cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Orientasi Baru
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Social,
Orientasi Baru adalah Jurnal ilmiah yang bertujuan menyampaikan pemikiran-pemikiran kritis yang dapat memberi inspirasi dan arah baru bagi kehidupan Gereja dan masyarakat Indonesia di tengah kemajemukan budaya dan agama dalam diskusi bidang filsafat, teologi ataupun ilmu-ilmu terkait dalam bentuk karya tulis, laporan penelitian dan resensi buku. Jurnal ini diterbitkan oleh Pusat Penelitian Teologi Kontekstual, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Jurnal terbit 2 kali dalam setahun (April dan Oktober).
Arjuna Subject : -
Articles 564 Documents
Didakhe: Pengajaran Kedua Belas Rasul Sebuah Pengantar Bagiyowinadi, F.X. Didik
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 20, NOMOR 02, OKTOBER 2011
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.492 KB)

Abstract

Didache is not a canonical book, but it is one of the classical literatures of theearly Church. From this book, we can explore the morality dan liturgical praxisof the early Church. This study will attempt to represent the content of Didachethat give many details of The Two Way, the way of life and the way of death,as the prebaptismal catecheses and how the community of Didache practice thebaptismal rites and Eucharist prayer. This study will search also the relationbetween Didache and the gospel of Matthew and whether both of them are fromthe same community. We can find that the community of Didache and Mattheware from the same Jewish Christian background, but they are different whenapply the Moses Law in their daily Christian life.
Agama yang Jatuh Bangun Sudiarja, Antonius
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.807 KB)

Abstract

Penelitian ilmu-ilmu agama di abad XX menempatkan pertanyaan mengenai plausibilitas sebuah agama dalam konteks baru. Refleksi ini mengangkat suatu proses penyadaran dari pengalaman sejarah kristianisme, yang mungkin berlaku untuk semua agama. (1) Penghayatan iman seakan-akan dengan sendirinya mewujudkan diri dalam pelbagai bentuk budaya yang memberi wajah pada agama. (2) Oleh karena itu, agama cenderung mencari koalisi dengan politik dan terbuka untuk dikuasai oleh kepentingan politik. (3) Perjumpaan, apalagi perbenturan dengan agama lain di lingkungan budaya lain, membangkitkan kesadaran bahwa iman sebagai pokok agama tidak dapat disamakan dengan wujud budaya teftentu; dan kritik dunia sekuler terhadap agama yang berpolitik membebaskan agama bagi kepentingannya yang sejati. (4) Agama dalam keanekaragaman itu diteliti oleh ilmu-ilmu agama sebagai fenomena manusiawi, dan justru pendekatan yang bukan-metafisik-mutlak ini membuka peluang untuk mengerti agama secara baru, dari kenyataan hidupnya: dari iman yang dihayati dalam budaya. (5) Dapatkah perjumpaan antara living-faith yang beraneka ragam menjadi dialog yang memperlihatkan kekayaan? Plausibilitas sebagai perjumpaan dalam keanekaragaman?
Eklesiologi Communio Dan Hukum Kanonik 1983 Purwatma, Matheus
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 10, TAHUN 1997
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1208.909 KB)

Abstract

----
Cara Pandang Baru atas Perbedaan Agama Kristiani dan Islam (Sumbangan Strukturalisme Levi-Strauss dalam menganalisis Perbedaan Agama) Listia, Listia
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 20, NOMOR 02, OKTOBER 2011
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.082 KB)

Abstract

In dealing with problems of modernity, religious communities should developa cooperation which is enable to construct a system based on common ethics,which gives support to the implementation of the mandate of humanity, in linewith the vision of all religions. This article offers an alternative of the way ofthinking on the differences between Christianity and Islam.Based on Levi-Strauss’ structuralism, there are two points offered in this article.The first is the paradigm and methodology needed to find out alternative wayof thinking on the religious differences. The second is the application of themethodology which produces new insights of these differences.The new point presented in this article are that the differences of religions canbe traced from the reality that each culture has beliefs on the Absolute whichhas a relationship with the human being with its implications. Differences doesnot mean negation to one another if we can understand the various parts of thedoctrines in the whole context and in the relationship with other elements of thewhole system.
Kesaksian Hidup Kristiani. Semakin Menjadi "Kabar Gembira" Karena Menerima Kabar Gembira budi, Joannes Hartono
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1149.742 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan sebuah pendasaran kristotogi sebagai refleksi ,atas praksis mengikuti Kristus; adapun acuan bagi tulisan ini adalah ketiga karya besar tentang kristologi oleh Jon Sobrino, yakni Christology at the Crossroads (1976), Jesus in Latin America (1982) dan Jesus the liberator (1991). Oleh penderitaan seluas dunia, pewartaan dan teologi kristiani ditantang supaya meniadi realistis-real.Teologi yang berlaku nyata itu mempertanggungjawabkan iman bukan hanya dalam rangka kesadaran kritis melainkan dalam rangka praksis pembebasan. Teologi merupakan refleksi atas praksis –teologi kristiani merupakan refleksi atas praksis mengikuti Kristus. Maka perjumpaan dengan Yesus, dengan hidup dan ajaran-Nya, dengan relasi dan wafat-Nya dalam sejarah manusia, menjadi andalan pokok bagi teologi.  Sebab peristiwa Yesus itu merupakan awal dari peristiwa-peristwa sejarah lainnya; kalo tidak demikian, Yesus-kendati segala gelar keagungan yang dikenakan kepada Dia-hanya merupakan sebuah kenyataan masa lampau.Kristus yang hidup adalah perintis iman para pengikutNya; dalam dunia yang penuh egoisme struktural dan sarat dengan kematian, usaha untuk mengikuti Kristus menjadi kesaksia pengharapan; refleksi mengenai praksis mengikuti Kristus- semoga!- membebaskan.Tulisan ini dimaksudkan"sebagai sebuah pendasaran teologis-kistologis terhadap komitmen kristiani di tengah kenyataan penderitaan karena kemiskinan dan marginalisasi dalam segala bentuknya. Konteks demikian ini mengemukakan urgensi tindakan untuk memilih "jalan" Yesus Kristus. Tulisan ini secara khusus akan didasarkan pada tiga buku Jon Sobrino: Christology at tne Crossroads, Jesus in Latin America, dan Jesus the Liberator yang secara khusus menggali tema tersebut; serta diuraikan menurut pembagian subjudul: kristologi dan kemuridan, praksis mendahului teori, semakin mengenal Yesus Kristus setelah mengikutiNya, mulai dengan Yesus dari Nazaret, dan kesaksian hidup kristiani dalam masyarakat yang miskin.
Slavoj žižek tentang Manusia sebagai Subjek Dialektis Wattimena, Reza A.A
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 20, NOMOR 01, APRIL 2011
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.876 KB)

Abstract

What or who is human? This is one of the oldest questions in history. Philosopherand scientist from various disciplines try to answer it based on their researchand theories. What is unique in žižek approach is his effort to combine twodifferent schools of thought as an intellectual instrument to answer this question,namely German Idealism and Jacques Lacan’s Psychoanalysis. Inspired by thephilosophy of German Idealism, he argued that the essence of human is notinside his or her self, but outside, namely the symbolic order that determine theirself. And inspired by Lacan, he argued that the self always embedded in thesymbolic order, and constantly disrupted by the Real. In this context, we can saythat human is a dialectical subject.
Kebijaksanaan Ilahi Menyegarkan Kebijaksanaan Manusiawi? Tanureja, V. Indra Sanjaya
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 13, TAHUN 2000
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1700.193 KB)

Abstract

Pertanyaan mengenai plausibilitas iman diajukan sebagai pertanyaan mengenai tempat dan makna sastra Kebijaksanaan dalam Kitab Suci Perjanjian lama. Humanitas dan universalitas menghubungkan karangan-karangan dalam Kitab Suci dengan alam pikiran di luar lingkungan agama Israel; dengan membahas masalah-masalah manusiawi yang menjadi pertanyaan semua manusia, diteguhkan iman orang dalam tradisi Israel yang kini hidup dalam lingkungan lain. Pemikiran mengenai ibadat membuka wawasan melampaui perspektif Yahudi dan menantang penghayatan iman di luar tempat ibadat. Maka, dari analisis tentang sastra itu menjadi jelas bahwa dialog mengenai kata-kata iman dan perwujudan iman dalam hidup perlu diperhatikan sebagai jalur agar warta agama dapat menyapa manusia secara eksistensial.
Terlebih Dulu Jawa-Kontekstualisasi Dan Perkembangan Gereja Indonesia Wijsen, Frans
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 10, TAHUN 1997
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1377.45 KB)

Abstract

----
Agama dan Penilaian Terhadap Kebijakan Teknologi Sudarminta, Justinus
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 05, TAHUN 1991
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1821.271 KB)

Abstract

---
Eklesiologi: Antara Dogma dan Iman Yang Hidup Gitowiratma, St.
Jurnal Orientasi Baru VOLUME 14, TAHUN 2001
Publisher : Jurnal Orientasi Baru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1047.786 KB)

Abstract

Kalau mau jujur, teologi mengenai Gereja mengangkat dan menerangi hidup umat. Namun, bagaimana teladan mereka yang membentuk awal Gereja dan sampai sekarang ini menentukan perutusan murid-murid, Kristus di dunia ini? Kalau mau realistis, eklesiologi harus berangkat dari tantangan hidup dewasa ini dan dari kemampuan mereka yang berbakti pada Tuhan. Namun, bagaimana dengan identitas Gereja yang terungkap dalam konsili (terutama Konsili Vatihan II)? Yang mewujudkan iman karena memikul beban hidup beriman di dunia ialah orang awam yang hidup dalam dunia. Namun, bagaimana dengan magisterium hierarki yang berperan untuk mengarahkan penghayatan iman? Jemaat kristiani yang nyata adalah mereka yang, entah di tempat mana, berkumpul dalam perjamuan Tuhan. Namun, bagaimana dengan Gereja katolik yang mesti mempersatukan semua dalam pengakuan iman yang sama? ternyata hidup Gereja dan teologi mengenai Gereja berkembang dalam keteganggan.

Page 10 of 57 | Total Record : 564