cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
SYAHADAH : Jurnal Ilmu Al-Qur?an & Keislaman
ISSN : 23380349     EISSN : 23380349     DOI : -
Jurnal Syahadah merupakan jurnal Ilmu al-Qur’an dan keislaman dengan kajian multidisipliner, terbit dua kali dalam satu tahun (April dan Oktober), dikelola oleh Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri Tembilahan. Redaksi menerima tulisan yang relevan selama mengikuti petunjuk penulisan yang ditetapkan.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2015)" : 6 Documents clear
PERKEMBANGAN TEORI MAKKI DAN MADANI DALAM PANDANGAN ULAMA KLASIK DAN KONTEMPORER Abdul Halim
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3154.348 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v3i1.145

Abstract

Tulisan ini fokus pada persoalan perkembangan Teori Makki dan Madani dalam pandangan Ulama Klasik dan Kontemporer. Dari hasil pengamtan penulis dapat ditemukan bahwa Pertama, konsep Makki-Madani dalam pandangan Klasik didasarkan pada tiga hal, yakni waktu, tempat, dan sasaran. Ketiga variable ini sebetulnya masih debatable dan terbuka untuk diperbaharui sebagaimana yang  dilakukan  oleh  Nasr  Hamid  Abu  Zaid.  Kedua,  penentuan Makki dan Madani di samping memperhatikan sisi tempat dan waktu  juga  memperhatikan  konteks  realitas  masyarakat  pada waktu itu serta gaya bahasa yang digunakan. Hal ini disebabkan kondisi sosio-kulturan masyarakat Makkah dan Madinah sedikit  berbeda.  Asumsi  seperti  ini  sebetulnya  sudah  menjadi kesadaran ulama klasik maupun kontemporer dengan adanya istilah fase inz\ar (Makkah) dan fase risalah (Madinah) di mana keduanya memiliki stressing poin yang sedikit berbeda. Ketiga, kegelisahan  Abu  Zaid  sebetulnya  sudah  menjadi  perdebatan ulama klasik akan tetapi nampaknya Abu Zaid lebih kritis dalam menyikapinya dengan menggunakan data dan analisis ilmiahhistoris. Keempat,memahami teori Makki-Madani merupakan keniscayaan bagi seorang mufassir untuk menghindari penafsiran yang ahistoris. Penafsiran yang ahistoris cenderung menyebabkan kesalahan dalam penafsiran
KESATUAN SURAT AL-QUR’AN DALAM PANDANGAN SALWA M.S. EL-AWWA Adrika Fithrotul Aini
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3175.261 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v3i1.146

Abstract

Munasabah is one  of  the  Quranic  sciences  which  undergoes development.  Thus,  this article  will  discuss  this  munasabah,  or integral surah in the Qur-an based on Salwa el-Awwa’s approach. It explains the theory by using the descriptive method. It resultsthat  the  new  concept  offered  by  Salwa  concerning  Quranic Munasabah explains  her  curiosity  toward  developing  integrated surah in the Quran. This concept is aimed at dividing the themes of thesurah objectively and not intuively. So, the theory in orderingunity  of  Quranic  surah  is  based  on  coherence  and  relevanceby using pragmatic approach.Keywords: Munasabah, Coh
MENELUSURI HISTORISITAS QIRA’AT AL-QUR’AN Abdul Wadud Kasyful Humam
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3579.554 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v3i1.147

Abstract

Seperti  Ulumul  Qur’an  lainnya,  qira’at  merupakan  salah  satu senjata yang dapat menyingkap dan menelanjangi teks al-Qur’an agar ia benar-benar bugil di hadapan umat. Oleh sebab itulah, sebagian  besar  mufassir  al-Qur’an  menjadikan  qira’at  sebagai salah satu senjata ampuh untuk mengungkap makna di balik teks al-Qur’an itu. Mayoritas mufassir al-Qur’an memiliki pandangan bahwa qira’at adalah sunnah yang wajib diikuti dan diriwayatkan secara  mutawatir.  Dengan  demikian,  tidak  sembarang  orang memiliki  otoritas  untuk  membaca  al-Qur’an  dengan  berbagai bentuk bacaan yang itu tidak bersumber dari Nabi
ASBABUN NUZUL SEBAGAI CABANG ULUMUL QUR'AN Ridhoul Wahidi
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3298.547 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v3i1.148

Abstract

Tulisan ini membahas tentang asbabun nuzul sebagai cabang dari Ulumul Qur’an. Ilmu ini dapat dikatakan sebagai ilmu yang mulamula ada seiring turunnya wahyu kepada Rasulullah Saw. Segala fenomena  yang  melatar  belakangi  terjadinya  sesuatu  dapat disebut asbab al nuzul, namun dalam pemakaiannya, ungkapan asbab al nuzul khusus digunakan untuk menyatakan sebab yang melatar belakangi turunnya Al Quran. Adakalanya turunnya ayat dalam  bentuk  peristiwa,  adapula  sebab  turun  ayat  yang  dalam bentuk  pertanyaan.  Model  ungkapan  Asbabun  Nuzul  ada  yang disebutkan dengan ungkapan yang jelas ataupun sebaliknya.
ARANSEMEN TARTĪB NUZŪL AL-QUR’ĀN PERSPEKTIF THEODOR NӦLDEKE (1836-1930 M.) Muhamad Yahya
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4070.046 KB) | DOI: 10.32520/syhd.v3i1.149

Abstract

Topik  artikel  ini  adalah  aransemen  tartīb  nuzūl  al-Qur’ān garapan seorang orientalis terkemuka bernama Theodor Nöldeke. Dalam merumuskan hal itu, Nöldeke memanfaatkan dua rujukan, yaitu  data  sejarah  dan  penafsiran  al-Qur’an  serta  manuskripmanuskrip  al-Qur’an  dan  hal-hal  yang  berkaitan  dengannya yang  tersebar  sepanjang  zaman.  Sementara  itu,  prinsip  dasar yang  digunakan  oleh  Nöldeke  adalah  (1)  petunjuk-petunjuk  di dalam  al-Qur’an  yang  mengarah  pada  kejadian  sejarah,  dan (2)  karakteristik  teks  al-Qur’an.  Dalam  struktur  periodesasinya, Nöldeketetap menggunakan dua terma tahapan yang dibuat oleh kalangan intelektual Muslim, yaitu makiyyah dan madaniyyah. Dua  tahap  tersebut  kemudian  dikembangkan  menjadi  empat tahap, yaitu (1) makiyyah tahap pertama dengan jumlah 48 surat, (2) makiyyah tahap kedua dengan jumlah 21 surat, (3) makiyyah tahap ketiga dengan jumlah 21 surat, dan (4) tahap madaniyyah dengan jumlah 24 surat.
MENGUNGKAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN VERSI SYIAH Kajian Tafsir Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an Karya at-Tabataba’i fiddian Khairuddin; Amaruddin Amaruddin
SYAHADAH : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Keislaman Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fak. Ilmu Agama Islam Universitas Islam Indragiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (957.93 KB)

Abstract

Al-Mizan adalah suatu kitab tafsir yang sangat populer di kalangan para mufasir klasik maupun kontemporer. Adalah salah satu karya terbesar dari sekian banyak karya-karya yang ditelurkan oleh at-Tabataba’i di tempat tinggalnya Qum, sang alim pun mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan kitab al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an. Dalam kedudukannya sebagai pandangan hidup, al-Qur’an mutlak harus bisa di pahami, sebab, tanpa al-Qur’an itu bisa di pahami mustahil umat Islam akan berhasil mengamalkan pesan-pesan yang dikandungnya secara utuh dan benar. Begitu juga dengan at-Tabataba’i, beliau berusaha memberikan pemaparan dalam tafsirnya meskipun terkadang berbeda dengan muafssir laiinya. Sebagai contoh at-Tabataba’i mengatakan tidak satupun di antara ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya tak bisa di ketahui. Pandangan at-Thabataba’i mengenai dapat di pahaminya ayat-ayat al-Qur’an itu menyangkut keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an, tidak kecuali terhadap ayat-ayat yang selama ini dinilai oleh kalangan tafsir sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Contoh lain, mufasir yang menilai huruf muqatta’ah termasuk kategori ayat-ayat mutasyabihat, al-Tabataba’i tidak beranggapan demikian. Baginya, huruf huruf muqatta’ah merupakan kode khusus antara Allah dan rasulnya di mana pengetahuan manusia tidak sampai kepadanya kecuali sekedar menduga-duga. Dalam kasus ini sikap at-Tabataba’i menjadi kontradiktif dengan pandangannya semula bahwa semua ayat-ayat al-Qur’an bisa di pahami maksudnya. Sebagai seorang ulama Syi’ah terkemuka, pemikirannya memang sangat diwarnai ideology kesyi’ahan. Hal ini telihat jelas dalam berbagai kajian yang di lakukannya sebagaimana tertuang dalam tafsir al-Mizan ini. Tampak sekali bahwa kitabnya ini sangat memperlihatkan keteguhan al-Thabataba’i berpegang pada mazhab Shi’ah, bahkan kelihatan sekali berupaya “mengkampanyekan” mazhab Shi’ah sendiri, berkenaan dengan pandangan-pandangan ideologis keshi’ahan mereka, seperti nikah mut’ah, kepemimpinan/imamah dan lainya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6