cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol 20, No 2 (2014)" : 14 Documents clear
K-LEVEL: APLIKASI HITUNG KERANGKA KONTROL VERTIKAL BERDASARKAN METODE KUADRAT TERKECIL Hidayat, Husnul
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.155

Abstract

Kerangka Kontrol Vertikal (KKV) memainkan peranan penting dalam pemetaan topografi. Elevasi KKV umumnya diperoleh dari pengukuran sipat datar yang dihitung dengan metode bowditch rule atau metode kuadrat terkecil. Umumnya metode bowditch rule lebih banyak digunakan karena kesederhanaan perhitungannya menggunakan aplikasi spreadsheet standar. Sementara itu metode kuadrat terkecil tidak banyak dipilih dalam perhitungan KKV. Padahal tidak semua kasus KKV dapat dielesaikan dengan metode bowditch rule. Dalam beberapa kasus, metode kuadrat terkecil lebih efektif untuk digunakan, terutama pada bentuk kerangka yang kompleks. Tulisan ini memaparkan pembuatan aplikasi perhitungan KKV berdasarkan metode kuadrat terkecil, yang diberi nama K-Level. Metode yang digunakan dalam aplikasi ini adalah metode perataan parameter. Antarmuka K-Level didesain dengan tampilan tabular menyerupai tampilan aplikasi spreadsheet pada umumnya. Hal ini dilakukan demi kenyamanan  pengguna dalam memasukkan, memeriksa, mengedit data, serta menampilkan hasil perhitungan hanya dalam satu tampilan. Algoritma program ditulis dengan Matlab yang sangat efektif dalam memanipulasi matriks dan telah banyak digunakan dalam berbagai bidang komputasi numerik. Untuk kenyamanan pengguna, K-level juga dilengkapi dengan panduan penggunaan, fasilitas save dan load, dan pelaporan pekerjaan. Pengujian aplikasi menunjukkan bahwa masukan dan keluaran program dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diharapkan. Hasil perhitungan menggunakan K-level dibandingkan dengan hasil perhitungan program lain, seperti Adjust, menggunakan beragam set data. Pengujian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara hasil perhitungan K-Level dengan aplikasi lain. Rata-rata perbedaan numerik elevasi hasil perhitungan K-Level dan Adjust adalah 0,000020. Dengan demikian K-Level dapat digunakan untuk perhitungan KKV dengan metode kuadrat terkecil.Kata Kunci: K-Level, kuadrat terkecil, kerangka kontrol vertikal, MatlabABSTRACT       Leveling network for vertical control plays important role in topographic mapping. Elevations in leveling network mainly calculated from leveling data, either by bowditch rule or least square method. Mostly, bowditch rule  is more preferred due to its simplicity which can be done using standard spreadsheet application. Meanwhile, least square method is rarely employed. In reality, there are some leveling network which can’t be solved using bowditch rule.For some networks, mainly in complex network, least square method is more effective. This paper presents the design of an application for leveling network adjustment based on least squrae method, namely K-Level. This application uses the adjustment of observation equations method. The interface is designed with tabular style, like common spreadsheet applications. This is done for the ease of use when entering, checking, editing the data, and displaying the results in one window. The algorithm was written in Matlab which is very effective in matrix manipulation and has been widely used in numerical computations. K-Level is also equipped with user’s guide, load and save menu, and reporting. The test shows that the input and output process can run as expected. The results are then compared to other program, like Adjust, using many datasets. The test shows that there is no significant difference between the outputs of both programs. The mean of numerical difference in elevation is only 0,0000020. Therefore, K-Level can be used for leveling network adjustment based on least square method.  Keywords: K-Level, least square, leveling network, Matlab
TEKNOLOGI SURVEI PEMETAAN LINGKUNGAN PANTAI Mudita, Imam
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.77 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.161

Abstract

Teknologi survei pemetaan adalah mulai dari perencanaan survei, pengambilan data pada saat survei hingga pengolahan data dan penyajian informasinya dalam bentuk peta dengan skala tertentu yang diinginkan untuk tujuan tertentu. Makalah ini mencoba memberikan gambaran tentang teknologi survei pemetaan lingkungan pantai terutama teknologi survei dan perangkat keras pengambilan datanya, yang pernah digunakan di Balai Teknologi Survei Kelautan – BPPT, dan sudah cukup banyak mengalami perkembangan teknologi.Kata Kunci: Teknologi survei, lingkungan pantai, petaABSTRACTMapping survey technology is start from survey planning, data collection at the time of survey until data processing and presentation of information in the form of a map with a certain scale that desired for a particular purpose. This paper tries to give an overview of mapping survey coastal environment technology, especially technology and hardware survey data collection, which has been used in the Center of Marine Survey Technology - BPPT, and there are enough technological developments.Keyword: Survei technology, coastal environtment, map
APLIKASI PENGINDERAAN JAUH UNTUK PEMANTAUAN PERUBAHAN RUANG TERBUKA HIJAU STUDI KASUS: WILAYAH BARAT KABUPATEN PASURUAN Jati, Ardiawan
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.151

Abstract

Kawasan Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) mempengaruhi pesatnya laju pertumbuhan pembangunan di Kabupaten Pasuruan sehingga mengakibatkan perubahan lahan atau bentang alam menjadi kawasan terbangun. Hal tersebut membuat keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sering dianggap sebagai lahan cadangan tidak diperhatikan, padahal keberadaan RTH harus sesuai dengan peraturan yang ada bahwa proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit 30 % dari luas wilayah kota (UU No.26 Tahun 2007). Dalam penelitian ini, pemantauan RTH dilakukan pada tahun 1993 dan 2009 yang dipetakan menggunakan metode penginderaan jauh. Data dasar yang digunakan adalah peta RBI digital dan citra satelit ALOS AVNIR-2. Selain itu juga digunakan algoritma NDVI untuk mendapatkan nilai kerapatan vegetasi dan klasifikasi terselia berdasarkan maximum likelihood (kemiripan maksimum) untuk mengidentifikasi kelas RTH beserta luasannya di Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa luas ruang terbuka hijau Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan pada tahun 1993 sebesar 26346,299 Ha dan pada tahun 2009 sebesar 15987,021 Ha. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi penyusutan luas ruang terbuka hijau sebesar 10359,278 Ha. Meski mengalami penyusutan, Wilayah Barat Kabupaten Pasuruan telah memenuhi persyaratan luas ideal wilayah perkotaan dengan jumlah persentase sebesar 46,846 persen. Selain itu, kawasan PIER juga memenuhi persyaratan kawasan industri dengan jumlah persentase sebesar 74,601 persen.Kata Kunci: ALOS AVNIR-2, NDVI, Peta RBI Digital, PIER, Ruang Terbuka HijauABSTRACTRegions Pasuruan Industrial Estate Rembang (PIER) affect the rapid rate of growth on development in Pasuruan District resulting land change or nature be becoming a region woke. It is making existence Green Space that is often regarded as land-backup not payed, whereas existence of Green Space must be in accordance with existing regulations as listed in Law-Act No. 26 Year 2007 About Structuring The Space stating that the proportion green space on the region most city slightly 30 percent of the wide city. In this research, monitoring green space is performed in 1993 and 2009 with mapped using remote sensing methods. RBI digital map and satellite imagery ALOS AVNIR-2 are used as base data. Besides that, this research uses NDVI algorithm to get the vegetation density value and supervised classification based maximum likelihood to identify a class green space with that wide in Western Region Pasuruan District. Results of this research indicate us that extensive green space of the Western Region Pasuruan District in 1993 amounted to 26346.299 Ha and in the year 2009 amounted to 15987.021 Ha. Based on these results can be concluded that green space decrease amounted to 10359.278 Ha. Despite decrease, the Western Region Pasuruan District has been appropriate the requirements of widely ideal urbanized area by the number of percentage amounting to 46.846 percent. Besides it, PIER area is also appropriate the requirements industrial area by the number of percentage amounting to 74,601 percent.Keywords: ALOS AVNIR-2, NDVI, RBI digital map, PIER, Green Space
PENENTUAN TELUK BERDASARKAN HUKUM LAUT INTERNASIONAL STUDI KASUS: TELUK EKAS, PULAU LOMBOK Ramdhan, Muhammad; Salim, H. L.; Yulius, Yulius; Arifin, Taslim; Y.P., Fajar
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (975.509 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.157

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak teluk. Teluk sebagai suatu estuaria tertutup memiliki peran strategis sebagai salah satu sumber daya ekologi dan layanan lingkungan. Paper ini mencoba menyajikan kriteria penentuan teluk menurut UNCLOS, dengan aplikasi langsung untuk wilayah Teluk Ekas - Pulau Lombok. Menurut UNCLOS, definisi teluk adalah bentukan laut yang menjorok ke arah daratan dengan luas area yang lebih besar daripada luasan setengah lingkaran berdiameter mulut lekukan di teluk tersebut. Hasil menunjukkan bahwa peta RBI produk dari Badan Informasi Geospasial (BIG) belum sepenuhnya mengacu pada kriteria teluk yang disyaratkan oleh UNCLOS.Kata Kunci: Kriteria Teluk, UNCLOS, Teluk EkasABSTRACT       Indonesia as an archipelagic country has many bays. As an enclosed estuary, bay area has a strategic role as source of ecological resources and other environmental services. This paper will present a criterion to determine the bay area under UNCLOS, with direct application to Ekas Bay-Lombok Island. According to the UNCLOS definition, the bay area is a marine formation which protrudes toward the mainland with an area larger than the area of the semi-circle had a diameter of curvature at the bay mouth. The results showed that the bay area in Topographic Maps from Agency of Geospatial Information (BIG) had not been fully refers to the criteria required by UNCLOS.Keywords: Bay criteria, UNCLOS, Ekas Bay
UJI GEOSPASIAL PROVINSI KEPULAUAN DI INDONESIA PASCA BERLAKUNYA UNDANG-UNDANG NO. 23 TAHUN 2014 Hidayat, Fahrul; Sutisna, Sobar
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.725 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.162

Abstract

UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah telah ditetapkan pada tanggal 29 September 2014, dan menggantikan UU No. 32/2004. Berbeda dengan UU No. 32/2004, pada UU No. 23/2014 dengan jelas dan tegas diperkenalkan dua macam (kelompok) daerah provinsi, yaitu provinsi pada umumnya dan provinsi yang berciri kepulauan. Pertanyaannya adalah mana-mana saja yang dapat disebut provinsi kepulauan dan mana yang bukan berciri kepulauan menurut ketentuan Pasal 1 butir 19 UU No. 23/2014. Diperlukan metode perhitungan yang cermat dan akurat dimana data geospasial yang andal dan memadai sangat menentukan sehingga data geospasial “seamless” peta NKRI Edisi 2014 yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) digunakan dalam penelitian ini. Metode perhitungan luas wilayah (darat dan laut) dilakukan menggunakan perangkat lunak pendukung analisis Sistem Informasi Geografis (SIG). Input data berupa koordinat geografis titik-titik poligon batas wilayah termasuk poligon batas wilayah laut yang dikonstruksi berdasarkan definisi alokasi batas laut provinsi menurut ketentuan Pasal 14 dan 17 UU No. 23/2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 16 provinsi dinyatakan secara geospasial memenuhi kriteria definisi provinsi kepulauan sesuasi Pasal 1 butir 19 UU No. 23/2014. Sedangkan 18 provinsi lainnya dinyatakan tidak memenuhi kriteria definisi sebagai provinsi kepulauan.Kata Kunci: uji geospasial, provinsi kepulauan, UU No. 23/2014, Pemerintahan Daerah, IndonesiaABSTRACTThe provision of the Republic Act Nr. 23/2014 (UU-RI No. 23/2014) concerning Local Government enacted since 29 September 2014 is replacing the UU No. 32/2004. One of interested geospatial aspect in the revision is that the UU No. 23/2014 differenciating two types of provinces, i.e province in common type and archipelagic province in character type. The question addressed in this research is which provinces are regarded as archipelagic province in character and how to test its suitable geospatially in acordance to Point 19 of Article 1 UU No. 23/2014.. This research requires accurate geospatial data and computation method in testing and analysis it, so that the seamless NKRI Map 2014th edition of Geospatial Information Agency (BIG) data are used in this research. A computation method for calculating the land and marine areas of a province were carried out using the GIS software. Input data for area calculation is geographical coordinates of polygon points of a province boundaries include the marine boundary polygon of province which had been constructed first based on marine alocation definition in accordance to Articles 14 and 17 of UU No. 23/2014. The outcome of this research show that 16 provinces are geospatially fulfill the definition of archipelagic province criteria as stipulated in Article 1 point 19 UU No. 23/2014. While the other 18 provinces failed the geospatial test criteria. Keywords: geospatial test, archipelagic province, UU No. 23/2014, Local Governance, Indonesia
EVALUASI MODEL GEOPOTENSIAL GLOBAL UNTUK PERHITUNGAN GEOID DI JAKARTA Ramdani, Dadan; Priyatna, Kosasih; Andreas, Heri
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.248 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.152

Abstract

Dalam Keputusan Kepala BIG tentang Sistem Referensi Geospasial Indonesia penggunaan datum tinggi adalah geoid, tapi referensi ini harus disesuaikan dengan kondisi Jakarta dan juga independen dari perubahan. Berdasarkan kondisi tersebut penelitian ini akan mengevaluasi MODEL GLOBAL GEOPOTENSIAL (GGM) yang paling baik digunakan di Jakarta. Pemilihan GGM untuk perhitungan tinggi geoid di Jakarta terbagi atas 2 tahap. Tahap pertama dengan melihat besarnya penyimpangan dari tinggi geoid hasil dari GM61 dan HSYNC terhadap tinggi geoid GNSS-Leveling yang diwakilkan dengan harga standar deviasi. Pada tahap pertama tersebut di ambil dua GGM dengan standar deviasi yang terendah yang kemudian dihitung tinggi geoid pada titik BM pasut dan dibandingkan dengan harga GNSS-Leveling pada titik tersebut. Pembagian 2 tahap ini dikarenakan tidak adanya hubungan antara BM pasut dengan titik tinggi yang ada di Jakarta serta waktu pengukuran yang berbeda dimana titik tinggi yang lama diukur pada tahun 1999 sedangkan BM Pasut diukur pada tahun 2010. Dari tahapan pertama yang dilakukan Geoid dari Model geopotensial global GIF48 dan go_cons_gcf_2_tim_r4 mempunyai simpangan perbedaan dengan GNSS-Leveling lebih kecil dibandingkan dengan hasil perbedaan dari GGM yang lainnya denga harga sebesar 0,162 m sedangkan pada tahapan kedua GIF48 menghasilkan standar deviasi sebesar 0,009 m harga ini lebih kecil dibandingkan dengan standar deviasi dari go_cons_gcf_2_tim_r4 yaitu sebesar 0,026 m. Dari hasil ini geoid dari GIF48 akan lebih cocok untuk digunakan di Jakarta.Kata Kunci: Tinggi, Global Geopotential Model, GeoidABSTRACT       In the head decree of Geospatial Information Agency about Indonesian Geospatial Refference System the use of the datum for hight reference is Geoid, but this refference should be fitted to the condition of Jakarta and also independent of the changes. Based to those condition this study will evaluate the GEOPOTENSIAL GLOBAL MODEL (GGM) that would be best used in Jakarta. Selection GGM for geoid height calculations in Jakarta is divided into two phase. The first phase is to look at the magnitude of the standard deviation of the geoid height differences result from the 16 GGMs with the use of GM61 and HSYNC to the geoid height of GNSS-Leveling. At this first phase was taken two GGM with the lowest standard deviation. In the second phase with the results of the first phase the geoid height is calculated at the tidal BM points were then compared with value GNSS-Leveling at that point. The division of 2 this phase due to a lack of correlation between tidal BM with a high point in Jakarta as well as the different measurement time in which the high point of time measured in 1999, while tidal BM measured in 2010. From the first stage done Geoid of Global geopotential model GIF48 and go_cons_GCF_2_team_r4 has a deviation of the difference with GNSS-Leveling smaller than the result of the difference of GGM other premises a price of 0.162 m while in the second stage GIF48 produce standard deviation of 0.009 m value is smaller than the standard deviation of go_cons_GCF_2_team_r4 is equal to 0.026 m. From these results the geoid from GIF48 would be more suitable for use in Jakarta.Keywords: Height, Global Geotential Model, Geoid
PENGEMBANGAN APLIKASI PENGOLAH KOMPONEN HARMONIK PASUT BERBASIS WEB Syetiawan, Agung
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.041 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.158

Abstract

Pengamatan pasang surut laut merupakan variasi ketinggian permukaan laut yang diambil pada interval waktu tertentu untuk mendapatkan fungsi dari model harmonik permukaan laut. Data pasang surut diperoleh dengan melakukan pengamatan pasang surut di tepi pantai menggunakan berbagai teknik akuisisi data pasang surut. Penelitian ini mengkaji perhitungan konstanta harmonik pasang surut laut menggunakan pemrograman php (personal home page). PHP yang biasanya digunakan untuk membuat tampilan web dimaksimalkan mampu melakukan perhitungan matriks yang kompleks. Perhitungan konstanta pasang surut menggunakan metode perataan kuadrat terkecil. Parameter pasut yang diamati adalah sembilan komponen pasut yaitu terdiri dari empat komponen ganda, tiga komponen tunggal, dan dua komponen campuran. Setelah menyelesaikan penelitian ini didapat beberapa kesimpulan antara lain program pengolah komponen pasut ini memudahkan pengguna untuk menghitung komponen-komponen pasang surut yang nantinya dapat digunakan untuk menghitung Mean Sea Level, Higher High Water Level, Lower Low Water Level, atau informasi lain yang berkaitan dengan survei Hidrografi. Selain itu program ini menyajikan data prediksi hasil dari perhitungan konstanta pasutnya. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk keperluan navigasi kapal, sebagai penanggulangan banjir rob atau sebagai pengambilan keputusan yang berkaitan dengan survei hidrografi.Kata Kunci: Pasang surut, Personal Home Page (PHP), kuadrat terkecil, Web basedABSTRACTOcean tides observations are sea surface height variations at specific time intervals to obtain the harmonic model of sea surface height variations. Tidal data obtained by observing the tides on the beach using a variety of techniques data acquisition. This research examines the calculation of tidal harmonic constants used by PHP (Personal Home Page) programming. PHP is usually used to create optimized web interface capable of performing complex matrix calculations. Calculation of tidal constants using the least squares method. Observed tidal parameters are nine tidal component consists of four double-component, three single-component and two mixture-component. After finished this research are obtained some conclusions, such as allows the user to calculate the tidal components after that can be used to calculate the Mean Sea Level, Higher High Water Level, Lower Low Water Level, or other information related to Hydrographic survey. In addition, the program presents the data prediction results of its calculations of tidal constants. The results of this study can be used for ship navigation, for the handling of flood or decision making related to hydrographic surveys.Keywords: Tide, Personal Home Page (PHP), Least Square, Web Based
WATERMARKING PADA PRODUK INFORMASI GEOSPASIAL VEKTOR Amhar, Fahmi; Sutisna, Sobar; Niendyawati, Niendyawati
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.334 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.163

Abstract

Adanya UU No. 4 tahun 2011 diprediksi akan membuat produk informasi geospasial “booming”.  Tidak hanya BIG yang akan menjadi lebih terkenal sebagai sumber informasi geospasial dasar, namun juga industri geospasial tematik atau turunan akan ikut menikmatinya. Namun, fenomena ini suka tidak suka akan memunculkan “penumpang gelap”, yaitu pemalsuan dan pembajakan. Untuk mengatasinya, diperlukan metode dan teknologi yang disebut dengan “Watermarking”. Teknologi ini sudah lama digunakan pada uang kertas, juga pada produk fotografi, audio dan video.  Intinya adalah, agar orang semakin sulit menjual produk palsu, atau menggandakan produk asli untuk mendapatkan keuntungan secara ilegal. Pada makalah ini akan ditunjukkan beberapa metode watermarking yang sudah ada saat ini, yang dapat dicoba pada produk informasi geospasial vektor, seperti Peta Rupabumi Indonesia dan sejenisnya. Sebuah software akan memproduksi watermark untuk ditempelkan pada data, atau didaftarkan pada sebuah situs registrasi. Ketika orang mendapatkan suatu data, maka dia bisa mengujikan dengan software otentifikasi, untuk memastikan bahwa data itu asli, atau pemiliknya memang mendapatkannya secara legal. Beberapa keunggulan dan kelemahan setiap metode tersebut akan didiskusikan dalam makalah ini.Kata Kunci: tanda air, informasi geospasial, vektorABSTRACTThe existence of Law Number 4 / 2011 is predicted to create "booming" geospatial information products. Not only BIG will become more famous as a source of basic geospatial information, but also thematic or derived geospatial industry will come to enjoy it. However, like it or not this phenomenon will bring up the "dark passenger", namely falsification and piracy. To overcome this, required methods and technologies called "watermarking". This technology has been used on paper money, also in product photography, audio and video. The objective is, in order people are getting difficult to sell counterfeit products, or duplicate original product to get profit illegally. In this paper will be shown several watermarking methods that already exist today, which can be tried on the vector geospatial information products, such as Topographic Map of Indonesia and any kind of map. A software will produce a watermark to be attached to the data, or registered at a registration site. When people get the data, then he could be testing the authentication software, to ensure that the original data, or the owner did get it legally. Some of the advantages and disadvantages of each of these methods will be discussed in this paper.Key Words: watermarking, Geospatial Information, Vector
FUSI CITRA LANDSAT 7 ETM+ DAN CITRA ASTER G-DEM UNTUK IDENTIFIKASI ZONA ALTERASI HYDROTHERMAL TERKAIT MINERAL DI SEBAGIAN KALIMANTAN BARAT Ananda, Irvan Nurrahman; Danoedoro, Projo
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.153

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan potensi sumber daya mineral yang melimpah. Salah satunya adalah mengindikasikan terdapat batuan teralterasi hydrothermal. Batuan teralterasi hydrothermal dapat digunakan sebagai indikator berbagai macam mineral. Data penginderaan jauh dengan teknik pengolahan citra banyak digunakan untuk melihat potensi mineral melalui pendekatan fisik medan. Pada penelitian ini, aspek fisik medan diperoleh melalui interpretasi visual LANDSAT 7 ETM+ dan ASTER G-DEM yang telah diolah menggunakan tiga metode fusi yaitu Principal Component (PC), Intensity Hue and Saturation (IHS), dan fusi hasil Band Ratioing. Selain itu, dilakukan juga proses pemfilteran spasial. Analisis yang digunakan adalah petrografi untuk mengetahui kandungan mineral pada batuan terkait zona alterasi hydrothermal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Principal Component memiliki akurasi bentuklahan tertinggi sebesar 71,15%. Akurasi tertinggi untuk parameter batuan (litologi) sebesar 70,98% yang diperoleh dari Intensity, Hue, and Saturation. Pemetaan zona alterasi hydrothermal  ini menghasilkan empat zona yaitu Argilik 1399,42 km2, Potasik 2913,46 km2, Propilitik 1160,54 km2, dan Serisitik 946,38 km2.Kata Kunci: mineral, fusi, pemfilteran spasial, alterasi hydrothermal, interpretasi visual, petrografiABSTRACTIndonesia as an archipelagic country has huge potentials of mineral resources. One of them is an indication of hydrothermal alteration rocks. Hydrothermal alteration rocks can be used for indicating various type of minerals. Remote sensing data with image processing techniques have been frequently used to determine the mineral potentials through terrain analysis approach. In this study, physical aspects of terrain parameters were obtained using visual interpretation of LANDSAT 7 ETM+ and ASTER G-DEM imagery, which have been processed using three fusion methods, i.e. Principal Component (PC), Intensity, Hue, and Saturation (IHS), and image fusion from Band Ratioing techniques. In addition spatial filtering was also applied. Laboratory analysis of rock petrographic analysis was conducted to identity the mineral content of the rocks in order to determine the hydrothermal alteration zones. Results of this study showed that Principal Component (PC) fusion techniques have the highest accuracy for landform identification with 71.15%. Highest accuracy for rocks (lithology) is 70.98%, which was obtained from Intensity, Hue, and Saturation fusion techniques. Mapping of hydrothermal alteration zones showed four hydrothermal alterated zones, i.e. Argilic alteration zone with an area of 1399,42 km2, 2913,46 km2 zone of potassic alteration, Propilitic alteration zone 1160,54 km2, and 946,38 km2 zone of Serisitic alteration.Keyword: mineral, image fusion, spatial filtering, hydrothermal alteration, visual interpretation, petrographic
PENGUKURAN GARIS PANTAI MENGGUNAKAN METODE RTK (GPS TRACKING) DAN METODE TONGKAT PENDUGA Oktaviani, Nadya; Nursugi, Nursugi; Saputra, Lufti Rangga
GEOMATIKA Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.25 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2014.20-2.159

Abstract

Kajian ini menyajikan hasil analisis perbandingan pengukuran garis pantai dengan menggunakan metode RTK (GPS tracking) dan metode tongkat penduga. Area kajian dilaksanakan di wilayah Pantai Marina, Ancol, Jakarta Utara. Tujuan utama kajian ini adalah untuk melakukan penilaian metode yang lebih efisien dalam melakukan pengukuran garis pantai, mengingat tugas pokok mengenai garis pantai telah tertulis dalam UU no. 4 tentang Informasi Geospasial Tahun 2011. Ketelitian pengukuran dipengaruhi oleh metode serta alat yang digunakan. Hasil dari kajian ini menunjukan bahwa pengukuran dengan menggunakan metode RTK (GPS tracking) menghasilkan nilai pengukuran dengan tingkat ketelitian dan efisiensi waktu yang lebih baik.Kata kunci: Garis pantai, metode RTK, GPS          ABSTRACTThis study presents a comparative analysis of the results of measurements of the shoreline by using RTK (GPS tracking) and conventional method. Area studies conducted in the area of Marina Beach, Ancol, North Jakarta. This study purpose to conduct a more efficient method of assessment in measuring shoreline, given the fundamental duty of the coastline has been written in the Act no. 4 on Geospatial Information year 2011. Accuracy of measurement is influenced by the methods and tools. The Result of this study showed that measurement using RTK (GPS tracking) generate value measurements by level of accuracy and time efficiency.Keywords: Coastline, RTK, GPS

Page 1 of 2 | Total Record : 14