cover
Contact Name
Muhammad Abdan Shadiqi
Contact Email
abdan.shadiqi@ulm.ac.id
Phone
+62511-4774405
Journal Mail Official
ecopsy@ulm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat, Jl. A. Yani KM. 36 Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Ecopsy
ISSN : 23547197     EISSN : 23547634     DOI : https://doi.org/10.20527/ecopsy
Core Subject : Humanities, Social,
Ecopsy Journal is a scientific journal that focuses on the Science of Psychology, particularly with regard to issues of Environmental Psychology and other branches of Psychological sciences related environmental context (General Psychology, Social Psychology, Developmental Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, Psychology of Religion, Industrial & Organizational Psychology and Indigenous Psychology). Ecopsy Journal as a means of communication to disseminate the results of scientific research in the field of psychology. The journal is published by Psychology Studies Program, Faculty of Medicine, University Lambung Mangkurat (ULM) since 2013, published regularly in the print and electronic editions, Ecopsy Journal published three times a year at the month of April, August and December. From 2019 we only published two times a year at April and October.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY" : 8 Documents clear
Perbedaan perilaku membuang sampah pada siswa antara sebelum dan sesudah diberikan live and symbolic modelling Tia Anifa; Hemy Heryati Anward; Neka Erlyani
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.601 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3850

Abstract

ABSTRAK Perilaku membuang sampah merupakan aktivitas fisik individu yang terlihat jelas sebagai suatu hasil pembiasaan yang dibentuk oleh lingkungan. Salah satu cara agar dapat membentuk perilaku kebiasaan dalam perilaku membuang sampah pada tempatnya dan sesuai warna tempat sampah adalah dengan menggunakan teknik modeling. Modeling merupakan cara pembelajaran individu dengan mempelajari dan mengamati langsung saat model berperilaku serta dapat menggunakan simbol-simbol yang mewakili informasi sebagai media modeling. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan perilaku membuang sampah pada siswa kelas V antara sebelum dan sesudah diberikan live and symbolic modeling oleh guru. Hipotesis yang diajukan penelitian ini adalah ada perbedaan perilaku membuang sampah pada siswa antara sebelum dan sesudah diberikan live and symbolic modeling oleh guru. Subjek pada penelitian ini berjumlah 20 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling jenuh, yaitu teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Metode pengumpulan data menggunakan skala perilaku membuang sampah. Hasil perhitungan observasi saat pre-test sebesar 33.3%, sedangkan hasil perhitungan observasi saat post-test sebesar 86,7%. Dengan didukung dengan hasil uji t berpasangan menemukan perbedaan perilaku membuang sampah antara sebelum dan sesudah diberikan live and symbolic modeling. Sehingga sumbangan efektif perlakuan live and symbolic modeling untuk perilaku membuang sampah cukup berarti dengan hasil setelah perlakuan sebesar 86,7%, Sedangkan 13,3% lainnya merupakan variable-variabel lain yang tidak diteliti pada penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan live and symbolic modeling memberikan peningkatan pada perilaku siswa dalam membuang sampah pada tempatnya dan sesuai warna tempat sampah.Kata kunci: perilaku membuang sampah, live and symbolic modeling, siswa sekolah dasar, guru. ABSTRACT Littering behavior is an individual physical activity which is a result of habituation developed by environment. One of the ways to develop the habitual behavior in throwing litter into the proper places and the corresponding bin colors is by applying the modeling technique. Modeling is an individual’s learning way through studying and direct observing the current behavior of others and using symbols that represent information as a modeling medium. The objective of this study was to find out the differences in littering behavior of class V students between before and after provided with live and symbolic modeling by the teacher. The proposed hypothesis was that there were differences in littering behavior of class V students between before and after provided with  live and symbolic modeling by the teacher. The subjects were 20 people. The sampling technique used in this study was saturated sampling technique. Data were collected using the scale of littering behavior. The calculation result of the observation in pre-test was 33.3% while in post-test 86.7%. The results of the paired t test showed that there were differences in littering behavior between before and after the students were provided with live and symbolic modeling. The effective contribution of live and symbolic modeling treatment to the littering behavior was significant where the outcome after the treatment was 86.7% while 13.3% was from other variables not examined in this study. It can be concluded that live and symbolic modeling improved student behavior in throwing litter into the proper places and the corresponding bin colors. Keywords: littering behavior, live and symbolic modeling, elementary school students, teachers.
Organizational citizenship behavior pada pengurus kelompok studi islam Asy Syifa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Rooswita Santia Dewi; Prima Yudha Fransistya
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.948 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3851

Abstract

ABSTRAK  Organizational Citizenship Behavior (OCB) dijiadikan sebagai indikator keberhasilan dalam suatu organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku Organizational Citizenship Behavior (OCB) pada pengurus Kelompok Studi Islam Asy Syifa Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Metode penelitian menggunakan wawancara dengan alat ukur menggunakan aspek OCB. Subjek penelitian terdiri dari dua subjek yaitu subjek  pertama IK (laki-laki dan usia 22 tahun) dan subjek kedua AK (perempuan dan usia 20 tahun). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa IK dan AK termasuk pengurus yang memiliki organizational citizenship behavior pada organisasi, karena telah memenuhi beberapa aspek organizational citizenship behavior yaitu Altruism, civic virtue, sportsmanship, conscientiousness dan courtesy. Pada aspek altruism terdapat perbedaan reaksi yang diberikan kedua subjek yaitu pada subjek IK memiliki inisiatif dari diri sendiri untuk bersedia menolong pengurus lain untuk menggantikan tugasnya, jika pengurus tersebut memang tidak mampu atau berhalangan. Namun, pada subjek AK kurang  memiliki inisiatif untuk membantu pekerjaan pengurus lain, kecuali diminta bantuan oleh pengurus tersebut. Dari penelitian ini didapatkan pula faktor yang membentuk organizational citizenship behavior pada kedua subjek yaitu usia, lingkungan teman sebaya, lama bekerja di organisasi dan jenis kelamin yang mempengaruhi proses bertahannya organizational citizenship behavior.  Kata kunci: Organizational Citizenship Behavior, Organisasi KSI As Syifa. ABSTRACT  Organizational Behavioral Behavior (OCB) is used as an indicator of success in an organization. This study aims to determine the description of behavior Organizational Citizenship Behavior (OCB) on the management of Islamic Study Group Asy Syifa Faculty of Medicine, University of Lambung Mangkurat. The research method used interview with measuring instrument based on aspect organizational citizenship behavior. The subjects consisted of two subjects: the first subject of IK (male and 22 years of age) and second subject AK (female and age 20 years). Based on the research result, it is found that IK and AK including management  have organizational citizenship behavior in organization, because it has fulfilled several aspects of organizational citizenship behavior namely altruism, civic virtue, sportsmanship, conscientiousness and courtesy. In the altruism aspect there is a difference of reaction given by both subjects that is on IK subject has initiative from self to be willing to help other management to replace its duty, if the management is indeed unable or unable to. However, on the subject of AK has less initiative to assist the work of other administrators, unless requested assistance by the management. From this research also found the factors that make up the organizational citizenship behavior on both subjects are age, peer environment, long work in organization and gender affecting the process of survival organizational citizenship behavior.  Keywords: Organizational Citizenship Behavior, Organization of KSI As Syifa.
Akankah masyarakat yang bahagia menjaga lingkungannya? Fitri Arlinkasari; Riselligia Caninsti; Putri Ufairah Radyanti
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.755 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3846

Abstract

ABSTRAK Berbagai studi sebelumnya mengungkap bahwa ketika individu dapat menunjukkan perilaku yang berkontribusi terhadap pelestarian alam, dapat dikatakan bahwa individu tersebut memiliki subjective well-being (SWB) yang tinggi karena perilaku ekologi dikategorikan sebagai perilaku positif yang berkontribusi pada munculnya perasaan positif, seperti kebahagiaan dan kepuasan. Individu dengan SWB yang baik juga diketahui akan mampu menunjukkan perilaku pro-lingkungan karena perilaku tersebut bisa meningkatkan kualitas lingkungan hidup mereka yang secara timbal balik meningkatkan kepuasan hidup mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku pro-lingkungan dan SWB pada masyarakat Jakarta, sebagai salah satu kota besar dengan tingkat masalah lingkungan yang tinggi. Penelitian ini diikuti oleh dua ratus sembilan belas responden yang merupakan warga Jakarta yang berusia 20-40 tahun dengan status sosial ekonomi menengah ke a ditunjukkan oleh pendapatan yang lebih besar dari biaya, dan kemampuan menabung. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara perilaku pro-lingkungan dengan SWB (r = 0,075; ρ = 0.268> 0.05). Temuan dari penelitian ini akan berguna untuk penelitian selanjutnya, terutama dalam mengukur faktor lain yang memprediksi perilaku pro-lingkungan pada masyarakat perkotaan, serta merancang intervensi yang tepat untuk memodifikasi perilaku pro-lingkungan mereka. Kata Kunci: Perilaku Pro-lingkungan, Subjective Well-being ABSTRACT Previous studies found that when individuals can demonstrate behaviors that contribute to nature preservation, it can be said that he has a high level of Subjective Well-being (SWB). It is because the ecological behavior is categorized as positive action which contributes to the emergence of the positive feelings, such as happiness and satisfaction. Vice versa, individual with good SWB found would be able to show pro-environmental behavior as it could improve the quality of their environment which reciprocally promotes their general life-satisfaction. However, study related to SWB and pro-environmental behavior in Indonesia has never been conducted before. Therefore this study aims to determine the relationship between pro-environmental behavior and SWB among Jakarta citizen. This study involved two hundred and nineteen Jakarta’s people aged 20-40 years old with middle socioeconomic status indicated by incomes, which is greater than expenses and saving ability. The results reflected that there was no significant relationship between pro-environmental behavior and SWB (r = 0.075, ρ=0268>0.05). This study provides a different insight into how to change urban society’s behavior to be more concerned about their environment. Findings from this study will be useful for subsequent research, particularly in assessing other factors associated with pro-environmental behavior, as well as designing appropriate interventions to modify their environmental behavior. Keywords: Pro-Environmental Behavior, Subjective Well-Being
Hubungan antara kepribadian introvert dan kelekatan teman sebaya dengan kesepian remaja Nursyahrurahmah Nursyahrurahmah
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.817 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3852

Abstract

ABSTRAK Kesepian merupakan salah satu kenyataan hidup yang dialami oleh sebagian remaja. Kesepian ini bisa terjadi dilingkungan sekitar, di sekolah maupun di masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kepribadian introvert dan kelekatan teman sebaya terhadap kesepian pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian ini berjumlah 30 siswa di SMK Negeri 1 Kota Bima. Instrumen penelitian menggunakan personality introvert, Inventory of Peer Attachment dan Ucla Loneliness Scale. Analisis data menggunakan regresi berganda. Hasil pengujian regresi ditemukan bahwa  kepribadian introvert berpengaruh signifikan terhadap kesepian dengan koefisien regresi 0,653.  Selanjutnya kelekatan teman sebaya tidak berpengaruh signifikan terhadap kesepian dengan koefisien regresi -0,093. Variabel independent kepribadian introvert berpengaruh signifikan terhadap kesepian, setelah mengontrol variabel kelekatan teman sebaya dengan koefisien regresi 0,758. Pengaruh variabel kelekatan teman sebaya terhadap variabel dependen kesepian tidak signifikan (p-value >0,05 ; 0,061 > 0,05). Kata Kunci: Kepribadian Introvert, Kelekatan Teman Sebaya, Kesepian. ABSTRACT Loneliness is one fact of life experienced by most teenagers. Loneliness can occur in the environment around, at school and in the community. The purpose of this study to determine the relationshippersonality introverted and attachment to peers on loneliness in adolescents. This study uses a quantitative approach to the design of correlational. The subject of this research were 30 students in SMK Negeri 1 Kota Bima. The research instrument used introvertedpersonality, Inventory of Peer Attachment and UCLA LonelinessScale.Analysis of data using multiple regression. The results of the first regression testing found thatpersonality introverted significant effect on loneliness with regression coefficient 0.653. Furthermore peer attachment does not significantly influence the regression coefficient -0.093 loneliness.personality independent variable Introverted significant effect on loneliness, after controlling the variable viscosity peers with regression coefficient 0.758. Stickiness variables influence of peers on the dependent variable alone was not significant (p-value> 0.05; 0.061> 0.05). Keywords: Personality Introvert,Stickiness peers, loneliness.
Makna bahagia pada lajang dewasa madya Muhammad Syarif Hidayatullah; Raina Meilia Larassaty
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.034 KB) | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3847

Abstract

ABSTRAK Masyarakat Indonesia umumnya memberikan pelabelan negatif bagi individu yang belum menikah ketika telah memasuki dewasa madya. Label ini dianut oleh masyarakat Indonesia secara turun temurun sehingga orang tua juga mengajarkan hal yang sama kepada anaknya terutama pada anak perempuan. Akan tetapi, pada kenyataannya masih ada individu yang telah memasuki masa dewasa madya yang belum menikah dan membina keluarga. Individu yang belum menikah dalam masyarakat biasa disebut sebagai lajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami tentang kebahagiaan pada individu yang telah memasuki masa dewasa madya namun masih berstatus lajang. Metodologi kualitatif dengan perspektif fenomenologi digunakan untuk menggali data dari partisipan penelitian, yaitu individu dewasa madya yang berstatus lajang. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek memiliki kesamaan dalam memandang kebahagiaan, yakni kebahagiaan yang mereka dapat adalah bagian dari proses. Kebahagiaan mereka tidak terbebani tujuan yang ingin dicapai. Kebahagiaan yang mereka rasakan berupa proses memiliki hubungan yang positif dengan orang lain, realistis terhadap masa depan dan adanya makna dalam setiap kegiatan yang dilakukan.  Kata kunci: Kebahagiaan, Lajang, Dewasa madya ABSTRACT Indonesian society generally provides negative labeling for unmarried individuals when they have entered middle adulthood. This label is embraced by the Indonesian people from generation to generation so that parents also teach the same to their children, especially in girls. However, in reality there are still individuals who have entered an unmarried mature age and fostered families. Individuals who are not married in the community are commonly referred to as single. This study aims to explore and understand about the happiness of individuals who have entered middle adulthood but still single status. Qualitative methodologies with phenomenological perspectives were used to extract data from research participants, ie single adult individuals with single status. The research findings show that the two subjects have a similarity in looking at happiness, that the happiness they get is part of the process. Their happiness is not burdened with goals to be achieved. The happiness they feel is a process of having a positive relationship with others, realistic about the future and the meaning in every activity undertaken. Keywords : Happines, Single, Middle Adulthood
Hubungan resiliensi dengan work engagement pada agen asuransi PT X Marisa Reni Santoso; Devi Jatmika
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3853

Abstract

ABSTRAK Dalam suatu perusahaan asuransi, agen asuransi adalah hal penting, karena menjadi gambaran atau cerminan dari perusahaan asuransi didepan nasabah perusahaan asuransi. Melihat begitu pentingnya agen asuransi dalam perusahaan, perusahaan asuransi memberikan penghargaan untuk mendukung jenjang karir agen sehingga pada akhirnya membuat agen akan terikat dengan perusahaan sehingga munculnya work engagement. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara resiliensi dengan work engagement pada agen asurasni perusahaan X. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif yang bersifat korelasional. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan jumlah sampel sebanyak 104 orang agen asuransi dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat dan positif antara resiliensi dengan work engagement dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,286 (p = 0,003). Dalam penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang berarti pada setiap variabel, sehingga dapat dikatakan apabila resiliensi agen tinggi, maka work engagement agen akan tinggi juga dan sebaliknya. Peneliti menyarankan untuk pihak perusahaan asuransi untuk selalu berkembang untuk mendengarkan pendapat dari agen sehingga terjalin hubungan yang baik antara agen dan pekerjaannya. Kata Kunci: Resiliensi, work engagement, agen asuransi ABSTRACT In an insurance company, insurance agent is an important thing. Insurance Agent could become an image or reflection of insurance company in front of clients. By looking at the importance of insurance agent, insurance company will gives reward to support agent's career path which finally is making agents tied to the company and resulting the appearance of work engagement. The purpose of this dissertation is to understand the correlation between resilience and work engagement of insurance agent in X-Company. The method that being used is Correlational Quantitative Research Method. The data is being collected by questionnaire with  104 insurance agent amount of sample and purposive sampling technique. The result of this dissertation shows that there's a positive and strong correlation between resilience and work engagement with 0.286 correlation coefficient value (p = 0.003). It shows that there's a meaningful correlation in each variable so it can be said if the resilience of agent is high, the work engagement of the agent is also high and vice versa. Writer suggest that company can be actively  participate in communicating with its agents so that there will be a good correlation between agents and their job. Keywords : Resilience, Work engagement, insurance
Pengaruh dukungan sosial dan kepribadian ekstraversi terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa Sriana Septiawati
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3848

Abstract

ABSTRAK Kewirausahaan penting untuk ditingkatkan karena Indonesia berada di peringkat 103 dari 132 Negara berdasarkan data Global Enterpreuneur Indeks (GEI) tahun 2016. Kewirausahaan merupakan faktor utama dalam mendongkrak perekonomian nasional, sehingga penting untuk memahami karakteristik yang memacu seseorang menjadi wirausaha. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh dukungan sosial dan kepribadian ekstraversi terhadap minat berwirausaha pada mahasiswa Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Desain penelitian Explanatory Survei, subjek penelitian 140 responden dari total 223 mahasiswa Agribisnis. Sistematis penelitian menggunakan kuisioner dari skala Likert. Teknik analisis data adalah regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh yang  dukungan sosial dan kepribadian ekstraversi secara bersama-sama mempengaruhi minat berwirausaha dengan kontribusi sebesar 0,302 atau 30,2%. Dukungan sosial terhadap minat berwirausaha mempengaruhi minat berwirausaha dengan R Square menunjukkan besarnya kontribusi sebesar 0,279 atau 27,9%. Kepribadian ekstraversi terhadap minat berwirausaha mempengaruhi minat berwirausaha dengan R Square menunjukkan besarnya kontribusi sebesar 0,083 atau 8,3%. Kata Kunci : Dukungan sosial, kepribadian ekstraversi, minat berwirausaha ABSTRACT Entrepreneurship is important to improve as Indonesia is ranked 103 out of 132 Countries based on Global Enterpreuneur Index (GEI) data in 2016. Entrepreneurship is a major factor in boosting the national economy, so it is important to understand the characteristics that invite a person into entrepreneurship. The aim of this research is to know the influence of social support and extraversion personality to entrepreneurship interest in the student of Agribusiness University of Muhammadiyah Malang (UMM). Research design use Explanatory Survey, the subject of research 140 respondents from a total of 223 students Agribusiness. Systematic research using questionnaires from Likert scale. The technique of data analysis is multiple linear regression. The results showed that the influence of social support and extraversion personality together with entrepreneurship interest with R Square shows the contribution amount of 0.302 or 30.2%. Social support for entrepreneurship interests affecting entrepreneurship interests with R Square shows the contribution amount of 0.279 or 27.9%. Extraversion personality towards entrepreneurship interest influence entrepreneurship interest with R Square shows contribution amount of 0,083 or 8,3%. Keywords: Social Support, Extraversion Personality, Entrepreneurship Interest
Gambaran adaptabilitas karir pada siswa dengan gangguan low vision Hikmatul Aridha Husna; Marina Dwi Mayangsari
Jurnal Ecopsy Vol 4, No 2 (2017): JURNAL ECOPSY
Publisher : Psychology Study Program, Faculty of Medicine, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ecopsy.v4i2.3849

Abstract

ABSTRAK  Siswa dengan gangguan low vision tentu memiliki beberapa kesulitan di dalam kehidupan sehari-harinya, terutama untuk menjalankan aktivitas yang memerlukan fungsi mata seperti membaca dan menulis. Keterbatasan pada penglihatan inilah yang kemudian dapat menjadi masalah bagi siswa dalam beradaptasi dengan tugas dan tuntutan lingkungan sosial, tidak hanya saat ini tetapi juga dalam dunia karir kelak. Ditambah lagi tidak banyak pilihan karir yang dapat dijalani oleh siswa dengan gangguan low vision. Untuk menghadapi masalah-masalah ini, diperlukan adanya adaptabilitas karir, yaitu respon kesiapan dan sumber koping individu, yang digunakan untuk merencanakan, mengeksplorasi dan menginformasikan keputusan mengenai kemungkinan masa depan karir mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran adaptabilitas karir pada siswa dengan gangguan low vision dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini adalah seorang laki-laki berusia 20 tahun yang memiliki gangguan low vision dan tengah menempuh pendidikan tingkat sekolah menengah akhir di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi terstruktur dan observasi non partisipan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa subjek memiliki adaptabilitas karir baik yang dideskripsikan melalui 4 aspek yaitu kepedulian karir, pengendalian karir, keingintahuan karir, dan keyakinan karir. Faktor-faktor yang mempengaruhi adaptabilitas karir pada penelitian ini adalah usia, pengalaman kerja, keluarga dan social support, institusi pendidikan, serta status sosial ekonomi. Faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi adaptabilitas karir berdasarkan penelitian ini adalah pengalaman kerja. Kata kunci: adaptabilitas karir, siswa, low vision. ABSTRACT Students with low vision certainly have some difficulty in their daily life, especially to do activities that require eyes functions such as reading and writing. This vision limitation can become a problem for student to adapt with the tasks and social environment demands, not only now but also in their future career. Furthermore not many career options that can be undertaken by students with low vision. To facing of these problems, they need for career adaptability, namely the preparedness response and individual coping resources, which are used to plan, explore and inform decisions about the possibility of their future career. The aim of this research is to determine the overview of career adaptability in student with low vision and the factors which is influence it. This research uses qualitative method with case study approach. The subject of this research is 20 year old man who had low vision problems and He is studying at the senior high school in Kapuas Regency, Central Kalimantan. Data collection techniques used in this research were semi structured interview and non participant observation. The results of this research indicated that the subject has a good career adaptability which described through 4 aspects specifically career concern, career control, career curiousity, and career confidence. The factors that affecting career adaptability in this research are age, work experience, family and social support, educational institutions, and socioeconomic status. The most dominant factor in influencing career adaptability based on this research is work experience. Keywords: career adaptability, student, low vision.

Page 1 of 1 | Total Record : 8