cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Forum Arkeologi
Published by Balai Arkeologi Bali
ISSN : 08543232     EISSN : 25276832     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Forum Arkeologi Journal as a media for disseminating various information related to culture in the past, based on the results of archaeological research and cultural scientific studies. Forum Arkeologi Journal is a scientific journal published by Balai Arkeologi Bali since 1988. Forum Arkeologi Journal published twice a year. Each article published in Forum Arkeologi reviewed by at least two peer-reviewers who have the competence and appropriate field of expertise. Editorial received writings of archaeological research, history, ethnography, anthropology, and other supporting science related to human and culture. Forum Arkeologi is accredited as national scientific journal number 772 / AU1 / P2MI-LIPI / 08 / 2017. Starting at the end of 2016, Forum Arkeologi begins to use electronic journal systems following technological and information developments and facilitate reader access.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018" : 10 Documents clear
PADI GUNUNG PADA MASYARAKAT DAYAK, SEBUAH BUDAYA BERCOCOK TANAM PENUTUR AUSTRONESIA (MELALUI PENDEKATAN ETNOARKEOLOGI) Ida Bagus Putu Prajna Yogi
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1421.597 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.456

Abstract

Dayak is one large group of people occupying the island of Borneo which is the speakers. In public life Dayak rice plant is a plant that is very important. An interesting thing is, that there is rice in the Dayak community, especially people whose lives are still in the forest or inland are mountain rice. Not only that religious communities and indigenous arranged such that rice from the process of clearing up the rice consumed. A thing that is so strictly regulated the relationship between humans and rice (plants), and God. The problem that arises is how the sustainability of this traditional rice cultivation in Kalimantan and what caused the traditional culture of rice growing in these fields continues to this day on the Dayak community. This study uses ethnoarchaeology approach. The conclusion is almost all the Dayak people are not familiar with irrigation systems. Cultural sustainability of mountain rice is caused by several factors, namely: the state of geography, the potential for vast land, a culture that has been done for generations, and cost efficiency. Dayak merupakan salah satu kelompok besar masyarakat penghuni Pulau Kalimantan yang merupakan penutur bahasa Austronesia. Dalam kehidupan masyarakat Dayak, tanaman padi sangat dimuliakan dan seluruh masyarakat Dayak yang ada di Pulau Kalimantan. Suatu hal yang menarik yaitu, padi yang ada dalam masyarakat Dayak terutama masyarakat yang masih di dalam hutan atau pedalaman adalah padi gunung atau ladang. Religi masyarakat dan adat mengatur padi sedemikian rupa mulai dari proses membuka lahan hingga padi tersebut dikonsumsi. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana keberlanjutan perladangan padi secara tradisional di Pulau Kalimantan dan apa yang menyebabkan budaya tradisonal penanaman padi secara perladangan ini terus berlangsung hingga kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Kesimpulan yang diperoleh adalah hampir seluruh masyarakat Dayak tidak mengenal sistem irigasi dalam budaya. Kebersinambungan budaya padi gunung atau padi ladang ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: keadaan geografi, potensi lahan yang luas, budaya yang telah dilakukan secara turun temurun, dan kepraktisan. Kata kunci: austronesia, padi, pertanian, teknologi, borneo.
BACK COVER FORUM ARKEOLOGI VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2565.49 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.530

Abstract

OPTIMALISASI PENGELOLAAN PELABUHAN-PELABUHAN KUNO DI BULELENG DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA Ni Komang Ayu Astiti
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.174 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.516

Abstract

Buleleng waters had been busy since the 10th century and achieved greatness during the Dutch government. The potential of natural resources and strategic geographical location are the main factors. Political developments led to only three ports that play an active role and as a triangle spot of the Dutch government. The purpose of optimizing management is that the ancient port as a cultural heritage also has an important role and existence in the current development and provide benefits both in the preservation of culture, economic community. This research uses descriptive qualitative approach with field observation data and interview technique. The results obtained that in optimizing the management of ancient ports for tourism development, should be accompanied by connections with subsystems and other tourism support facilities. The harbor and the surrounding landscape can serve as a tourist attraction as well as provide access services to increase the motivation of tourists to learn and gain new knowledge and experience. High tourist motivation to visit Buleleng will directly promote the tourism industry, preservation of ancient ports with various supporting facilities and as a means of diplomacy to become the pride of the people of Buleleng. In optimizing the management of ancient ports in tourism development, it is expected that there will be coordination and synchronization with stakeholders related to the preservation of cultural heritage, environment and tourism industry. Perairan Buleleng sudah ramai sejak abad ke-10 dan mencapai kejayaan pada masa pemerintahan Belanda. Potensi sumber daya alam dan letak geografis yang strategis menjadi faktor utama. Perkembangan politik menyebabkan hanya tiga pelabuhan yang berperan aktif dan sebagai triangle spot pemerintah Belanda. Tujuan optimalisasi pengelolaan adalah agar pelabuhan kuno sebagai warisan budaya juga mempunyai eksistensi dan peran penting dalam pembangunan saat ini serta memberikan manfaat dalam pelestarian budaya. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitataif dengan teknik pengumpulan data observasi lapangan dan wawancara. Hasil yang diperoleh bahwa dalam melakukan optimalisasi pengelolaan pelabuhanpelabuhan kuno untuk pengembangan pariwisata, harus disertai dengan koneksi dengan subsistem dan fasilitas pendukung pariwisata lainnya. Motivasi wisatawan yang tinggi untuk berkunjung ke Buleleng secara langsung akan memajukan industri pariwisata, pelestarian pelabuhan-pelabuhan kuno dengan berbagai fasilitas pendukungnya dan sebagai sarana diplomasi sehingga menjadi kebanggaan masyarakat Buleleng. Dalam optimalisasi pengelolaan pelabuhan-pelabuhan kuno dalam pengembangan pariwisata diharapkan ada koordinasi dan sinkronisasi dengan stakeholder terkait pelestarian warisan budaya, lingkungan dan industri pariwisata.
PERBANDINGAN RAGAM HIAS KERETA KYAI GARUDA KENCANA DAN GARUDA YAKSA Hari Wibowo
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2987.755 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.453

Abstract

Carriage is a material manifestation from the highest social structure in the Javanese culture, the kraton. But, studies on this subject are still considered as scarce and having narrow contexts. These two considerations have led this research to adopt not only Javanese, but also European culture paradigm. Using those paradigms, we compared royal carriages ornaments of Kraton Kasunanan Surakarta (named Garuda Kencana) and Kasultanan Yogyakarta (Garuda Yaksa). This study aims to uncover ornaments differences or similarities, how those ornaments symbolized the status of kraton, and how they relate to the social culture at that time. The method being use was qualitative by inductive reasoning. Data were compared and interpreted with combining field and literature data. This research concludes that those carriages are using style and symbolization concept of European ornament. Those similarities are highlighting the social realities that at 19th Century Java, European Dutch culture were dominant among the elites. Kereta adalah salah satu manifestasi bendawi dari struktur sosial tertinggi di kebudayaan Jawa, kraton. Sayangnya, penelitian atas artefak ini masih sedikit dan beberapa penelitian sebelumnya pun konteksnya tidak begitu luas. Dilatari oleh penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini mempertimbangkan tidak hanya budaya Jawa, namun juga budaya Eropa. Konteks artefak yang lebih luas dengan dua sudut pandang itu kemudian digunakan untuk membandingkan ragam hias antara kereta-kereta kebesaran Kraton Kasunanan Surakarta dan Kraton Kasultanan Yogyakarta. Dua kereta yang diambil sebagai bahan perbandingan adalah kereta kebesaran di kedua kraton, yaitu Garuda Kencana dan Garuda Yaksa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah perbedaan atau persamaan ragam hias, bagaimana penyimbolan status kerajaan melalui ragam hias itu, dan bagaimanakah pula hubungannya dengan konteks sosial budaya pada masa tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan penalaran induktif. Hasil analisis diinterpretasikan dengan menggabungkan data primer dari observasi langsung dengan data sekunder studi pustaka. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedua kereta tersebut menggunakan gaya ragam hias dan konsep penyimbolan kerajaan pada budaya Eropa. Persamaan tersebut mengungkapkan realita bahwa budaya Eropa Belanda pada abad ke-19 dominan di antara para elit Jawa.
ARCA DI CANDI CETHO: INTERPRETASI BARU SEBAGAI ARCA PANJI Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1470.129 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.513

Abstract

One of the influence of Indian culture that developed rapidly in the classical Indonesia period is a manufacute of statues. This remind is not rarely associated with contruction of holy and a particular religion. Talking about the statue not regardless of the a figures in statue. Furthermore, thus study wants to identity the statue which is located in the V terrace of Cetho Temple who contain meaning aesthetic. This statue has a height 99 cm, wide 15 cm, and wearing the head covering some kind of hat/tekes. Data collection was done through observation and literature review. Data analysis was using qualitative and comparative. Result showed that this statue is figure of Panji. It rests upon a comparison with Panji Statue from Selokelir temple and Grogol. The Panji Statue is used as a medium by the rsi who lived in Cetho Temple at that time. Therefore, Panji is considered as special person. For it, to hold the cult the Panji of hope can deliver the rsi to the God. Salah satu pengaruh kebudayaan India yang berkembang pesat dalam periode Masa Klasik Indonesia adalah pembuatan arca. Peninggalan ini tidak jarang berkaitan dengan pembangunan sebuah tempat suci dan agama tertentu. Berbicara mengenai arca tidak terlepas dari tokoh yang diarcakan. Untuk itu penelitian ini ingin mengidentifikasi arca yang terletak di teras ke lima Candi Cetho yang sarat mengandung makna estetis. Arca tersebut memiliki tinggi 99 cm, lebar 15 cm, dan mengenakan penutup kepala semacam topi/tekes. Metode pengumpulan data yang digunakan meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan kualitatif dan komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa arca yang terletak di teras ke lima Candi Cetho merupakan tokoh Panji. Hal ini berdasarkan atas perbandingan yang dilakukan dengan arca Panji dari Candi Selokelir dan Grogol. Sangat mungkin tokoh Panji ini dijadikan sebagai media pemujaan oleh kaum rsi dan pertapa yang tinggal di Candi Cetho kala itu, karena Panji dianggap sebagai sesosok yang istimewa dan mempunyai kelebihan pada dirinya. Untuk itu dengan mengadakan pemujaan terhadap Panji berharap dapat menghantarkan si pemuja kepada Tuhan. Kata kunci: arca, panji, pemujaan.
COVER FORUM ARKEOLOGI VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3578.038 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.527

Abstract

SUMBER DAYA ALAM SEBAGAI MEDIA LITERASI DI BALI I Nyoman Rema; Ida Bagus Rai Putra
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1404.029 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.462

Abstract

Bali has an abundant cultural heritage, one of which is a literary culture of ancient manuscripts, written on media taken from nature, preserved, shaped, to a script. The purpose of this research is to understand the utilization of natural resources as media literacy in Bali. The data of this research were collected through direct observation, interview, and literature study. The result of this research is the utilization of biotic resources such as palm leaves, intaran tree bark, yam gadung, spices of isin rong wayah, coconut base bark, aubergine leaf, and candlenut. In addition to the utilization of biotic resources are also utilized abiotic resources such as clean water, sunlight, salt, wind and soot. Based on the results of the analysis it can be seen that the media literacy in Bali is very dependent on nature, because this function will affect the environmental sustainability, and grow a sense of appreciation, then trying to create harmony to nature. Bali memiliki warisan budaya yang melimpah, salah satunya adalah budaya literasi berupa naskah kuno, ditulis pada media dari alam, diawetkan, dibentuk, hingga menjadi naskah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan sumber daya alam daun lontar dan prosesnya sebagai bahan pembuatan media literasi serta proses penulisan literasi di Bali. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian berupa pemanfaatan sumber daya biotik; daun lontar, kulit pohon intaran, ubi gadung, rempah-rempah yakni isin rong wayah, kulit pangkal pohon kelapa, daun terong, dan kemiri. Selain pemanfaatan sumber daya biotik juga dimanfaatkan sumber daya abiotik; air bersih, sinar matahari, garam, angin dan jelaga. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa media literasi di Bali sangat bergantung kepada alam, karena fungsi ini berdampak kepada kelestarian lingkungan, dan tumbuh rasa menghargai untuk menciptakan keharmonisan terhadap alam. Kata kunci: sumber daya alam, media literasi, bali.
PREFACE FORUM ARKEOLOGI VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.851 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.528

Abstract

FUNGSI DAN MAKNA TINGGALAN ARKEOLOGI DI SUBAK BUBUNAN SUKAWATI GIANYAR, BALI Dewa Gede Yadhu Basudewa
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1794.267 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.457

Abstract

This research was conducted based on the findings of archaeological remains in Subak Bubunan Sukawati rice field by the community in 2014 when cutting down the banyan tree. After doing data collection and description, it is followed by a more in-depth discussion, which aims to know the functions and meanings for the community. The data collection in this research is done using observation method, interview, and literature study through qualitative approach which then analyzed using functional theory and semiotics theory. The results show the function of the past and present archaeological remains in Subak Bubunan Sukawati based on the mythology, origin, and community activities are not completely the same, and some have changed the function. Meaning of Archaeological Remains in Subak Bubunan Sukawati is known based on the signs they have such as decoration (attributes), mythology, and community activities in utilizing the archaeological remains. Some of the meanings that are successfully examined are the meaning of fertility, the meaning of power, and the meaning of religion. Penelitian ini dilakukan berdasarkan atas temuan tinggalan arkeologi di kawasan sawah Subak Bubunan Sukawati oleh masyarakat pada tahun 2014 ketika menebang pohon beringin. Tinggalan arkeologi yang telah dilakukan pendataan maupun pendeskripsian ini dilanjutkan dengan pembahasan lebih mendalam, yang bertujuan untuk mengetahui fungsi dan maknaannya bagi masyarakat. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasi, wawancara, serta studi kepustakaan melalui pendekatan kualitatif yang selanjutnya dianalisis menggunakan teori fungsional dan teori semiotika. Hasil penelitian menunjukkan fungsi masa lampau dan sekarang tinggalan arkeologi di Subak Bubunan Sukawati berdasarkan atas mitologi, asal usul, dan aktivitas masyarakat tidak seutuhnya sama, bahkan ada yang mengalami perubahan fungsi. Makna Tinggalan arkeologi di Subak Bubunan Sukawati diketahui berdasarkan tanda-tanda yang dimilikinya seperti hiasan (atribut), mitologi, dan aktivitas masyarakat dalam memanfaatkan tinggalan arkeologi tersebut. Beberapa makna yang berhasil ditelisik adalah makna kesuburan, makna kekuasaan, dan makna religi.
APPENDIX FORUM ARKEOLOGI VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018 Forum Arkeologi
Forum Arkeologi VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.459 KB) | DOI: 10.24832/fa.v31i1.529

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue VOLUME 34, NOMOR 2, OKTOBER 2021 VOLUME 34, NOMOR 1, APRIL 2021 VOLUME 33, NOMOR 2, OKTOBER 2020 VOLUME 33, NOMOR 1, April, 2020 VOLUME 32, NOMOR 2, OKTOBER, 2019 VOLUME 32, NOMOR 1, APRIL, 2019 VOLUME 31, NOMOR 2, OKTOBER, 2018 VOLUME 31, NOMOR 1, APRIL 2018 VOLUME 30, NOMOR 2, OKTOBER 2017 VOLUME 30, NOMOR 1, APRIL 2017 VOLUME 29, NOMOR 3, NOVEMBER 2016 VOLUME 29, NOMOR 2, AGUSTUS 2016 VOLUME 29, NOMOR 1, APRIL 2016 VOLUME 28, NOMOR 3, NOVEMBER 2015 VOLUME 28, NO 3, NOVEMBER 2015 VOLUME 28, NOMOR 2, AGUSTUS 2015 VOLUME 28, NOMOR 1, APRIL 2015 VOLUME 27, NOMOR 3, NOVEMBER 2014 VOLUME 27, NOMOR 2, AGUSTUS 2014 VOLUME 27, NOMOR 1, APRIL 2014 VOLUME 26, NOMOR 3, NOVEMBER 2013 VOLUME 26, NOMOR 2, AGUSTUS 2013 VOLUME 26, NOMOR 1, APRIL 2013 VOLUME 25, NOMOR 3, NOVEMBER 2012 VOLUME 25, NOMOR 2, AGUSTUS 2012 VOLUME 25, NO 1, APRIL 2012 VOLUME 25, NOMOR 1, APRIL 2012 VOLUME 24, NOMOR 3, NOVEMBER 2011 VOLUME 24, NOMOR 2, AGUSTUS 2011 VOLUME 24, NOMOR 1, APRIL 2011 VOLUME 23, NOMOR 3, NOVEMBER 2010 VOLUME 23, NOMOR 2, AGUSTUS 2010 VOLUME 23, NOMOR 1, APRIL 2010 VOLUME 22, NOMOR 1, MEI 2009 VOLUME 21, NOMOR 3, OKTOBER 2008 VOLUME 21, NOMOR 2, JULI 2008 VOLUME 21, NOMOR 1, MEI 2008 VOLUME 20, NOMOR 1, MEI 2007 VOLUME 19, NOMOR 2, OKTOBER 2006 VOLUME 19, NOMOR 1, MEI 2006 VOLUME 17, NOMOR 1, JUNI 2004 VOLUME 16, NOMOR 3, SEPTEMBER 2003 VOLUME 16, NOMOR 2, JUNI 2003 VOLUME 15, NOMOR 2, SEPTEMBER 2002 VOLUME 15, NOMOR 1, JUNI 2002 VOLUME 14, NOMOR 1, JULI 2001 VOLUME 13, NOMOR 2, NOVEMBER 2000 VOLUME 13, NOMOR 1, JUNI 2000 VOLUME 11, NOMOR 2, DESEMBER 1999 VOLUME 11, NOMOR 2, DESEMBER 1998 VOLUME 11, NOMOR 1, JANUARI 1998 VOLUME 10, NOMOR 2, NOVEMBER 1997 VOLUME 10, NOMOR 1, JUNI 1997 VOLUME 9, NOMOR 1, JANUARI 1996 VOLUME 8, NOMOR 2, MARET 1995 VOLUME 6, NOMOR 2, SEPTEMBER 1993 VOLUME 6, NOMOR 1, MARET 1993 VOLUME 2, NOMOR 2, FEBRUARI 1990 VOLUME 2, NOMOR 1, FEBRUARI 1989 More Issue