cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2019)" : 5 Documents clear
Karakterisasi Durabilitas Batulempung Menggunakan Uji Indeks Disintegrasi; Studi Kasus pada Lokasi Rencana Jalan Tol Cisumdawu di Daerah Ujungjaya, Sumedang, Jawa Barat Misbahudin .; Imam Achmad Sadisun
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1328.853 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.187

Abstract

Batulempung seringkali mudah hancur dalam periode singkat ketika tersingkap ke permukaan dan atau saat berinteraksi dengan air. Hal ini dapat memicu beberapa permasalahan di dalam kegiatan rekayasa. Salah satu kegiatan rekayasa  yang sedang dan akan berjalan adalah pembuatan Jalan Tol Cisumdawu (Cileunyi-Sumedang-Dawuan) yang merupakan akses penghubung wilayah-wilayah di sekitar Bandung dan Cirebon. Akses jalan ini juga akan terhubung dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati. Bagian ruas jalan ini di daerah Ujungjaya, Sumedang akan melintasi Formasi Subang dan Kaliwangu yang memiliki litologi utama berupa batulempung. Karakterisasi durabilitas jenis batuan ini penting dilakukan untuk menunjang aspek teknis kegiatan rekayasa di sekitar area tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pengambilan sampel tak terganggu (undisturbed sample) di lapangan, uji pembasahan dan pengeringan (wetting-drying) di laboratorium berupa uji indeks disintegrasi, uji mineralogi lempung melalui difraksi sinar X (XRD), dan uji sifat-sifat fisik batuan yang mencakup kadar air alami, densitas kering, porositas, dan absorbsi. Hasil penelitian menunjukkan indeks-indeks durabilitas batulempung dalam penelitian ini tergolong rendah. Disintegrasi batuan berlangsung cepat dan menunjukkan perilaku body slaking. Faktor-faktor yang berpengaruh kuat terhadap durabilitas batulempung terdiri dari porositas dan absorbsi. Hubungan porositas dan absorbsi dengan indeks durabilitas (rasio disintegrasi) mengikuti suatu kurva eksponensial negatif. Rasio disintegrasi cenderung turun seiring kenaikan nilai porositas dan absorbsi batulempung. 
Analisis Kecepatan Gelombang Geser (Vs) Sebagai Upaya Mitigasi Bencana Gempabumi di Kulonprogo, DIY Pupung Susilanto; Drajat Ngadmanto; Bambang Sunardi; Supriyanto Rohadi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2207.597 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.215

Abstract

Posisi Kulonprogo yang berbatasan langsung dengan zona subduksi lempeng Eurasia - IndoAustralia dan keberadaan patahan-patahan lokal menyebabkan sering merasakan dampak guncangan gempabumi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis kecepatan gelombang geser (Vs) sebagai salah satu upaya mitigasi bencana gempabumi di Kabupaten Kulonprogo. Nilai Vs dihasilkan dengan pengolahan 28 titik pengukuran Multichannel Analysis of Surface Wave (MASW) yang tersebar di daerah Kulonprogo. Pengolahan data dilakukan dengan membuat kurva yang menghubungkan antara kecepatan fase – frekuensi dan selanjutnya dilakukan picking pada fundamental mode serta dilakukan proses inversi untuk mendapatkan profil kecepatan gelombang geser 1 dimensi (Vs 1D). Hasil Vs 1D digunakan untuk menganalisis tingkat bahaya gempabumi. Analisis dilakukan pada nilai Vs secara spasial dan teknik penampang melintang berdasarkan nilai Vs 1D.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah Wates, Panjatan, Galur, dan Temon sisi Utara memiliki tingkat bahaya guncangan gempabumi yang relatif lebih besar daripada daerah lain di Kulonprogo. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut memiliki nilai Vs yang relatif lebih rendah (endapan jenis tanah lunak dan jenis tanah sedang yang cukup tebal) daripada daerah lain di Kab. Kulonprogo.
Identifikasi Zona Infiltrasi Airtanah di Kawasan Karst Berdsarkan Nilai Tekanan Parsial CO2 dan Indeks Kejenuhan CaCO3 (SIc) di Sekitar Perbukitan Karst Watuputih Nofi Muhammad Alfan Asghaf; Boy Yoseph CSSS Alam; Hendarmawan Hendarmawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2631.119 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.251

Abstract

Persebaran mata air di sekitar perbukitan karst Watuputih menunjukkan kawasan tersebut memiliki potensi air tanah yang tinggi. Kehadiran mata air karst tersebut sebagai akibat dari kondisi geologi yang didominasi oleh batuan karbonat yang mudah larut dan struktur geologi yang intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik daerah infiltrasi air tanah berdasarkan analisis tekanan parsial CO2 (Pco2) dan indeks kejenuhan CaCO3 (SIc), dikombinasikan dengan analisis fasies kimia air tanah dan kelurusan morfologi. Hasil analisis menunjukkan, pada densitas kelurusan morfologi tinggi memiliki nilai Pco2 rendah dan air tanah dalam kondisi jenuh sedangkan pada densitas kelurusan morfologi rendah nilai Pco2 tinggi dan air tanah dalam kondisi jenuh hingga tidak jenuh. Korelasi Pco2 dengan SIc dikombinasikan dengan kondisi geologi dan fasies kimia air tanah menghasilkan tiga tipe mata air, yaitu (1) Nilai Pco2 tinggi, nilai SIc jenuh hingga tidak jenuh, fasies hidrokimia dominan Ca-Mg-HCO3, densitas morfologi rendah, lapisan soil tebal, dan media aliran air tanah dominan jaringan pori memiliki infiltrasi rendah; (2) Nilai Pco2 rendah, nilai SIc jenuh, fasies hidrokimia dominan Ca-HCO3, densitas morfologi tinggi, lapisan tanah tipis, dan media aliran air tanah dominan jaringan pori dan rekahan batuan yang rapat, tetapi mulai berkembang jaringan rongga, memiliki infiltrasi tinggi; dan (3) Nilai Pco2 sangat tinggi, nilai SIc tidak jenuh, fasies hidrokimia Ca-Na-HCO3 dan Ca-Mg-Cl-HCO3, densitas morfologi tinggi, lapisan soil tebal, media aliran air tanah jaringan pori, dan litologi batuan nonkarbonatan, memiliki infiltrasi rendah.
Intensitas Erosi pada Kerucut Sinder Gunungapi Slamet Berdasarkan Pembagian Kelas Morfometri Kerucut, Jawa Tengah Wilda Aini Nurlathifah; Ildrem Syafri; Johanes Hutabarat; Agustina Djafar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5818.278 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.261

Abstract

Gunung Slamet memiliki 35 kerucut sinder di sisi lereng timurnya. Kerucut ini menyebar secara acak dan hadir baik di tubuh Gunung Slamet dan sebagian kecil di kaki Gunung Slamet. Kerucut sinder ini merupakan jenis kerucut parasit monogenetik yang muncul setelah Gunung Slamet Tua terbentuk. Meskipun secara sekilas kenampakan morfologi kerucut sinder Gunung Slamet hampir seluruhnya sama, namun dengan menggunakan data citra beresolusi tinggi akan didapat perbedaan bentuk kenampakan morfologinya. Dari kenampakan morfologi ini dapat dihitung morfometrinya untuk ditentukan kelas kerucutnya. Menurut Taylor, dkk. (2003), kelas morfometri kerucut sinder ini berhubungan dengan tingkat degradasi atau erosi dari suatu kerucut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi intensitas erosi yang terjadi pada kerucut sinder Gunung Slamet berdasarkan pembagian kelas morfometrinya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis morfometri dengan menggunakan citra satelit TerraSar untuk menghitung parameter kerucut, seperti bentuk kerucut, bentuk kawah, relief, sudut lereng kerucut, dan rasio tinggi kerucut/diameter alas kerucut. Untuk memudahkan penelitian, dipilih 5 buah kerucut sinder yang mewakili kelompok kerucut yang hadir di tubuh (fasies medial) dan di kaki (fasies distal) Gunung Slamet baik secara soliter maupun berkelompok. Kelima kerucut sinder tersebut adalah Kerucut Sinder Bukit Lingi/Pisang, Kerucut Sinder Bukit Kandanggotong, Kerucut Sinder Bukit Siremeng, Kerucut Sinder Bukit Batusanggar dan Kerucut Sinder Bukit Telu. Kelas morfometri kerucut 1 menunjukkan tingkat erosi yang paling rendah dengan karakteristik bentuk kerucut yang masih cukup sempurna, bentuk kawah yang masih terlihat jelas dan dalam, nilai sudut lereng yang besar, relief yang cukup halus, dan rasio tinggi/diameter alas kerucut yang cukup tinggi. Semakin besar angka dalam kelas morfometri kerucut sinder memberi arti bahwa intensitas erosi semakin besar. Dari kelima kerucut sinder yang dianalisis diketahui bahwa kerucut sinder Bukit Telu yang terletak pada kaki Gunung Slamet memiliki kelas morfometri kerucut 1. Hal ini berarti intensitas erosinya paling rendah. Sementara itu, kerucut sinder Bukit Siremeng yang terletak di tubuh Gunung Slamet masuk ke dalam kelas kerucut 4 dan memiliki intensitas erosi paling tinggi dibandingkan dengan keempat kerucut lainnya.
Bangunan Sabodam, Fungsi dan Potensinya sebagai Bagian dari Geowisata Gunung Api Merapi Moh. Dedi Munir
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 10, No 2 (2019)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18208.033 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v10i2.202

Abstract

Indonesia yang terletak pada pertemuan lempeng dan daerah khatulistiwa sehingga menyebabkan daerah ini rentan terhadap terjadinya bencana alam seperti letusan gunungapi, gempa bumi, longsor, banjir lahar dsb. Salah satubencana yang sering terjadi adalah letusan gunungapi. Kejadian ini memiliki dampak terhadap lingkungan maupun masyarakat yang dibedakan menjadi dua yaitu dampak primer (letusan, awan panas, lava, dsb) dan dampak sekunder (bencana banjir lahar). Banjir lahar merupakan kejadian yang dijadikan fokus karena peristiwa ini terjadi dalam rentang waktu yang cukup lama yaitu dari letusan sampai dengan beberapa waktu tertentu setelah gunung tersebut meletus. Bangunan sabo dam merupakan struktur yang berfungsi sebagai bangunan penangkap sedimen debris ataulahar yang biasa ditempatkan pada sungai di gunungapi. Bangunan ini bermanfaat dalam mengendalikan lahar atau debris terutama yang terjadi disebabkan oleh hujan yang lebat. Keberadaan bangunan sabo tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan bencana lahar tetapi juga dapat dijadikan pembelajaran ataupun studi serta masuk dalam bidang pariwisata. Tujuan dari kajian ini adalah untuk memperkenalkan fungsi bangunan sabo dan mempelajari nilai bangunannya serta mengeksplorasi lingkungannya sebagai objek yang merupakan pendukung dari geowisata Gunung Merapi di Yogyakarta. Dari penelitian ini diketahui terdapat potensi yang cukup baik dari bangunan sabo sebagai pendukung dari wisata Gunung Merapi. Potensi pariwisata yang timbul tidak hanya menjadi sebuah sarana rekreasi tetapi dapat dijadikan pembelajaran bagi masyarakat terhadap bencana baik bencana letusan maupun banjir lahar.Kata kunci: Geowisata, Gunung Merapi, Lahar, Sabo dam

Page 1 of 1 | Total Record : 5