cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
MAJALAH ILMIAH GLOBE
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 2, No 2 (2000)" : 8 Documents clear
KLASIFIKASI BENTUK LAHAN SEMI DETIL (SKALA 1:50.000 / 1:25.000) HASIL PENGEMBANGAN PETA REPPPROT SKALA 1:250.000 Nurwadjedi, Nurwadjedi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2649.755 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-2.309

Abstract

Klasifikasi bentuk lahan versi sistem lahan hasil studi RePPProT dapat didetilkan untuk mendukung kajian kewilayahan pada tingkat kabupaten/kota. Dengan menggunakan pendekatan bentang lahan, klasifikasi sistem lahan pada skala 1:250.000 didetilkan menjadi skala 1:50.000/1:25.000, yaitu pada tingkat katena/faset lahan. Satuan lahan pada tingkat katena/faset lahan ini dapat digunakan untuk satuan pemetaan polensi lahan secara digital di wilayah kabupaten kota, karena berbagai parameter fisik dan kimia yang diperlukan untuk evaluasi lahan dapat dihimpun dalam suatu basisdata secara terpadu.ABSTRACTLandform classification on the basis of land system developed by RePPProT can be used to support regional assessment on the county level. By using landscape approach, land system classification with the scale of 1:250.000 is classified more detail into catena or land facet having scale of 1:50.000 or 1:25.000. This land unit can be used as a mapping unit for land suitability digital mapping at the county level. Using this approach, the physical and chemical variables needed for land evaluation can be integrated with the mapping units into a database.Kata Kunci: Klasifikasi, Bentuk Lahan. Keyword: Classification, Landform.
PEMBANGUNAN SISTEM STANDAR METADATA PRODUK SURTA SEBAGAI SARANA KOORDINASI Daryaka, Sri
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1397.769 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-2.314

Abstract

Banyak produk surta telah dihasilkan oleh berbagai unit kerja atau instansi pada setiap tahunnya. Produk yang sudah dihasilkan pelu dipelihara, dikembangkan dan disebarluaskan kepada masyarakat. Untuk tujuan tersebut diperlukan dukungan informasi yang memadai. lnformasi yang dapat memberikan keterangan mengenai satu data, seperti kondisi, keberadaan, validasi, kualitas dan informasi lain yang terkait dengan data biasa dikenal dengan istilah metadata. Untuk menginformasikan kepada masyarakat, maka pelu dibuatkan basisdata atau katalog metadata yang informatif. Keseragaman format metadata akan memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi. Untuk itu perlu dibangun sistem standar metadata. Dengan standar metadata dan teknologi informasi yang sudah maju seperti saat ini, maka metadata yang ada antar unit kerja pengelola data dapat koordinasikan atau diintegrasikan dengan baik sehingga dapat diakses oleh masyarakat dengan mudah dan jelas.ABSTRACTSeveral working units or institutions produce many spatial data every year. The products need to be maintained, developed and distributed to data user community. For this reason appropriate information support are necessary. The information that can explain about the data, for example about condition, validation, quality, storage and other related information of the data is usually called Metadata. ln order to distribute this information to users, an informative database or Metadata catalogue needs to be developed. A uniform Metadata format will facilitate users to access Metadata information. It is clear that Metadata standard system is highly required. With the present of Metadata standard and information technology, the existing Metadata on every data production unit can be coordinated and integrated so that users can easily and clearly access to Metadata.Kata Kunci : Metadata, Produk surta, Standar , Koordinasi.Keywords : Metadata, Spatial Data, Standard, Coordination
PEMETAAN BENTUK LAHAN TANPA PENGGUNAAN DATA INDERAJA Wijaya, Jaya
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.411 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-2.310

Abstract

Pemetaan bentuk lahan menggunakan data inderaja baik foto udara, Citra Landsat dan lainnya memerlukan biaya dan tenaga yang cukup besar, sedangkan pemetaan bentuk lahan secara terestris dianggap kurang efisien. Dalam dimensi pasar sendiri belum diketahui secara pasti seberapa besar pemanfaatan data bentuk lahan untuk aplikasi riil bagi perencana dan pelaksana lapangan , walaupun secara akademik peta bentuk lahan mempunyai aplikasi yang beragam terutama untuk perencanaan witayah. Berdasarkan pertimbangan diatas, untuk efisiensi biaya dan agar dapat dilaksanakan secara luas bagi aplikasi tertentu, maka salah satu alternatif adalah metode pemetaannya tanpa penggunaan data inderaja. Metode pemetaannya terutama dengan cara penafsiran morfologi peta rupabumi dan penafsiran data RePPProT dan kartu datanya. Beberapa kelebihan dan kelemahan metode perlu dipertimbangkan agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.ABSTRACTLandform mapping using remotely sensed data such as aerial photograph and satellite imagery requires huge budget, while terestrically landform mapping is regarded by some parties to be inefficient. ln the market dimension, it is uncertain how often landform maps are used for planning and real application, while academically landform maps have served a wide range of applications especially for regional planning. Based on considerations above, an alternative method to map landform is by deciphering topographic maps and interpreting the existing RePPProT owned land system and its ground rules for data cards.Kata kunci : bentuklahan, pemetaanKeywords: landform, mapping
PEMETAAN BENTUKLAHAN PADA WILAYAH TERUMBU KARANG Suryanto, Hari
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1329.191 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2000.2-2.315

Abstract

Bentuklahan merupakan karakteristik spesifik dari bentanglahan di permukaan bumi yang bersifat statis, mengingat perubahannya membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun, terkecuali bila teriadi pergeseran lempeng tektonik. Dengan demikian bentuklahan ini dapat dijadikan data dasar atau acuan dalam rangka pengembangan suatu wilayah atau kawasan. Kajian dapat dilakukan melalui interpretasi citra Landsat TM secara digital atau manual maupun foto udara dengan ditunjang penelitian lapangan untuk mengetahui kebenaran hasil interpretasi dan pengambilan contoh substrat dan air terhadap sampel pewakil untuk selanjutnya dianalisa di laboratorium, serta data sekunder dari hasil penelitian terdahulu secara spasial maupun temporal. Maksud dan tujuan penelitian ini adalah melakukan pemetaan bentuklahan pada areal studi berikut deskipsinya tentang sifat dan kondisi perkembangan dari masing-masing bentuklahan yang ada di sekitar terumbu karang Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Bagian Tengah. Pada areal studi tedapat 6 jenis bentuklahan, terdiri dari : rataan karang dan pasir, rataan pasir, goba dangkal, goba sedang, tubir, mintakat karang dan pulau/cay. Masing-masing bentuklahan ini berbeda komposisinya disebabkan matei penyusunnya yang berlainan tipe dan ukuran partikelnya. Hasil dari penelitian ini adalah peta bentuklahan berikut uraian deskripsinya dari masing-masing bentuklahan yang ada di areal studi.AbstractLandform is a static specify in characteristic of Landscape of the earth surface, because its need tens or hundreds of years in changing unless by moving or landslidding of plate tectonic. Base on that condition we can use landform as database in order to develop the study area or in region scope. The study can be done by applied the remote sensing technology through Landsat TM or aerial photographic image interpretation with the field research to check whenever right or wrong the result of interpretation and also we take some substrat and water sample to analize in the laboratorium. The aim of this study is to inventory and mapping the Landform in area of study including the description of character and condition of each landform in the area of Panggang island Coral Reef, Middle section of Thousand Islands. There are 6 types of landforms in the study area, such as : coral and sand plain, sand plain, shallow goba, medium goba, tubir and island/cay.Kata Kunci: Pemetaaan, Bentuklahan, Penginderaan Jauh.Keyword: Mapping, Landform, Remote Sensing
INVENTARISASI AREAL POTENSIAL TRANSMIGRASI DI KABUPATEN PONTIANAK DENGAN BANTUAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Nahib, Irmadi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2319.938 KB)

Abstract

Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka terdapat kecenderungan aktivitas manusia untuk mengubah fungsi ruang guna mengakomodasi dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal tersebut akan memicu teriadinya kompetisi untuk mendapatkan ruang atau tumpang tindih penggunaan ruang yang saling merugikan. Guna mencegah dampak negatif tersebut, maka telah dilakukan perencanaan peruntukan kawasan budidaya dan kawasan lindung melalui penyususnan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi / Kabupaten (RTRWP/K). Dalam rangka mengatasi kendala penyediaan lahan akibat semakin tingginya laju pembangunan, maka perlu dilakukan inventariasi status tanah dan penggunaan tanah. Kegiatan penelitian ini bertujuan mengevaluasi lokasi-lokasi transmigrasi yang berada didalam pencadangan Areal (PA) dan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) di Kabupaten Pontianak serta menginventarisasi areal potensial yang dapat dikembangkan untuk pemukiman Transmigrasi dengan bantuan sistem infomasi geografis (SIG).ABSTRACT With the increasing number of population there are trends of human activities to convert land function to accommodate and meet their needs. That condition will cause a competition among people to occupy space. To avoid those negative impacts, it has been planned to allocate cultivated areas and protected areas through physical spatial plan. To overcome constrains of land appropriation in the aftermath of rapid developments, lt needs to have inventory land status and land use. This research intends to evaluate transmigration locations within reserved area and land management rights in Pontianak Regency and to take inventory of the potential areas to be developed for transmigration settlement by using geographic information system.Kata Kunci : Peruntukan Lahan, Areal Transmigrasi, Sistem lnformasi GeografiKeywords: Land Use, Transmigration Area, Geographic Information System
PEMETAAN ZONA INTRUSI DI JAKARTA Riadi, Bambang
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.02 KB)

Abstract

Pertumbuhan penduduk mempunyai berbagai efek, tumbuhnya pemukiman dan urbanisasi. Di wilayah pesisir menurunnya kualitas airtanah akibat intrusi dan pola penggunaan lahan. Jakarta sebagai Ibukota negara berada diwilayah pesisir, wilayah ini mengalami problem intrusi dan juga amblasnya permukaan tanah. Teknik Penginderaan Jauh dan analisa kandungan chloride air tanah yang diambil dari sumur-sumur diseputar Jakarta dikombinasikan dengan peta dapat menunjukan indikasi daerah Jakarta yang teintrusi oleh air laut.ABSTRACTThe increase of population has many effects, such as rapid growth of settlements and urbanizations. ln the coastal region, degradation of water quantity due to saltwater intrusion effects the land use pattern. Jakarta region the capital city of The Republic of Indonesia is also in coastal region, that city has saltwater intrusion problems at soon as land subsidence. Remote sensing Technique and resulted examination chloride content of water sample, compile into map to show indicate salt intrusion area. Kata Kunci : Pemetaan Intrusi Air LautKeywords: Mapping, Salt Intrusion
POTENSI EKOSISTEM PANTAI DAN PULAU-PULAU KECIL Atmawidjaja, Rubini
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1326.866 KB)

Abstract

Masalah kelautan diangkat ke permukaan setelah dibentuknya Kantor Menteri (Departemen) Eksplorasi Laut dan Peikanan. Hal ini juga dimaksudkan agar yang bertanggung jawab dalam hal kelautan tidak terpencar-pencar di berbagai sektor, departemen atau unit-unit kerja. Diharapkan penyatuan kelembagaan mengenai kelautan di bawah suatu departemen akan meningkatkan effisiensi dan kinerja sehingga manfaatnya dapat optimal bagi semua. Makalah ini merupakan bahan urun rembug sebagai masukan untuk dicermati dan dilaksanakan setelah dilakukan pengkajian oleh yang berkepentingan atau stake holders.ABSTRACTMaine problems have been taking out to be held under Department of Marine Explorations and Fisheries to the purpose of Indonesian marine authority is held in the same hand. It is expected that with the merger of institutions dealing with marine under one particular department would improve the efficiency and performances so that the optimal advantages could be reached for all parties. This paper poses as an input discourse to be examined and executed by stake holders after conducting assessments.Kata Kunci: ekosistem laut, pulau-pulau kecil.Keyword: marine ecosystem, small islands.
TANTANGAN UNTUK PENYEMPURNAAN NAMA-NAMA GEOGRAFIS PADA PETA-PETA INDONESIA Santoso, Widodo Edy
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 2, No 2 (2000)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1354.135 KB)

Abstract

Sebagian besar peta-peta lndonesia yang dahulu menjadi acuan seperti peta topografi, hidrografi, kadaster, dsb., merupakan karya bangsa asing. Walaupun secara teknis baik, namun banyak penggunaan istilah-istilah atau nama-nama asing yang kadang malah tidak dimengerti oleh masyarakat Indonesia sendiri. Peta-peta yang sekarang banyak diterbitkan baik oleh instansi pemerintah maupun swasta kurang konsisten dalam menuliskan nama-nama geografis, selain itu masih ribuan unsur-unsur geografis yang masih belum mempunyai nama. Hal tersebut, merupakan pekerjaan besar dan peluang untuk membuka penelitian tentang nama-nama geografis (toponimi). Langkah apakah yang perlu dilakukan untuk menyempunrnakan wujud perpetaan di Indonesia, yaitu menetapkan dan melengkapi peristilahan geografis, menetapkan nama- nama unsur geografis, pembakuan penulisan nama-nama unsur geografis dan menetapkan badan yang berwenang mengenai nama-nama geografis.ABSTRACTMost or Indonesian maps were used as references in the past such as topographic, hydrographic and cadastral maps are made by foreign nation. Those maps are technically useful, however, most of Indonesian people are self did not understand in the use of local terminologies and foreign name. Currently, some maps are published by government and other agencies are not care about consistency in geographical names writing, in addition thousands of geographic features unnamed. Its a big working and possible to implement geographical names research. A kind of pace is should be done to perfect a comprehensive mapping existence in Indonesia, among other things in determining and completing geographic terminologies, establishing names for geographic features, standardization on writing system of geographical names, and establishing names authority agency.Kata kunci: Nama-nama geografis (Toponimi), peristilahan geografis, sistem penulisan, badan yang berwenang mengenai toponimi.Keyword : Geographical names (toponymy), geographic terminology, writing system, names authority.

Page 1 of 1 | Total Record : 8