cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JLBG (Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi) (Journal of Environment and Geological Hazards)
ISSN : 20867794     EISSN : 25028804     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi (JLBG) merupakan terbitan berkala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, yang terbit triwulan (tiga nomor) dalam setahun sejak tahun 2010. Bulan terbit setiap tahunnya adalah bulan April, Agustus dan Desember. JLBG telah terakreditasi LIPI dengan nomor akreditasi 692/AU/P2MI-LIPI/07/2015.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2014)" : 5 Documents clear
Proses hidrogeokimia pengontrol salinitas air tanah tidak tertekan di utara Cekungan Air Tanah Jakarta Taat Setiawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3608.711 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.63

Abstract

ABSTRAKAnalisis fasies air tanah dan diagram bivariat berbagai parameter hidrokimia sangat bermanfaat untuk mengetahui proses-proses yang mengontrol salinitas air tanah tidak tertekan di utara Cekungan Air Tanah Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan fasies air tanah tidak tertekan terutama dipengaruhi oleh proses-proses hidrogeokimia berupa pencucian air tanah oleh perkolasi air hujan, tukar kation, dan penyusupan air laut. Pada Endapan Pematang Pantai (Qbr), pencucian air tanah oleh perkolasi air hujan berlangsungrelatif cepat disertai oleh tukar kation antara ion Ca2+ dan Mg2+ oleh ion Na+, sehingga air tanah didominasi oleh fasies Ca-HCO3, Mg-HCO3, dan Na-HCO3 dengan karakter air bersifat tawar hingga sedikit asin. Pada Endapan Aluvial (Qa), pencucian air tanah oleh perkolasi air hujan dan proses tukar kation antara ion Ca2+ dan Mg2+ oleh ion Na+ berlangsung relatif lambat sehingga air tanah didominasi oleh fasies Na-HCO3 dan Na-Cl dengan karakter air bersifat sedikit asin hingga asin. Pada daerah pantai, beberapa lokasi menunjukkan adanya indikasi penyusupan air laut.Kata kunci: pencucian air tanah, tukar kation, penyusupan air laut, JakartaABSTRACTGroundwater facies and bivariate analysis of various hydrochemistry parameters were very useful to know the processes that control the groundwater salinity at the northern part of Jakarta Groundwater Basin. The results show that the formation of groundwater facies mainly influenced by hydrogeochemical processes such as groundwater leaching due to rainwater percolation, cation exchange, and seawater intrusion. At the Beach Ridge Deposits (Qbr), groundwater leaching process due to rainwater percolation was relatively fast accompanied by cation exchange between Ca2+ and Mg2+ ions replaced by Na+ ions. The groundwater was dominated by Ca-HCO3, Mg-HCO3 facies and Na-HCO3 with fresh to slightly saline character. On Alluvial Deposits (Qa), the groundwater leaching process by rainwater percolation and cation exchange between Ca2+ and Mg2+ ions replaced by Na+ ions was relatively slow, so that the groundwater was dominated by Na-HCO3 facies and Na-Cl with slightly to moderately saline characters. In areas which are relatively close to the coast, some of them show the presence of seawater intrusion.Keywords: groundwater leaching, cation exchange, seawater intrusion, Jakarta
Analisis penyebaran Particulate Matter 10 (PM10) pascaerupsi Gunung Kelud 13 Februari 2014 Kadarsah Kadarsah; Eko Heriyanto; Radyan Putra Pradana
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2414.385 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.64

Abstract

ABSTRAKErupsi Gunung Kelud terjadi pada 13 Februari 2014 diawali oleh letusan freatomagmatik awal yang diikuti oleh erupsi magmatik yang menghasilkan aliran piroklastik dan jatuhan piroklastik. Penelitian dan pengamatan kualitas udara di sekitar Gunung Kelud mutlak dilakukan untuk mengetahui dampaknya bagi lingkungan dan manusia. Oleh karena itu, pengamatan Particulate Matter 10 (PM10) dan parameter meteorologi telah dilakukan pada kecamatan terdampak erupsi di sekitar Gunung Kelud. Pengamatan berlangsung 16 - 21 Februari 2014 di Kecamatan Kepung, Wates, dan Nglegok. Selama observasi, tiap kecamatan memiliki kategori tersendiri untuk tiap hari. Kategori dibagi berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara Nasional (ISPU) dengan nilai ambang batas 150 μ/m3. Kecamatan Kepung memiliki dua kategori sedang (96,87 - 98, 49 μ/m3) dan empat tidak sehat (123,61 - 181,93 μ/m3). Kecamatan Wates memiliki dua kategori bahaya (> 300 μ/m3) , satu tidak sehat (146,70 μ/m3) dan sedang (89,77 μ/m3). Kecamatan Nglegok memiliki tiga kategori sedang (56,16 - 77,99 μ/m3), dua baik (43,66 - 46,41 μ/m3) dan satu tidak sehat (117,07 μ/m3). Perbedaan konsentrasi PM10 akibat perbedaan dominasi arah dan kecepatan angin dari Gunung kelud.Kata kunci: erupsi Gunung Kelud, indeks standar pencemaran udara nasional, ISPU, particulate matter10 (PM10)ABSTRACTThe eruption of Kelud Volcano in February 2014 was characterized by initial phreatomagmatic eruptions followed by magmatic erupstion which produced pyroclastic flows, and pyroclastic falls. Research and observation of air quality around Kelud Volcano must be conducted to determine the impact on the environment and humans. Therefore, observation of Particulate Matter 10 (PM10) and meteorological parameters has been carried out in three subdistricts affected by the eruption of Kelud Volcano. The observations took place 16 - 21 February 2014 in the subdistrict of Kepung, Wates, and Nglegok. During the observation, each subdistrict has its own category for every day. The Categories are divided according to the National Air Pollution Standards Index (ISPU) with a threshold value of 150 μ/m3. Subdistrict Kepung has two moderates (96.87 - 98.49 μ/m3) and four unhealthly  kategory (123.61 - 181.93 μ/m3). District Wates has two hazardous (> 300 μ/m3) ,one unhealtly (146.70 μ/m3) and moderate (89.77 μ/m3) category. District Nglegok has three moderate (56.16 - 77.99 μ/m3), two good (43.66 - 46.41 μ/m3) and one unhealtly (117.07 μ/m3) category. The PM10 concentration differences due to differences in the dominance of wind direction and speed from Kelud Volcano.Keyword: Eruption of Kelud Volcano, ISPU, National Air Pollution Standards Index, Particulate Matter 10 (PM10)
Perencanaan sumur filtrasi bantaran sungai dengan uji pemompaan Wahyu Gendam Prakoso; Roh Santoso BW; Meiske Widyarti
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.237 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.65

Abstract

ABSTRAKFiltrasi bantaran sungai digunakan untuk memperbaiki kualitas air sungai sebagai sumber air bersih. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik geologi dan hidrogeologi tapak filtrasi tebing sungai, mengukur penurunan muka air tanah sumur akibat pemompaan pada bantaran sungai, memperkirakan jari-jari pengaruh sumur sebagai parameter utama dalam perencanaan sumur produksi dengan filtrasi tebing sungai. Lokasi uji pemompaan yang terletak di bantaran sungai Cihideung sesuai untuk pembangunan sumur filtrasi tebing sungai dengan memiliki nilai konduktivitas hidraulik berkisar 2,5 – 4,32 m/hari. Jari-jari pengaruh sumur sekitar 45 m. Metode Thiem dan aplikasi Akuifer Test Versi 4.2 memberikan hasil yang baik dalam menduga nilai konduktivitas hidraulik pada lokasi penelitian. Nilai jari-jari pengaruh sumur paling tepat diperoleh dengan menggunakan metode ketakseimbangan dan MLU 2.5.Kata kunci: filtrasi bantaran sungai, uji pemompaan, konduktivitas hidraulik, jari-jari pengaruh sumurABSTRACTRiverbank filtration is used to improve river water quality as drinking water source. This study aims to analyze geological, and hydrogeological characteristic of riverbank filtration site, measuring drawdown characteristic of pumping well on the riverbank, determine well radius of influence as the key parameter on the design of production well with riverbank filtration. Pumping site located at the riverbank of Cihideung river is suitable as riverbank filtration site with hidraulic condutivity 2.5 – 4.32 m/day. Well radius of influence is around 45 m. Thiem method and Akuifer test 4.2 are giving satisfied result on estimating value of hidraulic conductivity. Best value of well radius of influence given by MLU 2.5 and non equilibrium method.Keywords: riverbank filtration, pumping test, hydraulic conductivity, radius of influence
Fasies sedimen Kuarter berpotensi likuifaksi Pesisir Kota Padang, Provinsi Sumatra Barat berdasarkan data inti bor dan CPTu Prahara Iqbal; Adrin Tohari; Imam A. Sadisun; Dwiharso Nugroho
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5817.602 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.61

Abstract

ABSTRAKKajian fasies dan sifat fisik sedimen Kuarter kaitannya dengan potensi likuifaksi di daerah Pesisir Kota Padang dan sekitarnya dilakukan dengan tujuan mendapatkan hubungan antara fasies dan karakteristik fisik sedimen Kuarter terhadap potensi likuifaksinya. Metode yang digunakan adalah observasi inti bor dan pola kurva CPTu untuk menentukan fasies yang berkembang, analisis laboratorium, dan analisis potensi likuifaksi untuk mengetahui karakteristik fisik setiap fasies. Berdasarkan asosiasi litologi, pengamatan pola kurva CPTu, analisis laboratorium, dan analisis potensi likuifaksi, terdapat tiga fasies yang berkembang di daerah penelitian dengan potensi likuifaksi yang berbeda. Fasies pasir fluvial memiliki potensi likuifaksi yang lebih tinggi daripada fasies pasir pematang pantai dan fasies lempung rawa, sedangkan fasies lempung rawa memiliki potensi likuifaksi yang paling rendah di antara fasies-fasies tersebut.Kata Kunci: Fasies sedimen Kuarter, CPTu, Likuifaksi, Kota PadangABSTRACTThe study of Facies and physical property of Quaternary sediments and its relationship with liquefaction potential was conducted at the coastal area of Padang city, West Sumatra Province in order to get the relationship between facies and physical characteristics of the Quaternary sediments and its liquefaction potential. The method used are core and CPTu patterns observations to determine the developed facies, laboratory analysis, and liquefaction potential analysis to determine the physical characteristics of each facies. Based on lithological associations, CPTu pattern observations, laboratory analysis, and liquefaction potential analysis, there are three facies that develop at the research areas with different liquefaction potential. Fluvial sand facies has greater liquefaction potential than the beach ridge sand facies and marsh clay facies, while marsh clay facies has the smallest one among two facies.Keyword: Facies and Quarternary sediments Kuarter, CPTu, liquefaction, city of Padang
Pengaruh letusan Gunung Sinabung pada 15 September 2013 terhadap pengukuran deposisi asam di SPAG Bukit Kototabang Agusta Kurniawan
Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi Vol 5, No 1 (2014)
Publisher : Badan Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6677.495 KB) | DOI: 10.34126/jlbg.v5i1.62

Abstract

ABSTRAKMakalah ini meneliti tentang pengaruh letusan Gunung Sinabung pada 15 September 2013 terhadap pengukuran deposisi asam di Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Bukit Kototabang, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat. Ada dua jenis deposisi asam yang dikaji yaitu deposisi kering dan deposisi basah. Deposisi kering meliputi pengukuran gas (SO2, NO2, dan O3) dan partikel (PM10 dan TSP). Sedangkan deposisi basah meliputi pengukuran tingkat keasaman (pH) dan daya hantar listrik (DHL) air hujan. Data agregat harian sebelum dan setelah letusan Gunung Sinabung dibandingkan untuk mengetahui adanya indikasi perubahan. Sebagai batas toleransi yang dipersyaratkan digunakan nilai baku mutu udara ambien menurut PP No. 41 Tahun 1999. Hasil analisis menunjukkan bahwa letusan Gunung Sinabung pada 15 September 2013 tidak berpengaruh terhadap pengukuran deposisi asam di SPAG Bukit Kototabang. Simulasi menggunakan model yang datang ke Bukit Kototabang bukan berasal dari Gunung Sinabung. Hysplit Volcanic Ash BMKGNOAA, menunjukkan bahwa arah material letusan Gunung Sinabung ke timur sampai utara dan menyebar menjauh dari Bukit Kototabang. Simulasi pergerakan massa udara menggunakan Model Flextra Backward Trajectory menunjukkan bahwa massa udara yang sampai ke Bukit Kototabang bukan berasal dari Gunung Sinabung.Kata kunci: Gunung Sinabung, Bukit Kototabang, Deposisi Asam, Hysplit Volcanic Ash NOAA-BMKG,Flextra Backward TrajectoryABSTRACTThis paper studied the impact of Mount Sinabung eruption to acid deposition parameters in Global Atmosfer Watch (GAW )Bukit Kototabang Station, District of Agam, West Sumatra Province on September 15th, 2013. Two types of acid deposition were studied: dry and wet deposition. Dry deposition measurement includes the gases (SO2, NO2, and O3) and particles (PM10 and TSP). Meanwhile, wet deposition studied includes acidity level (pH) and rainwater conductivity. Daily average data, before and after the eruption, are compared to find indications of any change.  As tolerance limits used ambient air quality standard value according to PP No. 41 of 1999. Results showed that Mount Sinabung eruption on 15 September 2013 did not show a significant impact on the measurement on the wet and dry deposition parameters. Simulation of volcanic ash trajectory from BMKG-NOAA HYSPLIT Volcanic Ash also suggested that the ash moved east to north, spreading away from Bukit Kototabang. Simulation of air mass movement using backward trajectories Flextra Model showed that air mass arrived to Bukit Kototabang wasn’t from Mount Sinabung.Keywords: Mount Sinabung, Bukit Kototabang, acid deposition, Hysplit Volcanic Ash NOAA-BMKG, Flextra Backward Trajectory

Page 1 of 1 | Total Record : 5