Articles
11 Documents
Search results for
, issue
"Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011"
:
11 Documents
clear
MANTRA BANJAR: SUATU KOMPROMI BUDAYA
Agus Yulianto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (184.58 KB)
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.72
Abstrak. Tulisan ini membahas perkembangan kebudayaan Banjar yang ditinjau dari peranan ‘mantra’. Mantraadalah rangkaian kata yang diucapkan untuk melakukan praktek magis. Mantra Banjar tumbuh dan berkembangdi wilayah tenggara Kalimantan. Pertumbuhan dan perkembangan mantra Banjar sejalan dengan perkembanganpendukungnya, yaitu masyarakat Banjar. Pada awalnya, mantra Banjar lahir dari karya seni ciptaan leluhurimajinatif Banjar yang percaya pada animisme atau kepercayaan Kaharingan. Kedatangan komunitas Jawa danMalayu yang berlatar ideologis Siva-Buddha membawa warna baru untuk mantra. Kemudian, ketika Islamdatang, agama baru ini menolak semua jenis mantra, penolakan ini mempengaruhi keberadaan mantra Banjar.Akibatnya, praktek ritual dengan mantra Banjar menurun, karena Islam mencapai popularitas yang luas. Namun,ternyata ada pula kesengajaan untuk menyembunyikan mantra untuk menjaga efek sakral dari mantra.Bagaimanapun, mantra tidak benar-benar menghilang. Sebagai warisan budaya Banjar, mantra masih menjadibagian dari kehidupan mereka, mantra hidup dan tumbuh di antara orang-orang sampai hari ini.
NILAI-NILAI KEHIDUPAN MASA LALU: PERSPEKTIF PEMAKNAAN PENINGGALAN ARKEOLOGI
Nugroho Nur Susanto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.73
Abstrak. Pencarian jati diri dan nilai-nilai dalam suatu komunitas atau cakupan yang lebih luas sebuah bangsa,sudah seharusnya ditimbulkan dari dalam yaitu, dari kekayaan kebudayaan yang muncul dan dimiliki oleh dan dariBangsa Indonesia sendiri. Kekayaan kebudayaan ini dapat digali dari sejarah dan lingkungan bangsa dengancara menelusuri jejak-jejak perjalanan sejarah yang mencerminkan pengalaman hidup individu secara lintasgenerasi pada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda. Nilai-nilai luhur yang dikandung dalam sejarah danlingkungan Bangsa Indonesia terekam dalam peninggalan masa lalunya. Bukti-bukti arkeologis menunjukkanbahwa kehidupan masyarakat masa lalu diwarnai oleh nilai-nilai keteladanan. Nilai-nilai luhur yang patut diteladaniyang dapat menjunjung harkat dan martabat kehidupan bangsa antara lain kerja keras, berpandangan jauh kedepan, dan penghormatan kepada nilai-nilai ikatan sosial. Tulisan ini membahas penerapan nilai-nilai hidup masalalu yang luhur dalam masyarakat kontemporer, dalam upaya membangun keselarasan bernegara danmengkukuhkan kehidupan yang beragam yang menjadi kekayaan sosial-budaya milik Bangsa Indonesia sekarang.
PENINGGALAN KERAJAAN BANJAR DALAM PERSPEKTIF ARKEOLOGI
Bambang Sakti Wiku Atmojo
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.74
Abstrak. Saat ini, Kerajaan Banjar yang termashur di Kalimantan pada abad 16-19 Masehi sudah tidak ada lagi.Namun, dari segi arkeologis, sisa-sisa eksistensi kerajaan ini masih dapat direkonstruksi dari peninggalannya yangmasih dapat ditemukan saat ini. Persebaran peninggalan tersebut terdapat di wilayah Kota Banjarmasin, Martapura,dan Karang Intan. Tulisan ini membahas berbagai peninggalan Kerajaan Banjar yang masih dapat diidentifikasisampai saat ini. Hasil kajian arkeologis menunjukkan bahwa peninggalan yang masih ada adalah sejumlah masjidserta makam raja dan ulama.
KECENDERUNGAN PENGGUNAAN METODE SURVEI PADA PENELITIAN BALAI ARKEOLOGI BANJARMASIN: ALASAN DAN SOLUSINYA
Hartatik Hartatik
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.75
Abstrak. Terdapat dua jenis metode atau cara perolehan data dalam penelitian arkeologi, yaitu survei dan ekskavasi.Dari kedua metode tersebut, survei merupakan teknik penelitian yang paling sering digunakan oleh peneliti BalaiArkeologi Banjarmasin. Hal tersebut merupakan gejala yang menarik, padahal ekskavasi merupakan ‘jantung’penelitian arkeologi. Tulisan ini mengulas tentang sebab-sebab penggunaan metode survei lebih banyak daripadaekskavasi, serta solusi yang memungkinkan pelaksanaan penelitian arkeologi yang berimbang antara tema danmetode yang sesuai. Data kajian yang dipakai adalah metode penelitian yang digunakan para peneliti pada BalaiArkeologi Banjarmasin selama 2005-2011. Hasil kajian menunjukkan bahwa penyebab utama seringnya penggunaanmetode penelitian survei adalah kondisi alam Kalimantan yang luas dengan fisiografi yang unik. Aktivitas surveiperlu dilakukan agar dapat memperoleh sebaran data lateral terlebih dahulu sebelum meneliti lebih jauh sebarandata vertikalnya. Solusi yang dapat menjembatani kesenjangan ini adalah intensifikasi ekskavasi pada situs-situspotensial, menindaklanjuti rekomendasi hasil penelitian terdahulu, kegiatan survei harus dilakukan bersamaandengan ekskavasi, dan perimbangan penelitian berdasarkan tema dan metode penelitian.
SITUS-SITUS PEMUKIMAN TEPIAN SUNGAI DI KALIMANTAN SELATAN
Sunarningsih Sunarningsih
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.76
Abstrak. Kalimantan dan sungainya tidak bisa dipisahkan. Sungai besar dan kecil mengalir saling-silang dari arahhulu ke hilir. Salah satu sungai besar yang membelah kota-kota di Kalimantan Selatan adalah Sungai Barito. SungaiBarito memiliki banyak anak sungai yang mengalir di seluruh penjuru propinsi yang paling kecil di Pulau Kalimantan.Dari aliran Sungai Barito inilah muncul peradaban manusia. Keberadaan sungai tidak hanya menjadi sumberkehidupan masyarakat, tetapi lewat sungai jugalah kebudayaan di wilayah ini menyebar. Oleh karena itu, tidaklahmengherankan apabila sisa-sisa peradaban manusia dari setiap periode kehidupan masa lalu banyak dijumpai disepanjang tepian sungai. Sejumlah penelitian sisa pemukiman kuna di tepian sungai telah dilakukan oleh BalaiArkeologi Banjarmasin sejak 1994 hingga saat ini. Hasil penelitiannya memberikan informasi bahwa sejak masaprasejarah sampai masa kini, masyarakat di Kalimantan Selatan ini tetap memanfaatkan tepian sungai sebagaitempat tinggal dan tempat beraktivitas sehari-hari. Tulisan ini mengkaji kembali hasil penelitian yang diperolehselama ini agar dapat memahami permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam melakukan penelitianpemukiman. Hasil pengkajian kembali tersebut ditujukan untuk membangun strategi penelitian yang lebih baik, agarhasil penelitian pemukiman di masa mendatang lebih berbobot dalam upaya merekonstruksi sejarah kebudayaanhunian manusia masa lampau, terutama di wilayah Kalimantan Selatan.
INTENSIFIKASI SOSIALISASI DAN KOORDINASI PENGELOLAAN SUMBER DAYA ARKEOLOGI: STUDI KASUS DI KALIMANTAN
Bambang Sugiyanto
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.77
Abstrak. Penelitian arkeologi di wilayah operasional Pulau Kalimantan memang menjadi tugas dan wewenang dariBalai Arkeologi Banjarmasin. Selain melaksanakan penelitian arkeologi, Balai Arkeologi Banjarmasin juga mempunyaitanggung jawab bersama-sama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Samarinda untuk melaksanakan secarakontinu sosialisasi pentingnya sumber daya arkeologi dan pengelolaan cagar budaya yang ada di masing-masingdaerah dan pengelolaan cagar budaya. Sementara itu, dengan efektifnya pelaksanaan Undang-Undang nomor32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, operasional kewenangan kebudayaan dalam tata laksanapemerintahan daerah mengalami perubahan. Perubahan tersebut berkenaan dengan kebijakan pengelolaanbidang kebudayaan, baik material maupun non-material. Namun sayangnya, dalam pengimplementasian kebijakantersebut terdapat kendala yaitu, instansi daerah belum memiliki sumber daya manusia yang kompeten untukmelaksanakan penelitian arkeologi dan konservasi cagar budaya. Tampaknya kebudayaan masih dipandangsama dengan kesenian, jadi banyak instansi daerah yang mempunyai kepala seksi kesenian atau pariwisatadaripada kepala seksi kebudayaan. Tulisan ini membahas gejala perbedaan visi pengelolaan sumber daya arkeologiantara pemerintah pusat dan daerah, serta strategi koordinasi menyamakan visi tersebut dalam upaya peningkatankesejahteraan hidup masyarakat berbasis pelestarian cagar budaya sesuai Undang- Undang Republik Indonesianomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
MEMPOSISIKAN PENGELOLA WARISAN BUDAYA DALAM PELESTARIAN DAN PEMANFAATAN SITUS BENTENG TABANIO DI KALIMANTAN SELATAN
Ida Bagus Putu Prajna Yogi
Naditira Widya Vol 5 No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24832/nw.v5i2.78
Abstrak. Benteng Tabanio telah diteliti secara intensif selama 1994 sampai dengan 1999 oleh Balai ArkeologiBanjarmasin. Namun, sampai dengan saat ini pengelolaan situs ini tidak jelas. Sebenarnya pengelolaan yang tidakjelas ini tidak hanya terjadi pada Situs Benteng Tabanio. Selama 10 tahun belakangan ini ketidakjelasan pelestariandan pemanfaatan sebuah situs arkeologi di Indonesia hingga saat ini memang menjadi suatu polemik yang tidak adahabis-habisnya. Tulisan ini membahas tentang permasalahan pengelolaan yang muncul dilandasi oleh perbedaankepentingan antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pengelola warisan budaya, upaya mengelola konflik, danlangkah-langkah pemanfaatan warisan budaya yang memberikan manfaat kepada masyarakat. Pada akhirnya,diharapkan adanya perubahan dinamika sikap pengelola warisan budaya dalam mengantisipasi perkembanganorientasi kepentingan masyarakat.