cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2: November 2022" : 15 Documents clear
Refleksi Kehidupan Gereja Perdana dalam Praktik Gereja Virtual Jimmy Lizardo
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.390

Abstract

. The virtual church is a future church design that allows all human spiritual activities, such as worship, cell communities, prayer services, counseling, sacraments, evangelism, and so on, to enter soon a new era where the role of human beings is becoming increasingly insignificant and replaced with a touch of internet-based technology. The development of technology, with all its sophistication, has shifted the definition of the church. There is a characteristic of the true church, which is that 'koinonia' (communion) cannot be implemented virtually. This study aims to conduct a biblical study of the true meaning of digital ecclesiology to find whether the virtual church violates the rules of God's word or not. As well as looking for biblical patterns of spiritual life in building a virtual church. Using qualitative methods with a literature study approach through the source of books and literature as a research reference. The conclusion of this study is that the practice of virtual churches does not violate the rules of God's word; however, virtual churches need to build strong relationships between members (koinonia/communion), as the early congregations did in Acts 2:42-47, becoming a pattern (patron) of building virtual churches in today's era.AbstrakGereja virtual adalah rancangan gereja masa depan yang memungkinkan semua aktivitas rohani manusia seperti ibadah, komunitas sel, pelayanan doa, konseling, sakramen, penginjilan dan sebagainya akan segera memasuki era baru, di mana peran manusia menjadi semakin tidak signifikan dan tergantikan dengan sentuhan teknologi berbasis internet. Perkembangan teknologi dengan segala kecanggihannya membuat definisi gereja mengalami pergeseran. Ada karakteristik gereja sejati, yaitu koinonia (persekutuan) yang tidak mampu diterapkan secara virtual. Penelitian ini bertujuan melakukan kajian biblis makna eklesiologi digital yang sesungguhnya, untuk menemukan apakah gereja virtual menyalahi kaidah firman Tuhan atau tidak? Serta mencari pola kehidupan rohani yang Alkitabiah dalam membangun gereja virtual. Menggunakan metodekualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui sumber buku-buku dan literatur sebagai acuanpenelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah praktik gereja virtual tidak menya-lahi kaidah firman Tuhan, namun demikian, gereja virtual perlu membangun relasi yang kuat antar-anggota (koinonia/persekutuan), seperti yang dilakukan jemaatmula-mula dalamKisah Para Rasul2:42-47, menjadi sebuah pola (patron) membangun gereja virtual di era sekarang ini.
Memaksimalkan Peran Gereja Menghadapi Masalah Etis dan Ketidakadilan dalam Bisnis Sony Kristiantoro
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.355

Abstract

Business people have faced problems since decades ago, and even today, it is an injustice. Business people also face a corrupt bureaucracy that will lead to ethical problems that lead to compromise rather than negotiation. This article finds that the ethical problems faced by business people in the GKI congregation in R city are issues of injustice and dishonesty related to tax issues. Business people get solutions and sources of referrals from outside the church, namely from conscience, association with business partners, and the teachings of the golden rule, which cannot be said to be the absolute property of Christianity because these teachings are also found in the Confucian religion. Only the concept of “the fear of the LORD” was a participant's only reference. The GKI Church, especially the GKI in R city, needs to maximize its role in order to be able to equip the businessmen of its church members to run their businesses properly and responsibly.AbstrakMasalah yang dihadapi oleh pebisnis sejak puluhan tahun lalu, bahkan juga masih dirasakan saat ini adalah ketidakadilan. Pebisnis juga menghadapi birokrasi yang koruptif yang akan memunculkan masalah etis yang berujung pada sikap kompromi daripada negosiasi. Artikel ini menemukan bahwa persoalan etis yang dihadapi pebisnis di jemaat GKI di kota R, adalah persoalan ketidakadilan dan ketidakjujuran berkaitan dengan masalah pajak. Para pebisnis mendapat solusi dan sumber rujukan dari luar gereja, yakni dari hati nurani, pergaulan dengan rekan bisnis, dan ajaran kaidah emas yang tidak bisa dikatakan milik mutlak Kekristenan, karena ajaran ini juga terdapat dalam agama Kong Hu Cu. Hanya konsep ”takut akan Tuhan” yang menjadi satu-satunya rujukan yang dimiliki oleh seorang partisipan. Gereja GKI, khususnya GKI di kota R perlu memaksimalkan perannya supaya mampu membekali pebisnis anggota gerejanya untuk menjalankan bisnisnya dengan baik dan bertanggung-jawab.
Konsep Sabat bagi Orang Percaya di Masa Kini: Sebuah Kritik Teks Matius 12:1-8 Periskila Netty Lintang; Yordan Perutu; Eirene Eunike
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.397

Abstract

The Sabbath controversy arose because Jesus tried to free people from many legally binding rules. Instead, Jesus wanted to state that religious leaders had interpretations that needed to be directed to the Sabbath that detailed it with so many rules that burdened the people. The legalist attitude towards the concept of the Sabbath in the lives of the people underwent many changes that made them face various challenges. It is necessary to research to consider that time which is a gift from God, is understood to be something of his own personal possessions and pleasures. Attempts to gain an understanding of the concept of the Sabbath are made by exegesis of grammatical analysis based on the structure of Matthew 12:1-8 as a text of choice to be dig which will be unearthed both from the background context and the wording of indicators relating to the Sabbath. The result of this research analysis shows that the main essence of the application of the Sabbath is the mercy of God. Thus believers can apply the Sabbath joyfully to being merciful to themselves by resting to refresh the body, soul, mind, and compassion for those in need.AbstrakKontroversi Sabat muncul karena Yesus mencoba untuk membebaskan orang dari banyak peraturan yang mengikat secara legalis. Sebaliknya, Yesus ingin menyatakan bahwa para pemuka agama memiliki penafsiran yang perlu diarahkan tentang Sabat yang merincikannya dengan begitu banyak aturan yang memberatkan umat. Sikap yang legalis terhadap konsep Sabat dalam kehidupan umat mengalami banyak perubahan yang membuat mereka diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Hal ini perlu diteliti untuk mempertimbangkan bahwa waktu yang adalah anugerah dari Tuhan dipahami menjadi sesuatu milik pribadi dan kesenangannya sendiri. Usaha untuk mendapatkan pemahaman tentang konsep Sabat dilakukan dengan analisis kritik gramatikal berdasarkan berdasarkan struktur Matius 12:1-8 sebagai teks pilihan yang akan digali baik dari konteks latar belakang maupun kata-kata indikator yang berkaitan dengan Sabat. Hasil dari analisis penelitian ini memperlihatkan bahwa esensi utama dari penerapan Sabat yaitu belas kasihan Allah. Dengan demikian orang percaya dapat menerapkan Sabat dengan penuh sukacita karena berbelas kasihan kepada diri sendiri dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh, jiwa, pikiran, dan berbelas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan.
Pengembangan Perilaku Cinta Damai melalui Biblioterapi Sjeny Liza Souisa; Hendrik Tuaputimain; Denissa A. Luhulima
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.350

Abstract

Gereja Protestan Maluku (GPM) Haria is one of the congregations in the Lease islands Klasis service area which continues to strive to foster and develop peace-loving behavior for children, adolescents, youth, and adults. This is done because of past experiences where there were frequent quarrels and disputes with the GPM Porto congregation, which not only impacted the loss of property but also lost lives. The conflict between GPM Haria and Porto congregations impacted not only the implementation of the learning process in schools and the congregation but the learning process was also eliminated. But there is also a feeling of insecurity and not peace in the two countries because of mutual suspicion of each other. The church has taken various steps to minimize and even prevent conflict from happening again. One of the steps used is bibliotherapy. This study aims to determine how much peace-loving behavior is developed through bibliotherapy. The results showed an increase or difference before and after the bibliotherapy treatment.  So bibliotherapy effectively improves adolescents' peaceful behavior in GPM Haria Lease islands Klasis, in Saparua island.AbstrakJemaat GPM Haria adalah salah satu jemaat yang ada dalam wilayah pelayanan Klasis Pulau-Pulau Lease, yang terus berupaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan perilaku cinta damai baik bagi anak, remaja, pemuda maupun orang dewasa. Hal ini dilakukan karena pengalaman-pengalaman masa lampau di mana sering terjadi pertengkaran dan perselisihan dengan jemaat GPM Porto dan  bukan hanya berdampak pada kehilangan harta benda tetapi juga kehilangan nyawa. Konflik yang terjadi antara jemaat GPM Haria dan Porto ini membawa dampak bukan hanya kepada pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah maupun di jemaat yakni proses pembelajaran ditiadakan. Tetapi juga muncul perasaan tidak aman dan tidak damai pada dua negeri, karena adanya saling curiga satu dengan yang lain. Untuk meminimalisir bahkan mencegah terjadi lagi konflik maka pihak gereja telah melakukan berbagai langkah. Salah satu langkah yang dipakai adalah melalui biblioterapi. Tujuan penelitian ini  adalah mengetahui seberapa  besar  pengembangan perilaku cinta damai melalui biblioterapi. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan atau ada  perbedaan  sebelum  dan  sesudah diberikan perlakuan biblioterapi, sehingga biblioterapi efektif dalam meningkatkan perilaku cinta damai remaja di jemaat GPM Haria Klasis Pulau-pulau Lease, di Pulau Saparua.
Implikasi Kepemimpinan Kristen Berdasarkan Kitab Hakim-Hakim 19:1-30 Selatieli Sihura; Agus Santoso; Marthin Steven Lumingkewas
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.395

Abstract

Leadership in the Bible is essential, and the election seems based on character and morals. This is also a fundamental problem in Judges 19:1-30 where there is a problem with the character and immorality of the Israelite leader. This article aims to explain Judges 19:1-30 and provide implications for Christian leadership. The method used is a historical criticism of the study of biblical theology analysis. The results of this study are a Christian leader who serves with a heart, recognizes the need for service, is spiritually sound, oriented to the congregation, has education for servants, and education for the congregation.AbstrakKepemimpinan dalam Alkitab sangat penting dan agaknya pemilihan itu didasarkan kepada karakter dan moral. Hal ini juga menjadi permasalahan tersirat di Hakim-Hakim 19:1-30 dimana muncul permasalahan karakter dan amoral dari pemimpin Israel. Artikel ini bertujuan menjelaskan Hakim-Hakim 19:1-30 dan memberikan implikasi pada kepemimpinan Kristen. Metode yang digunakan adalah historis kritis pada kajian analisis teologi biblika. Hasil penelitian ini adalah seorang pemimpin Kristen memiliki melayani dengan hati, mengenali kebutuhan pelayanan, spiritual yang baik, berorientasi pada jemaat, pendidikan bagi para pelayan, dan pendidikan bagi jemaat.

Page 2 of 2 | Total Record : 15