cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : 26147203     EISSN : 25799932     DOI : -
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang berkaitan dengan pelayanan Kristiani, dengan nomor ISSN: 2579-9932 (online), ISSN: 2614-7203 (print), diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1: Mei 2023" : 11 Documents clear
Memandang Wajah Orang Lain: Memahami Etika Paulus dalam Roma 12:9-21 Melalui Filsafat Tanggung Jawab Levinas Tinggi Tandi Payuk
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.443

Abstract

Konflik atau perselisihan dalam kehidupan manusia adalah hal yang tidak dapat terhindarkan, seringkali dalam perjumpaan dengan yang lain menjadi sebuah ancaman. Relasi antara manusia harus di rawat, khususnya dalam konteks Kekristenan, relasi itu dapat dinampakkan dalam sebuah sikap, atau etika untuk saling mengasihi dengan yang lain. Namun seringkali manusia hanya ingin mengasihi dengan maksud dan tujuan lainnya dalam arti kasih yang tidak tulus. Kasih merupakan sebuah hal yang harus di pahami serta direfleksikan dengan benar sebagai sebuah identitas orang yang percaya kepada Kristus. Artikel ini bertujuan untuk membaca etika yang dimaksudkan Paulus dalam Rom. 12:9-21 melalui etika tanggung jawab Emmanuel Levinas, karena kasih dan tanggung jawaba terhadap yang lain adalah sebuah hal yang penting untuk menjaga relasi yang baik dengan yang lain.
Eternal Livingness in Love: Refleksi Teologi Kristen terhadap Pemikiran David Benatar mengenai Kematian dan Kekekalan Jessica Novia Layantara
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.394

Abstract

David Benatar's philosophical views on death and immortality contradict Christian theology. However, Benatar argues that if theists look closely at his views, there is no significant contradiction between the two. Based on this argument, this article aims to reflect Benatar's view of death and immortality from the point of view of Christian theology. The question to be answered in this article: Does Benatar's argument contradict Christian theology, or is it capable of making an essential contribution to Christian theology, namely providing a philosophical and logical foundation for death and immortality? Using Jürgen Moltmann's theological views on death and immortality, this article aims to prove that there is no significant contradiction between Benatar's philosophical views and Moltmann's Christian theology on death and immortality, and can contribute to one another. This conclusion also echoes that philosophy and theology can go hand in hand without contradicting each other.AbstrakPandangan filosofis David Benatar tentang kematian dan kekekalan tampaknya bertentangan dengan teologi Kristen. Namun, Benatar berpendapat bahwa jika para teis melihat lebih cermat, tidak ada kontradiksi yang signifikan di antara keduanya. Berdasarkan argumen Benatar tersebut, artikel ini bertujuan untuk merefleksikan pandangan Benatar tentang kematian dan kekekalan dari sudut pandang teologi Kristen. Pertanyaan yang dijawab dalam artikel ini adalah: Apakah pandangan filosofis Benatar bertentangan dengan teologi Kristen, atau justru mampu memberikan kontribusi penting bagi teologi Kristen, yaitu memberikan landasan rasional-filosofis untuk memandang kematian dan kekekalan? Dengan menggunakan pandangan teologis Jürgen Moltmann tentang kematian dan kekekalan, artikel ini bertujuan untuk membuktikan bahwa tidak ada pertentangan yang berarti antara pandangan filosofis Benatar dan teologi Kristen Moltmann mengenai kematian dan kekekalan, bahkan keduanya dapat berkontribusi satu sama lain. Kesimpulan ini juga menegaskan bahwa filsafat dan teologi dapat berjalan beriringan satu sama lain. 
Kekhawatiran dalam Perspektif Teologis, Psikologis, dan Pendidikan Kristiani: Sebuah Tafsir Matius 6:25-34 Interdisipliner Frans Pantan; Onnie Lumintang; Laura Tarulina
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.469

Abstract

Worry is a common feeling that nearly every individual has faced throughout human history. Psychological research has generally shown that worry has a negative impact on both the mental and physical well-being of individuals. There is an implicit call in the belief that humans should not excessively worry about their lives, as found in the text of Matthew 6:25-34. This research seeks to reexamine worry through an interdisciplinary approach, involving its psychological aspects. The Gospel of Matthew is approached through hermeneutic analysis while simultaneously considering its psychological facets, which is referred to as 'interdisciplinary interpretation.' The culmination of this interdisciplinary meeting results in the thesis statement that the text of Matthew 6:25-34, when interpreted through an interdisciplinary lens, teaches that worry, though common to human experience, can be managed and overcome. This interpretive finding subsequently provides a proposal for the development of a Christian pastoral counseling approach to assist individuals in managing their worries. 
Pengalaman Kepenuhan Roh Kudus dalam Perspektif Epistemologi Pentakostalisme Junifrius Gultom; David E.S. Korengkeng
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.467

Abstract

The experience of the fullness of the Holy Spirit by speaking in tongues and its implementation in spiritual life activities is a matter of debate to this day. The pneumatological epistemology of Pentecostalism would be able to answer the need for dogmatic understanding in building a theological epistemology that changes every person in their life activities. The purpose of this paper is a biblical study of the fullness of the Holy Spirit explicitly speaking in tongues which will provide a philosophical and theological foundation in the Pentecostal epistemology perspective. The research method used was descriptive qualitative. The research results show that the experience of the fullness of the Holy Spirit in the Pentecostal tradition is considered a real manifestation of the divine presence. Participants in this study reported transformative experiences that included spiritual ecstasy, increased spiritual awareness, and receipt of spiritual gifts. Additionally, these experiences also influence their understanding of religious truth and lead to a deeper commitment to active religious practice. The epistemological perspective of Pentecostalism recognizes that religious knowledge is not only cognitive but also comes from deep spiritual experience. The experience of the fullness of the Holy Spirit is considered a valid source of knowledge and has the same authority as academic theology. Therefore, spiritual experience is the main basis for forming the beliefs and worldview of Pentecostal believers.
Peluang Perkawinan Transpuan Protestan melalui Inklusivitas Pemaknaan Hukum Kasih Stebby Julionatan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.439

Abstract

Kasih adalah ajaran utama dalam Kekristenan. Namun, ketika ajaran utama Kekristenan tersebut diperhadapkan pada hak-hak kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan, beragam permasalahan mulai timbul. Akibat perbedaan interpretasi, kasih tak lagi bersifat inklusif kepada “sesamamu manusia”. Agama justru menjadi hambatan terbesar terhadap penerimaan pada ketubuhan dan seksualitas kelompok transpuan. Tafsir atas teks-teks Alkitab menghakimi keberadaan tubuh, seksualitas, dan ekspresi mereka yang cair. Kerasnya permintaan pada pengakuan dan persamaan hak --termasuk legalisasi perkawinan, dituding sebagai tindakan yang “sesat” dan penyebab terjadinya bencana sebagaimana negeri Sodom yang dilenyapkan Allah. Melalui studi literatur, penelitian ini hendak melihat bagaimana Gereja selama ini memaknai Kasih untuk melihat tubuh dan seksualitas transpuan. Lalu, melalui pemaknaan yang inklusi terhadap Kasih, apakah ada jalan bagi para transpuan untuk memenuhi kebutuhan kemitraan mereka hingga pada jenjang perkawinan? Dengan metode fenomenologi yang berperspektif feminis penelitian ini menemukan empat hal. Pertama, sejumlah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti yang tak memiliki perspektif gender adalah penelitian yang bias dan diskriminatif terhadap kelompok minoritas seksual, khususnya transpuan. Kedua, penelitian yang tidak sensitif gender tersebut cenderung menggolongkan perkawinan transpuan sebagai perkawinan sesama jenis (same-sex marriage). Ketiga, Gereja dan pendeta jamak memakai tafsir heteronormatif yang menekankan bahwa perkawinan hanya diperkenankan Allah terjadi di antara laki-laki dan perempuan cis-gender. Dan keempat, pesan “kasihilah sesamamu manusia” yang selama ini dipakai Gereja dan adalah “kasihilah sesamamu manusia” yang mengecualikan kelompok minoritas, khususnya kelompok transpuan.
Model Rekonsiliasi Kultural dan Teologis Ritus “Pihe Ihi” Kabupaten Sabu Raijua Maglon Ferdinand Banamtuan
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.339

Abstract

Tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini adalah: 1). Untuk mengetahlui bagaimana proses ritus“pihi ihi“ sebagai model rekonsiliasi  kultural dan teologis dalam kaitan dengan pelecehan seksual dan kekerasan fisik di Desa Ballu Kecamatan Raijua Kabupaten Sabu Raijua Propinsi Nusa Tenggara Timur; 2). Untuk mengetahui makna yang tekandung dalam Ritual “Pihi ihi” bagi orang Sabu. 3). Untuk mengetahui pandangan teologis Kristen terhadap model rekonsiliasi budaya “pihe ihi” bagi Orang Sabu. Penulisan ini menggunakan Metode Penelitian deskriptif Kualitatif dengan jumlah informan sebanyak 5 orang untuk mewakili reprentasi dari masyarakat Desa Ballu Kecamatan Raijua.Hasil Penelitian bahwa ritus  rekonsiliasi Kultural (ritus pihe ihi  )dan rekonsiliasi Teologis sama-sama ada korban dalam mencapai sebuah perdamaian namun dengan korban yang berbeda. Dalam rekonsiliasi kultural yang menjadi korban adalah hewan sedangkan dalam rekonsiliasi teologis yang menjadi korban adalah Yesus Kristus sendiri sebagai korban perdamaian tersebut. Sehingga model rekonsiliasi budaya dapat dipakai sebagai kontekstualisasi dari rekonsliliasi teologis. Sehingga bukan hanya dalam teologi yang memiliki rekonsiliasi tetapi budaya juga memiliki model rekonsiliasinya sendiri. Kedua rekonsiliasi di aatasl juga sama-sama memiliki tujuan yang sama yaitu akhir damai dari sebuah konflik
Ketika Mendidik Anak dengan Kekerasan Tak Lagi Efektif: Meninjau Kembali Teks-teks Corporal Punishment pada Anak dalam Kitab Amsal Menggunakan Lensa Psikologis dalam Konseling Pastoral Gernaida Krisna R. Pakpahan; Eunike Wirawan; Andreas L. Rantetampang
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.470

Abstract

Children are in the most vulnerable position to experience injustice, neglect, suffering, and violence. Corporal punishment is a form of physical discipline, such as whipping or hitting, considered acceptable as a punishment for transgressions. Many religious figures, parents, and teachers justify this form of discipline, viewing it as a right of authority, sanctioned by the Book of Proverbs. Certain verses in the Book of Proverbs (e.g., Prov. 10:13; 13:24; 14:3; 23:13-14; 26:3) appear to legitimize education through violence on children. This stance appears to contradict research findings over the decades, stating that physical punishment yields more harm than good. This article attempts to revisit the verses on child violence in the Book of Proverbs using a psychological lens in pastoral counseling studies. Employing inductive reasoning and hermeneutics, it will be shown that corporal punishment verses in the Book of Proverbs fundamentally have a cultural context of their time and should be approached with caution in contemporary application. This is also due to psychological studies indicating that violence towards children, possibly intended as a form of education, leads to negative effects on their psychological development. Thus, the research thesis statement is that texts on child violence in the Book of Proverbs, when viewed through a psychological lens in pastoral counseling, necessitate a reevaluation of how parents educate children without violence. 
Sikap Karyawan BUMN Kristen terhadap Pekerja Rumah Tangga: Sebuah Refleksi Imamat 19:13 Saul Rudy Nikson Siagian
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.389

Abstract

Pekerja Rumah Tangga (PRT) adalah salah satu pekerjaan yang jasanya sangat diperlukan oleh masyarakat, termasuk karyawan Kristen. Meningkatnya kesejahteraan dan tingginya mobilitas masyarakat membuat PRT sangat dibutuhkan. PRT meskipun sangat dibutuhkan jasanya namun belum memiliki perlindungan hukum yang cukup sehingga sering menjadi korban dan dirugikan oleh pengguna jasanya. Sekalipun belum ada perlindungan hukum, seharusnya Karyawan Kristen menerapkan tuntunan Firman Tuhan, terutama Imamat 19:13 dalam memperlakukan PRT.  Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sikap karyawan Kristen terhadap PRT sesuai Imamat 19:13.  Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif berbentuk survey dan studi literatur. Subjek penelitian ini adalah karyawan dalam sebuah BUMN yang berjumlah 24 orang. Hasil penelitian yang didapat sebagai berikut: (1) Karyawan Kristen selaku pengguna PRT belum memiliki perjanjian kerja tertulis dengan PRT. (2) Karyawan Kristen belum memberikan upah yang layak  (3) Karyawan Kristen memperhatikan kesejahteraan keluarga PRT (4) Karyawan Kristen belum memberikan  fasilitas Kesehatan PRT. (5) Karyawan Kristen memiliki sikap yang ramah terhadap PRT (6) Sebagian Karyawan Kristen sudah mau berbagi injil dengan PRT  
Spiritualitas Postmodern yang Diversitas: Sebuah Pembacaan City of God Karya Agustinus Fransina Wattimena; Yohanes Eko T; Yusuf Kurniawan E
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.468

Abstract

Human life throughout history has never been devoid of spiritual struggles, even in the current postmodern era. The postmodern era is characterized by its recognition of diverse perspectives. The very nature of this diversity makes the postmodern era inherently relative and subjective. Consequently, the postmodern era is seen as a challenge to Christianity, which emphasizes final and absolute truth. This article aims to bridge the gap between postmodernism with its diversity and Christianity with its Christian spirituality that respects various sacred authorities. The experiences of Augustine, who, on one hand, affirmed various beliefs of his time while remaining rooted in the foundational teachings of early Christianity, serve as a significant spiritual model in the postmodern era. Specifically, Augustine's work, "City of God," is employed. Using hermeneutical methods, the researcher reexamines Augustine's spirituality and attempts to implement it as a model of postmodern spirituality. The ultimate thesis of this research is that "City of God" generates a dual spirituality, one that embraces diversity while also remaining firmly rooted in its faith tradition.
Pembentukan Citra Diri Remaja Kristen Melalui Pendidikan Kristiani Sadrakh Sugiono; Yudiahline Ruthasye Sodak
EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 7, No 1: Mei 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v7i1.471

Abstract

The adolescent period is a critical phase in an individual's self-image development, signifying not only a transition from childhood to adolescence. Self-image encompasses one's self-perception and evaluation, wielding influence over various facets of life, including behavior, emotional well-being, and social interactions. Factors like parental upbringing, peer relationships, and educational guidance contribute significantly to the formation of adolescent self-image. This research investigates the impact of Christian religious education on the shaping of self-image in Christian adolescents, utilizing a qualitative descriptive approach. The results highlight the pivotal role of Christian religious education, emphasizing instructional materials focused on Christology, Christian anthropology, and soteriology in molding adolescent self-image. The implications of these findings provide valuable guidance and recommendations for Christian educators, churches, and communities to develop more effective and comprehensive religious education programs. These programs will assist Christian adolescents in cultivating a robust and positive self-image firmly rooted in their faith.

Page 1 of 2 | Total Record : 11