cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Media Teknologi Hasil Perikanan
ISSN : 23374284     EISSN : 26847205     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Media Teknologi Hasil Perikanan adalah berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNSRAT. Media ini akan mempublikasikan hasil penelitian dan kajian pustaka terbaru dalam bidang Teknologi Hasil Perikanan, khususnya yang berhubungan dengan penerapan teknologi bagi peningkatan kualitas produk perikanan, pengembangan produk baru hasil perikanan, keamanan produk hasil perikanan,pemanfaatan limbah hasil perikanan serta topik lain yang berhubungan erat dengan pemanfaatan dan pengolahan hasil perikanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2020)" : 7 Documents clear
Kadar Serat Buah Mangrove Sonneratia alba asal Pesisir Wori Kabupaten Minahasa Utara Janah, Suci Isbatul; Wonggo, Djuhria; Mongi, Eunike Louisje; Dotulong, Verly; Pongoh, Jenki; Makapedua, Daisy Monica; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.28317

Abstract

Di Sulawesi Utara, tepatnya di Kabupaten Minahasa Utara masih memiliki hutan mangrove yang cukup luas , salah satunya di pesisir Wori yang menjadi lokasi penting penyebaran mangrove Sonneratia alba. Buah mangrove S . alba berpotensi sebagai sumber bahan pangan karena mengandung zat bioaktif yang baik untuk kesehatan. Selain sebagai Pangan Fungsional antioksidan, perlu juga digali potensi lain yang terkandung pada tepung buah mangrove S.alba seperti Kandungan Serat. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mempelajari dan membandingkan serat kasar dan serat pangan pada tepung buah mangrove S. alba muda (diameter buah <3cm) dan buah tua (diameter buah ≥ 3 cm) asal Pesisir Wori kabupaten Minahasa Utara. Metode yang digunakan untuk analisis serat kasar adalah metode Apriyantono (1989) dan untuk analisis serat pangan menggunakan metode AOAC (1995) .Hasil analisis menunjukkan bahwa tepung buah bakau S. alba muda berasal dari Pantai Wori, Kabupaten Minahasa Utara memiliki kandungan serat kasar lebih tinggi yaitu 31,66% jika dibandingkan dengan buah tua yaitu 28,66% dan hasil analisis serat pangan tepung mangrove S. alba muda juga lebih tinggi jika dibandingkan dengan tepung buah tua, buah muda memiliki kandungan serat makanan 43,32% dengan kandungan serat tidak larut air sebesar 38,66% dan serat larut air sebesar 4,66%, sedangkan buah tua memiliki serat pangan 30, 66% dengan kandungan serat tidak larut air sebesar 25,33% dan serat larut air sebesar 5,33%.
Kadar Pigmen Total, Antosianin, dan Angka Lempeng Total Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis L) Asap yang Direndam Larutan Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana L) Alfianto, Fauzan; Onibala, Hens; Mentang, Feny; Agustin, Agnes Triasih; Sanger, Grace; Makapedua, Daisy Monica; Dotulong, Verly
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.27115

Abstract

Tujuan penelitian ini. Untuk mendapatkan esktrak kulit buah manggis (Garcinia Mangostana L) yang dikeringkan selama 4 dan 8 hari sebagai bahan pengawet. Hasil yang diperoleh dari ikan cakalang asap yang direndam dalam larutan kulit buah Manggis memiliki nilai Total Plate Count  tertinggi terdapat pada hari ke 10  waktu pengeringan 8 hari lama perendaman 15 menit dengan nilai 1,50 koloni/gram. Sedangkan Nilai terendah 0 hari dengan waktu pengeringan 4 hari lama perendaman 30 menit dengan nilai 2,6 koloni/gram. Data Hasil Pigmen Total kandungan tertinggi terdapat pada pengeringan hari ke 4 dengan nilai 68,67g/g. sedangkan nilai terendah pengeringan 8 hari dengan nilai 19,95g/g. Data hasil Antosianin waktu pengeringan 4 hari memperoleh kadar 191,12 mg/L sedangkan Antosianin waktu pengeringan 8 dengan kadar 62,37 mg/L.
Metabolit Sekunder Ekstrak Air Mendidih Daun Mangrove Sonneratia alba Dotulong, Alfani Rezky; Dotulong, Verly; Wonggo, Djuhria; Montolalu, Lita A.D.Y; Harikedua, Sivana Dinaintang; Mentang, Feny; Damongilala, Lena Jeane
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.28437

Abstract

Daun mangrove Sonneratia alba  secara tradisional sudah digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit yang disebabkan karena radikal bebas, hal ini mengindikasikan bahwa daun mangrove ini mengandung komponen metabolit sekunder yang dapat menghilangkan radikal bebas tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah menidentifikasi komponen metabolit sekunder pada ekstrak air mendidih daun mangrove Sonneratia alba. Metode yang digunakan dalm penelitian ini bersifat eksploratif yaitu mendapatkan data secara kualitatif yaitu  ada tidaknya senyawa fenolik, flavonoid, saponin, triterpenoid, tannin dan alkaloid didalam ekstrak air mendidih daun mangrove s.alba  yang dikeringkan dibawah sinar matahari (KSM) dan diangin-anginkan di dalam ruangan (KDR) selama 40,50, dan 60 menit. Hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: Ekstrak air mendidih selama 40 menit baik untuk cara pengeringan KSM maupun KDR mengandung semua komponen metabolit sekunder yang diuji yaitu fenolik, flavonoid, tannin, saponin, triterpenoid dan alkaloid, sedangkan untuk ekstrak dengan  lama ekstraksi 50 dan 60 menit tidak mengandung flavonoid dan saponin.
Peningkatan Mutu Ikan Asap di Desa Poigar Dua Kecamatan Sinosayang, Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara Salindeho, Netty; Rumengan, Inneke
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.28443

Abstract

Ikan asap merupakan produk olahan yang melalui proses penetrasi senyawa volatil pada ikan yang dihasilkan dari pembakaran kayu atau bahan pengasap lainnya, yang dapat menghasilkan produk dengan rasa, warna dan aroma spesifik serta umur simpan yang lama karena adanya aktifitas antibakteri yang dihasilkan dari asap yang ditimbulkan oleh bahan pengasap, serta akibat dari proses pengasapan itu sendiri. Desa Poigar Dua, Kecamatan Sinosayang, Kabupaten Minahasa Selatan, yang secara geografis terletak di pesisir pantai dengan potensi perikanan laut yang potensial untuk dikembangkan. Desa ini dikategorikan sebagai desa dengan mayoritas masyarakat sebagai nelayan yang sekitar 70%. Nelayan di desa ini terdiri dari nelayan penangkap dan pengolah hasil tangkapan. Dari kelompok pengolah hasil tangkapan, ada beberapa nelayan yang membentuk kelompok usaha kecil pengolah ikan asap, dengan jenis ikan olahan tergantung hasil tangkapan yang berlebih, salah satu diantaranya ikan jenis cakalang yang merupakan salah satu produk olahan yang digemari oleh masyarakat sekitar dan pemasaran sebagian tersebar pada pasaran lokal. Tujuan program ini yaitu meningkatkan produksi, pemasaran dan keuangan pada pengusaha kecil pengolah ikan asap di desa target agar terampil dan mandiri secara ekonomi. Target khusus kegiatan ini menghasilkan produk ikan asap yang unggul dari segi rasa, sanitasi dan higiene, daya awet dan penggunaan bahan baku kayu asap yang ramah lingkungan serta memberikan kelangsungan usaha dan manajemen yang tangguh. Adapun metode pelaksanaan yang akan diterapkan pada program ini yaitu 1) Permasalahan kelompok yang disepakati yaitu produksi, pemasaran dan keuangan; 2) Metode pendekatan yang akan ditawarkan untuk mengatasi persoalan kelompok yakni penyuluhan, pelatihan, pendampingan dan evaluasi; 3) Prosedur kerja untuk mendukung ke-3 aspek permasalahan, berturut-turut yaitu survey, penyuluhan, pelatihan, evaluasi, luaran, pelaporan.
Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Asam Asetat dan Lama Ekstraksi Kolagen dari Kulit Ikan Situhuk Hitam (Makaira indica) Tangkaa, Raymundus; Mentang, Feny; Agustin, Agnes Triasih; Onibala, Hens; Kaseger, Bertie Elias; Makapedua, Daisy Monica; Sanger, Grace
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.27326

Abstract

Kolagen adalah jenis protein berbentuk serabut atau fibril yang merupakan komponen struktural utama dari jaringan pengikat yang meliputi hampir 30% dari total protein pada jaringan organ tubuh vertebrata maupun invertebrata. Kolagen banyak dimanfaatkan dalam berbagai bidang diantaranya dalam industri; pangan, kosmetik, farmasi, kedokteran, fotografi dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi asam asetat dan lama waktu ekstraksi kolagen dari kulit ikan situhuk hitam (Makaira indica). Pada penelitian ini digunakan perlakuan konsentrasi CH3COOH 0,7M (A1) dan CH3COOH 0,9M (A2) dan waktu ekstraksi 24 jam (B1) dan 48 jam (B2). Tahapan pembuatan kolagen ini adalah; pencucian & pemotongan, perendaman (NaOH), pencucian (sampai pH netral), ekstraksi (CH3COOH), pengendapan, salting out, sentrifuse. Hasil penelitian ini diperoleh rendemen terbanyak ada pada perlakuan konsetrasi CH3COOH 0,9M dengan lama waktu ekstraksi 24 jam yaitu sebesar 4,77%.  Kadar air yang paling rendah diperoleh dari perlakuan konsetrasi CH3COOH 0,7M dengan lama waktu ekstraksi 24 jam yaitu sebesar 14,74%. Hal ini diakibatkan karena penyerapan udara dan molekul air di lingkungan yang terjadi pada sampel (hygroscopic). Hasil stabilitas pH berkisar antara 4,6 (perlakuan konsetrasi CH3COOH 0,7M dengan lama waktu ekstraksi 24 jam ) – 6,6 (perlakuan konsentrasi CH3COOH 0,9M dengan lama waktu ekstraksi 48 jam), hal ini membuktikan bahwa semakin lama waktu perendaman berpengaruh pada derajat keasaman kolagen yang dihasilkan.
Perubahan Nilai pH dan Jumlah Bakteri Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Hasil Pengawetan Larutan Daun Matoa (Pometia pinnata) Sulistijowati, Rieny; Ladja, Tommy J; Harmain, Rita Marsuci
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.28589

Abstract

This research was conducted to find out quality of fresh tilapia (Oreochromis niloticus) pH and bacteria number preserved using a matoa leaf extract (Pometia pinnata). The treatment was carried out long time storage of fresh tilapia for 12, 18 and 24 hours preserved with 15% matoa leaf extract at ±27ºC. Analysis of pH and total bacterial values using a Completely Randomized Design (CRD). Based on the results of the study showed that the use of matoa leaf extract with a concentration of 15% was able to maintain the quality of fresh tilapia for 12 hours storage at ±27ºC obtained a pH value of 6.88 and microbiologically obtained a log value of the bacterial amount of 5.26 Cfu/g by inhibiting the number of bacteria 1.56 Cfu/g. This fulfills the SNI 01-2729-2013 requirements regarding fresh fish. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui mutu kesegaran ikan nila, yaitu pH dan jumlah bakteri ikan nila (Oreochromis niloticus) segar yang diawetkan dengan menggunakan ekstrak daun matoa (Pometia pinnata). Perlakuan yang dilakukan yaitu lama penyimpanan ikan nila segar selama 12, 18 dan 24 jam yang diawetkan dengan ekstrak daun matoa 15% pada suhu ±27ºC. Analisis data nilai pH dan total bakteri menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak daun matoa dengan konsentrasi 15% mampu mempertahankan mutu ikan nila segar selama penyimpanan 12 jam pada suhu ±27ºC diperoleh nilai pH 6,88 dan secara mikrobiologi diperoleh nilai log jumlah bakteri 5,26 Cfu/g dengan penghambatan jumlah bakteri 1,56 Cfu/g. Hal ini memenuhi syarat SNI 01-2729-2013 tentang ikan segar.  
Variasi Sekuens Gen COI untuk DNA Barcoding Ikan Tuna Kolondam, Beivy J
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.8.2.2020.28378

Abstract

DNA barcoding has been used for species identification of fishes, especially for fish product authentication. In tuna fish food products authentication, DNA barcoding is needed due to its requirement of small amount of samples for species identification. The COI gene, located in mitochondria of animal cells, is established as standard marker for animal DNA barcoding. This research aimed to study the variation in COI gene of tuna fish species in three groups, such as Bluefin tuna (five species), Yellowfin tuna (three species), and other tuna species (five species). The variation comparison showed that this gene can differentiate 11 out of 13 tuna species. The Thunnus orientalis and T. thynnus has 100% similarity over COI gene (identical). Therefore, another marker gene is required to differentiate this two species. Variation in COI gene has the ability to differentiate all species in the genus Thunnus with other genus (Auxis, Euthynnus, and Katsuwonus) by 29 nucleotide sites. Bluefin tuna group has one site unique to two other groups. Yellowfin tuna group did not have site for differentiation. Other tuna species has 33 nucleotide sites for differentiation with two other groups.

Page 1 of 1 | Total Record : 7