cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 2 (2011)" : 11 Documents clear
ANALISIS WILAYAH KONSERVASI MANGROVE DI KEPULAUAN TALAUD Asriningrum, Wikanti
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2419.781 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.41

Abstract

Konservasi mangrove memerlukan analisis kewilayahan yang berbasis karakteristik biogeofisik agar diperoleh keserasian antar ekosistem. Pemanfaatan citra penginderaan jauh satelit adalah untuk mengenali karakteristiknya. Teknik ini sesuai untuk diterapkan pada daerah pesisir pulau-pulau kecil yang sulit dijangkau seperti di Kabupaten Kepulauan Talaud. Studi ini bertujuan untuk melakukan analisis wilayah karakteristik biogeofisik pulau kecil dan untuk analisis wilayah konservasi mangrove. Metode analisis visual dengan pendekatan geomorfologis dilakukan menggunakan citra Landsat, serta dilengkapi dengan peta geologi, peta rupabumi, peta pelayaran, dan survei lapangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh wilayah pesisir di daerah studi sesuai untuk tumbuh mangrove. Wilayah mangrove meliputi seluruh wilayah pesisir dengan garis pantai sekitar 395 km dan terutama pada pantai-pantai yang terlindung dari ombak. Area konservasi mangrove bervariasi sesuai dengan kondisi biogeofisik pantai setempat. Hasil penelitian ini juga menyajikan langkah-langkah analisis spasial biogeofisik pantai untuk pengelolaan ekosistem mangrove agar terjaga keberlanjutan sumberdaya alam di wilayah pesisir.Kata Kunci: Mangrove, Wilayah Konservasi, Penginderaan Jauh, Ekosistem, Talaud
DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SEMPANDAN SUNGAI TERHADAP KUALITAS AIR KALI KRUKUT KOTA DEPOK Sugiyo, Kurniawati; Sudarmaji, Bambang Wahyu
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2422.679 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air Kali Krukut sehubungan dengan penggunaan tanah daerah sempadannya. Daerah penelitian adalah Kali Krukut di Kota Depok dengan sempadan sungainya sejauh 50 meter di kanan dan kirinya dan dibagi menjadi enam ruas. Penggunaan tanah sempadan diklasifikasikan menjadi penggunaan tanah sempadan berpenyangga dan yang tidak berpenyangga. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan selama lima hari pada waktu pagi dan siang pada masing-masing ruas sungai. Perbedaan nilai parameter kualitas air dipengaruhi oleh penggunaan tanah sempadannya. Pada sempadan yang tidak berfungsi sebagai penyangga, umumnya memiliki kualitas air yang lebih buruk dibandingkan dengan sempadan yang berfungsi sebagai penyangga.Kata Kunci: Debit, Kualitas Air, Penggunaan Tanah, Sempadan
GEOSPATIAL ASPECT OF THE LAND BORDER BETWEEN INDONESIA AND TIMOR-LESTE Handoyo, Sri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.57 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.98

Abstract

Indonesia has international land borders with three neighboring countries, including the land border with Timor-Leste. The establishment of the international land boundary between Indonesia and Timor-Leste was agreed by the two Governments, the Republic of Indonesia (RI) and the Democratic Republic of Timor-Leste (RDTL) to be based on the Dutch and Portuguese 1904 Treaty and the 1914 Arbitral Awards. Presently, the joint border survey demarcation have been in progress and achieving of about 96% of the total length of the land border lines. According to the verbal description in the 1904 Treaty the boundaries are defined based on geomorphological features, i.e. the watersheds, rivers, and thalwegs oflarge rivers. All these morphological elements of the border were carefully identified and accurately measured to produce geospatial information about the boundaries. This paper describes how the geospatial information along the border lines were measured and fixed.Keywords: Geospatial Information; International Land Boundary; Indonesia and Timor-Leste; Delineation and Demarcation Surveys.ABSTRAKIndonesia memiliki perbatasan darat internasional dengan tiga negara tetangga, termasuk perbatasan darat dengan Timor-Leste. Pembentukan batas darat internasional antara Indonesia dan Timor-Leste disepakati oleh kedua pemerintah, Republik Indonesia (RI) dan Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) didasarkan pada Perjanjian Belanda dan Portugis 1904 dan Penghargaan Arbitrase 1914. Saat ini, survei demarkasi perbatasan bersama terus berlangsung dan telah mencapai sekitar 96% dari total panjang garis perbatasan darat. Menurut deskripsi verbal dalam Perjanjian tahun 1904 batas tersebut didefinisikan berdasarkan unsur geomorfologi, yaitu daerah aliran sungai, sungai, dan thalwegs sungai besar. Semua elemen morfologi perbatasan diidentifikasi dengan cermat dan diukur secara akurat untuk menghasilkan informasi geospasial tentang perbatasan. Makalah ini menggambarkan bagaimana informasi geospasial di sepanjang garis perbatasan diukur dan ditetapkan.Kata Kunci: Informasi Geospasial; Batas Darat Internasional; Indonesia dan Timor-Leste; Survei Delineasi dan Demarkasi.
EKSTRAKSI GARIS PANTAI MUKA LAUT RATA-RATA DARI CITRA MULTI PASUT Amhar, Fahmi; Subagio, Habib; Sumaryono, Sumaryono
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.329 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.91

Abstract

Setiap garis pantai yang didapatkan dari foto udara atau citra satelit adalah garis aktual atau temporal, yang dipengaruhi oleh fenomena pasang surut (pasut). Pada sebuah peta, diperlukan tinggi garis pantai muka laut rata-rata, yang harus dicari dengan bantuan data pasut. Di paper ini, penulis mencoba mendapatkan garis pantai muka laut rata-rata dari citra multi pasut. Hasilnya adalah garis pantai rata-rata dengan akurasi vertikal desimeter sedang akurasi horisontalnya tergantung kelandaian (slope) pantai yang bersangkutan. Penggunaan citra radar lebih mudah sebab citra radar multipasut dengan perbedaan ekstrim lebih mudah diperoleh karena tidak ada kendala awan. Kombinasi metode DEM dan metode median line pada citra radar akan menghasilkan hasil yang nyaris berimpit, sedang pada citra optik, hasilnya akan cukup jauh.Kata Kunci: Garis Pantai, Pasang Surut, Muka Laut Rata-RataABSTRACTAny coastline extracted from aerial or satellite imageries is an actual or temporal line, influenced by tidal phenomena. Mean sea level coastline is needed on a map, which must be extracted with the help of tidal data. In this paper we tried to extract the mean sea level coastline from multi-tidal-imageries. The result was mean sea level coastlines with vertical accuration in decimeter level, while the horizontal accuration depending on slope of the coast. The used of radar data for extracting coastline is easier because the multi-tidal radar images with extreme tidal differences can be obtained since radar data is free of cloud cover problem. Combination method of DEM and median line on radar data would result on a nearly similar coastline.Keywords: Coastline, Tidal, Mean Sea Level
KAJIAN INDEKS POTENSI LAHAN TERHADAP PEMANFAATAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN Hidayati, Iswanari Nur; Toyibullah, Yoga
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.51 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.96

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengaplikasikan peranan Sistem Informasi Geografis untuk penentuan indeks potensi lahan dan sebaran potensi sumberdaya lahan dan (2) mengetahui kesesuaian Rencana Tata Ruang Wilayah terhadap indeks potensi lahan di Kabupaten Sragen. Metode yang digunakan adalah metode pengharkatan (skoring) dan tumpang susun (overlay). Pengharkatan dilakukan terhadap parameter-parameter penyusun Indeks Potensi Lahan yang meliputi kelerengan, litologi, jenis tanah dan hidrologi sebagai faktor pendukung serta kerawanan bencana erosi sebagai faktor pembatas. Tumpang susun (overlay) dilakukan terhadap peta Indeks Potensi Lahan yang telah dibuat dengan peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Tata Guna Lahan tahun 2010 – 2030. Hasil penelitian Indeks Potensi Lahan menunjukkan Kabupaten Sragen memiliki kelas Indeks Potensi Lahan sangat tinggi dan memiliki luas 13,85 km2 dengan persentase 1,47 %, kelas tinggi memiliki luas 386,78 km2 dengan persentase 41,07 %, kelas sedang memiliki luas 344,65 Km2 dengan persentase 36,60 %, dan kelas rendah memiliki luas 196,26 Km2 dengan persentase 20,84 %. Hasil penelitian kesesuaian lahan menunjukkan bahwa Kabupaten Sragen terdapat lokasi sesuai dan memiliki luas 786,27 km2 dengan persentase 83,50 % dan lokasi tidak sesuai memiliki luas 155,28 km2 dengan persentase 16,49 %.Kata Kunci: Indeks Potensi Lahan, RTRW, SIGABSTRACTThis research aimed to study on application of GIS for assesing land potential index and to compare regional planning with land suitability based on land potential index. This method used scoring and overlay of the parameters to arrange the land potential index. Those parameters were slope, lithology, soil, hydrology, and erosion risk. The superimpossed of parameters used to produce land potential index were then compared with regional landuse plan for 2010-2030. Result of this research shows that Sragen Regency area has the highest area of land potential index for agriculture. The area was 13,85 km2, the high area was 386,78 km2, and the lowest area was 196,26 km2. Other conclusion in this research were that the land suitability based on regional planning was 83,50% and the area not appropriate for agriculture area was 16,49%.Keywords: Land Potential Index, Regional Planning, GIS
PEMODELAN SPASIAL PROYEKSI KENAIKAN MUKA LAUT UNTUK ESTIMASI KERENTANAN KESEHATAN Sutrisno, Dewayany; Windiastuti, Rizka; Sofyan, Ibnu; Ramdhani, Dadan
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1472.052 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.92

Abstract

Kenaikan muka laut menimbulkan dampak pada keberadaan sumberdaya alam, maupun sumberdaya manusianya. Pemunduran garis pantai (shoreline retreat) dan penggenangan pada wilayah-wilayah rentan merupakan dampak ke depannya. Permasalahan wilayah pesisir lainnya, seperti penurunan muka tanah (land subsidence), rob, gelombang pasang, serta banjir, dapat memperburuk dampak kenaikan muka laut, terutama bagi kesejahteraan penduduknya. Oleh karena itu, dengan mengambil studi area di Teluk Jakarta, perlu dikembangkan model spasial estimasi dampak kenaikan muka laut pada kerentanan kesehatan penduduk wilayah pesisir. Model dikembangkan berdasarkan formulasi pemunduran garis pantai (shoreline retreat model) yang telah dikembangkan oleh Sutrisno (2005) dengan parameter permasalahan lingkungan dan sosial lainnya. Estimasi dikembangkan dalam tiga skenario, yaitu rendah, sedang dan tinggi (low impact, moderatedan high). Hasil yang diperoleh adalah model estimasi spasial kerentanan wilayah pesisir dari sisi kesehatan penduduk terhadap kenaikan muka laut selama minimal 20 tahun ke depan, sebagai input untuk model spasial skenario kebijakan (rekomendasi) yang harus dilaksanakan sebagai usaha mitigasi dan adaptasi.Kata Kunci: Kenaikan Muka Laut, Kerentanan, Penyakit InfeksiAbstractSea level rise affects the existence of natural resources as well as human resources. Shoreline retreat and inundation on vulnerable areas are some impacts that can occur in the future. Other problems in coastal areas such as land subsidence, tidal wave, and tidal flood can worsen the effects of sea level rise, especially for the livelihood of people in the area. Therefore, it is necessary to develop a spatial model to estimate the impact of sea level rise to the health of population in the coastal area. The model was developed by taking a study area at Jakarta Bay, based on shoreline retreat model that was developed by Sutrisno (2005) using environmental and social problems as the parameters. The estimation is extended in three scenarios, which are low, moderate, and high impact. The expected result is a spatial model estimation of the vulnerability of population’s health due to sea level rise for at least 20 years ahead, as an input to a spatial model of recommendation scenario that has to be performed as mitigation and adaptation efforts.Keywords: Sea Level Rise, Vulnerability, Infectious Disease
URBAN GROWTH PREDICTION USING LOGISTIC REGRESSION MODEL Karsidi, Asep; Wijanarto, Antonius B
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.103 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.97

Abstract

Urbanization has been one of major issues in Indonesia, especially in big cities likeJakarta. Bogor as the supporting area of Jakarta has been affected by this urbanization. It did not only impact in increasing population, but it did also affect the carrying capacity of the environment. This research studied urban growth of Bogor, using logistic regression model. The model involve several driving factors that can be used to predict future impact of urbanization. The results indicate that the logistic regression model for urban growth in Bogor shows that R2 = 0.18, which means that the model is relatively good. In this research ROC has been produced is 0.8429, which means the logistic regression model of urban growth of Bogor can be estimated well.Keywords: Urban Growth, Logistic Model, Spatial AnalysisABSTRAKUrbanisasi merupakan salah satu isu besar di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Bogor sebagai daerah pendukung Jakarta juga menjadi daerah yang mendapat dampak dari urbanisasi tersebut. Bukan hanya jumlah populasi yang makin bertambah, tetapi juga daya dukung lingkungan yang juga dipengaruhi. Penelitian ini mengkaji pertumbuhan urbanisasi di Bogor, dengan menggunakan model logistik. Model ini mengidentifikasi beberapa faktor pendorong yang digunakan untuk memprediksi pertumbuhan urbanisasi ke depan. Hasil dari model regresi logistik menunjukkan bahwa pertumbuhan urbanisasi di Bogor dapat diprediksi dengan R2 = 0,18, yang dapat dikategorikan agak bagus. Dalam penelitian ini ROC = 0,8429, yang berarti urbanisasi di Bogor dapat diprediksi dengan baik menggunakan model regresi logistik.Kata Kunci: Pertumbuhan Urbanisasi, Model Logistik, Analisis Spasial
KARAKTERISTIK PANTAI DAN PROSES ABRASI DI PESISIR PADANG PARIAMAN, SUMATERA BARAT Solihuddin, Tb.
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.682 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.93

Abstract

Penelitian lingkungan pantai di Padang Pariaman, Sumatera Barat dilakukan untuk mengetahui karakteristik pantai dan proses dominan yang terjadi di pesisir Padang Pariaman. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan pemerintah setempat dalam pengelolaan dan perencanaan wilayah pesisir. Berdasarkan data BMG stasiun Padang Tabing tahun 1995 – 2005, arah angin dominan berasal dari arah barat dengan persentase 8,.49%. Gelombang paling sering terjadi dari arah barat dengan persentase 8,.47% dan ketinggian antara 0,.1 – 1 m. Berdasarkan prediksi pasang surut menggunakan program tide model driver, tipe pasang surut daerah penelitian campuran condong ke harian ganda dengan tunggang pasut sekitar 109,.57 cm ≈ 10,.9 dm. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, karakteristik pantai daerah penelitian termasuk jenis pantai berpasir. Endapan penyusun pantainya adalah endapan aluvial dengan kemiringan lereng pantai antara 4 – 15°, dan proses pantai dominan adalah abrasi. Proses abrasi secara intensif terjadi di pesisir Kota Pariaman, terutama di Pantai Apar ditandai dengan terbentuknya gawir abrasi setinggi ± 1,5m. Upaya penanggulangan abrasi yang telah dilakukan pemerintah adalah dengan membuat groin sepanjang 30 m dan jarak antar groin sekitar 50 m.Kata Kunci: Karakteristik Pantai, Abrasi, Pengelolaan dan Perencanaan PesisirABSTRACTResearch on coastal environment in Padang Pariaman, West Sumatera was carried out to investigate coastal characteristics and dominant physical process in Padang Pariaman coast. The information can be used by local government as input for coastal zone management and planning. Based on data collected at Padang Tabing Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG) station, during 1995 – 2005, the westerly wind was dominated with percentage of 8.49% and the waves resulted from westerly wind occured with the highest percentage of about 8.47% with 0.1 – 1 m wave height. Condition of the tide as estimated by using ‘tide model driver’ software showed that the tidal type of the research area was mixed, dominated by semidiurnal, with the tidal range of 109.57 cm ≈ 10.9 dm. Based on field observation, the coastal type of the research area is sandy beach. The research area is formed by alluvial deposits, with beach slope is between 4 - 15°, and coastal erosion dominated the physical processes on the coastal area. Intensively coast erosion occurred in Pariaman coast, particularly at Apar coast as marked by the present of ±1,5 m of beach escarpment. The local government has placed groins with 30 m length and 50 m groins spacing to protect the beach erosion.Keywords: Coastal Characteristics, Coast Erosion, Coastal Management and Planning
PENGEMBANGAN VALUASI EKONOMI TERUMBU KARANG SPASIAL DENGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DAN METODE BENEFIT TRANSFER Nahib, Irmadi; Suwarno, Yatin; Soleman, M Khifni; Arief, Syachrul
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1672.054 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.94

Abstract

Valuasi ekonomi adalah upaya untuk memberi nilai kuantitatif terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan, baik atas dasar nilai pasar maupun nilai non pasar. Penelitian valuasi ekonomi sudah banyak dilakukan, namun belum banyak yang menyajikan nilai valuasi ekonomi dalam bentuk peta. Dengan menggunakan metode benefit transfer dan sistem informasi geografi dapat mengkalibrasi nilai ekonomi terumbu karang dari suatu areal (rujukan) untuk ditransfer ke lokasi yang diinginkan. Metode penghitungan valuasi ekonomi dengan metode benefit transfer didasarkan pada: peta kualitas sumberdaya terumbu karang lokasi studi, nilai valuasi ekonomi di wilayah rujukan, dan karakteristik sosial ekonomi masyarakatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan kalibrasi ulang perkiraan nilai valuasi ekonomi areal rujukan untuk ditransfer ke lokasi studi. Hasil studi menunjukkan bahwa nilai valuasi ekonomi di daerah studi berkisar Rp. 2,46 sampai Rp. 27,26 juta/ha/tahun atau mencapai 9-100 % dari nilai rujukan. Studi ini juga menghasilkan peta valuasi ekonomi terumbu karang yang lebih detil.Kata kunci: Terumbu Karang, Metode Benefit Transfer, Sistem Informasi GeografiABSTRACTEconomic valuation is an attempt to give a quantitative value of goods and services generated from natural resources and environment, both on the basis of market value and non-market value. Research of economic valuation has been done, but not many who present value of economic valuation in a map. Benefit transfer method is used to calibrate the economic value of an area (reference) to be transferred to a desired location. Calculation of the economic valuation using the benefit transfer method is based on: a map of coral reef quality on the study sites, economic valuation in the region of reference, and social economic characteristic of communities in the study area. Re-calibration can be done to estimate economic valuation at the reference area to be transferred to the study site. The study showed that the value of economic valuation in the study area ranges from Rp. 2,46 to Rp. 27,36 million/ha/year or reaching 9% to 100% of the reference value. This study also presented a more detailed map of the economic value of coral reef resources.Keywords: Coral Reef, Benefit Transfer Method, Geographical Information Systems
PENGEMBANGAN APLIKASI BASISDATA NAMA GEOGRAFI UNTUK PENANGGULANGAN BENCANA ALAM Santoso, Widodo Edy; Martha, Sukendra; Hasan, Helman; Handoyo, Sri; Susanti, Irena; Perdana, Aji Putra
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 13, No 2 (2011)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.46 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2011.13-2.99

Abstract

Basisdata nama geografi merupakan tempat untuk menghimpun nama-nama geografibeserta informasi atau atribut yang relevan, disebut juga sebagai basisdata spasial nama geografi untuk menghimpun layer-layer nama geografi untuk keperluan pemetaan. Melalui proses yang cukup panjang data nama geografi tersebut diekstrak untuk penyusunan gazetir. Gazetir adalah daftar nama-nama geografi yang diurutkan secara alphabetis berikut informasi yang relevan. Penelitian ini mencoba untuk mengembangkan aplikasi basisdata nama geografi yang biasanya untuk pemetaan, dimanfaatkan untuk penanggulangan bencana. Upaya tersebut adalah dengan mengenali bencana alam yang mungkin akan terjadi pada lokasi rawan bencana. Karakteristik bencana akan dapat dikenali secara spesifik, sehingga akan dapat dianalisis cara menanggulangi bencana yang akan terjadi, dengan menekan seminimal mungkin risiko korban. Tindakan tersebut antara lain dengan pendataan lokasi, dan gedung atau bangunan yang disiapkan untuk pengungsian. Selain itu, bagaimana pergerakan pengungsi dari satu dusun ke dusun lain dapat terlacak secara cepat dan efektif, sehingga lokasi untuk pengedropan bantuan logistik atau untuk evakuasi korban dapat ditentukan secara akurat. Informasi lokasi yang ditandai dengan koordinat dapat berperan dalam manajemen bencana secara akurat. Daerah penelitian sebagai sampel adalah lokasi yang paling rawan terkena bencana apabila terjadi letusan Gunung Semeru, yaitu dua kecamatan di Kabupaten Malang dan dua kecamatan di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur.Kata Kunci: Pengembangan Aplikasi, Basisdata Nama Geografi, Gazetir, Bencana Alam.ABSTRACTGeographical name database contains collection of geographical names and theirattributes or relevant information. This database also can be defined as geographical names spatial database for accumulating layers of geographic names for mapping purposes. Through along process the geographical names data were extracted for preparation of gazetteer compilation. Gazetteer is a list of geographical names sorted in alphabetical order and followed by relevant information. This study tries to develop a geographical names database application used for mapping purposes to be utilized for disaster management. The effort is to identify natural disasters that might occur in disaster-prone locations. Characteristics of the disaster will be specifically identified, so that it can be analyzed how to overcomethe disasters with a minimum risk of casualties. Such measures include the collection of location or buildings prepared for evacuation. In addition, movement of refugees from one hamlet to another hamlet can be tracked quickly and effectively, so that location for logistical assistance or for evacuation of casualties can be determined accurately. The location information is marked with coordinates which can play a role in disaster management accurately. The research area was the most prone to disasters due in the event of an eruption of Mount Semeru, which were the two districts in Malang Regency, and two districts in Lumajang Regency.Keywords: Application Development, Geographical Names Database, Gazetteer, Natural Disaster.

Page 1 of 2 | Total Record : 11