cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Manuskripta
ISSN : 22525343     EISSN : 23557605     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
MANUSKRIPTA is a scholarly journal published by the Indonesian Association for Nusantara manuscripts or Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA) in collaboration with National Library of Indonesia. It focuses to publish research-based articles on the study of Indonesian and Southeast Asian (Nusantara) manuscripts. MANUSKRIPTA aims to preserve and explore the diversity of Nusantara manuscripts, and communicate their localities to the global academic discourse. The journal spirit is to provide students, researchers, scholars, librarians, collectors, and everyone who is interested in Nusantara manuscripts, information of current research on Nusantara manuscripts. We welcome contributions both in Bahasa and English relating to manuscript preservation or philological, codicological, and paleographical studies. All papers will be peer-reviewed to meet a highest standard of scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta" : 9 Documents clear
Ajaran Martabat Tujuh dalam Naskah Asrār al-Khafī Karya Shaykh ‘Abd Al-Muṭālib Masmedia Pinem
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.569 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.25

Abstract

Naskah Asrār al-Khafī merupakan karya penting dari tradisi intelektual-spiritual Minangkabau. Naskah tersebut mengandung ajaran Martabat Tujuh. Sebagai ajaran sufstik-flosofis, ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī memperlihatkan keterkaitannya dengan tradisi intelektual dan tradisi tasawuf Aceh melalui jaringan tarekat Shaṭṭārīyah. Oleh karena itu, secara garis besar ajaran Martabat Tujuh dalam naskah Asrār al-Khafī dengan sendirinya juga memperlihatkan kesamaannya dengan ajaran Martabat Tujuh yang pernah berkembang di Aceh. Meskipun demikian, kehadiran ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī di ranah Minangkabau itu telah mengundang reaksi keras dari kaum mudo dan dari jamaah tarekat Naqshabandīyah. Sebagai konsekuensi logis dari munculnya penentangan dari dua kelompok tersebut, ajaran Martabat Tujuh yang terkandung dalam naskah Asrār al-Khafī itu dilucuti dari paham waḥdatul wujūd.
Peran Kerajaan Banjar dalam Penulisan Naskah di Tanah Banjar Dede Hidayatullah
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.27 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.32

Abstract

Di masa lalu karya-karya naskah lama yang dihasilkan dari Tanah Banjar relatif cukup banyak. Karya-karya itu terutama ditulis oleh ulama-ulama Islam yang cukup terkemuka, seperti Syeikh Ahmad Syamsuddin al-Banjari yang menulis Asal Kejadian Nur Muhammad dan Tuhfah ar-Ragibin fBayan Haqiqah Iman al-Muminin wa Ma Yufsiduhu min Riddah al-Murtaddin, serta Syekh Muhammad Na (Datu Na) yang menulis Al Durr an Nafis fi Bayan Wahdat al-Afal wa al-Asma wa as-Sifat wa al Zat, Zat al Taqdis. Namun, bagaimana sebenarnya peran Kerajaan Banjar dalam upaya mendukung penulisan naskah-naskah di Kalimantan Selatan? Artikel ini fokus pada upaya untuk menguraikan hal tersebut, yang secara umum bisa dibagi menjadi dua kategori. Pertama, peranan secara tidak langsung, dan kedua, peranan secara langsung.
Bustān al-Kātibīn: Pengaruh Tata Bahasa Arab dalam Tata Bahasa Melayu Moch. Syarif Hidayatullah
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.741 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.26

Abstract

Semenjak Islam masuk ke Nusantara, pengaruh sintaksis bahasa Arab sangat terasa dalam naskah-naskah nusantara, terutama naskah keagamaan. Fakta bahwa pengaruh bahasa Arab cukup kuat terhadap sintaksis bahasa Melayu pulalah yang mendorong Ronkel (1899) menulis artikel yang berjudul Over Invloed der Arabische Syntaxis op de Maleische. Bustān al-Kātibīn adalah buku pertama tatabahasa Melayu karya anak negeri, yang dengan sangat gamblang memperlihatkan keterpengaruhan bahasa Melayu oleh bahasa Arab. Keterpengaruhan itu tidak hanya pada kosakata, tetapi juga pada struktur dan kaidah tatabahasa.
Kerajaan dan Perkembangan Peradaban Islam: Telaah terhadap Peran Istana dalam Tradisi Pernaskahan di Lombok Jamaluddin Jamaluddin
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.726 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.33

Abstract

Lombok pernah berkuasa kerajaan Selaparang. Selaparang merupakan kerajaan yang besar dan menjadi simbol bagi kejayaan Islam di Lombok dua abad yang lalu. Sebagai sebuah kerajaan Selaparang memiliki peran yang sangat besar dalam membangun peradaban Islam di Lombok. Hal ini terlihat dari banyaknya manuskrip atau naskah-naskah yang tersebar di masyarakat. Naskah-naskah tersebut bukan hanya menggunakan bahasa Sasak yang merupakan bahasa suku Sasak di Lombok, melainkan ada yang menggunakan Jawa, Arab, Melayu, Bali, Bugis, dan sedikit berbahasa Sansekerta. Dengan memperhatikan banyak naskah dan beragam bahasa yang digunakan dalam naskah-naskah yang ada di Lombok, mengindikasikan bahwa kerajaan di Islam di Lombok telah memainkan peranan penting dalam membangun peradaban dan tradisi intelektual dalam masyarakat Sasak. Artikel ini akan mengungkap, bagaimana sejarah penggunaan beragam bahasa dalam naskah-naskah Sasak yang ada di Lombok, dalam hal ini akan melihat lebih jauh hubungan kerajaan yang ada di Lombok dengan daerah-daerah lain yang bahasanya digunakan dalam penulisan naskah-naskah Sasak; dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga banyaknya naskah-naskah yang tersebar dalam masyarakat.
Naskah [Asal Khilaf Bilangan Taqwim]: Relasi Ulama-Umara di Minangkabau Abad ke-17 dalam Penetapan Awal Ramadan Yusri Akhimuddin
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.438 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.27

Abstract

Perbedaan masyarakat muslim Indonesia dalam menentukan awal dan akhir Ramadan terjadi berulang kali, tidak terkecuali di Sumatera Barat. Perbedaan ini disebabkan karena beragamnya cara dan metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan qamariah. Metode yang digunakan muslim Indonesia dalam penetapan awal dan akhir Ramadan antara lain metode hisab, rukyat hilal, hisab dan rukyat, imkan al-rukyat, istikmal, dan metode lainnya. Dalam artikel ini akan dibahas tentang relasi ulama-umara dalam menyelesaikan perdebatan awal Ramadan di Minangkabau yang terjadi pada abad ke-17 dengan berbasis pada manuskrip Asal Khilaf Bilangan Taqwim (AKBT)
Penelusuran Naskah dan Penulis Naskah Istana Asserayah al-Hasyimiyah Kerajaan Siak di Propinsi Riau Ellya Roza
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.703 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.28

Abstract

Riau yang notabenenya Melayu diprediksi memiliki banyak naskah, namun jumlah yang pasti belum diketahui secara tepat karena pelacakan naskah terus berlangsung sehingga koleksi naskah terus bertambah. Selain itu penelitian yang dilakukan belum sampai kepada tempat yang diprediksi memiliki naskah misalnya istana Asserayah Al-Hasyimiyah Kerajaan Siak di Riau belum pernah disentuh tangan ahli sampai sekarang. Berdasarkan Daftar Pertelahan Arsib Kerajaan Siak terdapat 290 file naskah. Setiap e berisi banyak naskah. Beberapa naskah berbentuk lembaran dipajang di dalam lemari kaca meskipun lembaran naskahnya sebagian besar rusak dan lapuk bahkan sebagiannya telah dilapisi dengan kertas lain dan disambung-sambung sehingga menjadi naskah yang utuh lagi. File naskah tersebut jauh dari pemeliharan sehingga kemungkinan naskah akan hancur. Naskah yang banyak itu belum diketahui siapa yang menulisnya. Sehubungan dengan itu, maka dicoba melakukan penelusuran terhadap naskah dan penulisnya dan hasilnya menjadi bahan penulisan artikel ini.
Penulisan Cerita Budug Basu di Kalangan Keraton Cirebon Sinta Ridwan; Fuad Abdulgani
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.849 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.30

Abstract

Bagi masyarakat pesisir Cirebon, khususnya para nelayan, ritual Nadran adalah bagian dari siklus hidup mereka yang hidupnya bergantung pada lautan. Ritual ini merupakan kesatuan dari suatu rangkaian kegiatan: melarung sesajen ke tengah laut, pementasan wayang purwa disertai ruwatan, dan makan-makan bersama. Selain ritual, kegiatan lainnya berupa pertunjukan berbagai kesenian siang dan malam. Namun, dalam konteks ritual komuniti nelayan tersebut, perhatian kami tertuju pada pementasan wayang purwa dengan lakon Budug Basu. Lakon Budug Basu menuturkan kisah Dewi Sri, sang dewi padi, dengan jodohnya yang bernama Budug Basu, sang raja ikan. Ditinjau dari perspektif folklor, cerita ini adalah cerita rakyat yang dikelompokkan sebagai mitos. Transmisi cerita ini terdapat dalam dua cara, pertama, secara lisan: dituturkan oleh dalang dalam sarana pertunjukan wayang purwa di upacara Nadran. Kedua, secara tertulis dalam lembaran naskah-naskah kuno yang ditulis sendiri oleh anggota dari masyarakatnya. Sebagai teks yang ditulis pada sebuah media, cerita Budug Basu sebagai folklor artinya, secara tidak langsung, telah didokumentasikan dalam naskah-naskah oleh anggota masyarakat pemiliki folklor tersebut. Seperti kita ketahui, masyarakat Cirebon dengan pemerintahan negara yang berpusat di keraton adalah masyarakat dengan tradisi menulis. Pada umumnya para penulis tersebut berasal dari kalangan keraton atau bangsawan. Sejauh ini kami telah memiliki enam buah naskah yang memuat teks cerita Budug Basu. Dari enam naskah tersebut ditemui dua nama penulis. Satu nama tertera jelas disertai dengan jabatan sebagai Wakil Sultan Sepuh II yakni Pangeran Adipati Mohamad Alaida dalam naskah Lampahan Ringgit Budug Basu. Naskah lain dengan judul Serat Satriya Budug Basu memuat nama Ratu Mas Ugnyana Resminingrat beserta keterangan bahwa naskah ini diperoleh dari orangtuanya bernama Pangeran Sujatmaningrat. Berkenaan dengan naskah cerita Budug Basu, tulisan ini akan berupaya untuk mengetahui informasi tentang penulis naskah dari kalangan keraton yang, secara tidak langsung, mengambil peran dalam dokumentasi khazanah folklor masyarakatnya.
Pengaruh Bahasa Melayu terhadap Kesusastraan Aceh Ditinjau dari Naskah Akhbār al-Karīm Istiqamatunnisak Istiqamatunnisak
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.772 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.24

Abstract

Artikel ini menegaskan besarnya pengaruh bahasa Melayu dalam tradisi kesusastraan Aceh sejak berabad-abad lalu. Hal itu tidak dapat dilepaskan dari kenyataan bahwa Bahasa Melayu saat itu merupakan lingua franca yang digunakan oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perantara untuk berkomunikasi antar berbagai suku dan bangsa-bangsa asing lainnya. Setelah Islam masuk ke Aceh, kebudayan Aceh mulai dari bidang ekonomi, sosial, dan seni budaya selalu mencerminkan nilai-nilai Islami. Masyarakat Aceh yang sangat religius dan mempunyai adat istiadat yang tinggi, dalam setiap kehidupannya mengacu kepada sistem budaya, dalam kesatuan sosial dalam masyarakat Aceh bersumber pada adat dan agama. Di antara bukti kuatnya pengaruh bahasa Melayu dalam kesusastraan Aceh adalah naskah Akhbār al-Karīm, sebuah karya sastra berupa syair, yang di dalamnya terdapat juga sisipan-sisipan bahasa Aceh.
Babad Darmayu: Catatan Perlawanan Masyarakat Indramayu terhadap Kolonialisme pada Awal Abad ke-19 Nurhata Nurhata
Manuskripta Vol 2 No 1 (2012): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.218 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v2i1.31

Abstract

Artikel ini membahas sebuah teks yang terkandung dalam naskah kuno dari daerah Indramayu, Jawa Barat, yang berjudul Babad Darmayu (BD). Pembahasan bertitik tolak dari naskah-naskah BD yang tersebar di masyarakat menjadi koleksi perseorangan. Naskah BD dideskripsikan ik dan isinya, diikuti dengan memberikan uraian ringkas mengenai isi teksnya. Pembahasan isi teks difokuskan pada isi teks BD sebagai catatan perlawanan masyarakat Indramayu terhadap kolonialisme pada awal abad ke-19.

Page 1 of 1 | Total Record : 9