cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Forum Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Bali
ISSN : 08543232     EISSN : 25276832     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Forum Arkeologi Journal as a media for disseminating various information related to culture in the past, based on the results of archaeological research and cultural scientific studies. Forum Arkeologi Journal is a scientific journal published by Balai Arkeologi Bali since 1988. Forum Arkeologi Journal published twice a year. Each article published in Forum Arkeologi reviewed by at least two peer-reviewers who have the competence and appropriate field of expertise. Editorial received writings of archaeological research, history, ethnography, anthropology, and other supporting science related to human and culture. Forum Arkeologi is accredited as national scientific journal number 772 / AU1 / P2MI-LIPI / 08 / 2017. Starting at the end of 2016, Forum Arkeologi begins to use electronic journal systems following technological and information developments and facilitate reader access.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017" : 9 Documents clear
TIKUS SEBAGAI SUMBER KALORI BAGI MANUSIA PURBA LIANG BUA, FLORES BARAT, NUSA TENGGARA TIMUR Ni Luh Gde Dyah Mega Hafsari
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1221.511 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.199

Abstract

Liang Bua Cave reserved evidences of human evolution in form of different species hominins called Homo floresiensis, lived by hunting and gathering. This study aims to describe the utilization of rats as the source of calories for Homo floresiensis. The data in this study are gathered through literature review, observation of the excavation result, and interview. Analysed by qualitative analysis method and zooarchaeology analysis. Ecological theory and subsistence theory are used as the rationale for reviewing how the utilization of environmental resources was done by human in the past. These rats remains are discovered on the same layer as Homo floresiensis and associated with lithic artifacts. Therefore, it is assumed that Homo floresiensis hunted these faunas to sustain its life. A giant rat is the most possible consumed species due to its size which is smaller than the hominins, yet considerably big to fulfil the needs of calories of the hominin. Situs Liang Bua menyimpan bukti-bukti evolusi manusia dalam bentuk temuan hominin dari spesies yang berbeda yaitu Homo floresiensis, yang hidup dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tikus sebagai sumber kalori oleh Homo floresiensis. Pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka, pengamatan hasil ekskavasi, dan wawancara. Analisis menggunakan metode kualitatif dan zooarkeologi. Teori ekologi dan teori subsistensi digunakan sebagai dasar pemikiran mengenai pemanfaatan sumber daya lingkungan untuk sumber makanan manusia di masa lalu. Temuan tulang tikus ditemukan pada lapisan yang sama dengan Homo floresiensis dan berasosiasi dengan artefak litik sehingga diasumsikan bahwa Homo floresiensis melakukan perburuan terhadap tikus dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Temuan tulang dari jenis tikus besar paling mungkin dijadikan hewan buruan untuk dikonsumsi karena ukurannya yang lebih kecil dari Homo floresiensis namun cukup besar untuk memenuhi kebutuhan kalori hominin tersebut.
COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 30 NO. 2 OKTOBER 2017 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3512.002 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.449

Abstract

CANDI KETHEK: KARAKTER DAN LATAR BELAKANG AGAMA Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari; I Wayan Sumerata
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1704.012 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.226

Abstract

Each temple building has style and character building its own and built on background a reliegion. As submitted by Soekmono that the temple located in central Jawa with temple in eastern Jawa has style that is different, foundation worship of different. This article presented characters and religious background of Kethek Temple. Goal was to provide information about history of Gunung Lawu. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative, comparative, and kontekstual with symbol theory. Result showed that Kethek Temple has special characteristic; is structured from unprocessed andesite. It utilized the wide natural rock order for terrace border, likes was seen on second and third terrace. Religious background Kethek Temple is Hindu. This was based from finding of turtle sculpture in which is symbol Vishnu. Elements worships toward accentors were still visible, considering terraces is form mountain in which was believed as place where the soul of ancestors live. Setiap bangunan candi memiliki gaya dan karakter bangunan tersendiri dan dibangun atas latar belakang agama tertentu. Salah satunya Candi Kethek, yang juga memiliki gaya, karakter, dan latar belakang agama tertentu. Atas pernyataan itu, maka penelitian ini berusaha mengungkap karakter bangunan dan latar belakang agama yang mendasari pendirian Candi Kethek. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif, komparatif, dan kontekstual. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Candi Kethek mempunyai karakter yang khusus, yaitu tersusun oleh batuan andesit yang tidak mengalami pengerjaan secara menyeluruh. Memanfaatkan tatanan batuan alam yang cukup besar untuk memberi batas teras, seperti yang terdapat pada teras dua dan tiga. Latar belakang agama Candi Kethek bersifat Hinduistik. Hal ini bersandar pada temuan arca kurakura yang merupakan simbol dari Wisnu. Anasir pemujaan terhadap roh nenek moyang juga masih terlihat. Mengingat teras berundak merupakan wujud dari gunung, yang dianggap sebagai tempat bersemayamnya leluhur yang telah meninggal.
BACK COVER FORUM ARKEOLOGI VOL. 30 NO. 2 OKTOBER 2017 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2730.036 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.450

Abstract

PEMBINAAN MENTAL MASYARAKAT KINTAMANI MASA BALI KUNO Nyoman Rema; I Nyoman Sunarya
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.725 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.415

Abstract

The research on Sukawana and Kintamani inscriptions carries various benefits that are multidimensional, as representation of life of old people in Cintamani Village, one of them is socio-cultural aspect, which can be used to build and strengthen the identity or character of the nation in the future. The purpose of this study is to reveal the mental guidance of the Kintamani community in Ancient Bali. This research is a qualitative research, the data source is secondary data from two Archaeological Research News, namely Sukawana Inscription and Kintamani Inscription. Both of these inscriptions describe the problem of mental guidance by the rulers to the Cintamani community to carry out their duties properly without any unrest caused by the tax collectors, and the mutual respect of each other. The guidance done in the sequence creates social stability, human rights development, improves people’s economy, conserves the environment, mentals society, implements religious sanctions including law and social for offenders. Penelitian terhadap Prasasti Sukawana dan Kintamani menyandang berbagai manfaat yang bersifat multidimensional, sebagai representasi kehidupan masyarakat dahulu kala di Desa Cintamani, salah satunya adalah aspek sosio-kultural, yang dapat digunakan untuk membangun dan mengukuhkan jatidiri atau karakter bangsa ke depan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap pembinaan mental masyarakat Kintamani pada masa Bali Kuno. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang sumber datanya berupa data sekunder dari dua Berita Penelitian Arkeologi, yaitu Prasasti Sukawana dan Prasasti Kintamani. Kedua prasasti ini menguraikan masalah pembinaan mental oleh para penguasa kepada masyarakat Cintamani agar menjalankan kewajiban sebagaimana mestinya tanpa adanya keresahan yang ditimbulkan oleh para pemungut pajak, dan adanya saling menghargai antar sesama. Pembinaan yang dilakukan dalam rangkaian menciptakan stabilitas sosial, pembinaan hak asasi manusia, meningkatkan ekonomi masyarakat, memelihara kelestarian lingkungan, membina mental masyarakat, menerapkan sanksi religi termasuk hukum dan sosial bagi pelanggar.
PREFACE FORUM ARKEOLOGI VOL. 30 NO. 2 OKTOBER 2017 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.076 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.451

Abstract

PERANAN TINGGALAN ARKEOLOGI DALAM KONSERVASI TRADISIONAL SUMBER AIR Ni Putu Eka Juliawati
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.809 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.417

Abstract

Archaeological remains can be found everywhere. The archaeological remains in Pelaga and Belok Sidan Village, Badung Regency, Bali found in several temples and near water sources. The villagers utilize the water directly from the sources for their daily needs. Therefore, their existences become so important that they need to be conserved. This article aims to know how archaeoloical remains have a role in traditional water sources conservation. Data were collected through observation, interviews and literature study. Then they were analyzed qualitatively. The result was arranged descriptively in a text. The result shows that the variation of the archaeological remains are lingga, lingga/yoni, figurine, stambha, and building components. The archaeological remains have an important role in water sources conservation. They are one of the element of community’s religious system from the past until today, which give positive effects to the water sources conservation. Tinggalan arkeologi bisa ditemukan dimana saja. Tinggalan arkeologi di Desa Pelaga dan Desa Belok Sidan, Kabupaten Badung, Bali ditemukan di beberapa pura dan di sekitar sumber air. Masyarakat memanfaatkan air langsung dari sumbernya untuk kebutuhan sehari-hari sehingga keberadaannya menjadi sangat penting dan perlu dikonservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tinggalan arkeologi berperan dalam konservasi tradisional sumber air. Setelah data dikumpulkan melalui metode observasi, wawancara dan studi pustaka, kemudian dilakukan analisis secara kualitatif. Hasil analisis dirangkai dalam bentuk teks deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan variasi tinggalan arkeologi yaitu berupa lingga, lingga/yoni, arca, stambha dan komponen bangunan. Tinggalan arkeologi memiliki peran penting dalam konservasi sumber air. Tinggalan arkeologi merupakan salah satu komponen dalam religi masyarakat dari masa lalu hingga saat ini yang memberi dampak positif terhadap konservasi sumber air.
APPENDIX FORUM ARKEOLOGI VOL. 30 NO. 2 OKTOBER 2017 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2309.798 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.452

Abstract

KEHARMONISAN DALAM TINGGALAN ARKEOLOGI DI PURA DANGKA, TEMBAU, DENPASAR A.A Gde Bagus; Nyoman Rema
Forum Arkeologi VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.446 KB) | DOI: 10.24832/fa.v30i2.442

Abstract

Dangka Tample is one of the temples that keep the archaeological remains of ancient Balinese era, still sacred, by its penyungsung people, because it has important meaning for harmony. This study aims to determine the meaning of harmony that is reflected in the remains of akeologi in the temple. This research is a qualitative research, whose data is collected through direct observation in Pura Dangka, analyzed by iconography, the results are presented in narrative, and completed with drawings. The results of this research are Linga-yoni, statue of Dewi Durga, statue of Ganesha, statue of Nandi. Of all these remains, there is Linga-yoni which has a larger size among the others, which is thought to be the main medium of worship, while the other remains as supporting media in achieving harmony. Pura Dangka adalah salah satu pura yang menyimpan tinggalan arkeologi dari jaman Bali Kuno, masih dikeramatkan, oleh masyarakat penyungsungnya, karena memiliki makna penting untuk keharmonisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna keharmonisan yang tercermin pada tinggalan akeologi di pura tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, yang datanya dikumpulkan melalui observasi langsung di Pura Dangka, dianalisis secara ikonografi, hasilnya disajikan secara naratif, dan dilengkapi gambar. Hasil penelitian ini berupa Lingga-yoni, arca Dewi Durga, arca Ganesa, arca Nandi. Dari semua tinggalan tersebut, terdapat Lingga-yoni yang mempunyai ukuran yang lebih besar di antara tinggalan lainnya, yang diduga sebagai media utama pemujaan, sedangkan tinggalan lainnya sebagai media pendukung dalam mencapai keharmonisan.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021 VOLUME 34, NOMOR 1, APRIL 2021 VOLUME 33, NOMOR 2, OKTOBER 2020 VOLUME 33, NOMOR 1, April, 2020 VOLUME 32, NOMOR 2, OKTOBER, 2019 VOLUME 32, NOMOR 1, APRIL, 2019 VOLUME 31, NOMOR 2, OKTOBER, 2018 VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018 VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017 VOLUME 30, NOMOR 1, APRIL 2017 VOLUME 29, NOMOR 3, NOVEMBER 2016 VOLUME 29, NOMOR 2, AGUSTUS 2016 VOLUME 29, NOMOR 1, APRIL 2016 VOLUME 28, NO 3, NOVEMBER 2015 VOLUME 28, NOMOR 3, NOVEMBER 2015 VOLUME 28, NOMOR 2, AGUSTUS 2015 VOLUME 28, NOMOR 1, APRIL 2015 VOLUME 27, NOMOR 3, NOVEMBER 2014 VOLUME 27, NOMOR 2, AGUSTUS 2014 VOLUME 27, NOMOR 1, APRIL 2014 VOLUME 26, NOMOR 3, NOVEMBER 2013 VOLUME 26, NOMOR 2, AGUSTUS 2013 VOLUME 26, NOMOR 1, APRIL 2013 VOLUME 25, NOMOR 3, NOVEMBER 2012 VOLUME 25, NOMOR 2, AGUSTUS 2012 VOLUME 25, NO 1, APRIL 2012 VOLUME 25, NOMOR 1, APRIL 2012 VOLUME 24, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 VOLUME 24, NOMOR 2, AGUSTUS 2011 VOLUME 24, NOMOR 1, APRIL 2011 VOLUME 23, NOMOR 3, NOVEMBER 2010 VOLUME 23, NOMOR 2, AGUSTUS 2010 VOLUME 23, NOMOR 1, APRIL 2010 VOLUME 22, NOMOR 1, MEI 2009 VOLUME 21, NOMOR 3, OKTOBER 2008 VOLUME 21, NOMOR 2, JULI 2008 VOLUME 21, NOMOR 1, MEI 2008 VOLUME 20, NOMOR 1, MEI 2007 VOLUME 19, NOMOR 2, OKTOBER 2006 VOLUME 19, NOMOR 1, MEI 2006 VOLUME 17, NOMOR 1, JUNI 2004 VOLUME 16, NOMOR 3, SEPTEMBER 2003 VOLUME 16, NOMOR 2, JUNI 2003 VOLUME 15, NOMOR 2, SEPTEMBER 2002 VOLUME 15, NOMOR 1, JUNI 2002 VOLUME 14, NOMOR 1, JULI 2001 VOLUME 13, NOMOR 2, NOVEMBER 2000 VOLUME 13, NOMOR 1, JUNI 2000 VOLUME 11, NOMOR 2, DESEMBER 1999 VOLUME 11, NOMOR 2, DESEMBER 1998 VOLUME 11, NOMOR 1, JANUARI 1998 VOLUME 10, NOMOR 2, NOVEMBER 1997 VOLUME 10, NOMOR 1, JUNI 1997 VOLUME 9, NOMOR 1, JANUARI 1996 VOLUME 8, NOMOR 2, MARET 1995 VOLUME 6, NOMOR 2, SEPTEMBER 1993 VOLUME 6, NOMOR 1, MARET 1993 VOLUME 2, NOMOR 2, FEBRUARI 1990 VOLUME 2, NOMOR 1, FEBRUARI 1989 More Issue