cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2011)" : 5 Documents clear
Identifikasi potensi kerawanan tsunami di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur Imun Maemunah; Cecep Sulaeman; Rahayu Robiana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3452.869 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.27

Abstract

SARIKarakteristik pantai di Kabupaten Jember dapat dibagi menjadi tiga tipe. Tipe 1 merupakan pantai berteluk yang sempit dengan litologi pasir halus hingga kasar meliputi daerah Payangan, Seruni, Watu Ulo, dan Tanjung Papuma. Tipe 2 merupakan pantai berbentuk lurus dan lebar dengan litologi pasir halus hingga kasar meliputi Pantai Puger dan Paseban. Tipe 3 merupakan pantai berelief curam dan terjal dengan litologi batuan dasar berumur Tersier meliputi daerah Watu Ulo, Tanjung Papuma, Puger, Bandealit, Meru Betiri, Teluk Pisang, dan Teluk Permisan. Secara umum, Tipe 1 merupakan daerah yang berisiko tinggiterhadap bahaya tsunami. Berdasarkan tingkat kerawanan terhadap bahaya tsunami, wilayah pantai di Kabupaten Jember dibagi menjadi tiga kawasan yaitu kawasan rawan tsunami tinggi, kawasan rawan tsunami menengah, dan kawasan rawan tsunami rendah. Kawasan rawan tsunami tinggi merupakan kawasan yangberpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan mencapai lebih dari 4 m dan jarak landaan maksimal sejauh 365 m dari garis pantai. Kawasan rawan tsunami menengah merupakan kawasan yang berpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan 1 hingga 3 m, dan jarak landaan mencapai 980 m dari garis pantai, sedangkan kawasan rawan tsunami rendah merupakan kawasan yang berpotensi terlanda tsunami dengan tinggi genangan kurang dari 1 m, dan jarak landaan mencapai 2,7 km dari garis pantai.Kata kunci: karakteristik pantai, tsunami, kawasan rawan tsunami, tinggi genanganABSTRACTCharacteristics of the coastal areas in Jember is divided into three types. Type 1 is a narrow bay coast with fine to coarse sand lithology covering the area of Payangan, Seruni, Watu Ulo, and Tanjung Papuma. Type 2 is a wide and straight coast consists of fine to coarse sand lithology covering the area of Puger beach and Paseban. Type 3 is a steep coast consists of basement rock of Tertiary age covering the area of Watu Ulo, Tanjung Papuma, Puger, Bandealit, Meru Betiri, Pisang bay, and Permisan bay. In general, type 1 is a high risk zone against tsunami hazards. Based on the level of vulnerability to tsunami hazards, the coastal areas in Jember is divided into three zones, namely: high vulnerability zone, moderate vulnerability zone and low vulnerability zone against tsunami hazards. High vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of higher than 4 m and the maximum inundation of 365 m from the coast line. Moderate vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of about 1 – 3 meters, and the maximum inundation of 980 m at Payangan. Low vulnerability zone is an area potentially affected by tsunami with flow depth of lesser than 1 m and the maximum inundation of 2.7 km from the coast line.Keywords: Coastal characteristic, tsunami, tsunami vulnerability, flow depth
Studi awal fenomena kematian ikan di Danau Ranau, Sumatra Selatan Akhmad Zaennudin; Ahmad Basuki; Agus Solikhin; Ugan B. Saing
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5109.329 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.23

Abstract

SARIFenomena kematian ikan di Danau Ranau sering terjadi baik dalam skala kecil maupun besar dalam kurun waktu puluhan tahun. Setiap fenomena ini terjadi diawali oleh perubahan warna air danau yang semula jernih menjadi keruh berwarna putih susu pada beberapa lokasi yang kemudian menyebar ke seluruh wilayah danau. Berdasarkan penyelidikan perubahan warna air tersebut terjadi akibat munculnya gas-gas vulkanik ke permukaan kemudian bereaksi dengan air danau. Semakin lama perubahan warna tersebut semakin banyak ikan yang mati. Pada awal April 2011 terjadi dalam skala cukup besar yang mematikan ribuan ikan baik yang dipelihara di dalam jala apung maupun ikan liar yang hidup bebas di danau tersebut. Penyelidikan dengan metoda geokimia dan seismik dapat mendeteksi adanya hubungan aktivitas kegempaan dengan emisi gas sulfur atau gas magmatik lainnya yang muncul ke permukaan melewati zona sesar yang ada pada wilayah ini.Kata kunci: Fenomena, kematian ikan, Ranau, gas vulkanikABSTRACTThe death of the fish phenomena in Lake Ranau often occurred either in small or large scales within ten of decades. Each of these phenomena preceded by discoloration of the lake water which was clear becomes cloudy white at several locations, which then spread throughout the lake. Based on investigation, the discoloration of the lake water was caused by the appearance of volcanic gases onto the surface and than react with the lake water. The longer the change of the lake water color, the more fish die. In early April 2011 occurred in a larger scale thousands of fish that were kept in floating nets and wild fish in the lake died Geochemical and seismic investigation methods can detect the relationship between seismic activity and sulfuric gas emissions or other magmatic gases that come out onto the surface through fault zone found in the area.Keywords: phenomena, the death of the fish, Ranau, volcanic gases
Peranan geologi tata lingkungan dalam penataan ruang Kota Padang pasca Gempa Bumi 30 September 2009 Andiani Andiani; Alwin Darmawan; Indra Badri; Arief Kurniawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5173.155 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.24

Abstract

SARIGempa bumi Padang-Pariaman yang terjadi pada tanggal 30 September 2009 berkekuatan 7,6 SR telah mengakibatkan korban jiwa dan harta benda di Kota Padang dan sekitarnya. Pasca kejadian gempa bumi, Kota Padang memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi yang diawali dengan penyusunan kembali rencana tata ruang wilayah tersebut. Penyusunan kembali rencana tata ruang wilayah kota Padang pasca gempa bumi merupakan tahap yang sangat menentukan karena tata ruang akan menentukan apakah wilayah ini menjadi semakin rentan atau semakin kuat ketahanannya di masa datang dalam menghadapi bencana yang sama. Meningkatnya ketahanan wilayah ini dapat tercapai bila unsur-unsur geologi lingkungan berupa kendala geologi dan sumber daya geologi diintegrasikan dalam rencana tata ruang wilayah. Analisis geologi lingkungan ditujukan untuk dapat memberikan informasi lingkungan geologi yang sesuai dengan penggunaan lahan untuk memperkecil dampak negatif yang diakibatkan oleh suatu pengembangan wilayah. Metoda yang digunakan untuk menunjang pemetaan geologi lingkungan yaitu berdasarkan pada analisis aspek geologi lingkungan seperti faktor kondisi fisik topografi, geologi, keairan, kebencanaan/ proses geodinamika dan unsur lainnya yang terkait, seperti penggunaan lahan dan rencana tata ruang wilayah. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan tiga zona keleluasaan untuk pembangunan Kota Padang, yakni leluasa, cukup leluasa, dan agak leluasa. Hasil analisis ini dapat digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi terhadap tata ruang yang ada. Evaluasi terhadap tata ruang menunjukkan kawasan yang saat ini merupakan kawasan budi daya berada pada zona agak leluasa - leluasa, adapun kawasan lindung berada pada zona agak leluasa - cukup leluasa. Dengan demikian pengembangan kegiatan perdagangan, jasa dan industri di dalam kawasan budi daya harus mempertimbangkan masalah tanah lunak, sedangkan pengembangan kegiatan perdagangan, jasa, industri dan pemukiman di dalam kawasan lindung harus mempertimbangkan faktor keselamatan, dalam hal ini harus disesuaikan dengan aspek bencana geologi yang ada pada kawasan tersebut.Kata kunci: gempa bumi, tata ruang, geologi lingkungan ABSTRACTPadang-Pariaman earthquake that occurred on September 30 th, 2009 measuring the magnitude of 7.6 in Richter Scale had resulted in loss of life and property in the city of Padang and the surrounding areas. Post-earthquake events, Padang entered the stage of rehabilitation and reconstruction that began with the rearrangement of spatial planning of the area. Rearrangement of the spatial planning of the city of Padang after the earthquake is a crucial stage because the layout will determine whether the vulnerability of the region is becoming less or even more resistant against the same disaster in the future. The increase of resistance of this region can be achieved if the elements of environmental geology in the form of geological constraints and geological resources are integrated in regional planning. Analysis of the environmental geology is intended to provide information of geological environment in accordance with the land use to minimize the negative impacts caused by regional development. Based on analysis results there are three zones of discretion for the development of Padang city namely spacious, fairly spacious, and rather spacious. This analysis result can be used as the basis to evaluate the existing spatial planning. Based on the evaluation of the spatial planning shows that the current area is a cultivation zone that lies in rather spacious to spacious zone, whereas the protected zone lies in rather spacious to fairly spacious zone. There by, the development of trade, services and industry in the area of cultivation should consider the problem of soft ground, while the development of trade, services, industry and residential agricultural region should not be considered the factor of safety, in this case, they must adapt to aspects of the geological hazards in the region.Keywords: earthquake, planning of the area, environmental geology
Potensi bencana Gunung Api Iya, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur Igan S. Sutawidjaja
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2845.253 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.25

Abstract

SARIGunung Iya di Kabupaten Ende merupakan salah satu gunung api paling selatan di Pulau Flores, termasuk bagian dari jalur vulkanik Banda. Pulau Flores sendiri mempunyai 11 gunung api aktif dan sejumlah kerucut gunung api tidak aktif. Kaki bagian utara Gunung Iya berjarak 1 km dari tepi selatan Kota Ende. Adanya Gunung Meja dan Gunung Roja sebagai penghalang, dan bukaan kawah aktif (K2) yang mengarah ke Laut Sawu di selatannya, mengakibatkan kegiatan letusan Gunung Iya tampaknya tidak membahayakan Kota Ende secara langsung. Pada erupsi terdahulu, semua aliran piroklastika dan material lainnya yang dierupsikan arahnya mengalir ke laut, tetapi karena jarak horizontal antara Gunung Iya dan Kota Ende cukup pendek, lontaran material erupsi dapat membahayakan Kota Ende, terutama bagian selatan. Sebuah rekahan telah berkembang di sekeliling kawah aktif (K2) Gunung Iya, yang mengindikasikan bahwa lokasi tersebut merupakan suatu zona lemah di dalam gunung api, sehingga memungkinkan terjadinya longsoran besar ke arah laut dan timbulnya tsunami apabila Gunung Iya erupsi.Kata kunci: erupsi, tsunami, longsoran, rekahan, mitigasiABSTRACTMount Iya strato volcano in Ende Regency is one of the most southern volcano on the Flores Island, is part of Banda arc. Flores island itself has 11 active volcanoes and several non active volcanic cones. The northern foot of the volcano is only about 1 km away from the southern outskirts of Ende City. The presence of Mount Meja and Mount Roja as the barrier, and the orientation of the active crater (K2) which is facing southward to Sawu sea in the south part of the volcano, the highly explosive eruption of Iya volcano may not directly endanger the city of Ende. Most pyroclastic flows of previous eruptions and other eruptive material emplaced into the sea, but due to a short horizontal distance between Mount Iya and Ende City, the ejected rock fragments can endanger the city of Ende especially its southern parts. A crack has developed around the active crater (K2) of Iya volcano. It seems that the crack indicates the presence of major weakness within the volcano, therefore a tsunami generating giant landslide may occur when Iya volcano erupts in the future.Keywords: eruption, tsunami, landslide, crack, mitigation
Tinjauan hubungan formasi batuan sedimen dengan iklim Contoh kasus: endapan teras Bengawan Solo dan red beds di Cekungan Sumatra Tengah Danny Z. Herman
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1442.347 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v2i2.26

Abstract

SARIDi daerah beriklim tropis ketika curah hujan musiman berlangsung secara maksimum, akan terjadi discharge sedimen sangat tinggi sehingga menghasilkan endapan-endapan sedimen dataran banjir. Gosong meander sungai merupakan salah satunya dan melalui proses pengangkatan akan membentuk endapan teras. Banjir purba di sepanjang Bengawan Solo diyakini terjadi karena besarnya pasokan air yang disebabkan peningkatan curah hujan. Sedimen-sedimen gosong yang dikenal sebagai teras Bengawan Solo, merupakan salah satu di antara jenis-jenis sedimen lainnya hasil pengendapan kegiatan tersebut.Endapan teras Bengawan Solo merupakan salah satu rekaman geologi penting yang dapat digunakan sebagai indikator untuk memahami keterkaitan pembentukannya dengan iklim setempat pada masa lampau. Peningkatan curah hujan pada periode antara Plistosen Awal hingga Sub-Resen diduga menjadi penyebab berlimpahnya pasokan air pada saluran sungai yang pada gilirannya mengakibatkan banjir di sepanjang Bengawan Solo. Rekaman geologi penting lain yang ditemukan di cekungan-cekungan busur belakang Sumatra Tengah, yang dikenal sebagai formasi sedimen fluvial/lakustrin “Red Beds” diendapkan pada periode Eosen – Oligosen. Penemuan tersebut mengarah pada dugaan bahwa proses sedimentasi berimplikasi dipengaruhi oleh iklim tropis panas-kering. Kondisi iklim selama periode tersebut diduga menjadi penyebab terbentuknya pigmen berwarna coklat-merah (hematit), yang diakibatkan oleh proses ubahan in-situ dari oksida besi yang terhidrasi, berasal dari oksidasi mineral-mineral silikat ferromagnesian dan magnetit yang merupakan komponen-komponen sedimen lakustrin di cekungan Sumatra Tengah.Kata kunci: iklim tropis, curah hujan, endapan teras, panas-kering, endapan Red BedsABSTRACTIn tropical climate areas when the seasonal rainfall takes place in a maximum intensity, the highest rate of sediment discharge will occur, the floodplain deposits are formed. Point bar of river meander is one of those deposits and through an uplift process will form terrace deposit. Ancient flooding along theBengawan Solo was believed to occur due to the large intake of water supply caused by increased rainfall. Point bars known as the Bengawan Solo terrace is one among other types of sediment deposition result of these activities. The Bengawan Solo River terrace is one of the important geological record that can be used as an indicator to understand the interrelatedness of its formation with the local climate in the past. The increase in rainfall intensity in the periode of Early Pleistocene until Sub-Recent suspected as the cause of the abundance of water supply in the river channel which in turn resulted in flooding along the Bengawan Solo. Other important geological records found in the back-arc basin of Central Sumatra, which is known as fluvial sedimentary formations/lakustrin “Red Beds” was deposited during the Eocene- Oligocene period. The discovery led to the conjecture that the implications of sedimentation process was affected by the hot-dry tropical climate. The climatic conditions during this period is thought to be the cause of the formation of brown-red color (hematite). Hematite may be formed as the product of in-situ alteration process of hydrated Fe-oxides originating from ferromagnesian silicate minerals and magnetite of the lacustrine sediments in Central Sumatra basin.Keywords: tropical climate, precipitation, terrace deposit, hot-dry, Red-Beds deposit

Page 1 of 1 | Total Record : 5