cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2012)" : 5 Documents clear
Pengaruh genangan Bendung Sedau terhadap kestabilan lereng Lembah Cerorong, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat Alwin Darmawan; Dadi Supardi
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (855.344 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.36

Abstract

SARILembah yang berarah timur laut-barat daya di sekitar Kampung Cerorong tersusun oleh tuf berbatu apung sangat peka terhadap aktivitas tektonik dan perubahan lingkungan, seperti berkurangnya vegetasi dan berkembangnya wilayah pemukiman. Kemiringan dasar lembah sebesar 25-30% yang melandai ke arah hilir dan memperlihatkan lembah terpotong yang berbatasan dengan lembah alur Sungai Sedau dan juga merupakan bagian dari daerah Bendung Sedau. Hampir semua lerengnya tertoreh akibat erosi yang kuat, sehingga terbentuk gawir maupun tebing tegak yang tingginya 4-15 m, diperkirakan adalah suatu fenomena “erosi ke hulu” (headward erosion). Secara terus-menerus terjadi gerakan tanah yang sema kin lama bertambah luas. Keberadaan bendung Sedau di bagian hilirnya, menyebabkan kedudukan muka air tanah dan zona jenuh air di daerah lembah menjadi lebih tinggi, sehingga kecenderungan terjadinya gerak an tanah di lereng lembah menjadi semakin tinggi. Oleh karena itu, pada musim hujan tingkat kejadian gerakan tanah pada lereng tersebut menjadi lebih tinggi. Selama musim hujan aliran air di dasar lembah bertambah besar ke arah hilir, sehingga mengakibatkan pengikisan (piping) pada lereng bagian bawah, akibatnya terjadi ceruk, gerowong, dan lubang torehan. Pada saat massa tanah/batuan pada lereng jenuh air, bobot massanya bertambah besar, sedangkan kekuatan geser berkurang, menyebabkan tahanan samping (lateral support) pada lereng tidak kuat menahan beban dari massa tanah/batuan yang berada di atasnya, sehingga terjadi runtuhan/ambrukan dan longsoran. Terutama pada setiap musim hujan di sepanjang lembah tersebut terjadi gerakan tanah yang semakin lama semakin bertambah luas. Sebagian wilayah Kampung Cerorong masih dapat dihuni dengan upaya perbaikan dan penguatan pada lereng lembah, sedangkan relokasi perumahan penduduk hanya yang berada sangat dekat dengan lembah gerakan tanah.Kata kunci: erosi ke hulu, gerakan tanah, jenuh air, tahanan samping
Semburan gas bercampur air di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur Hanik Humaida; Akhmad Zaennudin; N. E. Sutaningsih
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.447 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.32

Abstract

SARISemburan gas di Desa Candi Pari yang terjadi pada 20 November 2011 berada sekitar 3,2 km sebelah barat titik pusat semburan lumpur Sidoarjo (LUSI). Semburan gas ini didominasi oleh gas hidrokarbon disertai oleh air yang keluar melalui sumur bor dengan kedalaman sekitar 35 m. Sumur bor ini dibuat tiga tahun yang lalu untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, kecuali untuk air minum karena mutunya tidak layak untuk dikonsumsi sebagai air minum. Berdasarkan analisis, komposisi kimia hidrokarbon dan isotop karbondari semburan gas LUSI tersebut merupakan gas hidrokarbon termogenik yang mempunyai kesamaan dengan semburan-semburan gas di sekitar LUSI. Gas hidrokarbon yang terdapat di dalam semburan Candi Pari berasal dari kedalaman antara 1.514 – 2.514 m yang mendorong air meteorik yang berada di lapisan atasnya.Kata kunci: Candi Pari, semburan gas hidrokarbon, Porong, LUSIABSTRACTThe gas outburst at Candi Pari village that occured on November 20, 2011 was a gas outburst about 3.2 km to the west of the main eruption point of LUSI. This outburst was followed by hydrocarbon gas dominated water that came out of shallow bore hole of 35 m deep. This bore hole was built three years agofor daily needs, but not as drinking water. Based on analysis, chemical composition of the hydrocarbon and isotop of the carbon the gases are thermogenic hydrocarbon. These gases are similar with bubbles and outburst gases from around LUSI. The hydrocarbon gases of Candi Pari were originating from a depth of 1,514 – 2,514 m that pushed out the meteoric water on the upper layer.Keywords: Candi Pari, outburst hydrocarbon gases, Porong, LUSI
Kondisi air tanah untuk irigasi di Kabupaten Sumbawa Barat Bethy C. Matahelumual
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.375 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.33

Abstract

SARISebagian besar penduduk Kabupaten Sumbawa Barat tinggal di kawasan pedesaan. Pertanian merupakan sumber utama pendapatan mereka. Sumber air tanah di Kabupaten Sumbawa Barat cukup melimpah, sehingga selain digunakan sebagai sumber air bersih, dapat juga dimanfaatkan untuk irigasi. Pengambilan percontoh air dilakukan di 8 kecamatan yaitu Kecamatan Sekongkang, Jereweh, Maluk, Taliwang, Brang Ene, Brang Rea, Seteluk, dan Poto Tano. Pendekatan berdasarkan diagram Wilcox dan perbandingan Serapan Natrium (Sodium Adsorption Ratio-SAR) digunakan untuk mengetahui kelayakan air tanah bagi keperluan irigasi. Kualitas air di Kabupaten Sumbawa Barat umumnya tidak memenuhi persyaratan kualitas air minum tetapi dapat digunakan untuk keperluan irigasi.Kata kunci: air tanah, irigasi, diagram Wilcox, Sumbawa BaratABSTRACTResidents of West Sumbawa Regency are mostly live in rural area. Agriculture represents the main source of their earnings. In West Sumbawa Regency groundwater is quite abundant and it is used either as the source of drinking water and can also be used for irrigation. Shallow groundwater samples were taken in 8 Sub Districts namely Sekongkang, Jereweh, Maluk, Taliwang, Brang Ene, Brang Rea, Seteluk and Poto Tano. An approach based on Wilcox diagram and Sodium Adsorption Ratio (SAR) are used to find out ground water elegibility for irrigation.Water quality in West Sumbawa Regency generally does not meet the quality requirements of drinking water but can be used for irrigation.Keywords: groundwater, irrigation, Wilcox diagram, West Sumbawa
Mitigasi dampak kenaikan muka laut di Pantai Alam Indah Kota Tegal Jawa Tengah melalui pendekatan Geomorfologi Septriono Hari Nugroho
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1804.341 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.34

Abstract

SARIPenelitian terkait penanganan kenaikan muka air laut di kawasan wisata Pantai Alam Indah Kota Tegal dilakukan dengan pembuatan profil pantai. Metode yang digunakan adalah survei lapangan dengan analisis deskriptif korelatif. Pantai Alam Indah relatif landai, dengan kemiringan bibir pantai antara 1 – 70, tersusun oleh endapan pasir dan termasuk jenis pantai abrasi. Profil pantai diukur dengan waterpass portable, sehingga dapat diketahui muka laut sekarang dan dapat dibuat prediksi kenaikan muka laut masa datang. Dari hasil pengukuran diperoleh ketinggian dataran pantai sekitar 0,2 – 1,8 m dpl. Apabila kenaikan muka laut di prediksi menjadi 0,5 m maka seluruh segmen pantai akan mampu menghadapi kenaikan muka laut, sehingga air tidak masuk ke daratan. Apabila kenaikan muka air laut naik menjadi 0,8 – 1 m maka sebagian besar dataran pantai terutama bagian timur akan tergenang oleh limpasan air tersebut. Bagian barat dan tengah pantai, hanya mampu menahan air yang datang hingga ketinggian 0,8 m. Persoalan ini dapat ditanggulangi dengan meninggikan dataran tepi pantai, dengan cara pembuatan deretan groin di sepanjang pantai. Deretan groin akan bermanfaat untuk menstabilkan garis pantai, sebagai penangkap sedimen sehingga akan meninggikan dataran tepi pantai dan kawasan tersebut dapat dijadikan kawasan wisata pantai yang aman.Kata kunci: mitigasi, kenaikan muka laut, profil, pantaiABSTRACTThe research related to sea level rise anticipation in tourism area of Alam Indah Beach, Tegal city, handled by making of beach profile. The method used in this research was a field survey with correlative description analysis. The Alam Indah beach has relatively gentle slope, of which the shore line angle ranges between 1o to 7o; it is composed of sand deposits, and it is included to abrasion beach. The beach profile measured by portable water pass, so the present sea level can be reecognized and the future sea level can be predicted. By measuring the coastal plain, the height is obtained which is about 0.2 to 1.8 m above MSL. If the increase of sea level was predicted to 0.5 m, the entire coastal segment will be able to deal with the increase of sea level, so the water does not inundate the land. But, if the sea level increases to
Model Erupsi Gunung Bromo di Jawa Timur pada Tahun 2010 – 2011 Akhmad Zaennudin; Kristianto Kristianto; Efrita Lusy A.S
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.349 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v3i1.35

Abstract

SARIKegiatan Gunung Bromo, Jawa Timur dalam periode tahun 2010 - 2011 adalah proses erupsi freatik disusul oleh freatomagmatik yang diakhiri dengan erupsi magmatik. Erupsi ini dipicu oleh adanya suplai magma baru berulang kali yang berkomposisi andesit basaltik. Seismometer merekam adanya suplai magma baru sebanyak lima kali selama sebelas bulan terakhir. Suplai magma yang berlangsung cukup lama dan berulang-ulang tentunya dapat mempengaruhi durasi erupsi. Erupsi yang terjadi pada saat ini sangat berbeda dengan erupsi-erupsi dalam sejarahnya, berlangsung cukup lama dengan menghembuskan material halus secara menerus dan diakhiri oleh erupsi magmatik. Erupsi seperti ini sangat dipengaruhi oleh volume magma baru yang diinjeksikan ke kantong magma dan kandungan air tanah. Proses erupsi freatomagmatik itu terjadi ketika magma yang sedang bergerak ke permukaan bersentuhan dengan formasi batuan (akuifer) yang jenuh air, sehingga terjadi fragmentasi yang menghasilkan material halus dan kemudian disemburkan ke udara. Ketika kandungan air dalam akuifer sudah tidak ada lagi maka magma dapat mencapai permukaan dengan ditandai oleh erupsi tipe Stromboli.Kata kunci: Bromo, freatomagmatik, 2010 - 2011, model erupsiABSTRACTThe activities of Bromo volcano in East Java in the period of 2010 – 2011 were phreatic and followed by phreatomagmatic which is terminated by magmatic eruptions. These eruptions were triggered by the supply of new magma of basaltic andesite in composition repeatedly. Seismometer recorded fi ve events of new magma supply within eleven months. This prolonged supply of new magmas infl uenced the duration of eruption. This eruption was different from the previous ones in historical records. The eruption took place in a long period of time that ejected fi ne grained volcanic materials continuously and terminated with magmatic eruption. It was infl uenced by the volume of new magma intruded to the magma pocket; while migrating to the surface in contact with the groundwater below the crater. The process produced fragmentation of fi ne materials that are ejected to the air. When the water content in the aquifer emptied, the magma will reach the surface to produce magmatic eruption of Strombolian type.Keywords: Bromo, phreatomagmatic, 2010 -2011, eruption model

Page 1 of 1 | Total Record : 5