cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics)
ISSN : 23033045     EISSN : 2503183X     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) abbreviated IJND (p-ISSN 2303-3045 and e-ISSN 2503-183X) is a peer-reviewed scientific journal publishing updated research and non-research articles in the area of nutrition and dietetics. This journal is published three times annually (January, May, and September) by Alma Ata University Press in collaboration with Indonesian Nutrition Association (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "VOLUME 12 ISSUE 1, 2024" : 6 Documents clear
Antioxidative properties of purple okra (abelmoschus esculentus l. moench) pudding Fadilah, Nadya Rizki; Damayanthi, Evy; Nasution, Zuraidah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).19-30

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Stres oksidatif merupakan gangguan keseimbangan pro-oksidan dan antioksidan dalam tubuh yang dapat mengarah pada perkembangan penyakit tidak menular. Pada kondisi stres oksidatif, antioksidan eksogen yang berasal dari asupan makanan sangat dibutuhkan untuk mempertahankan fungsi seluler. Okra ungu telah banyak diteliti karena senyawa antioksidannya yang melimpah, seperti flavonoid, yang lebih tinggi dibandingkan dengan okra hijau. Komponen bioaktif pada okra ungu dapat dimanfaatkan dalam bentuk pangan fungsional salah satunya puding karena okra menghasilkan mucilago yang dapat berperan sebagai gelling agent dalam memperbaiki tekstur makanan karena memiliki sifat hidrokoloid.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan puding okra ungu varietas zahira hasil biofortifikasi sebagai pangan fungsional dan menganalisis kandungan zat gizi, sifat antioksidatif, dan karakteristik mikrobiologinya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen laboratorium. Pembuatan puding okra ungu menggunakan metode blanching dan perebusan. Metode analisis terdiri dari AOAC, BPOM, dan SNI untuk uji proksimat, DPPH untuk uji aktivitas antioksidan, AlCl3 untuk uji kandungan total flavonoid, dan HPLC untuk uji kandungan kuersetin, serta metode cawan tuang untuk uji mikroba. Hasil: Puding okra ungu memiliki kadar air 92,86 g/100 g, kadar abu 0,4 g/100 g, lemak total <0,02 g/100 g, protein 0,91 g/100 g, karbohidrat 5,84 g/100 g, serta energi 26,98 kkal/100 g. Sifat antioksidatif yang teridentifikasi pada puding okra ungu adalah aktivitas antioksidan sebesar 53,66% inhibisi, total flavonoid 31,66±0,92 mg QE/g ekstrak, dan 1,01±0,04 mg/g ekstrak terduga turunan kuersetin. Karakteristik mikrobiologi puding okra ungu telah memenuhi standar BPOM untuk batas maksimal cemaran mikroba pada pangan olahan. Kesimpulan: Puding okra ungu yang diformulasikan menujukkan potensi sebagai pangan fungsional dengan sifat antioksidatif. KATA KUNCI: antioksidan; kuersetin; pangan fungsional; puding Okra ungu     ABSTRACTBackgrounds: Oxidative stress is a disturbance in the balance of pro-oxidants and antioxidants in the body that can lead to the development of NCDs. In the condition of oxidative stress, exogenous antioxidants coming from dietary intake are needed to maintain cellular function. Purple okra has been widely studied for its abundant antioxidant compounds, such as flavonoids, which were higher compared to green okra. The bioactive components in purple okra can be utilized in the form of functional food, one of which is pudding since it produced mucilage that can act as a gelling agent in improving food texture because it has hydrocolloid properties. Objectives: This study aimed to develop biofortified zahira variety purple okra pudding as a functional food and analyze its nutrient content, antioxidative properties, and microbiological characteristics. Methods: This study was a laboratory experimental study. The making of purple okra pudding used blanching and boiling method. The analysis methods consisted of AOAC, BPOM, and SNI for the proximate test, DPPH for the antioxidant activity test, AlCl3 for the total flavonoid content test, and HPLC for quercetin content, as well as pour plate method for microbial tests.Results: Purple okra pudding has a water content of 92.86 g/100 g, ash of 0.4 g/100 g, total fat of <0.02 g/100 g, protein of 0.91 g/100 g, carbohydrate of 5.84 g/100 g, as well as energy of 26.98 kcal/100 g. Antioxidative properties identified in purple okra pudding were 53.66% inhibition of antioxidant activity, 31.66±0.92 mg QE/g extract of total flavonoid, and 1.01±0.04 mg/g extract of suspected quercetin derivative. Microbiological characteristics of purple okra pudding were in accordance with BPOM standards for maximum limits of processed food microbial contamination.Conclusions: The formulated purple okra pudding showed its potential as a functional food with antioxidative properties. KEYWORDS: antioxidant; functional food; purple okra pudding; quercetin
Recovery of vitamin D levels by cholecalciferol supplementation on obese rats Veonika, Dea Anenta; Wiboworini, Budiyanti; Muthmainah, Muthmainah
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).40-48

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Obesitas disebabkan oleh penumpukan lemak dalam tubuh karena faktor biologis, psikososial, dan perilaku. Prevalensi obesitas mencapai 42,24% di Amerika Serikat, sementara overweight dan obesitas mencapai 59% di Eropa. Obesitas dapat menyebabkan defisiensi vitamin D melalui berbagai mekanisme.Tujuan: Untuk mengatahui pengaruh pemberian suplementasi cholecalciferol terhadap kadar 25(OH)D pada tikus obesitas. Metode: Dalam penelitian ini, kami melakukan penelitian  true experiment with.        pre-post test control group design. Penelitian ini menganalisis 3 kelompok tikus galur Sprague Dawley jantan yang diinduksi dengan diet tinggi lemak tinggi fruktosa (HFHF)  menjadi tikus obesitas. Masing-masing kelompok mendapatkan cholecalciferol sebanyak 2,500 IU/200gr/hari pada kelompok P1, 5,000IU/200gr/hari pada kelompok P2, dan 10,000 IU/200gr/hari pada kelompok P3 selama 8 minggu. Tikus kemudian dianalisis kadar serum 25(OH)D sebelum dan sesudah perlakuan.Hasil: Suplementasi cholecalciferol secara signifikan meningkatkan kadar vitamin D pada setiap kelompok intervensi yang diberikan cholecalciferol. Rerata kadar 25(OH)D kelompok P1,P2, dan P3 sebelum perlakuan  berturut-turut adalah 29,43±0,83 ng/mL, 28,61±1,57 ng/mL, dan 28,86±1,46 ng/mL. Rerata kadar 25(OH)D setelah suplementasi cholecalciferol untuk kelompok P1,P2, dan P3 berturut-turut adalah 74,27±0,77 ng/mL, 100,30±1,48 ng/mL, dan 126,73±2,30 ng/mL. Ada perbedaan yang signifikan antara nilai 25(OH)D sebelum dan sesudah perlakuan  pada ketiga kelompok intervensi dengan nilai (p<0,05). Kesimpulan: Pemberian cholecalciferol mampu meningkatkan kadar 25(OH)D pada tikus jantan yang diinduksi obesitas. KATA KUNCI: cholecalciferol; obesitas; vitamin D ABSTRACT Background: Obesity is caused by the accumulation of fat in the body due to biological, psychosocial and behavioral factors. The prevalence of obesity reaches 42.24% in the United States, while overweight and obesity reaches 59% in Europe. Obesity can cause vitamin D deficiency through various mechanisms.Objectives: To determine the effect of cholecalciferol supplementation on 25(OH)D levels in obese mice.Methods: In this research, we conducted a true experiment research with pre-post test control group design. This study analyzed 3 groups of male Sprague Dawley rats that were induced by a high-fat, high-fructose (HFHF) diet to become obese rats. Each group received 2,500 IU/200gr/day of cholecalciferol in group P1, 5,000IU/200gr/day in group P2, and 10,000 IU/200gr/day in group P3 for 8 weeks. The mice were then analyzed for serum 25(OH)D levels before and after treatment.Results: Cholecalciferol supplementation significantly increased vitamin D levels in each intervention group given cholecalciferol. The mean 25(OH)D levels in groups P1, P2, and P3 before treatment were 29.43 ± 0.83 ng/mL, 28.61 ± 1.57 ng/mL, and 28.86 ± 1.46, respectively. ng/mL. The mean 25(OH)D levels after cholecalciferol supplementation for groups P1, P2, and P3 were 74.27±0.77 ng/mL, 100.30±1.48 ng/mL, and 126.73±2 respectively. .30 ng/mL. There was a significant difference between the 25(OH)D values before and after treatment in the three intervention groups with values (p<0.05).Conclusion: Administration of cholecalciferol can increase 25(OH)D levels in male mice that are induced by obesity. KEYWORDS: cholecalciferol, vitamin D, obesity
Risk factors of undernutrition among under-two children in West Java (SSGI 2021) Batubara, Fithriani; Dwiriani, Cesilia Meti; Riyadi, Hadi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).49-58

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah populasi balita tertinggi di Indonesia. Permasalahan gizi di Jawa Barat masih tinggi. Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 prevalensi stunting, wasting dan underweight di Jawa Barat yaitu 20.5%. 5.3% dan 15%. Faktor risiko yang mempengaruhi kekurangan gizi beragam dan berpotensi berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, sangat penting untuk menilai arus status gizi untuk meninjau kesenjangan dalam faktor risiko.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor risiko stunting, wasting, dan underweight pada baduta di Jawa Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan studi cross sectional menggunakan data sekunder dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 yang terdiri dari 1203 subjek baduta usia 6-23 bulan di Jawa Barat. Faktor risiko stunting, wasting, dan underweight dianalisis menggunakan regresi logistik. Hasil: Prevalensi stunting, wasting, dan underweight pada baduta usia 6-23 bulan berturut-turut sebesar 20.5%, 5.7% dan 11.6%. Faktor risiko stunting adalah usia 12-23 bulan (AOR=3.10 CI 95% 2.16-4.45), panjang lahir pendek (AOR=1.85 CI 95% 1.30-2.62), tingkat pendidikan ibu rendah (AOR=1.97 CI 95% 1.45-2.68) dan tidak menyusui (AOR= 0.46 CI 95% 0.31-0.68) sebagai faktor protektif. Faktor risiko wasting adalah tingkat pendidikan Ibu yang rendah (AOR=0.5 CI 95% 0.34-0.94) sebagai faktor protektif. Faktor risiko underweight adalah usia 12-23 bulan (OR=1.92 CI 95% 1.25-2.95) dan tidak ASI eksklusif (AOR=0.54 CI 95% 0.35-0.83) sebagai faktor protektif. Kesimpulan: Faktor yang memengaruhi stunting yaitu usia, panjang lahir, tingkat pendidikan ibu, dan status menyusui. Faktor yang memengaruhi wasting yaitu tingkat pendidikan ibu. Faktor yang memengaruhi underweight yaitu usia dan riwayat ASI eksklusif. KATA KUNCI: baduta; faktor risiko; gizi kurang; Jawa Barat; SSGI ABSTRACTBackground: West Java is the province with the highest under-five population in Indonesia. Nutritional problems in West Java are still high in number. According to the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) the prevalence of stunting, wasting and underweight in West Java are stated as 20.5%. 5.3% and 15% whereas the risk factors affecting malnutrition are diverse and have the potential to change over time. Therefore, it is very important to assess current nutritional status to review gaps in risk factors. Objectives: This research was conducted to analyze the risk factors for stunting, wasting and underweight in under-two children of West Java. Methods: This research is a cross-sectional study using secondary data from the Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) 2021 which consists of 1203 subjects (6-23 months) in West Java. Risk factors of stunting, wasting. and underweight were analyzed using logistic regression. Results: The prevalence of stunting, wasting and underweight among children aged 6-23 months were 20.5%, 5.7% and 11.6%, respectively. The risk factors for stunting are age 12-23 months (AOR=3.10 CI 95% 2.16-4.45), short birth length (AOR=1.85 CI 95% 1.30-2.62), mother’s low education level (AOR=1.97 CI 95% 1.45-2.68) and not breastfeeding (AOR= 0.46 CI 95% 0.31-0.68) as a protective factor for stunting. low maternal education level (AOR=0.5 CI 95% 0.34-0.94) as a protective factor for wasting. The risk factor for underweight is age 12-23 months (OR=1.92 95% CI 1.25 -2.95) and does not have exclusively breastfed (AOR=0.54 CI 95% 0.35-0.83) as a protective factor for underweight. Conclusions: Influential factors to stunting are age, birth length, mother's education level, and breastfeeding status. Factor influences wasting is the education level of the mother. Factors influence underweight are age and history of exclusive breastfeeding. KEYWORDS: risk factors; SSGI; undernutrition; under-two children; West Java 
Association between body image and skipping meals behavior among premarital women of reproductive age Wardiyana, Lisa; Paratmanitya, Yhona; Purnamasari, Sintha Dewi; Faradina, Amelia; Ngan Ho, Dang Khanh
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).1-9

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Wanita usia subur (WUS) pranikah perlu memperhatikan kecukupan gizinya, karena sebagai calon ibu status gizi wanita usia subur prakonsepsi akan mempengaruhi tumbuh kembang janin, kesehatan bayi, keselamatan ibu dan bayi selama proses melahirkan. Namun pada masa pranikah ini, perhatian terhadap body image biasanya meningkat, dimana hal ini dapat mempengaruhi perilaku makan seseorang, salah satunya perilaku skipping meals. Perilaku skipping meals berdampak pada kualitas diet yang buruk yang pada akhirnya dapat mempengaruhi status gizinya.Tujuan: Mengetahui adanya hubungan antara body image dengan perilaku skipping meals pada wanita usia subur pranikah di Kabupaten Bantul. Metode: Penelitian ini merupakan penelitan observasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan pada 132 WUS pranikah di Kabupaten Bantul yang mendaftarkan pernikahannya di Kantor Urusan Agama (KUA). Pengukuran body image menggunakan Body Shape Questionnaire-34 (BSQ-34) dan perilaku skipping meals diidentifikasi menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan uji Mann-Whitney dikarenakan data tidak terdistribusi normal.Hasil: Sejumlah 30,3% responden mempunyai body image negatif. Nilai median perilaku skipping meals responden adalah 2 kali/minggu. Responden yang mempunyai body image negatif lebih sering melakukan skipping meals yaitu 4 kali/minggu dibandingkan dengan responden yang mempunyai body image positif yaitu 2 kali/minggu. Hasil uji bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara body image dengan perilaku skipping meals p<0,001.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara body image dengan perilaku skipping meals. Disarankan bagi Kantor Urusan Agama (KUA) untuk memberikan materi terkait body image dan pentingnya makan secara teratur guna mencegah masalah gizi pada masa kehamilan pada kegiatan bimbingan perkawinan. KATA KUNCI: body image; skipping meals behavior; wanita usia subur pranikah ABSTRACTBackground: Premarital women of reproductive age need to care about their nutritional adequacy, because as prospective mothers, the nutritional status of premarital women of reproductive age will affect the fetal growth and development, infant health, mother and baby safety during childbirth. But at this time, their concern of body image increases which can affect the eating behavior, one of which is skipping meals behavior. Skipping meals behavior has an impact on poor diet quality, in the long term, it can affect the nutritional status.Objectives: The aim of this research was to describe the association between body image and skipping meals behavior among premarital women of reproductive age in Bantul District.Methods: This study was an observational study with a cross-sectional design. This study was conducted on 132 premarital women of reproductive age in Bantul district who registered their marriage at the office of religious affairs. Body image measurement used Body Shape Questionnaire 34 (BSQ-34) and skipping meals behavior was measured by questionnaire. Data was analyzed with Mann-Whitney because data was not normally distributed.Results: A 30.3% of respondents had a negative body image. The median value of a respondent’s skipping meals behavior was 2 times/week. Respondents who had a negative body image more often do skipping meals 4 times/week compared to respondents who had a positive body image 2 times/week. The result of bivariate analysis showed a significant association between body image and skipping meals behavior p<0,001.Conclusions: There was a significant association between body image and skipping meals behavior. It is recommended for the office of religious affairs to provide material related to body image and the importance of eating regularly to prevent nutritional problems during pregnancy in marriage guidance activities. KEYWORDS: body image;  skipping meals behavior; premarital women of reproductive age 
Implementation of an e-pocket book to improve knowledge and perceive anemia in adolescents Wijaya, Lisa Ratna; Utami, Siti Budi; Rialihanto, Muhammad Primiaji; Siswati, Tri
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).10-18

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Anemia remaja adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi dengan menggunakan e-pocket book berbasis Android dan poster.Metode: Penelitian ini merupakan quasy eksperimental dengan desain pre-test post-test with desain control group design. Penelitian dilakukan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, pada bulan Februari hingga April 2023. Kelompok perlakuan diberi edukasi gizi menggunakan e-pocket book, sedangkan kelompok kontrol diberi poster. Hasil yang diukur adalah pengetahuan dan persepsi sebelum intervensi, 3 hari setelah (post-test 1), dan 14 hari setelah intervensi (post-test 2). Subyek ditentukan dengan rumus Lemeshow, dengan kriteria inklusi bersedia menjadi responden, hadir saat penelitian dilakukan, memiliki data yang lengkap, dan khususnya kelompok perlakuan memiliki Android. Berdasarkan kriteria tersebut subyek sebanyak 49 remaja per kelompok. Analisis dilakukan dengan uji Mann-Whitney untuk sampel yang tidak berdistribusi normal dan independent t-test untuk sampel yang berdistribusi normal. Data diolah dengan SPSS.Hasil: Skor pengetahuan dan persepsi kelompok intervensi pada awal, post-test 1, dan 2 lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik skor pengetahuan antara post-test 1 dan 2 dan pretest. Namun, dalam hal persepsi, perbedaan signifikan hanya terdapat pada post-test 1.Kesimpulan: Media e-pocket book dan poster meningkatkan pengetahuan dan persepsi tentang anemia. Namun, e-pocket book ternyata lebih efektif untuk meningkatkan pengetahuan remaja terhadap anemia dibandingkan poster. Edukasi baik menggunakan e-pooket book maupun poster memperbaiki persepsi remaja tentang anemia hanya dalam jangka pendek.KATA KUNCI: e-pocket book; poster; pengetahuan; persepsi; anemia; remaja                                             ABSTRACTBackground: The prevalence of anemia among adolescents is a serious public health problem.Objectives: This study aims to determine the effectiveness of education using an e-pocket book based on an Android poster.Methods:  A quasi-experimental study using a pre-test and post-test with a control group design. The study was conducted in Magelang Regency, Central Java, Indonesia, from February to April 2023. The treatment group focused on nutrition education using an e-pocket book, while the control group focused on posters. Outcomes measured were knowledge and perception before the intervention, 3 days after (follow-up 1), and 14 days after (follow-up 2) the intervention. Subjects were determined by the Lemeshow formula, with inclusion criteria being a willingness to be respondents, present when the study was conducted, having complete data, and specifically the treatment group having android, which amounted to 49 persons per group. The analysis was conducted with the Mann-Whitney test for non-normally distributed samples and an independent T-test for normally distributed samples. We apply SPSS.Results: Score knowledge and perception of the intervention group at baseline, follow-up 1, and 2 were higher than in the control group. There was a statistically significant difference in the knowledge scores between follow-ups 1 and 2 and the pretest. Education using both e-pooket books and posters improves adolescents' perceptions of anemia significantly only in post-test1.Conclusions: Media e-pocket books and posters increase knowledge and perceptions about anemia. Education using both e-pooket books and posters improves adolescents' perceptions of anemia only in the short term. KEYWORDS:  e-pocket book; poster; knowledge; perceive; anemia; adolescent 
The role of nutritional status in mediating the relationship between dietary patterns and work productivity in workers at factory X TS, Nadya Meilinda; Anantanyu, Sapja; Andayani, Tri Rejeki
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 1, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.1(1).31-39

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Salah satu masalah yang sering dialami oleh pekerja pabrik adalah penurunan produktivitas kerja yang disebabkan oleh pola makan yang kurang maupun status gizi yang buruk atau berlebih. Penurunan produktivitas kerja akan berdampak buruk bagi perusahaan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran status gizi sebagai mediator antara pola makan dan produktivitas kerja pada pekerja di Pabrik X. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan rancangan Cross Sectional. Populasi penelitian ini sebanyak 206 pekerja pabrik. Sampel pada penelitian ini yaitu 136 peserta dengan Teknik Simple Random Sampling. Penelitian ini dilakukan bulan Agustus 2022 di salah satu Pabrik Daerah Palur, Karanganyar. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Path Analysis. Hasil: Hasil penelitian ada hubungan secara langsung antara pola makan dengan produktivitas kerja (β=0.332;p=0.000), antara status gizi dengan produktivitas kerja (β=-0.284;p=0.001) pola makan dengan status gizi (β=0.421;p=0.000), maupun peran status gizi dalam hubungan idak langsung antara pola makan dengan produktivitas kerja (β=-0.119;p=0.006). Kesimpulan: Status gizi terbukti berperan sebagai mediator dalam hubungan pola makan dengan produktivitas kerja. KATA KUNCI: pola makan; produktivitas kerja; status gizi   ABSTRACTBackground: One of the problems that is often experienced by workers is a decrease in work productivity caused by an inadequate dietary pattern or poor or excessive status. A decrease in work productivity will have a negative impact on the company.Objective: This study aimed to analyze the role of nutritional status as a mediator between dietary patterns and work productivity in workers at Factory X.Methods: This study used a type of quantitative research with a cross- sectional design. The population of this study was 206 factory workers. The samples in this study were 136 participants using a Simple Random Sampling Technique. This research was conducted in August 2022 at one of the Palur Regional Factories, Karanganyar. Data analysis in this study used Path Analysis.Results: The results showed that there was a direct relationship between dietary pattern and work productivity (β=0.332;p=0.000), between nutritional status and work productivity (β=-0.284;p=0.001), dietary pattern and nutritional status (β=0.421;p=0.000), and the role of nutritional status in the indirect relationship between dietary pattern and work productivity (β=0.119;p=0.006).Conclusion: Nutritional status is proven as a mediator between dietary patterns and work productivity.KEYWORDS: dietary patterns; nutritional status; work productivity

Page 1 of 1 | Total Record : 6