cover
Contact Name
Franky R.D Rengkung
Contact Email
frankyrengkung@unsrat.ac.id
Phone
+6281311100340
Journal Mail Official
jurnalpolitico@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jalan Kampus Bahu Malalayang Manado Kode Pos 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Politico: Jurnal Ilmu Politik
ISSN : 23025603     EISSN : 29639018     DOI : -
Core Subject : Social,
The POLITICO journal contains various articles related to developments and dynamics that occur in the world of politics. Writings or articles published in the POLITICO Journal can be the results of research or scientific opinions related to political science both in theory and practice.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013" : 15 Documents clear
FUNGSI LEGISLASI DPRD KABUPATEN BANGGAI DALAM PENETAPAN APBD TAHUN 2013 AGUAL, RINALDIN
JURNAL POLITICO Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : JURNAL POLITICO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPelimpahan kewenangan kedaerah yang tergambar pada pemberian kekuasaan yang lebih besar bagi DPRD dalam hal menjalankan fungsi Legislasi, Anggaran dan Pengawasan, diharapkan mampu meningkatkan peran mereka dalam pembuatan peraturan daerah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah. Permasalahan yang sering terjadi Pemerintah Daerah dan DPRD sebagai dua lembaga yang memiliki kewenangan dalam hal penetapan peraturan daerah APBD seringkali mengabaikan kepentingan masyarakat dan lebih mementingkan kepentingan individu maupun kelompoknya sendiri. Inilah yang seringkali menyebabkan APBD kurang dirasakan kehadirannya oleh masyarakat luas. Selain itu dalam mekanisme perencanaan APBD belum membuka ruang keterlibatan luas masyarakat, sehingga menimbulkan resistensi pada tahap implementasi. Penelitian ini akan mencoba untuk melihat bagaimana fungsi-fungsi DPRD yang berjalan didaerah khususnya fungsi legislasi DPRD dalam penetapan APBD di di Kabupaten Banggai. legislasi dari Hal ini sangat menarik untuk dielaborasi karena untuk mendapatkan informasi tentang bagaimana proses penetapan APBD tersebut. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif untuk mendeskripsikan proses penetapan APBD di kabupaten Banggai oleh Pemerintahan daerah dan DPRD. Proses pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara mendalam kepada berbagai pihak yang dianggap tahu tentang proses tersebut. Dari penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa ternyata dalam proses penyusunan hingga penetapan APBD dikabupaten Banggai masih belum mencerminkan kepentingan masyarakat. Hal ini disebabkan keterlibatan masyarakat dalam proses tersebut masih sangat minim. Hal itu disebabkan karena para anggota dewan yang bertugas dalam proses tersebut masih terkesan mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan mereka sendiri. Melihat persoalan tersebut maka diharapkan kedepan dalam proses penyusunan APBD haruslah lebih meningkatkan peran masyarakat, dan bagi para anggota dewan agar dapat lebih bijaksana dengan tidak mengutamakan kepentingan pribadi. Kata Kunci : Fungsi Legislasi dan APBD
PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAH DI KABUPATEN TOLIKARA PROVINSI PAPUA Weya, Yupiter
JURNAL POLITICO Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : JURNAL POLITICO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT TERHADAP KEBIJAKAN PEMERINTAHDI KABUPATEN TOLIKARA PROVINSI PAPUAYupiter WeyaNIM : 090814023Dosen Pembimbing :1. Dr. Drs. A. B. Pati, MSi2. Drs. R. J. D. Sumampouw, MSiABSTRACTDi setiap negara atau daerah yang sedang melaksanakan pembangunan sudah tentu banyak menghadapi berbagai masalah seperti politik, sosial, ekonomi, keamanan, kesejahteraan dan lain sebagainya.Masalah kebijakan yang nantinya akan diimplementasikan atau dilaksanakan kepada masyarakat tentunya ada proses evaluasi, seperti banyak negara-negara yang sudah maju mulai menyadari akan setiap proses pelaksanaan pembangunan, baik dalam proses perumusan, pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi kebijakan. Permasalahan yang muncul adalah Bagaimana partisipasi politik masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua? Dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua?.Pemerintah juga dituntut untuk "memperhatikan masalah-masalah yang timbul ditengah-tengah masyarakat, baik itu masalah pelestarian lingkungan maupun masalah hak-hak asasi manusia. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dalam kaitan dengan penelitian ini penulis tertarik membahas tentang Partisipasi Politik Masyarakat Terhadap Kebijakan Pemerintah Di Kabupaten Toilikara Provinsi Papua.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini digambarkan dengan kalimat menurut kategorinya untuk disimpulkan, apabila ada data yang berupa angka- angka hasil perhitungan akan diproses berdasarkan: dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan hasilnya diprosentasekanDengan demikian, pendidikan politik masyarakat pada dasarnya untuk menciptakan suatu keberadaan bangsa yang beradab, dimana dalam pergaulan hidup antar sesama generasi muda sebagai anggota masyarakat terdapat rasa kasih sayang, hormat menghormati, bantu membantu atau tolong menolong, mengetahui akan hak dan tanggung jawab masing-masing menjunjung tinggi hukum, memulaikan agama, luhur budinya' lni karena di dukung oleh moral yang luhur dan baik, yaitu Moral Pancasila, dimana tingkah laku lahiriah di dalam masyarakat.Key words : Partisipasi Politik, Kebijakan Pemerintah, Peranan Pemerintah2? PENDAHULUANA. Latar Belakang MasalahMasalah kebijakan yang nantinya akan diimplementasikan atau dilaksanakan kepada masyarakat tentunya ada proses evaluasi, seperti banyak negara-negara yang sudah maju mulai menyadari akan setiap proses pelaksanaan pembangunan, baik dalam proses perumusan, pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi kebijakan. Pemerintah juga dituntut untuk "memperhatikan masalah-masalah yang timbul ditengah-tengah masyarakat, baik itu masalah pelestarian lingkungan maupun masalah hak-hak asasi manusia. Konotasi atau masalah pembangunan (development) tidak lagi semata-mata dilihat sebagai persoalan perbaikan (improvement) khususnya persoalan struktur ekonomi masyarakat, semisal penciptaan kemakrnuran apabila kebijakan-kebijakan tersebut tidak dibarengi dengan proses evaluasi. Bila pendapat diatas dikaitkan dengan pembangunan yang ada di wilayah Kabupaten, maka kebijakan pemerintah di Kabupaten mempunyai peranan yang sangat penting terhadap akselerasi (pelaksanaan atau implementasi) dari pada proses pembangunan.Bahwa kabupaten tolikara memerlukan perencanaan pembangunan jangka panjang sebagai arah dan prioritas pembangunan menjeluruh yang akan di lakukan bertahap untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana dimanatkan Undang-Undang Dasar 1945.Dapat dikatakan demikian karena pemerintah Kabupaten yang salah satu fungsinya adalah sebagai pemotivasi dalam pelaksanaan pembangunan, diharapkan mampu mengembangkan partisipasi masyarakat dalam menunjang keberhasilan dari pada proses pembangunan yang ada di wilayahnya lewat kebijakan-kebijakan yang akan diimplementasikan atau yang akan dilaksanakan. Diperlukan kepedulian aktif atau keterlibatan langsung dari seorang Bupati dalam memberikan seruan-seruan kepada masyarakat atau setidaknya dapat mengingatkan kepada masyarakat bahwa pembangunan itu adalah untuk kepentingan masyarakat juga sehingga mereka akan tergugah ataupun merasa terpanggil dan pada akhirnya mereka akan berpartisipasi secara aktif terhadap setiap program pembangunan yang akan dilaksanakan di Kabupaten.3B. Perumusan MasalahBerdasarkan latar belakang pemikiran diatas maka rumusan masalah yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Bagaimana partisipasi politik masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua?2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi partisipasi politik masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua?C. Tujuan Penelitian Dan Manfaat Penelitian1. Tujuan PenelitianUntuk mengetahui bagaimana partisipasi politik masyarakat terhadap kebijakan Pemerintah di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua.2. Manfaat PenelitianSecara ilmiah, penelitian ini dapat memberikan sumbangan atau masukan dalam khasanah bidang pengetahuan, khususnya dibidang ilmu politik yang berhubungan dengan partisipasi politik dan kebijakan pemerintah.Secara praktis, penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang cukup berarti untuk pembangunan politik di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua.Manfaat lainnya, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penelitian bagi siapa saja yang akan melanjutkan penelitian dalam bidang partisipasi politik masyarakat dan kebijakan PemerintahD. Kajian Pustaka1. Konsep Partisipasi PolitikMeriam Budiardjo memberikan pengertian tentang partisipasi politik adalah kegiatan seseorang untuk ikut secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung mempengaruhi kebijakan pemerintah (Publik Policy), kegiatan ini mencakup seperti memberikan suara dalam pemilihan umum, menghadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan mengadakan hubungan (contacting) dengan pejabat pemerintah atau anggota parlemen dan sebagainya.4Selanjutnya Samuel P. Huntington dan Joan M. Nelson, mengemukakan pula bahwa partisipasi politik adalah kegiatan warga Negara yang bertindak sebagai pribadi-pribadi yang dimaksud untuk mempengaruhi pembuatan keputusan oleh pemerintah.2. Konsep Kebijakan PemerintahKuypers menyebutkan bahwa kebijakan merupakan susunan dari tujuan-tujuan yang dipilih dari para aktor-aktor untuk diri sendiri atau suatu kelompok. kebijakan sebagai tindakan secara sadar dan sistimatis dengan mempergunakan sarana-sarana yang cocok dengan tujuan politik yang jelas sebagai sarana yang dijalankan langkah demi langkah.Menurut Stoner James, kebijakan merupakan garis pedoman untuk pengambilan keputusan. Kebijakan menetapkan batas-batas di sekitar keputusan, termasuk keputusan yang dapat dibuat dan menolak keputusan-keputusan yang tidak dapat dibuat.Dengan demikian perkataan atau konsep kebijakan dan pemerintah dapat dipadukan menjadi satu yakni kebijakan pemerintah adalah suatu usaha atau suatu tindakan secara sadar, sistimatis, terorganisir, terencana yang dilakukan oleh pemerintah dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan bersama dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat.Kebijakan pemerintah yang dimaksud disini adalah kebijakan yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat, seperti kebijakan dalam bidang pertanian, kebijakan dibidang ekonomi, kebijakan dibidang ketenaga kerjaan dan kebijakan dibidang pendidikan merupakan contoh dari kebijakan pemerintah.3. Konsep Peranan PemerintahMenurut Poerwadarminta W. J. S., secara etimologis kata peranan berasal dari kata peran yang artinya: Pemain Sandiwara, tukang lawak. Kata "Peran"' ini diberi akhiran "an" maka menjadi "peranan" yang artinya sesuatu yang memegang pimpinan terutarna atau karena hal atau peristiwa.Jack C. Plano mengemukakan bahwa peranan atau "Role" yaitu seperangkat perilaku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki posisi tertentu dalam, suatu kelompok sosial5E. Metodologi PenelitianPenelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini digambarkan dengan kalimat menurut kategorinya untuk disimpulkan, apabila ada data yang berupa angka- angka hasil perhitungan akan diproses berdasarkan : dijumlahkan, dibandingkan dengan jumlah yang diharapkan dan hasilnya diprosentasekan.lnstrumen atau alat yang digunakan untuk mengumpulkan data primer adalah kuesioner atau daftar pertanyaan yang disusun berdasarkan pada variable penelitian. Sedangkan untuk mengumpulkan data sekunder digunakan formulir.Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Pemerintah dan masyarakat yang ada di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua.Jumlah sampel dalam penelitian ini masing masing diambil 10 responden sehingga jumlah responden keseluruhan dalam penelitian ini adalah 50 orang responden.? PEMBAHASANPendidikan politik masyarakat pada dasarnya untuk menciptakan suatu keberadaan bangsa yang beradab, dimana dalam pergaulan hidup antar sesama generasi muda sebagai anggota masyarakat terdapat rasa kasih sayang, hormat menghormati, bantu membantu atau tolong menolong, mengetahui akan hak dan tanggung jawab masing-masing menjunjung tinggi hukum, memulaikan agama, luhur budinya' lni karena di dukung oleh moral yang luhur dan baik, yaitu Moral Pancasila, dimana tingkah laku lahiriah di dalam masyarakat. Bahwa pendidikan politik, mengandung makna mempertajam nalar seseorang dengan bekal pedoman-pedoman kehidupan sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara yang hidupnya tak terpisahkan dari pertumbuhan dan perkembangan dunia internasional.Sasaran luhur yang lain dari pendidikan politik, yakni kesadaran moral yang tumbuh sejak revolusi kemerdekaan yaitu semangat dan nilai-nilai perjuangan hidup bangsa sebagai Pancasila yang menjiwai seluruh masyarakat kita, dengan tujuan menciptakan masyarakat yang bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan menciptakan suatu masyarakat yang adil dan makmur di kawasan nusantara yang damai sejahtera dalam pergaulan bangsa-bangsa yang bersahabat di muka bumi ini6Partisipasi dalam bentuk ide-ide/pemikiranlusul sangat perlu atau lebih banyak masyarakat berikan agar supaya Kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah dapat secara langsung dirasakan menyentuh apa yang diperlukan masyarakat.Dalam mengupayakan pelaksanaan pembangunan fisik misalnya rnaka Pemerintah diharapkan sering memonitoring atau memantau langsung di lapangan untuk melihat keberadaan proyek pembangunan fisik tersebut baik yang dilaksanakan di tingkat kelurahan/desa, Kecamatan, maupun Kabupaten agar Pemerintah selaku aparatur pemerintah daerah yang ada di Kabupaten bisa mengetahui apakah pembangunan tersebut berjalan dengan sebaiknya ataukah tidak.Peran serta masyarakat pada umumnya tentu tidak akan lepas dari setiap pelaksanaan pembangunan karena tanggung jawab pembangunan tidak hanya semata-mata berada di tangan pemerintah saja, akan tetapi menjadi tanggung jawab masyarakat juga, sebab dalam hal ini masyarakat merupakan objek sekaligus subjek daripada pembangunan tersebut.Dengan demikian maka dibutuhkan keterlibatan, keseriusan dan peran aktif dari seorang Pemerintah sebagai administrator pembangunan dan kemasyarakatan (bila pembangunan tersebut lebih diarahkan pada lingkup Kabupaten) dalam menyukseskan program pembangunan tersebut.Pengamatan penulis di Kabupaten Tolikara dalam kaitannya dengan penelitian yang penulis lakukan menyangkut judul yang penulis kaji yaitu tentang peranan Pemerintah dalam mengimplementasikan kebijakan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan, maka sasaran yang penulis lakukan ini untuk melihat tingkat frekuensi peranan pemerintah dalam proses perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi Kebijakan untuk peningkatan partisipasi masyarakat terhadap pembangunan, dan Peranan Pemerintah dalam pelaksanaan pembangunanBerdasarkan hasil interpretasi data, dapat diperoleh kesimpulan bahwa kemampuan Pemerintah dalam menggerakkan partisipasi masyarakat untuk berpartisipasi aktif sehubungan dengan penyelenggaraan pembangunan yang diprakarsai langsung oleh pemerintah menunjukkan bahwa yang lebih dominan menjawab pemerintah mampu menggerakkan partisipasi masyarakat. lni disebabkan karena Pemerintah selalu bekerjasama dengan seluruh komponen masyarakat serta sering memotivasi masyarakat bagaimana memelihara hasil pembangunan yang sudah ada.7? PENUTUPA. Kesimpulan1. Partisipasi politik yang secara aktif dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Tolikara Provinsi Papua bukan hanya datang dan tumbuh begitu saja, tetapi ada berbagai macam faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah dengan memberikan budaya politik serta pengaruh pendidikan politik masyarakat.2. Bentuk pemikiran dan ide-ide sebagai perwujudan partisipasi politik masyarakat Kabupaten Tolikara, dinyatakan dengan cara memberikan masukan kepada pemerintah dalam hal ini pemerintah sebagai pembuat kebijakan, agar nantinya kebijakan yang dibuat Pemerintah untuk pembangunan daerah, dapat menyentuh sampai kepada lapisan terbawah dari masyarakat3. Adanya saling mempengaruhi antara kebijakan pemerintah dan partisipasi politik masyarakat sehingga keduanya dapat dilakukan secara seimbang, seiring sejalan serta berlangsung secara4. Respon yang baik dari masyarakat di Kabupaten Tolikara terhadap proses pembuatan Kebijakan Pemerintah sudah berjalan dengan baik, hal ini ditunjukkan dengan sikap yang secara aktif dalam partisipasi politik merekaB. SaranDemi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan di Kabupaten Tolikara Provinsi Papua, maka sangat diharapkan perhatian pemerintah Kabupaten agar dapat meningkatkan taraf hidup masyarakatnya lewat kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran, terutama pada sektor pendidikan secara umum dan khususnya pendidikan politik, sehingga nantinya tingkat partisipasi politik mereka akan semakin tinggi dan lebih baikf lagi8? DAFTAR PUSTAKAAnderson James. 1986. Analisa Kebijaksanaan Publik, Terjemahan Nuhadjir,Yogyakarta.Bayu Suryaningrat, 1980. Perumusan Kebijakan dan Koordinasi Pembangunan di lndonesia, Bina Aksara.Becker H. A. 1972. Managemen Pembangunan Untuk Negara Berkembang,LP3ES.Budiarjo Meriam, 1982. Partisipasi dan Partai Politik, Sebuah Bunga Rampai,PT. Gramedia, Jakarta.???????..1982. Dasar-Dasar llmu Politik, PT. Gramedia, Jakarta.Hoogerwerf A., 1 983. llmu Pemerintahan, Erlangga, Jakarta.Huntington, Samuel P dan Joan Nelson, 1981. Partisipasi Politik di NegaraBerkembang. Jakarta, Rineka Cipta.Jack C Plano, 1994, Kamus Analisa Politik, Penerbit PT. Raja Grafindo PersadaJakarta.James Stoner. 1994. Pengantar Kebijakan Publik.-Editor Nashir Budiman, CV.Rajawali.Juwono Sudarsono, 1982. Politik dan Pembangunan Pilihan Masatah, CV.Rajawali, Jakarta.Kansil C. S. T. 1990. Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah, Bina Aksara,Jakarta.Kuypers. 1973. Pengantar Analisis Kebiiaksanaan Negara, Rineka Cipta.Laswell dan Kaplan.1999. Prinsip-prinsip Perumusan Kebiiaksanaan Negara.Bina Aksara.Maurice Duverger. 1981. Sosiologi Politik. Yayasan llmu-llmu Sosial.Nana Sudjana. 1975. Teknik Analisis Regresi Dan Koretasi Bagi Para Penetiti,Edisi Ke dua, Tarsito, Bandung.Ndara Taliziduhu, 1987, Metodologi Pemerintahan lndonesia, PT,. Bina Aksara, Jakarta.Poerwadaminta W. J. S. 1986, Kamus Bahasa lndonesia, Balai Pustaka NasionalSubagyo Joko. 1991. Metode Penelitian (Dalam Teori dan Praktek). Jakarta,Ricka Cipta.Suharsimi Arikunto, 1998. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik. PT.Bina Aksara, Jakarta.Sumber lain:- Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Otonomi Daerah.
PERANAN TOKOH AGAMA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT PADA PILKADA BUPATI 2010 DI KABUPATEN HALMAHERA SELATAN AYA, DEMIANUS
JURNAL POLITICO Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : JURNAL POLITICO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERANAN TOKOH AGAMA DALAM MENINGKATKAN PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT PADA PILKADA BUPATI 2010 DI KABUPATEN HALMAHERA SELATAN   Oleh : DEMIANUS AYA NIM : 080814020 ABSTRAK Tokoh agama mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka menggerakan partisipasi masyarakat dalam sebuah pilkada. Keberhasilan tokoh agama dalam rangka menggerakan partisipasi masyarakat dalam pilkada di wilayah kabupaten Halmahera Selatan sangat ditentukan oleh kemampuan atau gaya dari tokoh agama dalam memberikan orasi politiknya dalam kampanye, himbauan dan sarannya dalam mempengaruhi warga masyarakat atau juga sangat ditentukan oleh cara tokoh agama dalam menggunakan kewenangan sebagai pemimpin agama. Dengan demikian, maka peran tokoh agama dengan partisipasi politik publik mempunyai hubungan yang sangat erat dan tidak bisa dipisahkan, sebab apabila peran dari tokoh agama semakin baik maka partisipasi politik juga akan semakin meningkat. Hal ini sangat menarik untuk dielaborasi lebihlanjut, sehingga untuk melihat keterkaitan tersebut mendorong penelitian ini dilakukan. Penelitian ini berlokasi di Halmahera Selatan disaat pilkada pada tahun 2010 berlangsung. Dan metode yang dipakai dalam melakukan penelitian ini adalah melakukan wawancara mendalam kepada beberapa informan yang dianggap mempunyai pengetahuan yang komprehensif tentang informasi yang terkait dengan topic penelitian. Berdasarkan hasil penelitian di Kabupaten Halmahera Selatan, tokoh agama berperan aktif dalam memberikan nasihat, ceramah atau khotbah politik terhadap masyarakat ketika menjelang pilkada bupati. Peranan tokoh agama ini didasari dengan tanggung jawab iman terhadap masyarakat dalam rangkah membina, memotivasi dan mengarahkan masyarakat dalam rangka turut aktif untuk berpartisiapsi pada pilkada. Bentuk partisipasi masyarakat masih menggunakan unsur primodialisme sebagai factor utama dalam menentukan pilihannya, maka suku terbesarlah yang menjadi pemimpin terpilih di daerah tersebut yang dalam hal ini adalah suku Togale (Tobelo-Galela). Kata Kunci : Peranan, Tokoh Agama, Partisipasi, Masyarakat
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMILIHAN KEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAH KABUPATEN YAHUKIMO PROVINSI PAPUA TAHUN 2011 MIRIN, JOHN SIFFY
JURNAL POLITICO Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : JURNAL POLITICO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMILIHANKEPALA DAERAH DAN WAKIL KEPALA DAERAHKABUPATEN YAHUKIMO PROVINSI PAPUA TAHUN 2011OLEH : JOHN SIFFY MIRINNIM : 98083332ABSTRAKModel pemilihan kepala daerah secara langsung dalam sistem pemerintahan di Indonesia memasuki babak baru, dan amanat UUD 1945 pasal 18a dan secara khusus tentang model pemilihan di Provinsi Papua sebagai satu ? satunya model pemilihan unik dalam era demokrasi modern. Negara mengakui dan menghormati satuan ? satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang ? undang dasar 1945 ayat ( 2 ) . Dalam peraturan tersebut negara mengakui dan menghormati kesatuan ? kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak ? hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang ? undang.Kekhususan yang dimiliki oleh propinsi Papua ini khususnya di wilayah Kabupaten Yahukimo menyangkut pemilihan Kepala daerah banyak menunjukan kekhususannya dibandingan dengan wilayah lain. Hal ini sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, untuk mendapatkan bagaiman fenomena yang terjadi di wilayah ini.Hal ini penting untuk mendapatkan gambaran tentang bagaimana proses demokrasi yang berkembang di wilayah-wilayah yang diberikan kekhususan dibandingkan dengan wilayah lain yang ada di Indonesia. Dengan diperolehnya gambaran tersebut diharapkan dapat dibuat beberapa rekomendasi guna kepentingan perkembangan demokrasi itu sendiri.Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Yahukimo dimana pada beberapa waktu lalu baru selesai melakukan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan mendeskripsikan berbagai proses yang terjadi pada saat pemilihan tersebut berlangsung.Pelaksanaan pesta demokrasi (Pemilukada ) di Kabupaten Yahukimo telah dilakanakan sesuai tahapan pemilukada namun masih terdapat permasalahan dimana proses demokrasi sedikit tercoreng, dengan terjadinya konflik yang walaupun sudah diselesaikan di pengadilan namun bibit konflik belum dapat dihilangkan sepenuhnya.Kata Kunci : Implementasi kebijakan, Pemilihan Kepala Daerah.PENDAHULUANA. Latar Belakang.Model pemilihan kepala daerah secara langsung dalam sistem pemerintahan di Indonesia memasuki babak baru, sesuai dengan asas negara kesatuan republik Indonesia sila ke ? 4, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijakanaan dalam permusyawatan perwakilan rakyat dan amanat UUD 1945 pasal 18a dan secara khusus tentang model pemilihan di Provinsi Papua sebagai satu ? satunya model pemilihan unik dalam era demokrasi modern adalah konsistusional sesuai amanat UUD 1945 pasal 18b ayat ( 1 ) . Negara mengakui dan menghormati satuan ? satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang ? undang dasar 1945 ayat ( 2 ) . Negara mengakui dan mengahormati kesatuan ? kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak ? hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip negara kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang ? undang. ( Dilla Candra Kirana, 2012:18 - 20 )Menurut Agustino, sejumlah alasan perubahan sistem pemilihan kepala daerah dari dipilih oleh DPRD menjadi dipilih langsung oleh masyarakat adalah karena mekanisme pemilihan secara langsung akan menghadirkan legitimasi yang lebih kuat bagi kepala daerah berbanding dengan pemilihan oleh DPRD, melibatkan partisipasi politik masyarakat secara nyata, dan mengukuhkan akuntabilitas pemimpin kepada rakyatnya. Ketiga konsep alasan tersebut diikat oleh satu konsep yaitu mengukuhkan demokrasi diaras local.( Ikhsan Darmawan, 2013:149-140)Sistem Pemilihan demokrasi modern diatur dalam undang ? undang dan secara teknis pelaksanaan Pemilukada mengacu tentang pemberhentian, pengangkatan, pemilihan dan pengesahan kepala daerah, mengacu pada bab III, pasal 4 ayat 3 pemilihan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. ( PP no.06 tahun 2005:2), sekalipun secara teknis tata cara dalam pelaksanaan mengandung asas LUBER namun praktek implementasi di masyarakat adat Papua memiliki model pemilihan masyarakat adat mengandung asas langsung umum bebas transparan ( LUBET ), pemilihan dengan carakesepakatan masyarakat telah mendapat legitimasi dari makamah sebagaimana termuat dalam pertimbangan hukum mahkamah konsistusi dalam putusan perkara Pemilihan Legislatif nomor 47-81/PHPU.A-VII/2009, tanggal 9 juni 2009 pada paragraph (3.24) yang antara lain mempertimbangkan:?menimbang bahwa mahkamah dapat memahami dan menghargai nilai budaya yang hidup di kalangan masyarakat papua yang khas dalam menyelenggarakan pemilihan umum dengan cara atau sistem ?kesepakatan warga? Musyawarah atau ?aklamasi?) yang telah diterima masyarakat Yahukimo tersebut, karena jika dipaksakan pemilihan umum sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dikwatirkan akan timbul konflik di antara kelompok-kelompok masyarakat setempat.mahkamah berpen-dapat, agar sebaiknya mereka tidak dilibatkan atau dibawa ke sistem persaingan atau perpecahan di dalam dan antar kelompok yang dapat mengganggu tatanan budaya masyarakat adat.( http://www.mahkamahkonstitusi.go.id )Dalam rangka pelaksanaan Pemilukada Kabupaten Yahukimo komisi pemilihan umum Yahukimo mengacu pada peraturan KPU no.06 tahun 2008. Pemilihan kepala daerah di Kabupaten Yahukimo dengan terbitkan surat keputusan rapat pleno KPU Kabupaten No.274/25/KPU-YHKM/VIII/2010.( SK : KPU Kabupaten Yahukimo,2011)Pemilihan kepala daerah secara langsung memberikan warna dan nilai tersendiri dalam tatanan hidup masyarakat dengan menyertakan rakyat Yahukimo secara langsung untuk menentukan pemimpin ideal didaerah sesuai keinginan rakyat, maka masyarakat dengan bebas menyatakan pendapat.Di sini kedaulatan rakyat benar - benar dihargai dan legitimasi pemimpin yang dihasilkan lebih kuat kedudukannya dibandingkan dengan pemilihan secara perwakilan. Dalam Pemilukada pada hakekatnya merupakan pembelajaran pendidikan politik bagi rakyat sesuai amanat konsistusi dalam rangka memberikan pendidikan politik semua elemen wajib memberikan pendidikan politik yang sehat, Sehingga masyarakat mampu memotivasi diri dan memahami tujuan memberikan hak politiknya tanpa mengorbankan kepentingannya.Dengan pola pikir dan pola tindak rakyat harus diarahkan pada kesadaran untuk bagaimana memahami dan mengerti akan arti sebuah demokrasi dalamdinamika politik berpolitik secara rasional,santun dan beretika menentukan pemimpin berkarakter dengan pilihan yang terbaik mampu membawa perubahan dalam kelangsungan pembangunan.B. Rumusan MasalahBertolak dari latar belakang diatas maka dirumuskan masalah penulisan ini adalah:1. Bagaimana dan seberapa besar implementasi kebijakan Pelaksanaan Pemilukada dapat terlaksana seperti sistem pemilihan demokrasi langsung yang menganut asa langsung, umum, bebas dan rahasia (LUBER).2. Mengapa masyarakat adat daerah terpencil pedalaman Papua Kabupaten Yahukimo lebih cenderungan menyalurkan hak politiknya dengan menganut asas Langsung,umum bebas dan transparan (LUBET) ?3. Model Pemilihan masyarakat adat dalam demokrasi modern dipandang sebagai tindakan inkonsistusional versus konsistusional di indonesia?C. Tujuan Penelitian1. Untuk memperoleh gambaran sejauhmana korelasi sebab akibat implementasi kebijakan dan output kebijkan yang mana masyarakat adat memahami sistem pemilihan asas luber dan factor apa yang mengaruhi pemilih lebih cenderung memilih sistem noken dan ikat merupakan inkonsistusional atau konsistusional ?2. Mengetauhi faktor apa yang mempengaruhi perilaku elit politik local dalam pola pikir dan pola tindak pemilih dan lembaga penyelenggara.3. Mengetahui sejauh mana Pemilukada dapat terlaksana tanpa meninggalkan benih konflik pemilukada?D. Manfaat Penelitian1. Secara teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran teoritis bagi penelitian selanyutnya mengenai perilaku pemilih, penyelenggara dan model pemilihan yang tata carapemilihan mengandung nilai sosial budaya, norma adat dan agama dikota Yahukimo.2. Secara praktis, diharapkan akan menjadi masukan berharga bagi lembaga penyelenggara, elit politik nasional dan elit politik lokal di daerah untuk memberikan pendidikan politik yang santun, bermartabat tanpa menciptkan konflik dengan melaksanakan pesta demokrasi yang adil dan bermartabat sesuai prinsip nilai demokrasi, sehingga bermanfaat bagi kelangsungan pemilukada masa akan datang agar dilaksanakan secara demokratis menuju masyarakat damai sejahtera.3. Dalam proses pengambilan kebijakan masalah sistem pemilihan di masyarakat adat di tanah Papua, seyognya melakukan regulasi aturan yang maknai kekhususan, menghormati nilai budaya local dalam sistem pemilihan di Indonesia, upaya ini mendorong nilai ? nilai kearifikan lokal yang dijamin oleh amanat konsistusi yang belum secara konsisten dilaksanakan karena sejumlah peraturan daerah belum dibuat secara maksimal, oleh karenanya dipandang penting untuk menerapkan undang ? undang yang mencerminkan jati diri orang Papua didalam negara kesatuan republik Indonesia.TINJAUAN PUSTAKAA. Konsep Implementasi Kebijakan1. Pengertian Implementasi kebijakanImplementasi kebijakan merupakan tahap yang sangat penting dalam proses kebijakan publik. Suatu kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan bisa tercapai. Implementasi kebijakan dipandang dalam pengertian luas merupakan alat administrasi publik dimana aktor, organisasi, prosedur, teknik serta sumber daya diorganisasikan secara bersama-sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak atau tujuan yang diinginkan tersebut.Menurut Kamus Webster yang dikutip oleh Solichin Abdul Wahab adalah:?Konsep implementasi berasal dari bahasa inggris yaitu to implement. Dalam kamus besar webster, to implement (mengimplementasikan) berati to provide the means for carrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); dan to give practical effect to (untuk menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu)?. (Webster dalam Wahab, 2005:64).Jadi sesuatu yang dilakukan untuk menimbulkan dampak atau akibat itu dapat berupa undang- undang, peraturan pemerintah pengganti undang ? undang , keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan.Solichin Abdul Wahab mendefinisikan implementasi kebijakan secara umum yaitu : ?Implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu, pejabat-pejabat, atau kelompok - kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan?(1997:63).Sedangkan Implementasi kebijakan menurut guru besar ilmu administrasi UNPAD, Prof. H. Tachjan dalam bukunya Implementasi Kebijakan Publik menyimpulkan bahwa : ?Implementasi kebijakan publik merupakan proses kegiatan administratif yang dilakukan setelah kebijakan ditetapkan/ disetujui. Kegiatan ini terletak di antara perumusan kebijakan dan evaluasi kebijakan. Implementasi Kebijakan mengandung logika yang top-down, maksudnya menurunkan / menafsirkan alternatif ? alternatif yang masih abstrak atau makro menjadi alternatif yang bersfat konkrit atau mikro? (2006: 25)Dari uraian di atas diperoleh suatu gambaran bahwa, implementasi kebijakan publik merupakan proses kegiatan administratif yang dilakukan setelah kebijakan ditetapkan/disetujui. Kegiatan ini terletak di antara perumusan kebijakan dan evaluasi kebijakan. Implementasi kebijakan mengandung logika yang top-down, Sedangkan format kebijakan mengandung logika botton up, dalam arti proses ini diawali dengan pemetaan kebutuhan publik atau pengakomodasian tuntutan lingkungan lalu diikuti dengan pencarian dan pemilihan alternatif cara pemecahannya, kemudian diusulkan untuk ditetapkan sebagai acuan dalam implementasi kebijakan yang bisa diterima oleh public.Pembuatan kebijakan di satu sisi merupakan proses yang memiliki logika bottom-up, dalam arti proses kebijakan diawali dengan penyampaian aspirasi, permintaan atau dukungan dari masyarakat. Sedangkan implementasi kebijakan di sisi lain di dalamnya memiliki logika top-down, dalam arti penurunan alternatif kebijakan yang abstrak atau makro menjadi tindakan konkrit atau mikro (Wibawa, 1994: 2).Grindle (1980: 7) menyatakan, implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. Sedangkan Van Meter dan Horn (Wibawa, dkk., 1994: 15) menyatakan bahwa implementasi kebijakan merupakan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dan swasta baik secara individu maupun secara kelompok yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Grindle (1980: 7) menambahkan bahwa proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap dan telah disalurkan untuk mencapai sasaran.Menurut Lane, implementasi sebagai konsep dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, implementation = F (Intention, Output, Outcome). Sesuai definisi tersebut, implementasi merupakan fungsi yang terdiri dari maksud dan tujuan, hasil sebagai produk dan hasil dari akibat. Kedua, implementasi merupakan persamaan fungsi dari implementation = F (Policy, Formator, Implementor, Initiator, Time).Penekanan utama kedua fungsi ini adalah kepada kebijakan itu sendiri, kemudian hasil yang dicapai dan dilaksanakan oleh implementor dalam kurun waktu tertentu (Sabatier, 1986: 21-48).Implementasi kebijakan menghubungkan antara tujuan kebijakan dan realisasinya dengan hasil kegiatan pemerintah. Hal ini sesuai dengan pandangan Van Meter dan Horn (Grindle, 1980: 6) bahwa tugas implementasi adalah membangun jaringan yang memungkinkan tujuan kebijakan publik direalisasikan melalui aktivitas instansi pemerintah yang melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (policy stakeholders).2. Perspektif Implementasi KebijakanImplementasi kebijakan publik dapat dilihat dari beberapa perspektif atau pendekatan. Salah satunya ialah implementation problems approach yang diperkenalkan oleh Edwards III (1984: 9-10). Edwards III mengajukan pendekatan masalah implementasi dengan terlebih dahulu mengemukakan dua pertanyaan pokok, yakni: (i) faktor apa yang mendukung keberhasilan implementasi kebijakan? dan (ii) faktor apa yang menghambat keberhasilan implementasi kebijakan? Berdasarkan kedua pertanyaan tersebut dirumuskan empat faktor yang merupakan syarat utama keberhasilan proses implementasi, yakni komunikasi, sumber daya, sikap birokrasi atau pelaksana dan struktur organisasi, termasuk tata aliran kerja birokrasi. Empat faktor tersebut menjadi kriteria penting dalam implementasi suatu kebijakan.Komunikasi suatu program hanya dapat dilaksanakan dengan baik apabila jelas bagi para pelaksana. Hal ini menyangkut proses penyampaian informasi, kejelasan informasi dan konsistensi informasi yang disampaikan. Sumber daya, meliputi empat komponen yaitu staf yang cukup (jumlah dan mutu), informasi yang dibutuhkan guna pengambilan keputusan, kewenangan yang cukup guna melaksanakan tugas atau tanggung jawab dan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan.Disposisi atau sikap pelaksana merupakan komitmen pelaksana terhadap program. Struktur birokrasi didasarkan pada standard operating prosedure yang mengatur tata aliran pekerjaan dan pelaksanaan kebijakan.Untuk memperlancar implementasi kebijakan, perlu dilakukan diseminasi dengan baik. Syarat pengelolaan diseminasi kebijakan ada empat, yakni: (1) adanya respek anggota masyarakat terhadap otoritas pemerintah untuk menjelaskan perlunya secara moral mematuhi undang-undang yang dibuat oleh pihak berwenang;(2) adanya kesadaran untuk menerima kebijakan. Kesadaran dan kemauan menerima dan melaksanakan kebijakan terwujud manakala kebijakan dianggap logis; (3) keyakinan bahwa kebijakan dibuat secara sah; (4) awalnya suatukebijakan dianggap kontroversial, namun dengan berjalannya waktu maka kebijakan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang wajar.Menurut Mazmanian dan Sabatier (1983: 5), terdapat dua perspektif dalam analisis implementasi, yaitu perspektif administrasi publik dan perspektif ilmu politik. Menurut perspektif administrasi publik, implementasi pada awalnya dilihat sebagai pelaksanaan kebijakan secara tepat dan efisien. Namun, pada akhir Perang Dunia II berbagai penelitian administrasi negara menunjukkan bahwa ternyata agen administrasi publik tidak hanya dipengaruhi oleh mandat resmi, tetapi juga oleh tekanan dari kelompok kepentingan, anggota lembaga legislatif dan berbagai faktor dalam lingkungan politis.Perspektif ilmu politik mendapat dukungan dari pendekatan sistem terhadap kehidupan politik. Pendekatan ini seolah-olah mematahkan perspektif organisasi dalam administrasi publik dan mulai memberikan perhatian terhadap pentingnya input dari luar arena administrasi, seperti ketentuan administratif, perubahan preferensi publik, teknologi baru dan preferensi masyarakat. Perspektif ini terfokus pada pertanyaan dalam analisis implementasi, yaitu seberapa jauh konsistensi antara output kebijakan dengan tujuannya.Ripley memperkenalkan pendekatan ?kepatuhan? dan pendekatan ?faktual? dalam implementasi kabijakan (Ripley & Franklin, 1986: 11). Pendekatan kepatuhan muncul dalam literatur administrasi publik. Pendekatan ini memusatkan perhatian pada tingkat kepatuhan agen atau individu bawahan terhadap agen atau individu atasan. Perspektif kepatuhan merupakan analisis karakter dan kualitas perilaku organisasi.Menurut Ripley, paling tidak terdapat dua kekurangan perspektif kepatuhan, yakni: (1) banyak faktor non-birokratis yang berpengaruh tetapi justru kurang diperhatikan, dan (2) adanya program yang tidak didesain dengan baik. Perspektif kedua adalah perspektif faktual yang berasumsi bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi proses implementasi kebijakan yang mengharuskan implementor agar lebih leluasa mengadakan penyesuaian. Kedua perspektif tersebut tidak kontradiktif, tetapi saling melengkapi satu sama lain. Secaraempirik, perspektif kepatuhan mulai mengakui adanya faktor eksternal organisasi yang juga mempengaruhi kinerja agen administratif.Kecenderungan itu sama sekali tidak bertentangan dengan perspektif faktual yang juga memfokuskan perhatian pada berbagai faktor non-organisasional yang mempengaruhi implementasi kebijakan (Grindle, 1980: 7).Berdasarkan pendekatan kepatuhan dan pendekatan faktual dapat dinyatakan bahwa keberhasilan kebijakan sangat ditentukan oleh tahap implementasi dan keberhasilan proses implementasi ditentukan oleh kemampuan implementor, yaitu: (1) kepatuhan implementor mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasan, dan (2) kemampuan implementor melakukan apa yang dianggap tepat sebagai keputusan pribadi dalam menghadapi pengaruh eksternal dan faktor non-organisasional, atau pendekatan faktual.3. Model Implementasi KebijakanMenurut Sabatier (1986: 21-48), terdapat dua model yang berpacu dalam tahap implementasi kebijakan, yakni model top down dan model bottom up. Kedua model ini terdapat pada setiap proses pembuatan kebijakan. Model elit, model proses dan model inkremental dianggap sebagai gambaran pembuatan kebijakan berdasarkan model top down. Sedangkan gambaran model bottom up dapat dilihat pada model kelompok dan model kelembagaan. Sabatier (1983: 5), terdapat dua perspektif dalam analisis implementasi, yaitu perspektif administrasi publik dan perspektif ilmu politik. implementasi pada awalnya dilihat sebagai pelaksanaan kebijakan secara tepat dan efisien.Model yang dikembangkan Hogwood dan sabiter (wibawa,1995), model yang disusun atas dasar proses implementasi kebijakan sebagai suatu proses ditegaskan bahwa dalam tahapan implemtasi kebijakan terdapat tiga variable bebas yang dapat berpengaruh (1) mudah atau tidaknya masalah yang dikendalikan,(2) kemampuan kebijakan untuk menstrukturkan proses implementasi (3).Variabel diluar kebijaksanaan yang mempengaruhi proses implementasi.Menurut Grindle (1980: 6-10) memperkenalkan model implementasi sebagai proses politik dan administrasi. Model tersebut menggambarkan prosespengambilan keputusan yang dilakukan oleh beragam aktor, dimana keluaran akhirnya ditentukan oleh baik materi program yang telah dicapai maupun melalui interaksi para pembuat keputusan dalam konteks politik administratif. Proses politik dapat terlihat melalui proses pengambilan keputusan yang melibatkan berbagai aktor kebijakan, sedangkan proses administrasi terlihat melalui proses umum mengenai aksi administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu.Tujuan implementasi kebijakan diformulasi ke dalam program aksi dan proyek tertentu yang dirancang dan dibiayai. Program dilaksanakan sesuai dengan rencana. Implementasi kebijakan atau program ? secara garis besar ? dipengaruhi oleh isi kebijakan dan konteks implementasi. Keseluruhan implementasi kebijakan dievaluasi dengan cara mengukur luaran program berdasarkan tujuan kebijakan.Pada aspek pelaksanaan, terdapat dua model implementasi kebijakan publik yang efektif, yaitu model linier dan model interaktif (lihat Baedhowi, 2004: 47). Pada model linier, fase pengambilan keputusan merupakan aspek yang terpenting, sedangkan fase pelaksanaan kebijakan kurang mendapat perhatian atau dianggap sebagai tanggung jawab kelompok lain. Keberhasilan pelaksanaan kebijakan tergantung pada kemampuan instansi pelaksana. Jika implementasi kebijakan gagal maka yang disalahkan biasanya adalah pihak manajemen yang dianggap kurang memiliki komitmen sehingga perlu dilakukan upaya yang lebih baik untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan pelaksana.Berbeda dengan model linier, model interaktif menganggap pelaksanaan kebijakan sebagai Berbeda dengan model linier, model interaktif menganggap pelaksanaan kebijakan sebagai proses yang dinamis, karena setiap pihak yang terlibat dapat mengusulkan perubahan dalam berbagai tahap pelaksanaan.Hal itu dilakukan ketika kebijakan publik dianggap kurang memenuhi harapan stakeholders. Ini berarti bahwa berbagai tahap implementasi kebijakan publik akan dianalisis dan dievaluasi oleh setiap pihak sehingga potensi, kekuatan dan kelemahan setiap fase pelaksanaannya diketahui dan segera diperbaiki untuk mencapai tujuan. Pada gambar 03 terlihat bahwa meskipun persyaratan input sumberdaya merupakan keharusan dalam proses implementasi kebijakan, tetapihal itu tidak menjamin suatu kebijakan akan dilaksanakan dengan baik. Input sumberdaya dapat digunakan secara optimum jika dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan terjadi interaksi positif dan dinamis antara pengambil kebijakan, pelaksanaan kebijakan dan pengguna kebijakan (masyarakat) dalam suasana dan lingkungan yang kondusif.Jika model interaktif implementasi kebijakan di atas disandingkan dengan model implementasi kebijakan yang lain, khususnya model proses politik dan administrasi dari Grindle, terlihat adanya kesamaan dan representasi elemen yang mencirikannya. Tujuan kebijakan, program aksi dan proyek tertentu yang dirancang dan dibiayai menurut Grindle menunjukkan urgensi fase pengambilan keputusan sebagai fase terpenting dalam model linier implementasi kebijakan. Sementara itu, enam elemen isi kebijakan ditambah dengan tiga elemen konteks implementasi sebagai faktor yang mempengaruhi aktivitas implementasi menurut Grindle mencirikan adanya interaksi antara pengambil kebijakan, pelaksana kebijakan dan pengguna kebijakan dalam model interaktif.Begitu pula istilah model proses politik dan proses administrasi menurut Grindle, selain menunjukkan dominasi cirinya yang cenderung lebih dekat kepada ciri model interaktif implementasi kebijakan, juga menunjukkan kelebihan model tersebut dalam cara yang digunakan untuk mengukur keberhasilan implementasi kebijakan, beserta output dan outcomesnya.Selain model implementasi kebijakan di atas Van Meter dan Van Horn mengembangkan Model Proses Implementasi Kebijakan. (Tarigan, 2000: 20). Keduanya meneguhkan pendirian bahwa perubahan, kontrol dan kepatuhan dalam bertindak merupakan konsep penting dalam prosedur implementasi. Keduanya mengembangkan tipologi kebijakan menurut: (i) jumlah perubahan yang akan dihasilkan, dan (ii) jangkauan atau ruang lingkup kesepakatan mengenai tujuan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses implementasi.Tanpa mengurangi kredibilitas model proses implementasi kebijakan dari Van Meter dan Van Horn terlihat bahwa elemen yang menentukan keberhasilan penerapannya termasuk ke dalam elemen model proses politik dan administrasimenurut Grindle. Kata kunci yakni perubahan, kontrol dan kepatuhan termasuk dalam dimensi isi kebijakan dan konteks implementasi kebijakan. Demikian pula dengan tipologi kebijakan yang dibuat oleh keduanya termasuk dalam elemen isi kebijakan dan konteks implementasi menurut Grindle. Tipologi jumlah perubahan yang dihasilkan termasuk dalam elemen isi kebijakan dan tipologi ruang lingkup kesepakatan termasuk dalam konteks implementasi.Implementasi kebijakan pada era sebelum tahun 1970-an masih belum memperoleh perhatian yang serius dari para administrator publik, walaupun studi mengenai kebijakan publik sudah mulai berkembang pada dasawarsa 1950-an, sebagaimana dikemukakan oleh Edwards III melalui kajian pada pemerintahan Amerika Serikat. Pada tahun 1970-an, barulah muncul permasalahan berkaitan dengan pelaksanaan dan penerapan kebijakan, sebagaimana dikemukakan Edwards III (1980 :9-10), sebagai berikut: ?.... four critical factors or variabels in implementing public policy: communication, resourcess, dispositions or attitudes, and bureaucratic structure?. Keempat faktor atau variabel tersebut merupakan gejala mengapa suatu kebijakan yang telah dirumuskan tidak tercapai sesuai dengan tujuan dalam implementasinya? Keempat faktor atau variabel penyebab tidak terimplementasikanya kebijakan atau program tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:1. Komunikasi (communication), merupakan dimensi penting bagi administrator publik dalam mengimplementasikan kebijakan, khususnya untuk pencapaian efektivitas program melalui transmisi personel yang tepat, jelasnya perintah yang diinstruksikan oleh atasan dalam pelaksanaan dilapangan, dan kekonsistenan pelaksana keputusan atau program oleh semua pelaksana maupun atasan pemberi instruksi.Ada 3 aspek penting dalam dimensi komunikasi ini, yaitu menyangkut indikator:Setiap wilayah yang menjadi kebijakannya akan menyesuaikan dengan prioritas kebijakan yang berbeda-beda. Baik menyangkut perbedaan komitmen, dan cara-cara yang berbeda dalam menangulangi permasalahanya, sebagaimana di kemukanan oleh Edwards III (1980:116), di bawah ini:?Different bereaucratic units are likely to have different views on policies. Intra and interagency disagreements inhibit cooperation and hider implementaion. Within a sigle policy area, each relevant agency probably has different priorities, different commitments, and defferent methods of handling problems?.Perubahan pegawai birokrasi pemerintahan merupakan hal sulit, dan hal ini tidak menjamin bahwa proses implementasi kebijakan akan berjalan dengan baik. Teknik yang potensial untuk merubah permasalahan implementator tetap dapat menjalankan kebijakan sesuai dengan tujuan yaitu merubah sikap para implementator melalui manipulasi insentif-insentif,sebagaimana di kemukanan oleh Edwards III (1980:116), di bawah ini:?Changing the personel in government bereaucracies is difficult, and it does not ensure that the implementation process will proceed smoothly. Another potential technique to deal with the problem of implementor? dispositions is to alter dispositions of existing implementors through the manipulation of incentives?.Kecenderungan-kecenderungan dalam implementasi kebijakan menekankan bagaimana kesulitan suatu implementasi kebijakan atau program mendapatkan permasalahan yang dilakukan oleh para implementator birokrasi pemerintah sendiri dalam mengimplementasikan kebijakan dengan adanya penafsiran kebijakan dari unit atas sampai unit pelaksana.2. Struktur Birokrasi (bureuacratic structure).Birokrasi mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan walaupun merupakan organisasi yang besar dan komplek, organisasi yang dominan dan mampu untuk melaksanakan setiap kebijakan atau program, serta tidak ada organisasi sekuat birokrasi yang mampu bertahan dalam keadaan situasi apapun (survive) bagaimanapun pengaruh ekternal mempengaruhinya, bahkan Edwards III menegaskan birokrasi jarang mati.Ada dua karakteristik dalam struktur birokrasi menurut pandangan Edwards III, yaitu:a. Standard Operating Procedures (SOP), yaitu berkaitan dengan:1) masalah-masalah sosial dan urusan publik;2) instruksi yang dominan pada tahap-tahap yang berbeda; dan3) tujuan yang berbeda berada pada lingkungan yang luas dan komplek.SOP pada dasarnya merupakan tatanan prosedur kerja birokrasi dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya, yang secara internal birokrasi dapat mengatur sumber-sumber yang dimilikinya, baik berkaitan dengan sumber daya manusia, waktu, sarana dan prasarana.b. Fragmentation (fragmentasi), yaitu berkaitan dengan:1) survive ialah kekuatan untuk tetap bertahan hidup; dan2) bukan pilihan-pilihan netral dalam suatu kebijakan.Fragmentasi merupakan kemampuan birokrasi dalam menghadapi faktor-faktor ekternal yang dapat mempengaruhi birokrasi, baik berupa infrastruktur (LSM, partai politik, maupun lembaga-lembaga profesi) dan supra struktur (legislatif, eksekutif, maupun lembaga kenegaraan lainya)Pada sisi lain Edwards III menegaskan juga bahwa dari empat faktor yang berpengaruh terhadap implementasi kebijakan terjadi adanya interaksi yang langsung dan tidak langsung diantara beberapa faktor tersebut, sebagaimana di kemukakannya, bahwa:?Interactions between factors: Aside from directly affecting implementation, however also inderectly affect it through their impact on each other. In other words, communications affect to resources, disposition, and bureaucratic structures, which in turn influence implementation?(Edwards III, 1980:147).Model yang dikemukan oleh Edwards III ini sifatnya top down dan cocok diimplementasikan pada level birokrasi yang terstruktur pada suatu lembagapemerintahan, dalam hal ini setiap level hirarchi mempunyai peran sesuai dengan fungsi dalam penjabaran kebijakan yang akan dilaksanakan dan akan memudahkan terhadap implementasi suatu kebijakan pada masing-masing level birokrasi, yaitu mulai dari tingkat departemen (pemerintah pusat), pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, sampai ketingkat pelaksana dilapangan. Model ini akan efektif bila perumusan kebijakan yang dibuatnya memperhatikan dan memprediksikan implementasi kebijakan yang akan dilaksanakan. Hal iniuntuk menghindari terjadinya rintangan dan hambatan dalam implementasi yang disebabkan oleh karena kekurang jelasan kebijakan dan kurangnya representatif terhadap keinginan masyarakat atau para pihak yang akan terkena oleh kebijakan tersebut.Model yang dikemukan oleh Edwards III ini sifatnya top down dan cocok diimplementasikan pada level birokrasi yang terstruktur pada suatu lembaga pemerintahan, dalam hal ini setiap level hirarchi mempunyai peran sesuai dengan fungsi dalam penjabaran kebijakan yang akan dilaksanakan dan akan memudahkan terhadap implementasi suatu kebijakan pada masing-masing level birokrasi, yaitu mulai dari tingkat departemen (pemerintah pusat), pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota, sampai ketingkat pelaksana dilapangan.C. Kerangka PemikiranPemilukada Kabupaten Yahukimo secara langsung merupakan proses penentuan pemimpin didaerah ini ,Pemilihan pemimpin ideal dipilih langsung oleh masyarakat sesuai dengan peraturan perundang - undangan yang telah diatur. Pemilihan dimaksud diatur dalam tata cara dan mekanisme yang dapat dikemas dalam sebuah peraturan petunjuk teknis pelaksaan oleh Komisi pemilihan umum. Dalam pelaksanaan Pemilukada, beberapa tokoh masyarakat adat berperan aktif dalam hal mengarahkan masyarakat sesuai motif dan keinginan tokoh ,keikutsertaan tokoh dalam pemilihan Bupati dan wakil Bupati menjadi peran central.Diera baru bergesernya, sistem masa lalu yang sangat sentralistik telah digeser ke dalam sistem yang lebih demokratis. Dengan runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998 melalui peran mahasiswa, di tandai dengan masuknya era reformasi, masa ini adalah masa pembaharuan di semua dimensi kehidupan. Dengan bergesernya sistem pengedalian politik yang sangat sentralistik kini adanya restorasi dalam konteks wawasan demokrasi terpatas,.Dengan adanya amandemen undang ? undang No. 22 tahun 1999 kemudian diamandemen menjadi UU No. 32 tahun 2004 tentang otonomi daerah dan pemilihan kepala daerah secara langsung. Sehingga memungkin partisipasi masyarakat dalam pelaksanaannya, dalam Sistem pemilihan kepala daerah secara langsung melaluisatu tindakan sosialisasi oleh lembaga penyelenggara, elit politik, tokoh masyarakat dan Peran media dalam pelaksanaan Pemilukada .Dalam konteks Pemilukada di Kabupaten Yahukimo, perilaku memilih sangatlah di pengaruhi olehPeran elit politik local menggunakan jasa tokoh masyarakat untuk memuluskan kepentingan politik. Perilaku pemilih didorong secara paksa oleh tokoh masyarakat yang sudah lama tinggal di kota Yahukimo atau tahu informasi atau termakan issue saat berada di kota memberikan dampak dalam penentuan hak Politik sebagai representasi dari masyarakat. Peran tokoh adat ,tokoh agama dan peran pemuda yang memiliki kemampuan mengorganir, memobilisasi, serta mengarahkan pemilih.Tokoh memeiliki pengaruh daerah sesungguhnya berperan untuk memberikan wawasan tentang arti sebuah demokrasi atau sosialisasi tata cara pencoblosan, namun kecendurungan mengarahkan masyarakat untuk menentukan hak politik sebelum hari H. Model pengarahan hampir dipastikan sesuai pesan elit politik, disini kecendurungan menciptakan konflik.Peran tokoh masyarakat tersebut diharapkan dapat menjadi model aktif dalam pengembangan menjadi kunci dan sebagai pengendali konflik diranah lokal. Pengendalian konflik Pemilukada dalam masyarakat tentunya memerlukan peranan tokoh masyarakat dengan semangat kearifan lokal serta semangat kedaerahan yang tinggi dan demokratis yang mengedepanlan nilai-nilai pluralisme agar tercipta harmoni sosial dalam masyarakat.Untuk mempengaruhi pemilih biasanya ada pemaksaan, intimidasi. Ini terlihat dari terlibatnya beberapa tokoh masyarakat dalam masa kampanye kecenderungan fanatisme kesukuan menjadi penentu pemilih seperti;suku Yalleanang adalah satu etnis Suku Kimyal, Meek, UKAM dan Momuna, sedangkan kelompok suku etnis Yali yaitu Yali selatan,Yali utara, Ngalik dan Hubla.METODE PENELITIANA. Desain PenelitianPendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan metode analisis deskriptif. Pada dasarnya desain deskriptifkualitatif disebut pula dengan kuasi kualitatif (Bungin, 2009). Maksudnya, desain ini belumlah benar-benar kualitatif karena bentuknya masih dipengaruhi oleh tradisi kuantitatif, terutama dalam menempatkan teori pada data yang diperolehnya. Format deskriptif kualitatif bertujuan untuk menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada, kemudian berupaya untuk menarik realitas ke permukaan sebagai suati ciri, kharakter, sifat, model, tanda, atau gambaran tentang kondisi, ataupun fenomena tertentu. Format ini tidak memiliki ciri seperti air (menyebar di permukaan), tetapi memusatkan diri pada suatu unit tertentu dari berbagai fenomena. Dengan ciri yang seperti ini, maka memungkinkan penelitian ini bersifat mendalam dan ?menusuk? ke sasaran penelitian. Dengan demikian penelitian deskriptif kualitatif lebih tepat jika digunakan untuk masalah-masalah yang membutuhkan studi mendalam seperti permasalahan tingkah laku, masalah respons masyarakat terhadap objek tertentu, serta permasalahan implementasi kebijakan publik di masyarakat. Adapun unit yang diteliti dalam penelitian deskriptif kualitatif adalah individu, kelompok atau keluarga, masyarakat dan kelembagaan sosial atau pranata sosial.Unit individu adalah masalah-masalah individu, orang per orang, sedangkan unit kelompok atau keluarga. Sedangkan unit kelompok atau keluarga, yaitu bisa satu kelompok atau satu keluarga.Masyarakat adalah suatu desa, kecamatan, beberapa kecamatan, beberapa kotamadia dan seterusnya tergantung pada konsep masyarakat yang digunakan (Bungin, 2009). Tentang penelitian kualitatif selanjutnya Croswell (1994:147) menjelaskan sebagai berikut :?Qualitative research is interpretative research as such the biases, values and judgment of the researches become state explicitly in the research report. Such opennes is considered to be usefull and positive?Menurut Moleong (1997) kemudian, metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang akan menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan penyusunan teori substantif berdasarkan data.Pilihan terhadap metode kualitatif adalah merujuk pada pemikiran Strauss dan Corbin (1990) yaitu ;?qualitative method can be used to uncover and understand what lies behind any phenomenon about which little is yet known...qualitative methods van give the indicate details of phenomenon that are difficult to convey with quantitative methods?.Pemilihan pendekatan kualitatif adalah untuk menjawab masalah penelitian yaitu; untuk dapat memperoleh jawaban tentang mengapa banyak terjadi masalah alam implementasi Pemilukada langsung Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua.1) Bagaimanakah sesungguhnya kebijakan Pemilukada langsung diimplementasikan. Penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini akan mampu memberikan informasi yang mendalam dan akurat sehingga akan membantu proses interpretasi informasi dan data yang diperoleh.2) Pendekatan kualitatif yang memberikan penekanan pada metode epsitimologik akan mampu melahirkan reformulasi dan rekonseptualisasi teori implementasi kebijakan, baik itu dilakukan dari perspektif objek yang diteliti dan perspektif peneliti sendiri, melalui integrasi pendekatan etik dan emik sebagaimana paradigma kualitatif modern.Melalui proses ini maka akan dihasilkan proposisi hipotetik baru melalui interpretasi interaksi antara atribut dan propertise yang selanjutnya digunakan untuk membangun kategori dan memberikan eksplanasi terhadap fenomena yang diteliti.Dengan demikian aktivitas penelitian dicirikan oleh kegiatan mengumpulkan, menggambarkan dan menafsirkan data tentang situasi yang dialami, hubungan tertentu, kegiatan, pandangan, sikap yang ditunjukkan atau tentang kecenderungan, yang tampak dalam proses yang sedang berlangsung, atau pertentangan yang meruncing serta kerjasama yang dijalankan.Dengan menggunakan desain ini, maka akan dapat diperoleh gambaran fenomena, fakta, sifat serta hubungan fenomenal tentang implementasi kebijakan Pemilukada Langsung di kabupaten Yahukimo secara utuh dan multi dimensional, sehingga dapat dilakukan kategorisasi dan perumusan hipotesis sebagai temuan penelitian.B. Jenis Data.Data yang diolah dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung direkam di lapangan melalui wawancara mendalam dan yang didapat melalui observasi yang dilakukan oleh peneliti sendiri. Sementara itu data sekunder adalah data olahan atau data telah dipublikasikan secara resmi yang didapat dari berita media, dokumentasi dan arsip lembaga terkait lainnya.1) Data Primer.Data primer dalam penelitian ini adalah data dan informasi yang diperoleh secarala langsung dari para informan.2) Data Sekunder.Data sekunder dalam penelitian ini adalah seluruh data yang berkaitan dengan aturan penyelenggaraan Pemilukada, data dan dokumen tertulis tentang proses dan hasil penyelenggaraan, serta data-data yang diperoleh dari masyrakat.C. Teknik Pengumpulan, Pencatatan dan Pengolahan Data.Adapun metode pengumpulan data yang dipilih untuk penelitian ini adalah wawancara mendalam (in depth-interview). Pada dasarnya wawancara mendalam yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan wawancara tidak berstruktur, meskipun disiapkan pula pedoman untuk melakukan wawancara.Menurut Bungin (2009) bahwa :?Wawancara terstruktur sebagaimana yang lazim dalam tradisi survey adalah kurang memadai, yang diperlukan adalah wawancara tak berstruktur yang bisa secara leluasa melacak ke berbagai segi dan arah guna mendapatkan informasi yang selengkap mungkin dan semendalam mungkin?.Selain Bungin, Mulyana (2001) menjelaskan tentang hal ini sebagai berikut:?Wawancara tidak terstruktur sering juga disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitatif, dan wawancara transparan (opended interview), wawancara etnografis. wawancara tidak terstruktur mirip dengan percakapan informal. Wawancara tidak terstruktur bersifat luwes, susunan pertanyaannya dan susunan kata-kata dalam setiap pertanyaan daoat diubah oadasaat wawancara, dan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi saat wawancara, termasuk karakteristik sosial budaya (agama, suku, gender, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lain sebagainya) dari responden yang dihadapi?.D. Informan Penelitian.Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah :a. Elit Politik Kabupaten Yahukimo.b. Lembaga Pengawas Pemilukada Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua.c. Para Tim Sukses dari masing-masing calon.d. tokoh masyarakat dari tiap distrik yang berada di kabupaten Yahukimo.e. Para petugas panitia pemilihan distrik TPS, dan KPPS di tiap distrik di Kabupaten Yahukimo.E. Instrumen Penelitian.Instrumen penelitian yang dipergunakan dalam proses pengumpulan data melalui wawancara tak berstruktur dan ketika pengamatan, adalah peneliti sendiri dengan menggunakan alat bantu seperti alat perekam suara (tape recorder), alat rekam visual (video recorder), alat tulis, serta lap top untuk menyimpan data hasil penelitian. Adapun materi wawancara dan pengamatan adalah diperluas dari berbagai variabel yang dikemukakan dalam hipotesis kerja.F. Arena dan Situasi Penelitian.Setting dalam penelitian ini adalah arena dan situasi dimana proses wawancara dan observasi dilaksanakan. Pola ini adalah merujuk pada apa yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman dalam Creswell (1994:149) yaitu bahwa the setting (where the research will take place). Selanjutnya area penelitian adalah area dari kegiatan sehari-hari dari para informan penelitian, sebagaimana dijelaskan oleh Emerson dalam Newman (1973: 343) bahwa field research is the study of people acting in the natural courses of their activites. Oleh karenanya lapangan dari penelitian ini akan lebih banyak berada di kantor KPU dan kantor Panwaslu kabupaten Yahukimo. Pengamatan lainnya adalah di distrik yang ada.G. Prosedur Penelitian, Pengumpulan dan Analisis Data.Prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :1) Tahap pra penelitian. Yaitu menyusun rancangan penelitian, menentukan lokasi penelitian, penilaian kondisi fisik area penelitian, penentuan para narasumber atau informan, menyiapkan perlengkapan penelitian dan mempersiapkan diri untuk dapat masuk dan menyesuaikan dengan lingkungan dan pola kehidupan dari objek penelitian. Ini dibutuhkan dalam konteks untuk membangun kepercayaan dari objek yang akan diteliti, serta mendorong kepada nuansa akademik.2) Tahap Pengumpulan dan Analisis data. Pada tahap ini data dan informasi yang diperoleh, direduksi atau dipilah-pilah, kemudian dilakukan focusing dan penyederhanaan terhadap catatan lapangan. Reduksi dilakukan dengan cara membaca transkrip, hasil wawancara, catatan pengamatan atu dokumen yang akan dianalisis. Selanjutnya adalah membuat catatan atau memo atas data, ringkasan serta mengelompokkan data dan kemudian dibuatkan partisi. Setelah tahap ini selesai maka akan dilakukan penampilan data. Ini merupakan tahapan yang penting, karena setelah data yang berupa kumpulan data dan informasi yang terorganisir ditampilkan, maka selanjutnya adalah penarikan kesimpulan. Pada dasarnya tampilan data adalah berupa teks, gambar, grafik, tabel, bagan dan teks naratif atau berbentuk kutipan-kutipan. Selanjutnya kegiatan ini akan diakhiri dengan perumusan kesimpulan, meskipun penarikan kesimpulan sudah dilakukan semenjak data pertama terkumpul. Kesimpulan akhir adalah pada saat tahap pengumpulan data telah selesai dilakukan.3) Tahap Penulisan Laporan Penelitian. Penulisan laporan akhir adalah memuat temuan penelitian, tetapi selain itu juga menguraikan hasil interpretasi dan eksplanasi temuan-temuan penelitian dan penarikan kesimpulan penelitian, verifikasi, perumusan dalil-dalil dan rekomendasi akademik, serta rekemonedasi pragmatis yang terkait dengan tujuan dan manfaat penelitian.4) Setelah ke tiga langkah di atas selesai dilaksanakan, maka kemudian akan dilakukan interpretasi dan eksplanasi tentang pola interaksi antar kategori, antar properties, dan antar atribut, sehingga pada gilirannya akan menghasilkan suatu pola hubungan pengaruh antara fenomena yang diselidiki. Langkah selanjutnya adalah seluruh temuan fakta yang ada diinterpretasikan sesuai dengan kategori, properties dan atribut yang diperoleh menurut perspektif yang ditetapkan berdasarkan rujukan kerangka berpikir dan tinjauan pustaka. Interpretasi kualitatif adalah juga diarahkan pada peneuan pola interaksi antar fenomena pemberdayaan.5) Tahap terakhir dari bagian ini adalah penarikan kesimpulan yaitu menarik proposisi atau dalil-dalil atau hipotesis tertentu berdasarkan kecenderungan interaksi yang terjadi antar atribut. Pada dasarnya kesimpulan yang diarahkan sebagai jawaban masalah penelitian, akan menjelaskan pola korelasi antara kategori dan properties.H. Pemeriksaan Keabsahan Data.Menurut Bungin (2009), di dalam penelitian kuantitatif uji validitas dan uji realibilitas dapat dilakukan terhadap alat penelitian untuk menghindari ketidakvalidan dan ketidaksesuaian instrumen penelitian, sehingga data yang diperoleh dari penyebaran instrumen itu dapat dianggap sudah valid dan sesuai dengan data yang diinginkan. Akan tetapi dalam penelitian kualitatif ke tiga hal tersebut terus ?mengganggu? dalam proses-proses penelitiannya.Menurut Miles dan Huberman (1992 :423-468), pemeriksaan keabsahan data sangat diperlukan dalam pendekatan kualitatif demi kesahihan dan keandalan serta tingkat kepercayaan terhadap data yang terkumpul. Validitas dan Reabilitas data perlu diuji melalui teknik pemeriksaan keabsahan data, taktik menguji dan memastikan temuan. Oleh karenanya perlu dibangun sebuah mekanisme untuk mengatasi keraguan terhadap setiap hasil penelitian kualitatif. Burgess dalam Bungin (2009) menyebutkannya sebagai strategi penelitian ganda? sementara Denzin dalam Creswell (1994:174) menyebutkannya sebagai ?triangulasi?, sementara Bungin sendiri menyebutkannya sebagai meta-metode.Pada dasarnya teknik umum pengujian keabsahan data dilakukan dengan menggunakan teknik triangulasi. Menurut Denzem ?the term triangulation, a term borrowed from navigation and military strategy, to argue for the combination od methodologies in the study of the same phenomenon?. Dalam kaitannya dengan penjelasan Denzem ini, Jick juga dalam Creswell (1994) menjelaskan sebagai berikut : the concept of triangulation was based on the assumption that any bias 1inherent in when used in conjunction with other data resources, investigator and methods.I. Lokasi dan Jadwal Penelitian.Lokasi dari penelitian ini dilakukan di distrik Dekai ibukota Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua, Dan juga di beberapa distrik yang banyak bermasalah. Selain itu lokasi penelitian juga akan bersifat luwes, menyesuaikan dengan keberadaan dari para informan. Ini dilakukan untuk mendapatkan informasi yang mendalam tentang berbagai masalah riil di masyarakat, serta terhadap berbagai keluhan yang disampaikan oleh masyarakat. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANA. Gambaran Umum Tentang Tahapan PemilukadaBerdasar hasil temuan di lokasi penelitian menunjukan bahwa peran elit politik lebih dominan mempengaruhi lembaga penyelenggara,panwas dan pemilih pada pemilukada tahun 2011.Pelaksanaan Pemilukada di kabupaten Yahukimo pada tanggal 18 januari 2011 rakyat menentukan hak memilih pasangan calon nomor urut 3 sesuai dengan tata pemilihan masyarakat yang disepakati, menetapkan dan mengambil sumpah janji untuk melaksanakan pelaksanaan program pembangunan 5 (lima) tahun periode 2011 ? 2016.Setiap pasangan yang ingin berkompetisi dalam Pemilukada di Kabupaten Yahukimo, sejumlah elit politik daerah mengambil keputusan dari hati nurani bertindak mencalonkan diri, sebelum pelaksanaan tahapan Pemilukada pada tanggal 18 Agusutus 2010 beberapa tokoh masyarakat, tokoh agama, danpolitisi daerah mendeklarasikan diri ketika jadwal tahapan diumumkan terlihat setiap profil calon Bupati terlihat sibuk mencari sponsor dan partai politik dengan motivasi membuat superdeal internal politik dengan pengusaha lokal, mencari dana berkedok hibah, diakui pula bahwa ketidakseimbangan antara ambisi, kesempatan dan kemampuan tersebut melekat pada wajah kandidat seperti : mental rohani dan sosial, skil individu dan kemapanan finansial.Namun terkait salah satu kandidat incumbent (Dr. Ones Pahabol, SE,MM) dan pasangan Calon Wakil Bupati Drs. Robby Longkutoy,MM, adalah Sekda Kabupaten Yahukimo. Pasangan ini terlihat percaya diri memenangkan Bupati periode 2011 - 2016, kecenderungan kandidat diatas melakukan konstalasi politik secara massif, sistematis dan terstruktur sejak seleksi KPU pergantian antar waktu atas pelanggaran kode etik KPU sebelumnya.Ketika deklarasikan pasangan calon setiap tim sukses membuat political strategy salah satunya membuat rapor penilaian pasangan calon yang hendak dipaketkan. potret saat persiapan pencalonan pasangan calon melakukan strategi politik membuat superdeal internal politik dengan partai politik pendukung mengeluarkan sejumlah uang untuk mengikat komitmen dukungan mendapat rekomendasi dengan nilai 1 kursi di DPRD Kabupaten Yahukimo dengan nilai nominal tertentu.Dalam pencalonan ada beberapa partai politik mempunyai motivasi dan penilaian sendiri seperti Partai Pemenang Pemilu tahun 2009 di Kabupaten, Partai Golkar mendapat kursi di DPRD sebanyak 22 kursi mengusung Incumbent adalah Ketua Partai Golkar memenuhi syarat lebih dari 15%, Nmun memiliki kemampuan meloby Partai Politik seperti partai keadilan sejahtera (PKS) 1 kursi di DPRD dari partai 1 kursi di DPR dan beberapa partai non shet. Dan partai demokrat 1 kursi di DPRD, memberikan rekomendasi ke incumbent pasangan Ones ? Robby.Kecenderungan pasangan kandidat nomor urut no. 1 gagal membujuk partai Demokrat, PKS, PNI, sehingga mengalami hambatan saat pencalonan. membuat proses diplomasi yang dilakukan tim political strategy dari partai PAN yang memiliki 3 kursi di DPRD. Membangun komunikasi dengan partai lain namun tidak mencapai kata sepakat sehingga partai PAN paketkan pasangan dari PDIPyang memiliki 3 kursi di DPRD untuk memenuhi 15%.( Lima belas persen), Kebijakan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah memilih makna dan nilai yang akan disajikan tulisan ini sebagai berikut :1. PencalonanDalam tahapan pelaksanaan pemilukada sesuai surat keputusan KPU kabupaten Yahukimo No. 274 -25/KPU-YHKM/VII/2010, pasangan calon kepala daerah dan Wakil Kepala dilaksanakan mulai terhitung tanggal 29 Oktober ? 5 November 2010, dengan beberapa sesuai mekanisme sesuai aturan teknis pelaksanaan Pemilukada. Pengumuman pasangan calon yang memenuhi persyaratan telah diumumkan KPU melalui media cetak dan elektronik pada tanggal 2 ? 5 Desember 2010 dan Penentuan dan Penetapan Pasangan Calon menetapkan 3 kandidat. Dalam Keputusan Lembaga Penyelenggara Calon Perseorangan dinyatakan tidak memenuhi persyaratan teknis sehingga pasangan calon yang tidak lolos pasangan bernama :Alpius Mohi, S.Pak dan Elpius Hugy, S.Sos.Msi menyatakan protes dan upaya hukum namun tidak diakomodasi sebagai pasangan calon kandidat Bupati dan Wakil Bupati.Pelaksanaan Pemilukada dilaksanakan dalam suasana tidak aman dan terkendali karena ada kelompok kandidat pasangan yang dikalahkanoleh pasangan incumbent dari awal prediksi semua kalangan sirna, dan membawa dampak terhadap dinamika demokrasi di Indonesia.2. Peran Tokoh Masyarakat dalam Pemilukada.Peranan tokoh masyarakat tersebut kemudian mendapat perhatian berbagai partai politik besar guna sebagai mesin pendongkrak suara pada setiap daerah Pemilihan, tetapi tidak sedikit pula tokoh masyarakat yang berpengaruh juga menolak untuk bergabung dengan partai politik, setelah melakukan penelitian penulis melihat ada seorang tokoh agama yang kurang tertarik bergabung dalam sebuah partai politik. Peran elit politik mempengaruhi tokoh masyarakat sangat tinggi dimana tindakan masyarakat memilih psangan bukan karena Visi dan Misi kandidat bersangkutan. Untuk menuju kursi 01 Yahukimo konstalisi politik yang dibangun masing -masing kandidat beragram,misalnya kandidat 01,membangun jaringan lewat etnis suku karena mayoritas pemilih etnis Suku nomor urut lebihdominan disbanding kandidat nomor urut 2 dan nomor 3 dari satu etnis yang sama.Dalam proses persiapan pemilukada peran elit politik lebih dominan pada waktu tahapan seleksi anggota komisi pemilihan untuk pergantian antar waktu atas pencopotan 5 anggota KPU lama atas sikap dan perilaku anggota KPU Yahukimo yang telah melanggar kode etik dan tidak pada peraturan perundang ? undangan yang berlaku.Peran elit politik dalam satu mata rantai yang sulit dipisahkan pada waktu seleksi semua calon mendorong orang pilihan atau jagoan untuk pengamanan suara. Proses seleksi didominasi perilaku elit politik emosional dan rasional menjadi scenario atau strategy politik tepat dimana tahapan seleksi pengaruh incumbent sampai ke KPUD Provinsi Papua yang seharusnya KPU Papua lolos sesuai kapasitas namun yang lolos seleksi adalah orang yang diusung incumbent,sedangkan yang diusung melalui elit politik lain tidak lolos.Peran elit politik mempengaruhi KPUD Yahukimo pada saat pendaftaran Pasangan calon Kandidat Bupati dan Wakil Bupati sangat terasa dimana jual ?beli partai pendukung dengan kontrak perjanjian antara Pimpinan Partai Politik kabupaten dengan Provinsi dan Pusat seperti : transaksi cash,kontrak permanen selama lima tahun melalui paket proyek.dalam hal sumber pemodal cost politik lebih dominan diantara pasangan 3 calon dengan melakukan superdeal internal politik.Pengaruh eliti politik local dalam pelaksanaan pemilukada sangat proaktif baik melalui pengkondisian PPD,KPU,PANWAS dan manfaatkan peran tokoh Adat,tokoh gereja,tokoh pemuda,tokoh agama ,tokoh perempuan dan intelektual. Fakta objektif peran elit politik Yahukimo melibatkan tokoh masyarakat untuk berperan memperjuangkan menjadi kepala daerah sangat tinggi , peranan tokoh masyarakat bersentuhan langsung dengan pemilih dan jurus ini sangat jitu untuk sistem politik di daerah. Sehingga dari hasil penelitian selama dikota bermotto damai sejahtera tersebut dalam studi tentang implemntasi kebijakan dalam pemilukada ditemukan beberapa hal yaitu; peran tokoh masyarakat mengindikasikan bahwa beberapa tokoh masyarakat berperan dalam pemilihan, diantaranya tokoh adat, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA), tokoh pemuda seperti kKomite nasional Pemuda Indonesia,organisasi pemuda Gereja dan tokohintelektual atau mahasiswa dan pimpinan dedominsasi gereja yang memiliki peranan fital dalam proses Pemilukada yang berlangsung .Menurut Ramlan Surbakti bahwa ; kepemimpinan dari seorang tokoh yang disegani dan dihormati secara luas oleh masyarakat dapat menjadi faktor yang menyatukan suatu bangsa-negara.Tokoh-tokoh masyarakat sebagai perwakilan kepentingan dari 7 antara laian: suku Yali, Hubla, Kimyal, Momuna, Meek, Una, Ngalik di Yahukimo mereka proaktif berkomunikasi untuk mendapat uang cost politik,elemen tokoh mendistribusi sembako dan uang namun dalam penyaluran ada transparan diumumkan di gereja ada juga ada yang tidak tarnsfran kecenderungan beberapa tidak tranfran jadi gesekan social antar warga/pemilih cost politik ini biasa H2 atau serangan fajar.Kurangnya kesadaran rakyat rendah karena penerapan (Voter education) atau pendidikan pemilih dan sosialisais tata cara pemilukada yang kurang dari KPUD,LSM dan elit politik local Begitu pentingnya sebuah kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam proses Pemilihan Kepala Daerah, memungkinkan terciptanya suatu sistem pemilihan umum yang demokratis, jujur dan adil agar tercipta pula tatanan tokoh masyarakat yang lebih baik.Partisipasi tokoh masyarakat dalam momentum Pemilukada langsung menjadi landasan dasar bagi bangunan demokrasi. Bangunan demokrasi tidak akan kokoh manakala kualitas partisipasi masyarakat diabaikan. Karena itu, proses demokratisasi yang sejatinya menegakkan kedaulatan rakyat menjadi semu dan hanya menjadi ajang rekayasa bagi mesin-mesin politik tertentu.Eksistensi tokoh masyarakat mempengaruhi sikap pemilih sebagai perwujudan perilaku elit upaya masyarakat itu sendiri sebagaimana halnya penelitian yang telah lakukan di kabupaten Yahukimo bahwa identifikasi perilaku elit politik dengan latar belakang pengetahuan yang terbatas, tidak mendidik masyarakat adat didaerah sangat terpencil.3. Tahapan Masa KampanyePelaksanaan kampanye perorangan calon dilaksanakan dengan beberapa tahapan seperti pertemuan peserta pemilukada yang difasilitasi oleh lembaga penyelenggara ,oleh Panwas dan Pihak Kepolisian daerah kabupaten Yahukimoyang berlangsung pada tanggal 17 Desember 2010, dalam pertemuan tersebut mendeklarasikan komitmen siap menang dan siap kalah yang dinyatakan dalam bentuk tertulis. Sesuai mekanisme tahapan jadwal pelaksanaan kampanye dilaksanakan mulai tanggal 28 Desember 2010 ? 13 Januari 2011 ( 14 hari ). Pemaparan visi-misi kandidat kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah salah satu cara mempengaruhi pemilih untuk memberikan hak politiknya.Dalam kampanye 3 kandidat masing-masing meyakinkan visi dan misi pasangan calon menuju pemimpin ideal yang mampu menjawab permasalahan sudah pasti mengerti pasangan mana saja yang mempunyai pola pikir dan pola tindak positif untuk 5 tahun pembangunan jilid II yang telah dikampanyekan dengan tindakan profesional yang dapat dijabarkan dalam perencanaan tepat sasaran. Program jangka pendek 100 hari kerja, program jangka menengah dan program jangka panjang belum terlihat dan tergambar disusun sesuai kemampuan APBD hal ini tidak mencerminkan visi dan misi pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah antara lain :1. Konsep pendidikan yang sangat bermutu.2. Pelayanan kesehatan yang layak.3. Program pemberdayaan ekonomi kerakyatan.4. Pembangunan infrastruktur yang berkualitas.5. Penegakkan hukum dan pengakuan hak adat.6. Pelayanan budaya birokrasi modern yang mendukung birokrasi (good government).Dari beberapa aspek pemaparan visi dan misi pasangan calon yang disaksikan melalui media elektronik TOP TV menyiarkan secara langsung tergambar pasangan calon nomor urut 1. Pasangan ABISA menyiapkan visi dan misi secara lengkap dan dicetak melalui percetakan : Gramedia Jakarta : ISBN : 978-602-97662-0.2 : 100 hlm. Namun pasangan nomor urut 2 dan nomor urut 3 hanya disiapkan visi dan misi pada lembar kertas, dan terlihat ketidakmatangan menyiapkan materi, kemungkinan pandangan kandidat merasa ciri pemilih masyarakat Yahukimo adalah pemilih tradisional sehingga dipandang tidak sistematis menyiapkan strategi lain untuk mempengaruhi pemilih.Pelaksanaan kampanye berlangsung di 51 distrik dengan cara dan strategi masing-masing pasangan calon untuk meyakinkan pemilih. Peran elit politik mempengaruhi tokoh masyarakat sangat dominan dimana sikap antusias masyarakat di distrik terhadap pasangan calon nomor urut 1 mendapat mayoritas dukungan dibanding kandidat nomor urut 2 dan 3, hal ini mendapat respon dari kandidat nomor dengan kampanye dan melakukan semua cara untuk memenagkan pasangan calon Tim Kampanye dan Tim Seleksi lebih berperan di setiap distrik.Tahapan pembersihan atribut dan alat peraga kampanye dilaksanakan 15 s/d 17 Januari khusus di distrik Dekai dilaksanakan oleh Panwas, PPS dan KPPS. Sebelum memasuki hari tenang pada tanggal 15 ? 17 Januari 2011.(Abock Adsobne Busup ,Ishak Salak 2010 :11 )4. Masa TenangPengawasan pada saat masa tenang tanggal 15 s/d 17 Januari 2011 tidak optimal dilaksanakan karena kandidat telah berperan aktif mengawal suara di daerah potensi suara seperti pasangan kandidat nomor urut 3 atas nama Dr.Ones Pahabol, SE,MM, di distrik Nalca yang memiliki jumlah suara 5.265 suara. Sedangkan pasangan calon wakil kepala daerah pasangan nomor 3 di distrik Silimo memiliki potensi suara 9.865 suara menjadi daerah penentu kemenangan suara kandidat nomor urut 3.5. Pemungutan Suara dan Penghitungan SuaraPelaksanaan pemungutan suara dilaksanakan pada tanggal 18 Januari 2011, pada pukul 08.00 ? 13.00 sesuai jadwal tahapan KPU. Namun ada sejumlah distrik seperti distrik Nepsan dilaksanakan pada tanggal 17 Januari 2011. Pemungutan suara di TPS oleh KPPS serta rekapitulasi hasil perhitungan suara oleh PPK mengadakan pleno di tingkat distrik dan menyerahkan sertifikat hasil rekapitulasi suara dimaksud mayoritas distrik di Kabupaten Yahukimo tidak dapat dilakukan sesuai jadwal tahapan karena dipengaruhi beberapa faktor ; tekanan dari Tim Sukses masing-masing kandidat, penjemputan Panwas, Ketua PPD dan aparat keamanan pada tanggal 19 Januari 2001 sebelum melakukan pleno,diumumkan hasil perolehan secara lisan melalui SSB tertentu mempengaruhi tahapan selanjutnya.6. Rekapitulasi hasil Perhitungan SuaraPenyusunan berita acara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat Kabupaten serta penetapan pasangan calon terpilih dilaksanakan pada hari Senin tanggal 24 bulan Januari 2011 dengan mencatat berbagai hal seperti :7. Penetapan Calon TerpilihBerdasarkan jadwal tahapan Pengumuman Pasangan Calon terpilih dijadwalkan 27 s/d 29 Januari namun dipercepat dengan pertimbangan tekhnis tertentu sehingga dapat menetapkan pada tanggal 25 Januari 2011 memutuskan dan menetapkan perolehan suara sebagai berikut :didaerah, itu kemudian jauh dari apa yang menjadi cita-cita demokrasi itu sendiri.B. Sistem Pemilihan di Kabupaten Yahukimo1. Model Pemilihan Demokrasi Modern ( LUBER )Pemilihan sistem ?noken? dan ?ikat? pada pesta demokrasi pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) di Kabupaten Yahukimo sudah di mulai sejak tahun 2005. Pemilihan sistem ?noken? lebih banyak dikenal di suku Yali, Kimyal. Momuna Ukam Hubla dan suku Mek kecuali distrik dekai 11 TPS dan distrik Kurima Kelurahan Heroma menggunakan asas LUBER,berikut 2 sistem pemilihan di Yahukimo.2. Model Pemilihan Masyarakat Adat (LUBET )a. Sistem NokenSistem pemilihan ini merupakan alternative kedua dalam proses menentukan pilihan Pemilihan sistem noken secara teknis seperti ini; semua pemilih yang mendapat kartu pemilih datang ke TPS. kemudian, didepan bilik disiapkan noken kosong dan diats noken ada foto pasangan calon. jumlah noken yang digantung disesuaikan dengan jumlah pasangan calon Bupati, ketika dipastikan semua pemilih dari kampung yang bersangkutan hadir di TPS, selanjutnya KPPS meng-umumkan kepada pemilih (warga) bahwa bagi pemilihyang mau memilih kandidat A berbaris di depan noken nomor urut satu atau seterusnya sesuai nomor urut dan memasang foto calon bersangkutan. setelah pemilih berbaris / duduk didepan noken maka KPPS langsung menghitung jumlah orang yang berbaris di depan noken, atau cara lain bagikan surat suara dan mengisi tanpa condereng lalu diisi di noken yang diinginkan kalau misalnya 100 orang saja maka hasil perolehannya adalah 100 ( seratus ) suara. Jikalau misalnya semua pemilih dari TPS kampung yang bersangkutan baris di depan noken nomor urut dua maka semua suara dari TPS kampung yang bersangkutan ?bulat? untuk nomor urut dua.setelah itu KPPS langsung buat berita acara dan sertifikasi hasil perhitungan suara yang ditandatangani oleh KPPS dan diplenokan di Distrik. pemilihan seperti ini dilakukan pada bulan januari. hanya saja kelemahannya, sistem pemilihan seperti ini tidak rahasia dan transparan di depan umum, LUBER yaitu langsung, umum, bebas rahasia (LUBER ) dan langsung, umum, bebas rahasia transparan.(LUBET)Kecendurungan diarahkan oleh elit politik dan Tokoh masyarakat, PPD/KPPS, Surat suara sisa dibagikan ke pemenang. Solusi isi noken adalah alternative kedua setelah tokoh masyarakat dan pemilih berkumpul H2 untuk sistem ikat namun deadlock atau tidak sependapat antara tim sukses maka sepakati bersama melakukan opsi ini. Lembaga Penyelenggara dan semua kompanen merasa bahwa manfaat secara turun ? temurun memiliki manfaat namun diera baru namun dalam sistem demokrasi modern mengunakan sistem Noken:Menghemat biaya logistik karena semua menggunakan pesawat muatan kapasitas kecil, Letak geografis yang sangat variatif, Manfaat ganda fungsi noken dalam demokrasi modern menghormati nilai budaya untuk mengenal jati diri bagi mereka.Pemilihan Sistem IkatPemilihan sistem ?ikat? dilakukan 51 distrik di Yahukimo, sistem ini sesuai kesepakatan semua pihak pilihan ikat secara teknis pelaksanaannya, bahwa sebelum hari ?H? ata
PERILAKU POLITIK AKTIVIS MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI (SUATU STUDI TERHADAP PENGURUS ORGANISASI MAHASISWA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SAM RATULANGI TAHUN 2012) OLEY, PRICILIA CLAUDIA
JURNAL POLITICO Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : JURNAL POLITICO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABTRAKSISejarah nasional bangsa kita menggambarkan bagaimana pentingnya peran dan fungsi dari mahasiswa dalam proses kehidupan bangsa, mahasiswa mengawali setiap perubahan? perubahan dengan tujuan adanya kehidupan yang lebih baik. Sejarah dari perjuangan mahasiswa memberikan predikat prestisius bagi mahasiswa antara lain sebagai iron stock, guardian value, agen of change,dan sebagainya. Gelar tersebut memberikan tanggung jawab moral bagi setiap mahasiswa, tanggung jawab kepada masyarakat untuk mampu melihat masalah, memberikan solusi serta menjadi penyalur aspirasi bagi masyarakat awam kepada pemerintah. Tanggung jawab kepada bangsa dan negara sebagai pemegang tongkat estafet untuk meneruskan kepemimpinan bangsa kelak. Pentingnya peran dan fungsi mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadikan mahasiswa kelompok yang penting untuk terus di ikuti perkembanganya. Melihat bagaimana keadaan dari mahasiswa saat ini, miris keadaanya, mahasiswa yang seharusnya membaca, berdiskusi, serta terlibat aktif dalam kehidupan organisasi dalam kampus, menjadi sesuatu yang langka untuk di lakukan . Hal tersebut membuat peneliti tertarik untuk meneliti perilaku politik dari aktivis mahasiwa terlebih khusus kepada pengurus organisasi mahasiswa, di karenakan aktivis mahasiswa menjadi barometer dari mahasiswa pada umumnya. Penelitian ini mengambil lokasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado, di karenakan peneliti bernaung sebagai mahasiswa dalam institusi tersebut. Dengan menggunakan Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif, yaitu menggambarkan subjek/objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Untuk mendapatkan perilaku politik dari aktivis mahasiswa FISIP UNSRAT yang saat ini, peneliti membatasi tahun masa jabatan dari Pengurus Organisasi Mahasiswa FISIP UNSRAT di tahun 2012. Informan penelitian dipilih secara purposive, yaitu seturut kepentingan peneliti untuk memperoleh data sesuai dengan topik penelitian, informan pada penelitian ini adalah pengurus organisasi mahasiswa FISIP UNSRAT tahun 2012. Teknik pengumpulan data, data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan, data sekunder di kumpulkan melalui literatur maupun data tertulis sesuai kebutuhan penelitian.Dari hasil penelitian ditemukan perilaku Aktivis mahasiswa FISIP UNSRAT (Pengurus Organisasi Mahasiswa FISIP UNSRAT tahun 2012) bersifat Subject, mahasiswa lebih cenderung kepada orientasi afektif dimana pengurus ormawa FISIP UNSRAT, sudah memiliki pengetahuan yang cukup mengenai pentingnya peran dan fungsi mahasiswa, juga mengetahui berbagai kebijakan-kebijakan yang di buat dalam tatanan kampus, serta merasa di rugikan dalam penerapanya, tetapi dalam action point / tindakan yang di lakukan pengurus ormawa tidak berani untuk bersentuhan dengan pimpinan fakultas ataupun universitas di karenakan pengurus ormawa FISIP UNSRAT tahun 2012 merasa tidak mampu untuk dapat merubah system secara langsung di karenakan berbagai hal yang terjadi dalam intern mahasiswa (seperti munculnya sifat apatis dan hedonis dari mahasiswa) juga makin besarnya pengaruh dari pimpinan fakultas maupun universitas terhadap kehidupan mahasiswa secara keseluruhan.Kata kunci: Perilaku Politik, AktivisMahasiswa.PENDAHULUANSetiap Negara mempunyai ciri khas dalam pelaksaan demokrasinya,ini di tentukan oleh sejarah Negara yang bersangkutan, kebudayaan, pandangan hidup, dan tujuan yang ingin dicapainya. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi Pancasila, yaitu pemerintahan rakyat yang berdasarkan nilai-nilai filsafat Pancasila. Prinsip demokrasi pancasila yang tertuang dalam sila keempat mencerminkan bahwa Pancasila sepakat kalau sumber utama dari semua kewenangan dalam demokrasi ada di tangan rakyat. Dalam proses demokratisasi di negara ini pengaruh mahasiswa tidak dapat di pungkiri kehadirannya, mahasiswa dalam kaitanya dalam penerapan demokrasi menjadi posisi penentu. Histori dari perjuangan mahasiswa memberikan predikat prestisius bagi mahasiswa seperti yang dikatakan Purnama (2008:1) antara lain ? sebagai iron stock, sebagai guardian value, dan sebagai agen of change..? Gelar tersebut memberikan tanggung jawab moral bagi setiap pribadi yang masuk dalam perguruan tinggi yang secara administratif menjadi mahasiswa pada umumnya, tanggung jawab kepada masyarakat untuk mampu melihat apa yang terjadi pada masyarakat dan mampu memberikan solusi kepada masyarakat dalam setiap masalah yang terjadi, serta menjadi penyambung lidah dari masyarakat awam kepada pemerintah. Bahkan bertanggung jawab kepada bangsa dan negara untuk melanjutkan proses regenerasi kepemimpinan dalam pemerintahan kelak (iron stock), karena dari mahasiswalah muncul kader ? kader bangsa yang di persiapkan secara mental dan intelektual yang lebih dari masyarakat pada umumnya.Pada masa kekinian realita dalam kehidupan mahasiswa menjadi sesuatu yang miris keadaanya. Mahasiswa yang seharusnya mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan membaca, berdiskusi, berpartisipasi dalam kehidupan organisasi kampus untuk dapat berdinamika di dalamnya, juga berpartisipasi aktif dalam setiap hal yang bersifat sosial untuk dapat menumbuhkan jiwa sosial kepada masyarakat, untuk keadaaan saat ini menjadi sesuatu yang langka untuk di lakukan mahasiswa. Saat ini fenomena yang terjadi adalah mahasiswa jauh lebih sering hanya ke kampus dan setelah itu memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman dan berkegiatan di sekitaran pusat perbelanjaan dan kuliner yang ada di sekitaran kampus ataupun kota tempat kampus tersebut berada. Sangat sulit untuk menemukan kegiatan diskusi di luar kelas untuk membahas hal ? hal yang menjadi persoalan dalam bidang ilmu yang di tekuni atau berbagai hal menyangkut negara dan masyarakat, bukan hanya hal tersebut mahasiswapun menjadi tidak berminat dalam mengikuti kegiatan organisasi kampus, yang sebenarnya dalam organisasi kampus mahasiswa dapat berproses dengan baik dalam pembelajaran dan pendidikan yang diperoleh melalui program kegiatan yang dilaksanakan organisasi secara formal maupun informal. Dengan bergabung aktif dalam organisasi kemahasiswaan yang bersifat intra ataupun eksra kampus berefek kepada perubahan yang signifikan terhadap wawasan, dan cara berpikir. Hal tersebut menjadikan aktivis mahasiswa menjadi barometer dalam melihat bagaimana keadaan mahasiswa secara umum.Berdasarkan hal?hal tersebut sangat penting untuk meneliti perilaku politik aktivis mahasiswa saat ini, bukan hanya menjadi sebuah pengamatan ataupun pembicaraan, tapi menjadi sesuatu yang riil untuk dapat melihat lebih dalam bagaimana keadaan mahassiwa saat ini dari kacamata keilmuan. Untuk meneliti perilaku aktivis mahasiswa, peneliti mengambil pengurus organisasi mahasiswa sebagai objek penelitian, tempat penelitian diFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi Manado, hal tersebut di karenakan peneliti bernaung sebagai mahasiswa di fakultas tersebut sehingga mempunyai tanggung jawab moral untuk memberikan sumbangsih pemikiran. Untuk melihat lebih focus kepada objek penelitian, peneliti membatasi tahun penelitian perilaku aktivis mahasiswa (pengurus ormawa) yang terjadi pada tahun 2012. Hal tersebut untuk dapat melihat perilaku politik aktivis mahasiwa yang terjadi pada masa ini.TINJAUAN PUSTAKAPengertian Perilaku PolitikMenurut Almond dan Powell yang di kutip oleh Efriza ?secara bebas perilaku politik dapat diartikan sebagai keseluruhan tingkah laku politik para aktor politik dan warga negara yang dalam manifestasi konkretnya telah saling memiliki hubungan dengan kultur politik. Dapat pula diartikan bahwa sikap ? sikap warga negara, respon ? respon dan aktivitasnya terhadap sistem poltik yang ada tersebut dipengaruhi oleh budaya politik yang membentuknya. Sementara Robert K. Carr yang menyatakan, perilaku politik (political behavior) dinyatakan sebagai suatu telaah mengenai tindakan manusia dalam situasi politik. Bagi Ramlan Subakti, interaksi antara pemerintah dan masyarakat, antara lembaga?lembaga pemerintah, dan antara kelompok dan individu dalam masyarakat dalam rangka proses pembuatan, pelaksaan, dan penegakan keputusan politik pada dasarnya merupakan perilaku politik.Arifin Rahman menyatakan, secara kontekstual, sebenarnya situasi politik memiliki ruang lingkup yang sangat luas, antaralain meliputi pengertian respon emosional berupa dukungan ataupun sikap apatis kepada pemerintah, respon terhadap perundang-undangan dsb. Dengan demikian, perilaku warga negara yang ikut serta dalam pemilu merupakan bentuk sikap warga negara terhadap pemerintah sekaligus merupakan telaah politik. Menurut Ramlan Subakti dalam Efriza, tindakan dan perilaku politik individu ditentukan oleh pola orientasi umum yang tampak secara jelas sebagai pencerminan budaya politik. Segala bentuk ucapan, pernyataan, tingkah laku, bahkan mitos dan legenda sekalipun sebenarnya diungkapkan sebagai akibat pola dan budaya politik. Dengan demikian segala tingkah laku seseorang atau aktor politik merupakan parameter dalam melihat bagaimanan sikap dan dengan siapa individu itu bergaul atau berkumpul.Beberapa pengertian diatas membawa pengertian bahwa perilaku politik akan membentuk budaya politik, dan perilaku politik di pengaruhi oleh budaya politik yang sudah terbentuk dalam suatu masyarakat. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa variabel perilaku politik dan budaya politik tidak dapat dipisahkan.Untuk dapat mengetahui perilaku politik suatu masyarakat dapat ditilik dari distribusi pola?pola orientasi khusus menuju tujuan politik di antara masyarakat tersebut. Dengan menggunakan pendekatan teori budaya politik yang didalamnya menggali orientasi politik individu yang membentuk perilaku politik seseorang yang dikembangkan dari Talcott Parsons dan Edwars Shills (Toward a General Theory of Action) yang terkenal dengan psikoanalisisnya kita dapat melihat bagaimana perilaku politik suatu komunitas maupun masyarakat . Tipe?tipe orientasi politik individual tersebut adalah:1. Orientasi Kognitif (Parochial) individu dalam komunitas sosial hanya sekedar mengenal simbol?simbol politik, pengetahuan mendasar tentang kepercayaan politik, peranan, dan segala kewajibanya serta input dan outputnya. Orientasi kognitif ini bisa di contohkan dengan sikap politik seseorang saat menentukan pilihan politik di pemilu. Apabila individu tersebut sekedar mengetahui simbol politik partai pilihanya, dan ia tidak begitu dalam mengetahui visi dan misi perjuangan partai yang hendak dipilihnya, maka individu tersebut ikut dalam proses pemilu yang ?berbekal? pengetahuan yang mendalam, maka ia berorientasi politik yang kognitif.2. Orientasi Afektif (Subject) dalam bersikap politik individu memiliki perasaan mendalam terhadap sistem politik dan para aktor politiknya. Apabila individu tersebut memilih simbol parpol sebagai suatu yang pasti dan disebabkan oleh pengetahuanya akan simbol?simbol tersebut maka orientasi politiknya adalah orientasi afektif. Demikian juga pengetahuan individu yang sangat memadai tentang aspek sepak terjang partai dan tokoh?tokoh partai membuatnya paham akan perjuangan partai tersebut.3. Orientasi Evaluatif (Partisipan) orientasi dan sikap politik individu sudah terlibat aktif dalam proses politik. Keputusan dan pendapat tentang objek?objek politik yang secara tipikal melibatkan kombinasi standar nilai dan criteria dengan informasi dan perasaan. Individu memahami betul program dan perjuangan partai. Ia juga simpatik dengan ketokohan simbolik partai, yang dengan demikian menyebabkan terlibat aktif dalam perjuangan program partai.Tipe ? Tipe Orientasi Politik IndividualEvaluatif = Participant-Psikomotorik(berhubungan dengan aktivitas fisik yang berkaitan dengan proses mental dan psikologi)-MenjiwaiAfektif = Subject content of value-Mengerti-MemahamiKognitif = Parochial-Mengetahui dan mengenalBila dikombinasikan dengan aspek?aspek orientasi politik individual yang terdiri atas kognisi, afeksi, dan evalusi, maka dimensi orientasi politik dapat dibuat dalam bentuk matrik seperti di bawah ini.Tabel.Dimensi Orientasi Politik Individual.DimensiOrientasiObjek Politik1.Sistem sebagai Objek Umum2.Objek ? objek input3.Objek ? objek output4.Pribadi sebagai ObjekKognisiAfeksiEvaluasi(Sumber : Komarudin Sahid)Dengan menggunakan matrik ini, kita dapat mengetahui dan menilai orientasi politik seseorang secara sistematis melalui beberapa pertanyaan. Sehingga dapat melihat perilaku politik individu. Jika sebagian besar individu dalam satu komunitas atau masyarakat lebih dominan kepada orientasi yang bersifat kognisi maka akan menghasilkan perilaku yang bersifat Parochial, sedangkan yang lebih dominan kepada orientasi afeksi maka mengahasilkan perilaku yang bersifat Subjcet. Jika sebagian besar mengarah kepada orientasi evaluative akan menghasilkan perilaku yang bersifat participant. Jika ada kecendrungan ada dua orientasi bahkan tiga orientasi yang mendominasi masyarakat maka akan muncul perilaku yang bersifat campuran antara subjek ? parochial, subjek ? partisipan, parochial ? partisipan, maupun parochial ? subjek ? partisipan.METODE PENELITIANMetode pengkajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deksriptif kualitatif. Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya ( Nawawi, 1987:63).Pemilihan informan dalam penelitian ini dilakukan secara purposive, yaitu seturut kepentingan peneliti untuk memperoleh data, seseuai dengan topik penelitian. Dimana pemilihan informan ini di lakukan berdasarkan pertimbangan peneliti, sehingga yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah pengurus dari organisasi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi tahun kepengurusan 2012.Fokus penelitian ini adalah meneliti perilaku politik mahasiswa dengan menggunakan teori pendekatan orientasi politik individu, dimana mahasiswa seharusnya mengetahui peran dan fungsinya dalam sistem politik bangsa, yaitu secara konsep (concept) mahasiswa berpolitik dengan memberikan gagasan, pemikiran, solusi bagi masalah yang terjadi disekitarnya, sedangkan secara kebijakan, mahasiswa menjadi kelompok penekan (pressure group) dalam sistem politik dimana mahasiswa ikut berperan aktif dalam kehidupan demokrastiasi bangsa dengan melakukan tindakan ? tindakan politik seperti demontrasi dll. Dengan menggunakan teori orientasi politik individu, peneliti mencari tahu tentang pengetahuan (kognitif) informan dalam mengetahui peran dan fungsi dari mahasiswa dalamkehidupan politik, kemudian mencari tahu pendapat atau perasaan (afektif) dari informan mengenai kebijakan politik yang di lakukan oleh pemerintah. Setelah mengetahui hal tersebut berlanjut kepada tindakan atau apa yang informan lakukan dalam meresponi hal ? hal yang sudah informan ketahui, untuk mengetahui perilaku politik dari informan.Yang menjadi data dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari wawancara mendalam (depth interview), yakni data di kumpulkan melalui wawancara yang mendalam pada setiap objek penelitian. Sedangkan data sekunder di peroleh dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sam Ratulangi, untuk mendapatkan sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unsrat, juga literatur ataupun tulisan mengenai sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia. Selain itu juga untuk kebutuhan penulisan, peneliti juga mengambil data dari informan yang mengetahui mengenai sejarah Gerakan Mahasiswa Unsrat Manado melalui wawancara kepada informan yang dianggap mampu untuk dapat menjelaskan mengenai sejarah Gerakan Mahasiswa Unsrat.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANSEJARAH FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK :Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) berdiri sejak 1 Agustus 1958 dengan nama Fakultas Tata Praja dan merupakan fakultas keempat dari Perguruan Tinggi Manado (PTM) yang berstatus swasta. Sampai saat ini telah di pimpin oleh 20 dekan, sudah memasuki dies-nathalis yang ke-55.PERIODISASI SEJARAH GERAKAN MAHASISWA INDONESIA:1908 :Munculnya kaum pelajar di karenakan adanya politik etis dari belanda yang menerapkan prinsip edukasi, emigrasi, dan imigrasi. Munculnya kaum terpelajar turut mendorong berkembangnya organisasi-organisasi sosial,seperti boedi oetomo1928 :Pada tahun 1922, sekumpulan mahasiswa yang bergabung dalam Indonesische Vereeniging yang kemudian berubah menjadi Perhimpunan Indonesia kembali ke tanah air. Kecewa dengan perkembangan kekuatan-kekuatan perjuangan di Indonesia, dan melihat situasi politik yang dihadapi, mereka membentuk kelompok studi yang mempraktekkan ide-ide mereka dan dikenal amat berpengaruh karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan saat itu. Diinspirasi oleh pembentukan Kelompok Studi Surabaya dan Bandung, menyusul kemudian Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), prototipe organisasi yang menghimpun seluruh elemen gerakan mahasiswa yang bersifat kebangsaan tahun 1926. Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah, generasi baru pemuda Indonesia muncul dan tercetus Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.1945 :Tokoh pemuda dalam angkatan ini adalah Chairul Saleh dan Sukarni, mereka merupakan angkatan muda 1945 yang bersejarah, yang pada saat itu terpaksa menculik dan mendesakSoekarno dan Hatta agar secepatnya memproklamirkan kemerdekaan, peristiwa ini yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok.1966 :Pada tahun 1965 dan 1966, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Cosmas Batubara (Eks Ketua Presidium KAMI Pusat), Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi ketiganya dari PMKRI, Akbar Tanjung dari HMI, dan lain-lain. Angkatan '66 mengangkat isu komunis sebagai bahaya laten negara.1974 :Realitas berbeda yang dihadapi antara gerakan mahasiswa 1966 dan 1974, adalah bahwa jika generasi 1966 memiliki hubungan yang erat dengan kekuatan militer, untuk generasi 1974 yang dialami adalah konfrontasi dengan militer. Pasca peristiwa G30S, gerakan mahasiswa cenderung memakai konsep gerakan moral (moral force). Munculnya peristiwa malari ?malapetaka 15 januari ? tahun 1974.1978 :Setelah peristiwa ?Malari?, dikeluarkan SK Pemerintah No. 028/1974 yang memberi wewenang yang lebih besar kepada pimpinan perguruan tinggi untuk mengontrol aktivitas mahasiswa di kampus, pers mahasiwa harus diawasi oleh Menteri Penerangan dan birokrat kampus, dan peraturan yang mengharuskan organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan partai untuk bergabung menjadi satu organisasi yang diatur oleh rejim.Masa NKK/BKK, Munculnya PUOK ?Pedoman Umum Organisasi Kemahasiswaan?,.1998 :Badai krisis ekonomi terjadi pada tahun 1997. Mahasiswa menemukan momentumnya seiring dengan krisis ekonomi yang terjadi tersebut. Dalam kurun waktu awal Februari sampai Mei 1998, secara kuantitatif dan kualitatif gerakan mahasiswa naik secara drastis, dari tuntutan yang sudah politis dan metode yang radikal. Pelaku gerakan pada masa ini bukan hanya organisasi-organisasi gerakan yang sudah lama bergerak sejak tahun 80an melainkan juga kalangan aktivis kampus dari organisasi-organisasi seperti Senat Mahasiswa, BEM, dan senat-senat fakultas. Tanggal 13 Mei, lebih dari 32 aksi di 16 kota di Indonesia serentak digelar untuk menyatakan solidaritasmempercepat proses turunnya Soeharto adalah pendudukan terhadap Gedung MPR/DPR yang dilakukan oleh puluhan ribu mahasiswa sejak tanggal 18 Mei 1998. Akhirnya tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.Sejarah Gerakan Mahasiswa UnsratHasil wawancara dengan Steven Sumolang(Ketua Presidium Pertama Unsrat) : bahwa awal tahun 2000an pernah di buatnya statuta ormawa unsrat hasil dari kongres mahasiswa unsrat pertama, yang mengatur berbagai kebijakan mengenai ormawa, dengan mengacu pada kepmen 155, dimana inti dari keputusan tersebut adalah student goverment,dari, oleh , dan untuk mahasiswa. Hanya saja peraturan ormawa unsrat berubah sejak di berlakukanya juknis, yang merubah atmosfer dari aktivitas mahasiswa dalam kampus, karena pimpinan universtas makin besar dalam mempengaruhi kehidupan mahasiswa secara keseluruhan.Mahasiswa FISIP Unsrat Tahun 2012hasil wawancara dengan pengurus organisasi mahasisa FISIP UNSRAT tahun 2012 : bahwa keadaan aktivis mahasiswa saat ini dalam kognisi yang ada dalam pengetahuanya, mereka telah memahami secara umum, mengenai pentingnya peran fungsi mahasiwa, bahkan sejarah gerakan mahasiswa, hanya saja tidak secara mendalam, mereka tidak mengetahui sejarah gerakan mahasiswa Unsrat. Secara afektif aktivis mahasiswa FISIP UNSRAT memahami dan mengetahui kebijakan-kebijakan yang di buat dalam tatanan kampus serta merasa di rugikan dengan adanya beberapa kebijakan yang di buat, hanya saja dalam tindakan yang di lakukan aktivis mahasiswa tidak berani dalam melakukan manuver-manuver yang berlebihan dalam melawan berbagai hal yang di anggap merugikan karena berbagai faktor, yang salah satunya adalah tidak adanya dukungan dari berbagai elemen mahasiswa, karena munculnya sifat apatis dan hedonis dalam diri mahasiswa, sehingga aktivis mahasiswa FISIP hanya melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Seperti lebih cenderung di buatnya kegiatan-kegiatan yang bersifat membangun karakter dan intelektual.KESIMPULAN1. Perilaku pengurus politik mahasiswa Fisip unsrat, bersifat subject di karenakan mahasiswa secara kognitif mengetahui secara umum tentang sejarah gerakan mahasiswa tapi secara mendalam mahasiswa tidak bergerak berdasarkan pengetahuan yang dimiliki, karena terlalu umum dalam pemahamanya, karena mahasiswa sendiri tidak mengetahui bagaimana gerakan mahasiswa yang ada di Unsrat, hanya mampu melihat dari jauh (dari ibu kota) gerakan mahasiswa, sehingga pada masa saat ini pengurus ormawa Fisip Unsrat tahun 2012 tidak secara mendalam mengetahui bagaimana perjalanan gerakan mahasiswa secara khusus di Universitas Sam Ratulangi Manado.2. Pengurus Ormawa Fisip Unsrat lebih dominan kepada orientasi afektif dimana pengurus ormawa sudah cukup mengetahui peran, fungsi mahasiswa serta merasa bahwa kebijakan-kebijakan yang mereka ketahui sebagian besar tidak mendukung mahasiswa, tetapi tidak berani untuk bertindak lebih karena berpikir tidak mampu untuk dapat merubah sistem secara langsung, dan hanya mempertahankan apa yang ada.3. Dalam tindakanya pengurus organisasi mahasiswa Fisip Unsrat tidak melakukan tindakan politik dalam menanggapi berbagai permasalahan yang ada, karena mahasiswa sendiri takut untuk mengkritisi kebijakan secara langsung dan terbuka, tidak berani untuk mendobrak sistem yang dapat mempengaruhi kebijakan kampus.Action point yang di lakukan pengurus ormawa FISIP UNSRAT lebih mengarah kepada kegiatan-kegiatan yang membangun intelektual dan bersifat sosia seperti diskusi, debat antar umat beragama yang di buat oleh senat, bedah buku, bedah film, adanya pencarian dana bagi korban bencana yang di lakukan senat, himaju, sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat manado yang terkena banjir, dibuat juga seminar kebangsaan dari himaju, kemudian kunjungan ke panti jompo, ada juga pelayanan kasih di pulau gangga yang menyertakan pengobatan gratis bagi masyarakat. Pengurus organisasi mahasiswa Fisip Unsrat tidak mengarahkan kegiatan yang mengaktifkan kembali fungsi politik dari mahasiswa di karenakan vacumnya Dema Fisip tahun 2012 yang merupakan pembuat kebijakan tertinggi ormawa fakultas, kemudian senat yang tidak mampu untuk menyaring kekuatan mahasiswa, serta mengembalikan pemahaman mahasiswa mengenai peran politik dari mahasiswa. Pengurus Organisasi Mahasiswa Fisip 2012 tidak menghasilkan perubahan-perubahan yang esensi dalam kehidupan kemahasiswaan di Fisip Unsrat. Pengurus Ormawa Fisip Unsrat tahun 2012 sadar bahwa gerakan mahasiswa di batasi, tetapi mahasiswa melihat bahwa ada hal yang tidak di batasi yaitu pikiran dan jiwa mahasiswa sehingga pengurus ormawa melakukan hal-hal yang membangun intelektuallitas, tetap berpartisipasi dalam organisasi ekstra bahkan tetap aktif dalam kegiatan sosial masyarakat, tetapi tidak melakukan tindakan politik dalam kampus.SARAN1. Tiap masing-masing ormawa harus menghidupkan kembali pengkaderan yang maximal, dengan mendobrak kembali idealisme murni mahasiswa dengan perumusan materi yang tepat dalam tiap-tiap kegiatan pengkaderan ormawa.2. Mengusahakan kembali peran dari ormawa dalam pelaksaan OSPEK, sehingga mahasiswa baru langsung diperkenalkan mengenai pentingnya berorganisasi.3. Mengusahakan untuk membuka kembali Statuta Ormawa Unsrat dan menjadikan hal tersebut sebagai acuan untuk mengembalikan kembali kebebasan mahasiswa seperti yang tertuang dalam Kepmen 155, dari, oleh, dan untuk mahasiswa.4. Wadah-wadah kemahasiswaan seperti BEM, MPM, SENAT, DEMA kembali menyatukan persepsi dan pandangan untuk mengarah kepada kehidupan mahasiswa Unsrat yang lebih baik.5. Kepada seluruh civitas akademika Unsrat, untuk mendukung berbagai kegiatan yang mencerdaskan mahasiswa dan daya kritis mahasiswa jangan jadikan mahasiwa sebagai musuh, tapi lihatlah mahasiswa sebagai aset bangsa yang harus terus di dukung dan di bangun dengan moral dan intelektual yang baik.DAFTAR PUSTAKABudiardjo, Miriam, 2006. Dasar ? Dasar Ilmu Politik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.Efriza, 2012. Political Explore. Bandung : ALFABETA BandungHidayat, Imam, 2009. Teori ? Teori Politik. Malang:Setara Press.Balai Pustaka, Departemen Pendidikan Nasional Edisi Ke-3, 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia.. Jakarta. GramediaKartono, Kartini, 1996. Pendidikan Politik. Bandung. Mandiri Maju.Kartono, Prof.Dr.Lieke Indieningsih dan Prof.Dr.Samsunuwiyati, Psi, 2006. Perilaku Manusia. Bandung. Refika Aditama.Komarudin, Sahid, 2011. Memahami Sosiologi Politik. Bogor. Ghalia Indonesia.Malesodi Inawan, Beddy, 2012. Sistem Politik Indonesia Pemahaman Secara teoritik dan Empirik. Jakarta. PT. Raja Grafindo Persada.Nawawi, Hadari, 1987. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta :Gadjah Mada University Press.Notoatmodjo, Prof.Dr. Soekidjo, 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta. Rineka Cipta.Santana K, Septian, 2010. Menulis Ilmiah Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta :Yayasan Pustaka Obor Indonesia.Stanley & Santoso, Aris, 2005. Soe Hok Gie : Zaman Peralihan. Jakarta : Gagas Media.Subakti, Ramlan, 1999. Memahami Ilmu Politik. Jakarta. GrasindoSumber-sumber lain:Wilis Windar Astri, Pusat Kajian dan Studi Gerakan BEM UI 2010 http://pusgerakbemui.blogdetik.comDimas Hendro Riberu http://sosbud.kompasiana.com

Page 2 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): Januari 2026 Vol. 13 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol. 12 No. 4 (2023): Oktober 2023 Vol. 12 No. 3 (2023): Juli 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): April 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Januari 2023 Vol. 11 No. 4 (2022): Oktober 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Juli 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): April 2022 Vol 11, No 1 (2022): Januari 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 10, No 4 (2021): Oktober 2021 Vol 10, No 3 (2021): Juli 2021 Vol 10, No 2 (2021): April 2021 Vol 10, No 1 (2021): Januari 2021 Vol 10, No 4 (2021): Repository Vol 10, No 2 (2020): Juni 2020 Vol 9, No 4 (2020): Oktober 2020 Vol 9, No 3 (2020): Juli 2020 Vol 9, No 2 (2020): April 2020 Vol 9, No 1 (2020): Januari 2020 Vol 9, No 1 (2020): Februari 2020 Vol 8, No 4 (2019): Oktober 2019 Vol 8, No 3 (2019): Juli 2019 Vol 8, No 3 (2019): November 2019 Vol 8, No 2 (2019): April 2019 Vol 8, No 2 (2019): Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Januari 2019 Vol 8, No 1 (2019): Februari 2019 Vol 7, No 4 (2018): Oktober 2018 Vol 7, No 3 (2018): November 2018 Vol 7, No 3 (2018): Juli 2018 Vol 7, No 2 (2018): April 2018 Vol 7, No 2 (2018): Juni 2018 Vol 7, No 1 (2018): Januari 2018 Vol 7, No 1 (2018): Februari 2018 Vol 6, No 4 (2017): Oktober 2017 Vol 6, No 2 (2017): Juni 2017 Vol 6, No 1 (2017): Februari 2017 Vol 5, No 1 (2016): Februari 2016 Vol 4, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 4, No 1 (2015): Februari 2015 Vol 3, No 2 (2014): April 2014 Vol 3, No 1 (2014): Januari 2014 Vol 2, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 2, No 1 (2013): Januari 2013 Vol 2, No 1 (2013): Februari 2013 More Issue