cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang
ISSN : 25285548     EISSN : 25285548     DOI : -
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang is an online, open access peer reviewed journal, which is published twice year every June and December. This journal is for all contributors who are concerned with a research related to Japanese language education studies. JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang provides a forum for publishing the original reserach articles, paper-based articles and review articles from contributors, related to Japanese culture, Japanese literature and Japanese language teaching/learning, which have never been published before.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016" : 15 Documents clear
PENGARUH PENGGUNAAN METODE PEER LEARNING TERHADAP PENGUASAAN PENGGUNAAN HURUF HIRAGANA(PENELITIAN EKSPERIMEN SEMU TERHADAP SISWA KELAS 7 SMP LABORATORIUM PERCONTOHAN UPI TAHUN AJARAN 2014/2015) Sholeha, Nadila; Rasiban, Linna Meilia; Danasasmita, Wawan
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3288

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi dari adanya kesulitan siswa dalam mempelajari bahasa Jepang. Meskipun siswa dapat dengan cukup mudah memahami kosakata dan pola kalimat bahasa Jepang, namun dikarenakan huruf Jepang yang berbeda dengan huruf Romawi, sehingga membuat siswa merasa sulit untuk menguasainya. Hal ini diperkuat oleh data hasil angket yang diberikan pada siswa yang menyatakan sebanyak 73% siswa mengalami kesulitan saat mempelajari huruf Hiragana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh penggunaan metode Peer Learning terhadap penguasaan penggunaan huruf Hiragana siswa. Serta untuk mengetahui tanggapan siswa mengenai metode Peer Learning dalam pembelajaran. Penelitian ini merupakan eksperimen semu (quasi eksperiment) “one group pretest-posttest design”. Dalam penelitian ini penulis memberikan alternatif metode pembelajaran yang berbeda dengan menggunakan metode Peer Learning dalam pembelajaran huruf Hiragana. Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh siswa kelas VII SMP Laboratorium Percontohan UPI dan sampelnya diambil 17% dari total populasi yakni kelas VII-A sebanyak 29 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes dan angket. Dari hasil analisis data tes diperoleh t hitung = 20,85 dan db = 28 maka, nilai t tabel = 2,05 pada taraf 5%. Berdasarkan hasil pengolahan data yang diperoleh, dapat disimpulkan t hitung t tabel yang berarti hipotesis kerja (Hk) diterima. Berdasarkan hasil penelitian, dalam metode Peer Learning tahapan saat tutor menjelaskan materi pada teman sekelompoknya menjadi tahapan yang sangat berpengaruh terhadap penguasaan penggunaan huruf Hiragana siswa. Selain itu, dari data angket diketahui bahwa sebagian besar siswa menyatakan bahwa penggunaan metode Peer Learning ini dapat meningkatkan penguasaan penggunaan huruf Hiragana siswa Kata Kunci : Peer Learning, huruf Hiragana  ABSTRACTThis research is motivated from the difficulty students in learning Japanese Although students can quite easily understand the vocabulary and sentence patterns Japanese, but because the Japanese characters that are different from Roman letters, thus making the students find it difficult to master it. The purpose of this study was to determine whether or not the effect of the use of Peer Learning method to control of the use of Hiragana students. And to investigate the responses of students about Peer Learning methods in learning. This study is a quasi-experimental "one group pretest-posttest design". In this research, the authors provide the different alternative method of learning from using Peer Learning in the Hiragana learning. The population in this study are all of the students of class VII SMP Pilot Laboratory UPI and the sample was taken 17% of the total population of the class VII-A total of 29 students. The instrument that used in this study is the tests and questionnaires. From the analysis of the test data obtained by t = 20.85 and db = 28, then, the value of t table = 2.05 at the 5% level. Based on the results of processing the data, it can be concluded t t table which means that the working hypothesis (Hk) is received. Based on this research, in the method of Peer Learning stages when the tutor explains the material in the group of their friends become the stages which influenced the students' mastery of the use of Hiragana. furthermore, the data from the questionnaire were known that most of the students stated that the use of Peer Learning methods can enhance students' mastery of the use of Hiragana. Keyword: peer learning, Hiragana letter
MODEL PENGGUNAAN MEDIA POWER POINT DALAM PENGEMBANGAN POLA KALIMAT BAHASA JEPANG TINGKAT DASAR (Penelitian Terhadap Mahasiswa Tingkat I Departemen Pendidikan Bahasa Jepang Tahun 2015/2016) Hidayat, Romi; Sugihartono, Sugihartono; Danasasmita, Wawan
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3293

Abstract

AbstraksiBahasa merupakan modal utama dalam melakukan komunikasi. Kemampuan berbahasa menjadi sangat penting dalam melakukan segala aktivitas. Hal umum yang menjadi kesulitan dalam mempelajari suatu Bahasa asing bagi pemula adalah aturan kebahasaan. Begitupun dengan Bahasa Jepang yang memiliki susunan kalimat yang berbeda dengan Bahasa Indonesia sehingga tidak mudah untuk dipahami oleh pembelajar secara umum. Kesulitan yang sering ditemukan oleh pengajar Bahasa Jepang dalam mengajarkan pola kalimat adalah keterbatasan media yang digunakan dalam menyampaikan materi pelajaran. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian mengenai model penggunaan media power point dalam mengembangkan pola kalimat Bahasa Japang tingkat dasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam mengembangkan pola kalimat Bahasa Jepang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekperimen quasi. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah mahasiswa tingkat 1 Departemen Pendidikan Bahasa Jepang UPI. Instrument yang digunakan adalah pretest, posttest,dan angket. Dari hasil analisis data diketahui nilai rata-rata, pretest 34,64, posttest 7,.57, dengan db = 27, sehingga t-hitung yang diperoleh 16.64. t-hitung tersebut lebih besar dari t-tabel dengan taraf signifikan 5%= 2,052 dan 1%= 2,771, dengan demikian Hk diterima yang artinya model penggunaan media power point dalam mengembangkat pola kalimat Bahasa Jepang tingkat dasar efektif dalam meningkatkan kemampuan pengembangan pola kalimat Bahasa Jepang tingkat dasar pada mahasiswa tingkat 1 departemen pendidikan Bahasa Jepang UPI. Serta dari hasil angket yang telah dianalisa dapat dikatakan bahwa penggunaan media power point sangat membantu mahasiwa dalam mengembangkan pola kalimat Bahasa Jepang. Keyword: model, power point, pola kalimat. ABSTRACTLanguage is the main asset in communication. Language skills become very important in all activities. General terms that the difficulty in learning a foreign language for beginners is the linguistic rules. As well as with Japanese which have different sentence structures with Indonesian so it is not easy to be understood by the learner in general. Difficulties which often found by teachers in teaching the Japanese language sentence patterns are limited media that used to convey the subject. Therefore, the authors doin research on power point media usage model in developing basic level of Japanese sentence patterns. This study aims to determine students' ability in developing the Japanese sentence patterns. The method that used in this study is a quasi experimental. The object of this research is first grader of UPI’s Japanese education departement. The instruments used were pretest, posttest, and questionnaires. From the analysis of the data known to the average value, 34.64 pretest, posttest 7, .57, with db = 27, so the t-count acquired 16.64. t-count is greater than t-table with a significant level of 5% = 2.052 and 1% = 2,771. thus Hk accepted meaning used power point of media used model in developing a Japanese sentence patterns base rate effective in enhancing the development capabilities of basic lavel in Japanese sentence patterns of first grader of UPI’s Japanese education departement. As well as from the results of questionnaires that have been analyzed can be said that the use of media power point greatly assist students in developing a Japanese sentence patterns. Keywords : model, power point, sentence patterns.
ANALISIS MAKNA KOTOWAZA YANG TERKAIT DENGAN KANJI MUSIM DAN RELEVANSINYA DENGAN KEBUDAYAAN JEPANG Kharina, Mia; Sudjianto, Sudjianto; Sutjiati, Neneng
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3284

Abstract

Abstrak Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Evolusi kebudayaan berhubungan erat dengan kondisi lingkungan. Maka dari itu, budaya di setiap negara berbeda-beda berdasarkan lingkungannya. Salah satu  faktor yang terlihat jelas adalah iklim atau musim di sebuah negara. Adanya perubahan musim mempengaruhi kebudayaan yang berkembang di masyarakatnya. Kemudian, salah satu unsur dari kebudayaan terdapat bahasa. Bahasa tidak terbatas dengan interaksi sehari-hari, tetapi banyak sarana sastra yang dapat dijadikan objek pembelajaran. salah satunya, peribahasa yang merupakan ajaran berdasarkan pola pikir orang Jepang dari zaman dahulu. Orang Jepang sering menggunakan peribahasa dalam mengungkapkan atau menggambarkan suatu keadaan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pada kenyataannya sebagian pembelajar bahasa Jepang tidak memahami makna dari peribahasa bahasa Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu makna peribahasa dan relevansinya terhadap kebudayaan Jepang. Penulis membatasi peribahasa yang digunakan hanya peribahasa yang berkaitan dengan kanji musim (haru, natsu, aki, fuyu). Oleh karena itu penulis merumuskan masalah penelitian sebagai berikut : 1) apa sajakah peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim (haru, natsu, aki, fuyu), 2) apa makna peribahasa tersebut dalam bahasa Indonesia, 3) adakah relevansi kebudayaan yang tersirat dalam peribahasa Jepang yang terkait dengan kanji musim (haru, natsu, aki, fuyu). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dan kualitatif. Hasil dari penelitian ini, ditemukan 20 peribahasa yang berkaitan dengan kanji musim dan 12 diantaranya memiliki relevansi dengan kebudayaan Jepang berdasarkan musim. Dengan begitu dapat ditarik kesimpulan adanya keterkaitan antara keadaan lingkungan atau kebudayaan yang berdasarkan musim mempengaruhi pembentukan peribahasa di sebuah negara.  Kata kunci: peribahasa, makna, kebudayaan, musim AbstractsCulture is the way of life that developed and shared by a community that are passed from generation to generation. Cultural evolution is closely related with enviromental conditions. Therefore, the culture in each country is different based on environment. One of the obious factor is the climate or season in a country. The changing seasons affect the cultures that developed  in the society. Then, one of the elements of culture are language. Language is not the daily interactions only, but many literary device that can be used as learning objects. One of them is proverb that teaching based  on the mindset of Japanese people from ancient times. Japanese people often use proverbs to express or describe a situation in daily life. However, in fact most of Japanese language learners didn’t understand the meaning of Japanese proverbs. This research aims to find out the meaning of proverbs and relevance to the Japanese culture. Authors restrict to use proverbs which is related to kanji season (haru, natsu, aki, fuyu). Therefore, authors  formulate the research problems as follow : 1) what are the Japanese proverbs which is associated with kanji season (haru, natsu, aki, fuyu), 2) what are the meaning of these proverbs in Indonesian, 3) is there any relevance of culture implicit in Japanese proverbs related kanji season (haru, natsu, aki, fuyu). The method used in this research is descriptive and qualitative research method. The result of this research, it was found 20 proverbs related to kanji season (haru, natsu, aki, fuyu) and 12 of  them have relevance to the Japanese culture based on season. thus, it can be concluded there is a correlation between the state of environment or culture that is based on the proverbs season affect formation in a country. Keywords : proverb, meaning, culture, season
PENELITIAN TENTANG PERSYARATAN DAN KEKHUSUSAN KALIMAT PASIF DALAM BAHASA JEPANG DAN PERBANDINGANNYA DALAM BAHASA IINDONESIA Sarjani, Andi Irma; Kazuhide, Chounan
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.4098

Abstract

Abstrak. Dalam kalimat pasif bahasa Jepang, dikenal kalimat pasif langsung yang memiliki padanan dengan kalimat aktif, dan kalimat pasif tidak langsung yang tidak memiliki padanannya dalam kalimat aktif. Kalimat pasif langsung dalam bahasa Indonesia diekspresikan dengan imbuhan “di-“, tetapi pada kalimat pasif tidak langsung tidak dapat diekspresikan dengan imbuhan “di-“, Ditambah lagi, berdasarkan hasil angket terhadap pembelajar bahasa Jepang, dimana ditanyakan mengenai adakah bentuk pasif dari  kalimat aktif 「私は木村君を褒めた」dan apakah itu alami atau tidak, semua responden menjawab bahwa bentuk pasifnya ada dan alami yaitu「木村君は私に褒められた」, yang dalam bahasa Indonesia adalah, “Kimura dipuji oleh saya”. Dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif seperti contoh di atas bisa diterima, tetapi dalam bahasa Jepang kalimat pasif tersebut sangat tidak alami. Menurut Takami (2011), ada 4 syarat yang penting dalam kalimat pasif langsung bahasa Jepang, yaitu sudut pandang pembicara, syarat perubahan kondisi, syarat adanya kekhususan dan syarat adanya kerugian. Dalam bahasa Jepang, apabila dari 4 syarat tersebut terpenuhi salah satunya (atau dua syarat atau lebih), maka kalimat pasif tersebut dapat diterima. Bila melihat ke dalam kalimat pasif dalam bahasa Indonesia, tidak ada 4 syarat seperti terdapat dalam kalimat pasif bahasa Jepang. Dan ada kecenderungan bahwa semua kalimat pasif dalam bahasa Jepang akan diterjemahkan dengan memakai imbuhan “di-”. Begitu pula sebaliknya, semua kata berimbuhan “di-”akan diterjemahkan kedalam bentuk pasif dalam bahasa Jepang. Terutama, seperti pada kalimat “sayuran segar dicuci dahulu sebelum dimakan”, sangat tidak alami apabila diterjemahkan kedalam bentuk pasif dalam bahasa Jepang. Menurut Sneddon (1996), ada dua jenis kalimat pasif dalam bahasa Indonesia. Yang pertama adalah kalimat pasif tipe 1 dan kalimat pasif tipe 2. Penderita pada kalimat pasif tipe 1 adalah kata ganti orang ke-3, dimana objek pada kalimat aktif berubah menjadi subjek pada kalimat pasif, dan imbuhan ”me-“ berubah menjadi imbuhan “di-“. Kalimat pasif tipe 2, pelaku merupakan kata ganti orang. Pada tipe ini, objek pada kalimat aktif dipindahkan ke awal kalimat, dan kalimat pasif dibentuk dengan cara menghapus imbuhan “me-“ pada kata kerja. Bentuk ini juga disebut “pasif zero”. Adanya syarat dan kekhususan kalimat pasif dalam bahasa Jepang serta bentuk-bentuk pasif dalam bahasa Indonesia yang tidak semuanya bisa berbentuk pasif dalam bahasa Jepang inilah yang belum dipahami oleh pembelajar Indonesia sehingga menyebabkan sulitnya memahami kalimat pasif dalam bahasa Jepang.  要旨。日本語の受身文には、よく知られているように、構造上、対応する能動文が存在する「直接受身文」と、対応する能動文が存在しない「間接受身文」がある。直接受身はインドネシア語の受身文では、接頭辞の”di-”で表しているが、間接受身は接頭辞の[di]で表すことが出来ないので、インドネシア人日本語学習者にとって難しいようである。さらに、能動文の「私は木村君を褒めた」に対して、受身文はどうなるのか、という質問を学生に聞いた結果、「木村君は私に褒められた」という答えで、インドネシア語の受身文では、 [Saya dipuji oleh Kimura] になったのである。インドネシア語ではその受身文は自然に聞こえているそうだが、日本語では不適格ことが分かってきた。日本語の受身について、高見(2011)は、直接受身文について、日本語の受身文には四つの重要な条件がある。その四つの条件/制約のどれか(あるいは二つ以上)を満たす場合に適格になる。日本語の直接受身に重要な制約・条件が四つ存在するのに対し、インドネシア語の受身文には日本語のような制約・条件があるだろうか。スネードン(1996)によると、インドネシア語の受身文は二種類がある。それは1タイプの受身文や2タイプの受身文である。1タイプの受身文は、行為者は第三者の人か名詞句である。行為者が表さない場合もこの1タイプの受身文の種類である。これは、インドネシア語の受身文の一般的なパターンで、能動文に対応する受身文である。1タイプの受身文には構造的に能動文の目的語が、受身文では主語に置き換えられ、述語にある「me-」接頭辞を「di-」接頭辞に変えて作られる。実際は、インドネシア人日本語学習者は、このタイプしか理解していないので、日本語の受身文を接頭辞「di」に訳してしまう傾向がある。逆に、インドネシアごの接頭辞”di”ある文は、すべて日本語の受身文になってしまう。また、インドネシア語の受身文には、日本語のような条件・制約が存在しないので、これらのことが日本語の受身文はインドネシア人日本語学習者にとって分かりにくいと思われる。
ANALISIS KESALAHAN PENULISAN GAIRAIGO PADA MAHASISWA TK.I S.D IV PEMOKUSAN PADA GAIRAIGO BAHASA INGGRIS Pratama, Septian Eka; Herniwati, Herniwati; Renariah, Renariah
JAPANEDU: Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Bahasa Jepang Vol 1, No 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia (Indonesia University of Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/japanedu.v1i2.3289

Abstract

AbstrakPenelitian yang diberi judul “Analisis Kesalahan Penulisan Gairaigo pada Mahasiswa TK.I s.d TK.IV Pemokusan Pada Gairaigo Bahasa Inggris” bertujuan untuk mengetahui bagaimana faktor apa saja yang mempengaruhi dalam penulisan katakana yang terjadi pada mahasiswa. Dalam kosakata bahasa jepang ada yang disebut Gairaigo yaitu kata serapan yang digunakan dalam bahasa jepang. Kata serapan dalam bahasa jepang dewasa ini hampir 80 persen menggunakan bahasa Inggris. Penelitian terdahulu yang dilakukan menunjukan mahasiwa asih mengalami kesulitan dalam menulis gairaigo dalam huruf katakana. Maka faktor – faktor yang dianggap mempengaruhi mahasiswa dalam penulisan katakana adalah: (1) Tingkat di jurusan , (2) Level JLPT, (3) Apakah kata gairaigo tersebut familiar (4) Apakah ada ciri khas pelafalan, (5) Panjang pendeknya suatu kata. Dari hasil analisis tidak pengaruh antara lamanya belajar dan kemampuan bahasa jepang dengan menulis kata gairaigo. Mahasiswa kesulitan pada kata yang kurang familiar dan terdapat bunyi panjang atau chouon pada kosakata gairaigo. Dengan demikian sering melihat atau menggunakan kosakata itu dan apakah ada kekhasan pelafalan pada sebuah kata gairaigo memiliki pengaruh yang kuat. Kata Kunci :Katakana, Gairaigo, Kesalahan penulisan  AbstractThis research “An Analysis on Focusing Katakana English Loanwords Writing Errors of Japanese Student in Indonesia University of Education” has purpose to find many factors in loanword writing error.  Gairaigo means loanwords in Japanese language are almost 80 percent from English. Many scholars pointed about Katakana Loanword writing rules. Many facts the Japanese loanwords are difficult for beginner Japanese foreigner learner. To get know why writing katakana words is hard. Ou said that he found that many Chinese native Japanese learners have many difficulties about Japanese Loanwords. The loanwords from American or Europe languages seem hard to recognize by Chinese Japanese learners even French Japanese learners. There are some reasons, but one of them is the differences of pronunciation from the origin words I tried to find one of numerous factors about that. Many factor related on this research such as JLPT, grade in college, characteristic of its loanwords, familiar and non-familiar words etc. One of the factors was found is about the characteristic about the Japanese loanword itself. The other is japanese system long vowel –toned in unfamiliar word by students. Keyword : Effectiveness, Strategy Quick On The Draw, Vocabulary

Page 2 of 2 | Total Record : 15