cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 3 (2020)" : 5 Documents clear
Karakteristik Keteknikan Sedimen Kuarter Kaitannya dengan Potensi Bahaya Geologi di Kawasan DAS Cimanuk Bagian Hilir Rifki Asrul Sani; Eko Soebowo; Armein M. Fikri; Imam A. Sadisun
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.294

Abstract

ABSTRAKKabupaten Indramayu yang akan dikembangkan sebagai kawasan industri didominasi oleh endapan Kuarter yang terdiri atas endapan fluvial, dataran banjir, pematang pantai, dan delta. Daerah tersebut terletak pada area dekat sesar aktif, yakni segmen sesar Baribis-Subang dengan besaran magnitudo 6,5 Mw. Penelitian di wilayah DAS Cimanuk bagian hilir Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan mekanik serta kaitannya dengan potensi bahaya geologi yang bisa terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan 4 inti bor teknik dan pola kurva sondir (10 CPTu dan 13 CPT) serta analisis laboratorium yakni ukuran butir, hydrometer, batas-batas Atterberg, dan klasifikasi sedimen. Berdasarkan pengamatan inti bor, pola kurva sondir, dan analisis laboratorium, jenis sedimen yang berkembang di daerah penelitian adalah lempung, lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir dengan karakteristik yang spesifik. Tingkat kepadatan sedimen pasir serta tingkat konsistensi sedimen lempung bagian utara penelitian menunjukkan karakteristik yang relatif lebih lepas dan lunak dibandingkan dengan bagian selatan. Berdasarkan karakteristik keteknikan menunjukkan bahwa nilai N-SPT < 10 atau CPT/CPTu < 6.000 kPa pada sedimen pasir dan pasiran berpotensi terhadap likuefaksi dan nilai N-SPT < 4 atau CPT/CPTu < 5.000 kPa pada sedimen lempung dan lanau berpotensi terhadap amblesan. Kata kunci: bahaya geologi, Cimanuk, sedimen kuarterABSTRACTAs a future industrial area, Indramayu Regency is dominated by Quaternary sediment of fluvial, flood plain, beach ridge and deltaic sediments. The area is close to active faults, The Baribis-Subang fault segment with 6.5 Mw. This research is conducted around the lower Cimanuk catchment of Indramayu. Its aims to determine mechanical and physical characteristics related to potential geological hazards. The methods used in this research are 4 core observation, cone penetration patterns (10 CPTu and 13 CPT) and laboratory analysis such as grain size, hydrometer, Atterberg limits and sediment classification. Based on its methods, sediments that develop at the research area are clay, silt, sandy silt, silty sand and sand with specific character. Level consistency and density of clay and sand at the northern area is relatively soft and loose than the southern one. Based on engineering characteristics, the results show that NSPT < 10 or CPT/CPTu < 6,000 kPa value of sandy and sand sediment are potential against liquefaction and N-SPT < 4 or CPT/CPTu < 5,000 kPa value of silt and clay sediment are potential against subsidence. Keywords: geological hazards, Cimanuk, quarternary sediment
The Effect Of Rainfall Relationship periode 2003 – 2013 Of Groundwater South Jakarta Region Arini Dian; Nana Sulaksana; A. Asseggaf
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.301

Abstract

ABSTRAKKebutuhan air bersih di Jakarta sangat meningkat sehingga pemerintah daerah mulai melakukan pengamatan muka airtanah. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis fluktuasi muka airtanah pada AWLR, intensitas curah hujan, dan penampang bawah permukaan pada beberapa buah titik logbor selama tahun 2003 - 2013 di wilayah Jakarta Selatan. Jumlah curah hujan di daerah penelitian berkisar antara 0,2 - 831,4 mm/bulan. Dari data AWLR dapat diketahui ketinggian muka airtanah berkisar antara 9,29 - 13,97 m aml, terdangkal terjadi pada bulan Oktober - Febuari (ketika musim penghujan) dan ketinggian muka airtanah terdalam berkisar antara14,60 - 20,41 m aml terjadi pada bulan Maret - September (ketika musim kemarau). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi adanya pengaruh hubungan curah hujan dan muka airtanah dengan karakteristik sistem akuifer yang berada pada daerah penelitian sekitarnya khususnya di Jakarta Selatan. Berdasarkan analisis tenggang waktu dan fluktuasi muka airtanah yang dipengaruhi oleh intensitas curah hujan.Serta adanya lapisan akuitar pada penampang geologi dan posisi muka airtanah yang terdapat dibagian atas lapisan akuifer, maka dapat dikatakan bahwa sistem akuifer yang terdapat di daerah penelitian bersifat semi tertekan. Sistem akuifer tersebut pada bagian atasnya merupakan material berbutir halus (akuitar) sehingga airtanah masih memungkinkan untuk bergerak di dalamnya.Kata kunci: airtanah, AWLR, curah hujan, fluktuasi, JakartaABSTRACTThe need for clean water in Jakarta has increased significantly, so the groundwater levels of Jakarta Groundwater Basin need to be researched. This research was conducted by analyzing the fluctuation of the groundwater level using the AWLR data, rainfall intensity, and subsurface sections to several logbor during the year of 2003 - 2013 in South Jakarta area. Rainfall event in the area is in range of 0.2 mm/year up to 831.4 mm/year. From the AWLR data, the highest groundwater level were at 9.29 - 13.97 masl in October - Febuari (during rainy season) and the deepest groundwater level were at 14.60 - 20.41 masl) in March - September (during dry season). Based on the analysis of the timescale and the groundwater level fluctuations that influenced by rainfall, and the aquitard layer in the geology section, and groundwater level exist above the aquifer, so that the aquifer system in this regions is classified as semi depressed aquifer. In this aquifer system, the underlying material is fine grained (aquitard) that allows groundwater moving inside the layer.Keywords: groundwater, AWLR, rainfall, fluctuation, Jakarta
Korelasi Peningkatan Temperatur Permukaan Tanah dan Aktivitas Seismik di Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 Cholisina Anik Perwita; Sukir Maryanto; Muhammad Ghufron; Mudo Prakoso; Stevany Abigail; Usna Zainun Nasrulloh Zamhar
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.315

Abstract

ABSTRAKPemantauan gunungapi merupakan hal yang krusial terutama bagi negara yang mempunyai banyak gunungapi seperti Indonesia. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pemantauan gunungapi aktif adalah biaya yang cukup besar dan lokasi gunungapi yang sulit diakses. Pemantauan jarak jauh (remote sensing) sudah mulai diaplikasikan untuk kebutuhan ini. Dalam penelitian ini kami mencoba menggabungkan remote sensing pemantauan Gunungapi Anak Krakatau (GAK) dengan pemantauan seismik untuk memberikan gambaran mengenai aktivitas vulkanik yang terjadi. Korelasi yang kuat didapatkan antara kenaikan jumlah gempa tremor terhadap kenaikan suhu permukaan dengan nilai korelasi Pearson sebesar 0,53 untuk gempa tremor da 0,47 untuk gempa letusan. Temperatur maksimal yang tercatat pada bagian puncak, naik dari 300 Cmenjadi 700 C. Selain itu, leleran lava yang terjadi di lereng GAK dapat tercitrakan dengan baik pada LST (Land Surface Temperature).Kata kunci: Gunung Anak Krakatau, monitoring, remote sensing, temperaturABSTRACT Volcanic monitoring is one of the crucial things for the country which has rich of volcanoes such as Indonesia. High-cost ground base for monitoring is a problem that should be overcome, moreover if the volcanic area is difficult to access. Remote monitoring has begun to be applied to respond the need. In this study, land surface temperature (LST) from remote sensing method and seismic method combined to know volcanic activity of Anak Krakatau Volcano (GAK). A strong correlation is obtained from an increase in the number of tremor events to an increase in surface temperature with Pearson Correlation value 0,53 for tremor event and 0,47 for eruption earthquake. The maximum temperature in summit was increase from 300 Cto 700 C. In addition, the melting lava that came out from eruption on the slopes of GAK can be wel- imaged on LST. Keywords: Gunung Anak Krakatau, volcanic monitoring, remote sensing, temperature
Analisis Potensi Gempa di Selatan Pulau Jawa Berdasarkan Pengamatan GPS Irwan Meilano; Agidia L. Tiaratama; Dudy D. Wijaya; Putra Maulida; S. Susilo; Intan H Fitri
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.352

Abstract

ABSTRAKPulau Jawa merupakan salah satu pulau yang memiliki kepadatan penduduk tinggi dengan aktivitas tektonik yang sangat aktif. Hal ini dikarenakan Pulau Jawa terletak di zona konvergensi Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Aktivitas tektonik ini menghasilkan kegempaan di zona subduksi dan sesar di daratan Penelitian ini menganalisis pola vektor kecepatan yang dihasilkan melalui pengolahan data stasiun pengamatan GPS (Global Positioning System) CORS (Continuously Operating Reference Station) BIG (Badan Informasi Geospasial) di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Data koordinat harian dianalisis dengan metode PCA (Principal Component Analysis) untuk memisahkan sinyal tektonik berupa data deret waktu global dan non-tektonik berupa data deret waktu lokal dengan penerapan aturan pemilihan varian dominan nilai eigen dalam pembetukan PC (Principal Component) dan orthogonal vektor eigen sebagai bobot dalam meminimalkan korelasi. Hasil dari data deret waktu global dan lokal digunakan untuk menghitung besar kecepatan pergeseran dari tahun 2011 sampai 2018. Hasil pengolahan menunjukkan besar resultan vektor kecepatan pada data awal berselang 0,06 sampai 10,46 mm/tahun, pada data global antara 0,06 mm/ tahun sampai 10,39 mm/tahun, dan data lokal sebesar 0,0037 sampai 1,99 mm/tahun. Variasi spasial vektor kecepatan pengamatan GPS data domain PCA menunjukkan variasi pergeseran horizontal di wilayah Banten bergerak ke arah timur laut; Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah bergerak ke arah tenggara; dan Jawa Timur bergerak ke arah timur laut. Hasil dari inversi data pergeseran terhadap slip pada zona subduksi, menunjukkan terjadinya kekurangan slip atau terjadi coupling pada zona subduksi Jawa bagian timur dan barat, sementara terjadi kelebihan slip pada bagian tengah yang merupakan efek postseismic dari gempa Pangandaran 2006.Kata kunci: GPS, PCA, potensi gempa, vektor kecepatanABSTRACTJava is one of the island that has a high population density with very active tectonic activity. This is because Java Island is located in the convergence zone of the Indo-Australian Plate and the Eurasian Plate. This tectonic activity produces seismicity in subduction zones and inland faults. This study analyzes the velocity vector patterns generated through data processing of the GPS (Global Positioning System) CORS (Continuously Operating Reference Station) BIG (Geospatial Information Agency) observation station in the southern part of Java. Daily coordinate data were analyzed using PCA (Principal Component Analysis) method to separate time series of tectonic signals as global data and non-tectonic time series data as local data by applying the rules for selecting dominant variants of eigen values for PC formation and orthogonal eigen vectors as weights in minimizing correlations. The results from global and local time series data were used to calculate the magnitude of the displacement velocity from 2011 until 2018. The processing results show the resultant velocity vector in the initial data intermittent 0.06 to 10.46 mm/year, global data from 0.06 to 10.39 mm/year, and local data of 0.0037 to 1.99 mm/year. The spatial variation of the velocity vector in PCA domain data shows the horizontal displacement in the Banten region to the northeast; West Java, Yogyakarta Special Region, Central Java to southeast; and East Java moving to northeast. The results of the inversion of the surface displacement to slip data in the subduction zone show that there is a slip deficiency or coupling occurs in the subduction zones of Eastern and Western Java, while there is excess slip in the Central Java which is a post-seismic effect of the 2006 Pangandaran earthquake.Keywords: earthquake potential, GPS, PCA, velocity vector
Interpretasi Bawah Permukaan Gunung Merapi dengan Metode Magnetotellurik Ilham Nur Dien; Sulistyani Sulistyani; Anas Handaru; Dewi Sri Sayudi; Agus Budi Santoso
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 11, No 3 (2020)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34126/jlbg.v11i3.225

Abstract

ABSTRAKSurvei magnetotellurik (MT) telah dilakukan di Gunung Merapi dengan menggunakan alat Phoenix Geophysics MTU5 pada Oktober 2016 dan Mei 2017. Pengukuran dilakukan dengan jarak tiap titik sekitar 1 km, durasi pengukuran untuk satu titik ±12 jam, dan lebar dipole 50 s/d 80 meter utara-selatan dan timur barat. Sebanyak 8 titik sounding digunakan untuk menyusun profil resistivitas 2-D di lereng utara dan selatan. Hasil menunjukkan bahwa resistivitas bawah permukaan Merapi terdiri dari 2 (dua) karakteristik nilai resistivitas yaitu zona resistivitas tinggi dengan nilai 183-50.000 ohm.m dan zona resistivitas rendah dengan nilai 20-175 ohm.m. Zona resistivitas tinggi dapat diinterpretasikan sebagai zona produk erupsi sebelumnya yaitu aliran lava dan material piroklastik lainnya. Sedangkan zona resistivitas rendah diinterpretasikan sebagai kantong magma terbagi menjadi dua bagian, bagian atas berada pada kedalaman 0 s/d 2.000 meter dengan diameter mencapai 1.000 meter yang mengindikasikan sebuah kantong magma dangkal, sedangkan bagian bawah terlihat menerus dari kedalaman 3.000 s/d 11.000 meter sebagai kenampakan dapur magma yang cukup besar dengan diameter rata-rata sekitar 2.000 meter yang diindikasikan sebagai kantong magma dalam. Hasil zonasi ini senada dengan posisi hiposenter dari kejadian gempa vulkanik periode tahun 2010. Selain itu, terlihat adanya struktur yang diindikasikan sebagai sesar yang memotong lintasan di sekitar puncak.Kata kunci: Gunung Merapi, kantong magma, magnetotellurik, resistivitasABSTRACTMagnetotelluric (MT) survey has been carried out on Phoenix Geophysics MTU-5 in October 2016 and May 2017. The measurement has been done with the distance between them approximately 1 km, its duration of each sounding was 12 hours, and dipole length varied from 50-80 meters on North-South and East-West direction. Here we use the result from 8 MT sounding to construct a 2-D electrical resistivity image of the northern and southern flank of Merapi. The results show that the subsurface resistivity in Merapi consists of two types of resistivity features, i.e. the high resistivity zone which having resistivity value 183-50.000 ohm.m and the low one which varied from 20-175 ohm.m. The high resistivity zone are the lava flow and another pyroclastic material, while the low resistivity zone interpreted as magma chamber divided into two parts: upper part, at a depth of 0-2,000 meters with 1,000 meters diameter which is indicated as a shallow magma chamber, lower part, continuously from the depth of 3,000-11,000 meters as the large magma chamber with an average diameter of about 2,000 meters. The zone can be correlated to the hypocenter position taken from the volcanic earthquake event of 2010 period. In addition, there is a structure which indicated as a fault that cuts the trajectory around the summit. Keywords: Merapi Volcano, magma chamber, magnetotelluric, resistivity

Page 1 of 1 | Total Record : 5