Mini Mental State Examination (MMSE) and Trail Making Test (TMT). These checks are done by giving series of commands at someone and assess their accuracy.Objective: To knowing overview of cognitive function in the elderly at three elderly people foundation in district Kawangkoan by sex, age, and education.Methods: The descriptive research with cross-sectional method, was conducted in November 2012 held at the Elderly Foundation Centre Kawangkoan Minahasa, Maupusan Foundation, and Pakakamangen Foundation in District Kawangkoan.Results: From the research gained 61 people who met the inclusion criteria consisted of 4 men and 57 women. Based on age, and education level showed decline in cognitive function is most at 75-90 years old and last education level is Elementary School.Conclusion: The results of the MMSE and TMT in the elderly at three elderly people foundation in district Kawangkoan mostly with normal results on the MMSE and TMT abnormal.Keywords: Elderly, cognitive function, MMSE, TMT-A & B.AbstrakLatar belakang: Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia menimbulkan berbagai masalah sosial, ekonomi, dan kesehatan. Masalah kesehatan yang sering terjadi pada usia lanjut ialah gangguan fungsi kognitif. Pemeriksaan yang cepat dan praktis namun nilainya tinggi adalah pemeriksaan Mini Mental State Examination (MMSE) dan Trail Making Test (TMT). Pemeriksaan ini dilakukan dengan memberi serangkaian perintah pada seseorang dan menilai ketepatannya.Tujuan: Untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif pada lansia di tiga yayasan manula di kecamatan kawangkoan berdasarkan jenis kelamin, umur, dan pendidikan.Metode: Penelitian deskriptif dengan metode potong lintang, dilaksanakan pada bulan November 2012 bertempat di Yayasan Manula Pusat Kawangkoan Minahasa, Yayasan Maupusan, dan Yayasan Pakakamangen di Kecamatan Kawangkoan.Hasil: Dari penelitian diperoleh 61 orang yang memenuhi kriteria inklusi terdiri dari 4 laki-laki dan 57 perempuan. Berdasarkan usia, dan tingkat pendidikan menunjukkan penurunan fungsi kognitif terbanyak adalah pada usia 75-90 tahun dan tingkat pendidikan terakhir SD.Kesimpulan: Hasil pemeriksaan MMSE dan TMT pada lansia di tiga yayasan manula di kecamatan Kawangkoan sebagian besar dengan hasil normal pada MMSE dan abnormal pada TMT.Kata kunci: Lansia, fungsi kognitif, MMSE, TMT-A & B.
HUBUNGAN ANTARA IMT DENGAN USIA MENARCHE PADA SISWI SD DAN SMP DI KOTA MANADO Munda, Sarah Stevany
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v1i1.3289

Abstract

Abstract: Menarche is the first menstruation experienced by woman. The improving standards of life will impact on the age of menarche (early menarche). There are many factors that affect the age of menarche, one of them is nutritional status. This research was aimed to analyze correlation between the nutritional status and age of menarche in female student of elementary school and junior high school at Manado city. This research used a cross sectional study. The subject was 196 female student. The data was analyzed using chi-square test. Research result showed that average age of menarche in elementary school is 10.63 ± 0.72 and in junior high school is 11.34 ± 1.35. Based on test results X2 (Pearson Chi Square) value obtained X2 = 68.742, p = 0.000. These results indicate that there is a highly significant association between IMT and age of menarche (p <0.01).Keywords: Female student, Menarche age, Nutrinional statusAbstrak: Menarche adalah menstruasi pertama yang dialami oleh seorang wanita. Membaiknya standar kehidupan berdampak pada penurunan usia menarche (menarche dini). Ada banyak faktor yang mempengaruhi usia menarche, salah satunya adalah status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status gizi dan usia menarche pada siswi di SD dan SMP di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan sampel sebanyak 196 siswi. Data akan dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia menarche di SD adalah 10,63 ± 0,72 dan SMP adalah 11,34 ± 1,35. Berdasarkan hasil uji X2 (pearson Chi Square) diperoleh nilai X2 = 68,742 dengan p = 0,000. Hasil ini menyatakan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara IMT dan usia menarche (p < 0,01).Kata kunci: Siswi, Status gizi, Usia menarche
PERAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DALAM PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PEMERKOSAAN SEBAGAI KEJAHATAN KEKERASAN SEKSUAL Kalangit, Amelia
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.4861

Abstract

Abstract - Rape is a serious crime and a violation of human rights. The act of rape causes serious psychological trauma to the victims and families. According to the National Commission on Violence Against Women (Komnas Perempuan) from 1998 to 2010 almost one third of cases of violence against women is a case of sexual assault, or sexual assault cases recorded 91,311 of 295,836 total cases of violence against women. During 2010 there were 1751 victims of sexual violence. Rape is an event that is difficult to prove even though the case has been examined and evidence gathering is complete. In an effort to prove that there has been crime of rape, then in this case Forensic Science was an instrument in conducting the examination and to obtain an explanation for what happened medically. This study aims to determine the management of Forensic Science in the proof of criminal rape. To know the legal and medical aspects of Forensic Science in the proof of crimes of sexual violence. Keywords - forensic science, sexual assault, rape.   Abstrak – Perkosaan merupakan kejahatan yang serius dan bukti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM). Tindakan perkosaan menyebabkan trauma psikologis yang serius pada korban serta keluarga. Menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan  (Komnas Perempuan) sejak tahun  1998 hingga 2010 hampir sepertiga kasus kekerasan terhadap perempuan adalah kasus kekerasan seksual, atau tercatat 91.311 kasus kekerasan seksual dari 295.836 total kasus kekerasan  terhadap perempuan. Selama 2010 tercatat 1.751 korban kekerasan seksual. Perkosaan merupakan suatu peristiwa  yang sulit dibuktikan walaupun pada kasus tersebut telah dilakukan pemeriksaan dan pengumpulan barang bukti yang lengkap. Dalam upaya pembuktian hukum bahwa telah terjadi tindak pidana perkosaan, maka dalam hal ini Ilmu Kedokteran Forensik sangat berperan dalam melakukan pemeriksaan dan untuk memperoleh penjelasan atas peristiwa yang terjadi secara medis.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penatalaksanaan Ilmu Kedokteran Forensik dalam pembuktian tindak pidana pemerkosaan. Untuk mengetahui segi hukum dan medis Ilmu Kedokteran Forensik dalam pembuktian kasus kejahatan kekerasan seksual. Kata kunci – forensic science, sexual assault, rape.
GAMBARAN PENOLAKAN MASYARAKAT TERHADAP PUNGSI LUMBAL DI BAGIAN NEUROLOGI BLU RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pasomba, Selvyani; Khosama, Herlyani; Sampoerno, Junita M.P.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.1.1.2013.1180

Abstract

Abstract: The examination of cerebrospinal fluid obtained by a lumbar puncture is important in the diagnosis of CNS infection. There have been no reports of refusals of lumbar punctures in Manado. This study is a descriptive preliminary using interviews and questionnaires. The subjects were all patients or families of patients in the inpatient unit at the Department of Neurology BLU. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in November 2012. The results showed that of the total number of 60 respondents, 27 (45%) under advice, agreed to undergo lumbar punctures; 30 (50%) refused, and 3 (5%) were not able to decide and thus abstained. While 93.3% of respondents knew the definition and indications of lumbar puncture, 86.7% refused eventhough they knew that the lumbar puncture procedure was important in the management of the disease; 86.7% assumed that the lumbar puncture was a dangerous procedure; 80% felt unsure enough to refuse; and 86.7% were afraid to have the lumbar puncture procedure done. All respondents knew that lumbar puncture had complications. Conclusion: nearly all respondents who refused knew that the lumbar puncture procedure is important in the management of the disease, yet they assumed the lumbar puncture was dangerous, uncomfortable, and felt fearful. Keywords: lumbar puncture, neurology, refusal description, society. Abstrak: Pemeriksaan cairan serebrospinal yang diperoleh melalui tindakan pungsi lumbal penting untuk mendiagnosis infeksi susunan saraf pusat. Meskipun demikian, sering terjadi penolakan terhadap pemeriksaan ini. Sampai saat ini belum ada laporan tentang gambaran penolakan pungsi lumbal di Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan wawancara menggunakan kuesioner. Subjek penelitian ialah semua pasien atau keluarga pasien di ruang rawat inap Bagian Neurologi BLU RSUP. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado bulan November 2012. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah responden sebanyak 60 orang, 27 (45%) setuju jika seandainya disarankan untuk menjalani pungsi lumbal, 30 (50%) menolak, dan tiga (5%) tidak dapat memutuskan setuju atau menolak (abstain). Sebanyak 93,3% responden mengetahui definisi dan indikasi pungsi lumbal, 86,7% responden yang menolak menganggap pungsi lumbal penting dalam penatalaksanaan penyakit, 86,7% menganggap pungsi lumbal merupakan tindakan yang berbahaya, 80% responden merasa tidak nyaman, dan 86,7% takut terhadap pungsi lumbal. Simpulan: hampir seluruh responden yang menolak mengetahui bahwa tindakan pungsi lumbal penting dalam penatalaksanaan penyakit, dan menganggap pungsi lumbal sebagai tindakan berbahaya, tidak nyaman dan merasa takut pada tindakan ini. Kata kunci: pungsi lumbal, neurologi, gambaran penolakan, masyarakat.

Page 2 of 3 | Total Record : 21