cover
Contact Name
Arhanuddin Salim
Contact Email
arhanuddin@iain-manado.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaliqra@iain-manado.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Islam Iqra'
ISSN : 16935705     EISSN : 28412108     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN ISLAM IQRA' diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Manado bulan Juni dan Desember setiap tahun. Jurnal ini, berisi kajian seputar Pendidikan Agama Islam, Manajemen Pendidikan Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Pendidikan Guru Raudhatul Atfhal, Pendidikan Bahasa Inggris dan Pendidikan Bahasa Arab.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 2 (2019)" : 12 Documents clear
Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Al Qur’an dan Hadis Mohamad Syakur Rahman; Ervita Kairupan
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.156 KB) | DOI: 10.30984/jii.v13i2.966

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul Implementasi Model Pembelajaran Project Based Learning untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa pada mata pelajaran Al Qur’an Hadis di MTs Al-Inayah Kota Manado. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana penerapan model pembelajaran di MTs Al-Inayah Manado? (2) Bagaimana implementasi model pembelajaran Project Based Learning untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa di MTs Al-Inayah Manado? (3) Bagaimana kendala dan solusi dalam penerapan model pembelajaran Project Based Learning di MTs Al-Inayah Manado?Penelitan ini merupakan hasil Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII semester genap tahun akademik 2017/2018 yang berjumlah 20 siswa di MTs Al-Inayah Manado. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, yang terdiri dari empat tahap yaitu: perencanaan, tindakan, observasi/pengamatan, dan refleksi. Dan setiap akhir siklus dilakukan evaluasi hasil belajar siswa. Teknik analisis dan pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes tulisan dilihat dari ketuntasan hasil belajar, lembar observasi dan dokumentasi.Dari  hasil pengamatan diperoleh kondisi kelas  yang akan diteliti sebelum diberi tindakan dengan model pembelajaran Project Based Learning, yaitu keaktifan belajar siswa di MTs Al-Inayah Manado Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018 khususnya pada mata pelajaran Al Qur’an Hadis masih sangat rendah atau dapat dikatakan motivasi siswa kurang. Hal ini disebabkan oleh guru yang masih menggunakan pendekatan tradisional dan monoton yaitu penggunaan metode ceramah, dan pemberian tugas menulis kepada para siswanya. Pada hasil penelitian pra tindakan terlihat hanya 2 atau 10% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan belajar dengan nilai rata-rata 56, dengan jumlah nilai 1120. Maka hasil ini masih pada kategori sangat rendah. Setelah diterapkannya model pembelajaran Project Based Learning pada mata pelajaran Al Qur’an Hadis, keaktifan siswa sudah mulai baik dari observasi awal yang hanya menggunakan metode ceramah, di mana siswa sudah lebih aktif bertanya, menjawab dan menjelaskan materi yang telah disampaikan.Kata kunci:       Model Pembelajaran; Project Based Learning.  AbstractThis study is entitled Implementation of Project Based Learning Learning Model to improve student learning activeness in the subjects of the Qur'an Al Hadith in MTs Al-Inayah, Manado City. The formulation of the problem in this study are: (1) How is the application of learning models in MTs Al-Inayah Manado? (2) How is the implementation of the Project Based Learning learning model to improve student learning activities in MTs Al-Inayah Manado? (3) What are the constraints and solutions in applying the Project Based Learning learning model in MTs Al-Inayah Manado?This research is the result of Classroom Action Research. The subjects of this study were students of class VIII even semester 2017/2018 academic year totaling 20 students at MTs Al-Inayah Manado. This research was conducted in two cycles, which consisted of four stages: planning, action, observation, and reflection. And at the end of each cycle an evaluation of student learning outcomes is carried out. Analysis and data collection techniques in this study used a written test seen from the completeness of learning outcomes, observation sheets and documentation.From the observations obtained class conditions that will be examined before being given action with the Project Based Learning learning model, namely student learning activeness in MTs Al-Inayah Manado Semester II 2017/2018 Academic Year especially in the Qur'anic Hadith subjects are still very low or can be it is said that student motivation is lacking. This is caused by teachers who are still using the traditional and monotonous approach, namely the use of lecture methods, and giving writing assignments to their students. In the pre-action research results it was seen that only 2 or 10% of students reached the mastery learning criteria with an average grade of 56, with a total score of 1120. Then these results were still in the very low category. After applying the Project Based Learning learning model to the Qur'anic subjects of Hadith, student activity has begun both from the initial observation using only the lecture method, where students have been more active in asking questions, answering and explaining the material that has been delivered.Keywords:        Learning Model; Project Based Learning
Implementasi Kurikulum 2013 Revisi Sebagai Solusi Alternatif Pendidikan Di Indonesia Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Gina Nurvina Darise
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.485 KB) | DOI: 10.30984/jii.v13i2.967

Abstract

AbstrakDisrupsi teknologi, khususnya teknologi informasi telah mewarnai revolusi industri 4.0 sehingga mendorong perubahan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dalam bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Hal ini merupakan salah satu pemicu perlunya dilakukan revisi terhadap kurikulum 2013 sebagai antisipasi perkembangan dan kebutuhan abad 21. Kurikulum 2013 Revisi merupakan wujud penyempurnaan kurikulum yang berbasis karakter sekaligus berbasis kompetensi. Dalam implementasinya,kurikulum 2013 Revisi menuntut guru untuk mengembangkan pembelajaran dengan mengintegrasikan empat hal penting, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Literasi, Keterampilan Abad ke-21 (4C) dan Higher Order Thingking Skill (HOTS).Kata kunci: Revolusi Industri 4.0; Kurikulum 2013 AbstractDisruption of technology, especially information technology has colored the industrial revolution 4.0 so that it encourages changes in the needs and development of society in the field of life, including education. This is one of the triggers for the revision of the 2013 curriculum in anticipation of 21st century development and needs. 2013 Curriculum Revision is a form of perfecting a character-based and competency-based curriculum. In its implementation, the 2013 Revised curriculum requires teachers to develop learning by integrating four important things, namely Strengthening Character Education (SCE), Literacy, 21st Century Skills (4C) and Higher Order Thingking Skills (HOTS).Keywords: The industrial revolution 4.0; 2013 Curriculum
Pendidikan Keagamaan Di Era Global Rusman Langke
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.613 KB) | DOI: 10.30984/jii.v13i2.968

Abstract

AbstrakGlobalisasi memiliki pengaruh terhadap kehidupan kita memiliki dua sisi yaitu pengaruh positif maupun negatif. Untuk membentengi masyarakat, khususnya generasi muda dari berbagai pengaruh negatif globalisasi, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pendidikan keagamaan yang berwawasan global. Premis untuk memulai pendidikan keagamaan yang berwawasan gobal adalah bahwa globalisasi adalah sunatullah dan informasi atau pengetahuan tentang belahan dunia yang lain akan meningkatkan pemahaman dan kesadaran diri kita akan kebesaran Sang Pencipta.Pendidikan sebagai upaya dalam mencetak sumber daya manusia unggul, program-programnya diharapkan senantiasa berorientasi melahirkan generasi yang dewasa, berwawasan futuristik sekaligus antisipatif, serta peka dan peduli terhadap problematika yang akan muncul di masa depan. Dengan demikian, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab.Kata kunci :  Pendidikan Keagamaan; Era Global.  AbstractGlobalization has an influence on our lives has two sides, namely positive and negative influences. To fortify society, especially the younger generation from the various negative effects of globalization, one step that can be taken is to develop religious education with a global perspective. The premise to start a globally-oriented religious education is that globalization is sunatullah and information or knowledge about the rest of the world will increase our understanding and self-awareness of the greatness of the Creator.Education as an effort to produce superior human resources, its programs are expected to always be oriented towards giving birth to a generation of adults, futuristic as well as anticipatory, as well as sensitive and concerned about the problems that will arise in the future. Thus, education must be designed in such a way as to enable students to develop their natural and creative potential in an atmosphere of freedom, togetherness and responsibility.Keywords :   Religious Education; The Global Era
Kepemimpinan Pendidikan Islam Multikultural Ahmad Khozin
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.226 KB) | DOI: 10.30984/jii.v13i2.971

Abstract

AbstrakBanyaknya konflik maupun ungkapan-ungkapan rasis yang sering terjadi di Indonesia merupakan bukti bahwa dalam lingkaran sosial bangsa Indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentrisnya dan betapa rapuhnya konstruksi kebangsaan berbasis multikulturalisme di Indonesia. Sehingga tidak heran kalau belakangan ini rasa kebersamaan sudah tidak nampak lagi dan nilai-nilai kebudayaan yang dibangun menjadi terberangus.Maka, untuk mengatasi problematika tersebut diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang; sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, maka pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa.Oleh karena itu, diperlukan kepemimpinan yang tepat dan mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural dalam lembaga pendidikan. Pada gilirannya, out-put yang dihasilkan dari sekolah tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan lain.Kata kunci:  Multikultural; Kepemimpinan Pendidikan Islam. AbstractThe many conflicts and racist expressions that often occur in Indonesia are evidence that in the social circle of the Indonesian nation there is still a narcissistic-egocentric spirit and how fragile multiculturalism-based national construction in Indonesia is. So it is not surprising that lately a sense of togetherness is no longer visible and cultural values are being blazed.So, to overcome these problems a special strategy is needed to solve these problems through various fields; social, economic, cultural and educational. In this regard, multicultural education offers an alternative through the application of educational strategies and concepts based on the use of diversity in society, especially those of students.Therefore, appropriate leadership is needed and is able to instill the core values of multicultural education in educational institutions. In turn, outputs generated from schools are not only competent in accordance with the discipline they occupy, but are also able to apply religious values in understanding and valuing the existence of followers of other religions and beliefsKeywords:  Multicultural, Islamic Education Leadership.
KONSEP DASAR EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM Fitriani Rahayu
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.222 KB) | DOI: 10.30984/jii.v13i2.933

Abstract

Pendidikan islam bertujuan  untuk mengembangkan potensi fitrah yang ada pada diri manusia untuk menjadi insan kamil. Sehingga semua komponen yang ada dalam pendidikan  haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan islam. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, dibutuhkan evaluasi. Penelitian ini menggunakan studi literature dengan mengkaji beberapa buku dan pemikiran tokoh, peneliti akan membahas lebih dalam tentang evaluasi pendidikan islam baik secara epistimologi, terminology, aksiologi, dan ontology. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pendidikan islam, yang mencangkup seluruh komponen yang ada didalammnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pelaksanaannya evaluasi harus menerapkan beberapa prinsip, tekhik dan prosedur yang harus di ikuti demi baiknya hasil yang akan didapatkan.
Analisis Kritis Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Aan Yusuf Khunaifi; Matlani Matlani
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.456 KB) | DOI: 10.30984/jii.v13i2.972

Abstract

AbstrakPendidikan dalam suatu Negara merupakan salah satu bagian terpenting yang selalu mendapatkan perhatian yang cukup serius, pendidikan di indonesia dari waktu kewaktu  mengalami perubahan dan peningkatan secara segnifikan, segala bentuk kebijakan pendidikan akan tertuang dalam sistem pendidikan Nasional, kebijakan tersebut tidak lain merupakan hasil pemikiran dari para tokoh pendidikan dengan tujuan bagaimana sistem pendidikan nasional mampu menyatukan sebuah konsep terhadap kebutuhan masyarakat, maka pendidikan nasional secara kolektif harus mampu melakukan perubahan dengan mewujudkan bangsa yang cerdas dan bermartabat dengan berkemampuan yang luas, spiritual yang tinggi serta mempunyai akhlak yang mulia.Salah satu kebijakan pemerintah yang mendapat kritik dan penolakan oleh elemen masyarakat dan para elit pendidikan adalah UU Sisdiknas tahun 2003 yang memuat tentang sistem pendidikan Nasional, pemerintah pada saat penetapkan undang-undang nomor 20 tahun 2003 dengan serta merta tanpa mengkaji secara mendalam dengan berbagai pertimbangan, sehingga diskriminasi terhadap bangsa indonesia kerap terjadi. Indonesia memiliki asas keadilan yang  hal tersebut harus diperhatikan oleh seluruh pihak pemerintah sebagai pemimpin bangsa, namun dalam muatan UU nomor 20 tahun 2003 terdapat beberapa hal yang tidak sesuai dengan realitas dan merugikan ke satu pihak.  Maka dengan demikian undang-undang Sisdiknas sebagai hasil pemikiran yang di tetapkan sebagai kebijakan pemerintah yang akan mengatur tertang sistem pendidikan nasional di harapkan mampu menyatu dengan masyarakat dan mempunyai prinsip keadilan tanpa diskriminasi.Kata kunci:  Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 AbstractEducation in a country is one of the most important parts that always get quite serious attention, education in Indonesia from time to time changes and increases significantly, all forms of education policy will be contained in the National education system, the policy is nothing but the result of the thoughts of the education leaders with the aim of how the national education system is able to unite a concept of the needs of the community, then the national education as a collective must be able to make changes by creating an intelligent and dignified nation with broad, high spiritual abilities and noble character.One of the government policies that have been criticized and rejected by elements of the community and the education elite is the 2003 National Education System Law which contains the National Education System, the government at the time of enacting Law number 20 of 2003, without necessarily reviewing it in depth with a variety of considerations, so that discrimination against the Indonesian nation often occurs. Indonesia has the principle of justice which must be considered by all government parties as the nation's leader, but in the content of Law number 20 of 2003 there are several things that are not in accordance with reality and are detrimental to one party. Therefore the National Education System Law as a result of thought is determined as a government policy that will regulate the national education system. It is expected to be able to unite with the community and have the principle of justice without discrimination.Keywords:   Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003
Implementasi Kurikulum 2013 Revisi Sebagai Solusi Alternatif Pendidikan Di Indonesia Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 Gina Nurvina Darise
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jii.v13i2.967

Abstract

AbstrakDisrupsi teknologi, khususnya teknologi informasi telah mewarnai revolusi industri 4.0 sehingga mendorong perubahan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dalam bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Hal ini merupakan salah satu pemicu perlunya dilakukan revisi terhadap kurikulum 2013 sebagai antisipasi perkembangan dan kebutuhan abad 21. Kurikulum 2013 Revisi merupakan wujud penyempurnaan kurikulum yang berbasis karakter sekaligus berbasis kompetensi. Dalam implementasinya,kurikulum 2013 Revisi menuntut guru untuk mengembangkan pembelajaran dengan mengintegrasikan empat hal penting, yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Literasi, Keterampilan Abad ke-21 (4C) dan Higher Order Thingking Skill (HOTS).Kata kunci: Revolusi Industri 4.0; Kurikulum 2013 AbstractDisruption of technology, especially information technology has colored the industrial revolution 4.0 so that it encourages changes in the needs and development of society in the field of life, including education. This is one of the triggers for the revision of the 2013 curriculum in anticipation of 21st century development and needs. 2013 Curriculum Revision is a form of perfecting a character-based and competency-based curriculum. In its implementation, the 2013 Revised curriculum requires teachers to develop learning by integrating four important things, namely Strengthening Character Education (SCE), Literacy, 21st Century Skills (4C) and Higher Order Thingking Skills (HOTS).Keywords: The industrial revolution 4.0; 2013 Curriculum
Pendidikan Keagamaan Di Era Global Rusman Langke
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jii.v13i2.968

Abstract

AbstrakGlobalisasi memiliki pengaruh terhadap kehidupan kita memiliki dua sisi yaitu pengaruh positif maupun negatif. Untuk membentengi masyarakat, khususnya generasi muda dari berbagai pengaruh negatif globalisasi, salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah dengan mengembangkan pendidikan keagamaan yang berwawasan global. Premis untuk memulai pendidikan keagamaan yang berwawasan gobal adalah bahwa globalisasi adalah sunatullah dan informasi atau pengetahuan tentang belahan dunia yang lain akan meningkatkan pemahaman dan kesadaran diri kita akan kebesaran Sang Pencipta.Pendidikan sebagai upaya dalam mencetak sumber daya manusia unggul, program-programnya diharapkan senantiasa berorientasi melahirkan generasi yang dewasa, berwawasan futuristik sekaligus antisipatif, serta peka dan peduli terhadap problematika yang akan muncul di masa depan. Dengan demikian, pendidikan harus dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan para peserta didik mengembangkan potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasan, kebersamaan dan tanggung jawab.Kata kunci :  Pendidikan Keagamaan; Era Global.  AbstractGlobalization has an influence on our lives has two sides, namely positive and negative influences. To fortify society, especially the younger generation from the various negative effects of globalization, one step that can be taken is to develop religious education with a global perspective. The premise to start a globally-oriented religious education is that globalization is sunatullah and information or knowledge about the rest of the world will increase our understanding and self-awareness of the greatness of the Creator.Education as an effort to produce superior human resources, its programs are expected to always be oriented towards giving birth to a generation of adults, futuristic as well as anticipatory, as well as sensitive and concerned about the problems that will arise in the future. Thus, education must be designed in such a way as to enable students to develop their natural and creative potential in an atmosphere of freedom, togetherness and responsibility.Keywords :   Religious Education; The Global Era
Kepemimpinan Pendidikan Islam Multikultural Ahmad Khozin
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jii.v13i2.971

Abstract

AbstrakBanyaknya konflik maupun ungkapan-ungkapan rasis yang sering terjadi di Indonesia merupakan bukti bahwa dalam lingkaran sosial bangsa Indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentrisnya dan betapa rapuhnya konstruksi kebangsaan berbasis multikulturalisme di Indonesia. Sehingga tidak heran kalau belakangan ini rasa kebersamaan sudah tidak nampak lagi dan nilai-nilai kebudayaan yang dibangun menjadi terberangus.Maka, untuk mengatasi problematika tersebut diperlukan strategi khusus untuk memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang; sosial, ekonomi, budaya, dan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini, maka pendidikan multikultural menawarkan satu alternatif melalui penerapan strategi dan konsep pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang ada di masyarakat, khususnya yang ada pada siswa.Oleh karena itu, diperlukan kepemimpinan yang tepat dan mampu menanamkan nilai-nilai inti dari pendidikan multikultural dalam lembaga pendidikan. Pada gilirannya, out-put yang dihasilkan dari sekolah tidak hanya cakap sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberagamaan dalam memahami dan menghargai keberadaan para pemeluk agama dan kepercayaan lain.Kata kunci:  Multikultural; Kepemimpinan Pendidikan Islam. AbstractThe many conflicts and racist expressions that often occur in Indonesia are evidence that in the social circle of the Indonesian nation there is still a narcissistic-egocentric spirit and how fragile multiculturalism-based national construction in Indonesia is. So it is not surprising that lately a sense of togetherness is no longer visible and cultural values are being blazed.So, to overcome these problems a special strategy is needed to solve these problems through various fields; social, economic, cultural and educational. In this regard, multicultural education offers an alternative through the application of educational strategies and concepts based on the use of diversity in society, especially those of students.Therefore, appropriate leadership is needed and is able to instill the core values of multicultural education in educational institutions. In turn, outputs generated from schools are not only competent in accordance with the discipline they occupy, but are also able to apply religious values in understanding and valuing the existence of followers of other religions and beliefsKeywords:  Multicultural, Islamic Education Leadership.
KONSEP DASAR EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM Fitriani Rahayu
Jurnal Ilmiah Iqra' Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jii.v13i2.933

Abstract

Pendidikan islam bertujuan  untuk mengembangkan potensi fitrah yang ada pada diri manusia untuk menjadi insan kamil. Sehingga semua komponen yang ada dalam pendidikan  haruslah sesuai dengan tujuan pendidikan islam. Untuk mengetahui tercapai atau tidaknya tujuan tersebut, dibutuhkan evaluasi. Penelitian ini menggunakan studi literature dengan mengkaji beberapa buku dan pemikiran tokoh, peneliti akan membahas lebih dalam tentang evaluasi pendidikan islam baik secara epistimologi, terminology, aksiologi, dan ontology. Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang dilakukan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kelemahan suatu proses pendidikan islam, yang mencangkup seluruh komponen yang ada didalammnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pelaksanaannya evaluasi harus menerapkan beberapa prinsip, tekhik dan prosedur yang harus di ikuti demi baiknya hasil yang akan didapatkan.

Page 1 of 2 | Total Record : 12