cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2010)" : 5 Documents clear
Geologi lingkungan dan fenomena kars sebagai arahan pengembangan wilayah perkotaan Kupang, Nusa Tenggara Timur Alwin Darmawan; Heru A. Lastiadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.782 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.2

Abstract

SARIIbu Kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang tengah berbenah memperluas wilayah perkotaan. Suatu hal yang tidak mudah dilaksanakan karena hampir seluruh Kota Kupang dan daerah pengembangannya berdiri di atas batuan gamping (kars). Permasalahannya adalah kawasan kars memiliki fungsi hidrologi, proses geologi, keberadaan flora-fauna, dan nilai-nilai budaya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian geologi lingkungan untuk mengoptimalkan manfaat dan perlindungan kawasan kars. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui kesesuaian penggunaan lahan di kawasan kars. Kondisi bentang alam Kota Kupang berupa bentang alam yang mempunyai puncak hampir datar (punggungan menyerupai morfologi plato) memanjang utara-selatan. keberadaan punggungan plato tersebut diduga sebagai sumbu lipatan maupun jalur sesar. Selain itu wilayah Kota Kupang dan sekitarnya terdiri atas tiga mintakat, masing-masing adalah mintakat holokars, mintakat mesokars, dan mintakat non kars. Berdasarkan hasil analisis, ketiganya menjadi acuan dalam pengembangan wilayah perkotaan yang sedang dikembangkan.Kata kunci: Batuan gamping (kars), morfologi plato, holokars, mesokars, non karsABSTRACTKupang as the Capital city of East Nusa Tenggara Province, has been preparing to extend it is urban area. It is not an easy thing to do, because almost the whole area of Kupang and it developing urban area are built above limestone (karst) rocks. The problems are karst area possesses function of geological process, the existance of flora and fauna, and cultural value. That is why a research of environmental geology to optimize the advantage and karst conservation area. A descriptive research method is applied to know the adaption of land use in karst area. The landscape condition of Kupang city is a plateau like morphology stretches in North-south trend. This plateau probably as an axis of fold or a fault line. More over, the Kupang city area and the surrounding consists of three terain, they are holokarst terrain, mezokarst terrain, and non karstic terrain. Based on analysis result, three of them become a refference in developing urban areas.Keywords: Karst, morphological plateau, holokarst, mezokarst, non karstic terrain
Deformasi Gunung Guntur berdasarkan data GPS Cecep Sulaeman; Sri Hidayati; Agoes Loeqman; Yasa Suparman; Devy K. Shahbana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.257 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.3

Abstract

SARIPenelitian dengan metoda Global Positioning System (GPS) di Gunung Guntur secara berkala telah dilakukan sejak tahun 1996. Berdasarkan hasil penelitian Juni 1997 sampai dengan Juni 2009, secara umum arah pergeseran horisontal titik ukur GPS ke baratlaut dengan besar pergeseran antara 0,7 cm sampaidengan 7,7 cm. Estimasi sumber deformasi menunjukkan bahwa penyebab terjadinya deformasi adalah sesar normal dan sesar oblique mengiri. Berdasarkan nilai dilatasi dan perubahan statik stres, Gunung Guntur merupakan daerah dengan nilai dilatasi negatif dan perubahan statik stres negatif.Kata kunci: Deformasi, sesarABSTRACTGPS survey on Guntur volcano has been done since 1996 periodically. Based on position data in the period of June 1997 until June 2009, horizontal displacement generally to the northwest direction about 0.7 cm – 7.7 cm. The result of deformation source estimation showed that the source of deformation are normal fault and sinistral oblique fault. Based on dilatation value and static stress changes, the Guntur volcano is a region with negative dilatation value and decreasing static stress change.Keyword: Deformation, fault
Pergeseran koseismik dari Gempa Bumi Jawa Barat 2009 Irwan Meilano; Hasanuddin Z. Abidin; Heri Andreas; Dina Anggraeni; Irwan Gumilar; Teriyuki Kato
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (552.483 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.4

Abstract

SARIUntuk mengetahui besar dan pola pergeseran koseismik Gempa Bumi Jawa Barat 2009, telah dilakukan pengamatan GPS (Global Positioning System) pada 4 – 7 September 2009. Hasil pengolahan data menunjukkan terdapat pergeseran koseismik maksimum sebesar 2,1 cm terdeteksi di sekitar Garut Selatan. Secara umum pola pergeseran tersebut menunjukkan arah baratdaya (SW) untuk stasiun GPS yang terletak di timurlaut (NE) dari sumber gempa bumi. Sedangkan untuk stasiun GPS yang terletak pada arah baratlaut (NW) dari sumber gempa bumi di sekitar Kota Cianjur, tidak menunjukkan pola pergeseran yang signifikan. Data pergeseran di permukaan tersebut digunakan untuk menentukan geometri sumber gempa menggunakan pemodelan dislokasi elastis. Sumber gempa memiliki arah jurus N600E kemiringan 500, dengan mekanisme sesar naik. Arah sudut jurus ini hampir tegak lurus dengan arah kompresif maksimum akibat tunjaman Lempeng Australia sehingga disimpulkan bahwa gempa bumi ini bukan gempa bumi interplate tetapi gempa bumi intraslab.Kata kunci: Pergeseran koseismik, Gempa Bumi Jawa Barat 2009, intraslabABSTRACTOn September 4-7 2009, GPS observation was carried out to determine the amount and pattern of coseismic displacement of the 2009 West Java earthquake. GPS data analysis show that 2.1 cm coseismic displacement was detected around South of Garut. In general, coseismic displacement pattern show South- West direction of displacement for GPS station located at North-East. While no significant coseismic displacement was detected for GPS station located North-West of epicenter. Surface displacement data was used to determine earthquake source’s geometry by using elastic dislocation modeling technique. The strike of the earthquake was 600, dip 500 and the mechanism was reverse fault. The inferred strike was perpendicular to the direction of maximum compression of Australian Plate subduction so it can be concluded that the earthquake did not occur in the interplate but in the intraslab.Keywords: Coseismic displacement, 2009 West-Java earthquake, intraslab
Semburan gas dan dampaknya terhadap lingkungan di sekitar Lumpur Sidoarjo Hanik Humaida; Akhmad Zaennudin; N. Euis Sutaningsih; Y. Sulistiyo
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.231 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.5

Abstract

SARIFenomena lain yang muncul bersama semburan Lumpur Sidoarjo adalah semburan gas. Munculnya semburan gas ini menimbulkan pertanyaan, antara lain, jenis dan dampaknya terhadap lingkungan, terutama bagi pendudduk sekitarnya, untuk menjawab pertanyaan tersebut dilakukan penelitian geokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gas yang keluar adalah gas hidrokarbon dengan komposisi utama gas metana (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Berdasarkan jenis dan sumbernya, gas tersebut merupakan gas termogenik yang sumbernya diperkirakan adalah bahanorganik pada level di atas “Oil Window”. Dari nilai isotop menunjukkan bahwa gas tersebut mempunyai tingkat kematangan termal yang cukup. Akibat semburan gas hidrokarbon ditengah-tengah pemukiman penduduk tersebut berdampak pada lingkungan, terutama air. Air sumur penduduk menjadi keruh dan berbau menyengat sehingga tidak dapat dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari.Kata kunci: Semburan gas, Sidoarjo, dampak lingkunganABSTRACTAnother fenomenon which is ocurred in the mud extrution of Sidoarjo is gas abruptions. At first that are become a big question. Due to this reason, an investigation of geochemistry of the gases are needed. These results show that gas abruptions are dominated by hydrocarbon gases with the main composition of methane (CH4) and is followed by carbondioxide (CO2). Based on the kind and its source, these gases are thermogenic gas which derived from organic matter above the level of “Oil Window”. The carbone isotope of the hydrocarbon gases show a mature of thermal maturity degree. Gases abruptions which are occurred in the area of a densed population, caused the water of people shallow well become turbid with strong bad smell which could not be used for daily used.Keyword: Outpouring of gas, Sidoarjo, environment impact
Gempa mikro sebagai indikasi amblesnya Kawah Tompaluan, Gunung Lokon, Sulawesi Utara SR Wittiri; Nia Haerani
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.863 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v1i1.1

Abstract

Sumbat lava yang terbentuk di lantai kawah suatu gunung api selain menutup lobang diatrema kawah, juga berfungsi sebagai penopang lantai dan dinding kawah agar tetap stabil. Apabila penopang tersebut hilang, karena letusan atau akibat lainnya, maka seluruh beban yang ditopangnya menjadi tidak stabil. Sumbat lava yang terbentuk di lantai Kawah Tompaluan pada Oktober 1991 hancur karena letusan, kemudian terjadi ketidakstabilan struktur batuan yang mengakibatkan lantai dan dinding kawah bergerak turun. Peristiwa tersebut diindikasikan dengan terekamnya gempa mikro (micro seismic). Semula para Pengamat Gunung api yang memonitor kegiatan Gunung Lokon menduga bahwa gempa tersebut adalah akibat adanya suplai magma yang menyebabkan perekahan baru di bawah permukaan kawah pada kedalaman yang dangkal yang diidentifikasi sebagai gempa vulkanik-dangkal (Tipe B). Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa gempa tersebut bukan gempa vulkanik, tetapi gempa permukaan sebagai akibat amblesnya lantai dan dinding Kawah Tompaluan karena kehilangan keseimbangan.Kata kunci: Sumbat lava, gempa mikro, gempa vulkanik-dangkal (Tipe B)

Page 1 of 1 | Total Record : 5