cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL ILMIAH GEOMATIKA
ISSN : 08542759     EISSN : 25022180     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Geomatika (can be called Jurnal Ilmiah Geomatika-JIG) is a peer-reviewed journal published by Geospatial Information Agency (Badan Informasi Geospasial-BIG). All papers are peer-reviewed by at least two experts before accepted for publication. Geomatika will publish in two times issues: Mei and November.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 21, No 2 (2015)" : 9 Documents clear
MODEL SPASIAL POTENSI PENGEMBANGAN PENGGUNA BAHAN BAKAR GAS MELALUI JARINGAN PIPA GAS DI KABUPATEN BEKASI Wiguna, Dede Prabowo; Koestoer, Raldi Hendro; Indra, Tito Latief
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.835 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.479

Abstract

Pengembangan Bahan Bakar Gas melalui jaringan pipa diharapkan akan sangat mendukung diversifikasi energi. Kondisi saat ini, sebaran jaringan pipa gas yang berada di Kabupaten Bekasi belum merata. Pengembangan infrastruktur jaringan pipa gas dengan model spasial bertujuan untuk mengetahui pola pelayanan gas dan menemukan lokasi optimal potensi pengguna bahan bakar gas di Kabupaten Bekasi. Penelitian ini adalah penelitian kombinasi menggunakan metode kuantitatif seperti nearest neighbor analysis, matrik jarak, model Huff serta aplikasi Sistem Informasi Geografi (SIG) sebagai alat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi pengembangan pelayanan pengguna bahan bakar gas memiliki kecenderungan pola yang serupa dengan pelayanan jaringan pipa gas yang telah ada, karena posisi pengguna gas terletak di lingkungan Kawasan Industri sehingga polanya mengikuti tarikan pasar ke wilayah-wilayah pertumbuhan industri. Peluang pengembangan jaringan pipa gas terkonsentrasi di kecamatan-kecamatan yang memiliki karakteristik (a) topografi wilayah datar, (b) jaringan jalan rapat, (c) jumlah potensi sektor pengguna tinggi, (d) memiliki demand volume gas yang tinggi, dan (e) hambatan relatif yang kecil. Secara spasial, pengembangan jaringan pipa gas diprediksi akan meluas ke wilayah pinggirannya, terutama ke arah selatan. Wilayah-wilayah tersebut antara lain kecamatan Cikarang Selatan, Setu, Serang Baru dan Cibarusah. Hal ini disebabkan oleh, kondisi arah selatan Kabupaten Bekasi memiliki akses yang lebih potensial daripada wilayah lainnya dan merupakan wilayah pusat pertumbuhan permukiman yang secara geografis dekat dengan Kabupaten Bogor.Kata kunci:jaringan pipa gas, pengguna bahan bakar gas, model spasialABSTRACTThe development of gas fuel through pipelinenetworkis expected to support the energy diversity. Now, the distribution of pipeline network in Bekasi Regency not spread evenly yet. The pipeline infrastructure development with spatial models aims to determine the distribution of pipeline pattern and find optimal location of potential users of the gas fuel in Bekasi Regency. This study applied combination of quantitative methods such as nearest neighbor analysis, distance matrix, Huff models as well as the application of Geographical Information Systems (GIS) as an analytical tool. The results showed that the potential development of gas fuel service users have a tendency that the pattern is in line with services network of existing gas pipeline, because the position of the gas users located in the Industrial Area so that the pattern follows the pull of the market (market driven) into the areas of industrial growth. Development opportunities are concentrated in districts that have characteristics (a) the topography is flat, (b) road network meetings, (c) the number of potential high user sector, (d) have a high volume of gas demand and (e) barriers are relatively small. Spatially, the development of gas pipeline is expected to extend into the rim area, particularly to the south. These regions include districts of South Cikarang, Setu, New Serang and Cibarusah. It is caused by conditions that the southward of Bekasi Regencyhas more potential access than otherregions and the central region of the settlements growth that geographically close to the Bogor Regency.Keywords: pipelines gas, gas fuel users, spatial models
PENGEMBANGAN JARING KONTROL GEODESI PEMANTAU WADUK SERMO Waliyanto, Waliyanto; Widjajanti, Nurrohmat; Yulaikhah, Yulaikhah; Taftazani, M. Iqbal
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.113 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.581

Abstract

Keberadaan Waduk Sermo di Kabupaten Kulonprogo, sangat penting karena manfaatnya sebagai tampungan air bersih, sarana pariwisata dan saluran irigasi untuk lahan pertanian di sekitarnya. Namun demikian banyak juga yang tidak menyadari bahwa di bawah Waduk Sermo terdapat segmen sesar aktif yang memanjang dari Parangtritis ke Kulonprogo. Penelitian ini bermaksud untuk mengembangkan jaring pengamatan yang telah ada sebelumnya menjadi lebih luas cakupannya untuk mengetahui dampak dari adanya sesar aktif tersebut. Penelitian dilaksanakan dengan beberapa tahapan, yaitu: 1) pengembangan kerangka kontrol, dengan menambah tujuh titik (5 makro dan 2 mikro) jaring kontrol baru; 2) pengukuran kerangka kontrol, dengan menggunakan pengamatan GPS/GNSS metode relatif statik di semua titik kontrol sejumlah 15 titik; 3) pengolahan data, dengan menggunakan perangkat lunak GAMIT/GLOBK dan diolah dalam dua skenario terkait penggunaan titik referensi dalam pengolahan. Hasil dari penelitian ini adalah terbangunnya pilar/patok jaring pemantauan baru sebagai pengembangan jaring kontrol pemantauan Waduk Sermo, serta koordinat jaring kontrol hasil olahan dalam dua skenario, yaitu: pada skenario pertama, titik makro memiliki simpangan baku terkecil yaitu 0,004 m pada sumbu Z di titik MAK2. Sedangkan pada titik mikro, simpangan baku terkecil sebesar 0,004 m pada sumbu Z di titik BBR1 dan BMS2. Pada skenario kedua, simpangan baku titik makro terkecil yaitu 0,001 m pada sumbu X di titik MAK1. Sedangkan pada titik mikro, simpangan baku terkecil sebesar 0,005 m pada sumbu Z di titik BMS2. Titik-titik yang sudah dibangun dapat bermanfaat untuk memantau pergerakan bendungan dan secara berkala bisa digunakan untuk memantau aktivitas sesar yang berada di bawah Waduk Sermo.Kata kunci: pengembangan JKG, pemantau Waduk Sermo, teknik GPS/GNSS
Susunan Dewan Redaksi, Daftar Isi, Lembar Abstrak dan Pengantar Redaksi Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.132 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.595

Abstract

.
STUDI PENERAPAN MODEL KOREKSI BEDA TINGGI METODE TRIGONOMETRI PADA TITIK-TITIK JARING PEMANTAU VERTIKAL CANDI BOROBUDUR DENGAN TOTAL STATION Rosalina, Githa Eka
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.48 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.480

Abstract

Pengukuran beda tinggi dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu beda tinggi dengan menggunakan Sipat Datar dan beda tinggi menggunakan Total Station atau biasa disebut dengan beda tinggi metode Trigonometri. Pengukuran beda tinggi dengan Sipat Datar lebih teliti dibandingkan dengan metode Trigonometri. Hal ini dikarenakan ketelitian beda tinggi dengan Total Station bergantung pada besaran-besaran yang harus diukur, seperti ketelitian hasil ukuran sudut vertikal, jarak, tinggi instrumen dan tinggi reflektor. Melalui penelitian ini, diharapkan kedepannya pengukuran beda tinggi dengan Total Station dapat menghasilkan beda tinggi dengan ketelitian yang mendekati dengan pengukuran dengan Sipat Datar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari penerapan model koreksi beda tinggi metode Trigomometri yaitu y = 0,000126x+0,0014 terhadap ketelitian penentuan tinggi yang dihasilkan, dengan mengambil kasus jaring pemantau stabilitas Candi Borobudur. Penilitian dilakukan dengan menggunakan data jaring vertikal Sipat Datar Leica SPRINTER-100 Candi Borobudur tahun 2011 dan data jaring vertikal Total Station Nikon DTM-322 Candi Borobudur tahun 2012. Pada jaring vertikal Total Station diberikan model koreksi y= 0,000126x+0,0014. Data diproses menggunakan hitung perataan kuadrat terkecil dengan metode parameter terkendala minimal. Pengujian untuk analisis hasil dilakukan dengan menggunakan Uji Fisher dan Uji-t dengan tingkat kepercayaan 95%. Proses pengujian dilakukan pada varian masing-masing data yang dihasilkan, kemudian dilakukan pengujian tinggi titik yang diestimasi untuk melihat hasil penentuan tinggi dengan Total Station yang dibandingkan dengan Sipat Datar. Hasil dari penerapan model koreksi beda tinggi pada jaring vertikal Total Station Nikon DTM-322 ini bersifat sistematis. Dalam penelitian ini model koreksi tersebut tidak secara signifikan memberikan perubahan pada ketelitian pengukuran tersebut.Kata kunci: jaring vertikal Candi Borobudur, model koreksi beda tinggi, ketelitian tinggiABSTRACTMeasurement of height differences can be obtained by two approaches, that is leveling and trigonometric methods using Total Station. The levelling method is more accurate than trigonometric because the accuracy depends on the precision of the vertical angle, distance, instrument’s height and reflector’s height data. In the future, the Total Station measurements expected could provide the accuracy of height differences approach the levelling. This research aims to find out the impact of giving the height difference model corrections using Trigonometric method, that is y = 0,000126x + 0,0014 to the precision and accuracy of the height determination using Total Station at Borobudur vertical monitoring network. Data used in this research are leveling data using Leica SPRINTER-100 of Borobudur network in 2011 and trigonometric leveling data using Nikon DTM-322 Total Station in 2012. Correction Model y = 0,000126x + 0,0014 was given height data of Borobudur network in 2012. The data was processed using least square adjustment with minimum constraint. Statistic test to analyze the result provides using Fisher and student t-test with 95% level of confidence. The test was done in each varian data, then the height test estimation conducted to find the Total Station measurement result compared by levelling. Evaluation result indicated that giving correction using model to height differences measured by TS Nikon DTM-322 can not improve the measurements accuracy, because the correction is systematic evaluation.In this study, the correction model is not significantly change in the measurement accuracy.Keywords: vertical network Borobudur Temple, correction model of height difference, height accuracy 
POTENTIAL NATIONAL SPATIAL DATA INFRASTRUCTURE (NSDI) AND VOLUNTEREED GEOGRAPHIC INFORMATION (VGI) INTEGRATION TO ACHIEVE SEAMLESS-UPDATING-RELIABLE SPATIAL PLANNING INFORMATION FROM NATIONAL THROUGH LOCAL GOVERNANCE LEVEL IN INDONESIA Yudono, Adipandang
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.971 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.582

Abstract

This paper focuses on the role of National Spatial Data Infrastructure (NSDI) in relation to spatial planning formulation in Indonesia. The reason for selecting this topic is the fragmented manner of spatial data distribution amongst the Indonesian government institutions responsible for spatial planning at present. Thus, spatial planning conflicts at different levels (e.g. province and municipality) or at similar levels (e.g. regency or municipality) often occur. Furthermore, a lack of spatial data management in spatial planning has led to the state spending considerable sums each year to produce, process and use geographic data. Moreover, owing to a rather convoluted bureaucracy, crossjurisdictional organisational circumstances have added a delicate political situation to accessing spatial data. Hence, this research considers the issue of moving towards a consensus on sharing fundamental geospatial datasets to meet the public interest and geospatial standardization to achieve the geospatial information integration amongst government institutions and private agencies in national geospatial information provider. In addition, a traditional NSDI application using top-down approach has raised several issues, for instance lack of up-to-date geospatial information. Which is this issue may overcome by engaging bottom-up Volunteered Geographic Information (VGI) approach. Practically, most of NSDI scholars have limited understanding to what extent NSDI may accommodate a bottom-up VGI in terms of national/state spatial data management. Therefore, to fill knowledge gap, this study will finding out the possibility NSDI in accommodating VGI process and mechanism pertain national spatial data management and support accelerating geospatial information implementation for spatial planning purposes.Keywords: NSDI, Spatial planning, VGI, Geospatial InformationABSTRAKMakalah ini berfokus pada peran Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) dalam kaitannya dengan perumusan perencanaan tata ruang di Indonesia. Alasan untuk memilih topik ini adalah cara distribusi data spasial yang terfragmentasi di antara lembaga-lembaga pemerintah Indonesia yang bertanggung jawab untuk perencanaan tata ruang saat ini. Dengan demikian, konflik perencanaan tata ruang pada tingkat yang berbeda (misalnya provinsi dan kabupaten) atau pada tingkat yang sama (misalnya kabupaten atau kota) sering terjadi. Selain itu, kurangnya manajemen data spasial dalam perencanaan tata ruang telah menyebabkan pengeluaran negara dalam jumlah yang cukup besar setiap tahun untuk memproduksi, memproses dan menggunakan data geografis. Selain itu, karena birokrasi yang agak berbelit-belit, keadaan organisasi lintas yurisdiksi telah menambahkan secara halus situasi politik untuk mengakses data spasial. Oleh karena itu, penelitian ini menganggap isu bergerak menuju konsensus tentang berbagi dataset geospasial dasar untuk memenuhi kepentingan publik dan standarisasi geospasial untuk mencapai integrasi informasi geospasial di antara lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga swasta dalam penyediaan informasi geospasial nasional. Selain itu, aplikasi tradisional IDSN menggunakan pendekatan top-down telah mengangkat beberapa isu, misalnya kurangnya informasi geospasial yang up-to-date. Yang merupakan masalah ini dapat diatasi dengan pendekatan Volunteered Geographic Information (VGI) secara bottom-up. Secara praktis, sebagian besar ahli IDSN memiliki pemahaman yang terbatas sejauh mana IDSN dapat mengakomodasi pendekatan bottom-up VGI dalam hal pengelolaan data spasial nasional. Oleh karena itu, untuk mengisi kesenjangan pengetahuan ini, penelitian ini akan mencari tahu kemungkinan IDSN dalam mengakomodasi proses VGI dan mekanisme yang berhubungan dengan pengelolaan data spasial nasional dan dukungan percepatan implementasi informasi geospasial untuk tujuan perencanaan tata ruang.Kata kunci: IDSN, perencanaan Tata Ruang, VGI, Informasi Geospasial
PENGOLAHAN DATA LANDSAT 8 UNTUK EKSTRAKSI OBJEK DI PERMUKAAN LAUT Susantoro, Tri Muji; Wikantika, Ketut
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (438.289 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.481

Abstract

Kenampakan objek di permukaan laut seperti kapal, bagan, platform migas dan lainnya secara umum mudah dipetakan menggunakan data citra satelit resolusi tinggi. Akan tetapi, harga citra satelit resolusi tinggi tersebut relatif lebih mahal. Penggunaan citra satelit resolusi menengah dan regional secara umum hanya untuk pemetaan permukaan laut masih didominasi untuk pemetaan kondisi fisik dan kimia air laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengolah data Landsat 8 dalam rangka mengidentifikasi objek di permukaan laut. Berdasarkan hasil kajian objek di laut seperti kapal yang sandar di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, kapal yang bergerak di Utara Delta Wulan dan bagan tancap di perairan Jepara dapat diidentifikasi menggunakan NDVI dan penisbahan saluran ((SWIR-RED)/(SWIR+RED)). Kenampakan kapal tampak lebih baik menggunakan NDVI dan penisbahan saluran ((SWIR-RED)/(SWIR+RED)) dibandingkan pada citra komposit warna dengan kombinasi band 653 (RGB). Kapal yang bergerak terlihat jelas dengan buih gelombang dibelakangnya, sedangkan pada citra komposit warna dengan kombinasi band 653 (RGB), buih gelombang tidak dapat dilihat. Demikian juga dengan bagan tancap yang tidak terlihat pada citra komposit warna dengan kombinasi band 653 (RGB). Namun demikian bagan tancap dapat diidentifikasi dengan jelas pada NDVI dan penisbahan saluran ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)). Kemampuan Landsat 8 untuk memetakan objek di laut dengan baik ini, dapat dimanfaatkan secara optimal untuk perencanaan kegiatan di bidang migas dan peluang mencari kapal yang hilang ataupun untuk monitoring daerah rawan illegal fishing.Kata kunci: Landsat 8, kapal, pelabuhan, bagan tancap, NDVI, penisbahan saluran, RGBAbstractThe appearance of the object on the sea surface like a ship, charts, and other oil and gas platforms are generally easily mapped using high-resolution satellite imagery data. However, the prices of high-resolution satellite images are relatively expensive. The use of medium resolution satellite imagery and regional general for mapping the sea surface is still dominated for mapping the physical and chemical conditions of seawater. The objective of this research is conducting a processing of Landsat 8 data for identifying objects on the sea surface. Based on the results, objects on the sea, such as ship that is docked at Tanjung Emas Harbour, Semarang and moving ship in North Wulan Delta, Demak, as well as bagan atJepara sea can be identified using NDVI and Rationing band ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)). The appearance of ship is better identified using NDVI and Rationing band ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)) than on the composite imageries using combination bands of 653 (RGB). The moving ship seen more clearly with ripple wave in the backside, whereas its cannot be seen in the composite imageries using combination bands of 653 (RGB). Similarly, bagan cannot be seen in the composite imageries using combination bands of 653 (RGB). However,bagan can be identified clearly using NDVI and rationing band ((SWIR-RED)/(SWIR +RED)).Landsat 8 Ability to map the object in the sea with this good, can be used optimally for planning activities in the field of oil and gas and the opportunities to look for the missing ship or for monitoring areas prone to illegal fishing.Keywords: Landsat 8, ship, harbour, bagan, NDVI, rationing band, RGB
PENENTUAN ZONA POTENSI PENANGKAPAN IKAN BERDASARKAN SEBARAN KLOROFIL-A Syetiawan, Agung
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.828 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.482

Abstract

Potensi perikanan di Provinsi Lampung cukup berlimpah dengan luas perairan laut (12 mil) 24.820 km2 (41,2% dari total luas keseluruhan) termasuk didalamnya luas perairan pesisir 16.625,3 km2. Namun, potensi perikanan yang cukup besar itu belum dapat memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat khususnya nelayan karena belum terkelola dengan baik. Kandungan klorofil-a di perairan dapat dijadikan sebagai ukuran banyaknya fitoplankton pada suatu perairan tertentu dan dapat digunakan sebagai petunjuk produktivitas perairan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan lokasi zona penangkapan ikan berdasarkan sebaran klorofil-a. Penentuan sebaran klorofil-a untuk penentuan zona potensi penangkapan ikan menggunakan data penginderaan jauh citra SPOT-4 dengan daerah kajian penelitian di perairan laut Provinsi Lampung. Pemilihan kanal citra yang sesuai untuk mengembangkan model algoritma dilakukan dengan cara meregresikan data digital dari kanal tunggal yang potensial, kemudian menduga konsentrasi klorofil dengan hasil pengukuran insitu dari parameter kualitas air tersebut. Berdasarkan hasil klasifikasi yang telah dilakukan, daerah Lampung memiliki jenis klorofil-a dengan klasifikasi konsentrasi tinggi dan sangat tinggi. Untuk konsentrasi tinggi memiliki luas area sebesar 48.897 Ha sementara konsentrasi sangat tinggi memiliki luas sebesar 30.313,04 Ha. Secara keseluruhan, sebaran klorofil-a di perairan Lampung lebih tinggi konsentrasinya pada perairan pantai dan pesisir, serta rendah di perairan lepas pantai. Lokasi perairan dengan kandungan klorofil-a tinggi dapat diindikasikan di perairan tersebut kaya dengan ikan. Plankton yang mengandung klorofil-a tersebut merupakan indikator ketersediaan pangan bagi ikan di laut.Kata kunci: zona potensi penangkapan ikan, klorofil-a, penginderaan jauhABSTRACTPotential fisheries in the province of Lampung is quite abundant with sea area (12 miles) 24.820 km2 (41,2% of the total area) including 16.625,3 km2 area of coastal waters. However, the fisheries potential is large enough can not provide a great benefit to the community, especially fishermen because it is not managed properly. The content of chlorophyll-a in the water can be used as a measure of the amount of phytoplankton in certain waters and can be used as a guide marine productivity. This study was conducted to determine the location of fishing zones based on distribution of chlorophyll-a. Determining the distribution of chlorophyll-a for the determination of potential fishing zones using remote sensing imagery SPOT-4 with the area of research studies on marine waters Lampung Province. The selection of the appropriate channels to develop the image of a model algorithm was done by regressing digital data of a single channel potential, suspected chlorophyll concentration in situ measurement results of the water quality parameters. Based on the results of the classification has been done the area of Lampung have a kind of chlorophyll-A with the classification of high and very high concentrations. For high concentration has an area of 48.897 hectares while the very high concentration has an area of 30.313,04 hectares. Overall, the distribution of chlorophyll-A in the waters of Lampung higher concentrations in coastal waters, as well as low in offshore waters. Location waters with a high content of chlorophyll-a may be indicated in these waters rich with fish. Plankton containing chlorophyll-a is an indicator of the availability of food for the fish in the seaKeywords: potential fishing zones, chlorophyll-a, remote sensing
ANALISIS PARAMETER ORIENTASI LUAR PADA KAMERA NON-METRIK DENGAN MEMANFAATKAN SISTEM RTK-GPS Nugroho, Budi Heri; Suwardhi, Deni; Harto, Agung Budi
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.616 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.478

Abstract

Fotogrametri dalam pengolahannya sangat dibatasi oleh kemampuan perangkat lunak untuk memecahkan parameter yang ada, baik parameter koordinat objek maupun parameter orientasi kamera. Parameter orientasi kamera terdiri dari parameter orientasi dalam dan juga parameter orientasi luar yang terdiri dari posisi dan juga rotasi kamera. Dengan bantuan dari sistem RTK-GPS, parameter posisi bisa dihilangkan dan perhitungan bundle adjustment diharapkan menjadi efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan data posisi kamera dari GPS bisa membantu perhitungan bundle adjustment. Satu hal yang harus diperhatikan adalah adanya offset antara antena GPS dan kamera. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan Australis 6.0, namun gagal dalam melakukan proses bundle adjustment, sehingga pengolahan selanjutnya dilakukan dengan menggunakan ERDAS IMAGINE 9.2. Kebenaran hasil pengolahan ERDAS IMAGINE 9.2 dibuktikan dengan membandingkan hasil pengolahan Agisoft PhotoScan 0.8. Hasil dari penelitian ini adalah penambahan RTK GPS tidak menambah akurasi secara signifikan tetapi meningkatkan efisiensi untuk pemetaan bergerak (mobile mapping) karena membutuhkan lebih sedikit titik kontrol di lapangan.Kata kunci: fotogrametri rentang dekat, bundle adjustment, RTK-GPSABSTRACTPhotogrammetry in its processing is very limited by the ability of software to calculate the parameter, whether it’s object coordinates or the camera orientation parameter. The orientation parameter is consisting of inner and exterior orientation parameter in which consisted of camera position and camera rotation. With help from RTK-GPS system, the camera position can be considered as constraint so the bundle adjustment calculation could be more efficient.The purpose of this study was to determine how much the effect of camera positioning data from GPS can help bundle adjustment calculation.However, there is offset between the GPS antenna and the camera that must be concerned.The processing carried out byusingAustralis 6.0 was fail in bundle adjustment calculation, so the next calculation process wasdone by ERDAS IMAGINE 9.2. The result of ERDAS IMAGINE 9.2 was thencompared to Agisoft PhotoScan 0.8 calculation result. Conclusion of this research is RTK GPS system does not increase the accuracy significantly but increase the mobile mapping efficiency, with the decreasing of control points needed on the object.Keywords: close range photogrammetry, bundle adjustment, RTK-GPS
Cover Jurnal Ilmiah Geomatika Vol. 21 No. 2 Desember 2015 Geomatika 2015, Jurnal Ilmiah
GEOMATIKA Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : Badan Informasi Geospasial in Partnership with MAPIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.4 KB) | DOI: 10.24895/JIG.2015.21-2.594

Abstract

.

Page 1 of 1 | Total Record : 9