cover
Contact Name
Bangun Canggih
Contact Email
jurnalbppk@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbppk@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan
Published by Kementerian Keuangan
ISSN : 20853785     EISSN : 26157780     DOI : -
Core Subject : Economy,
Jurnal BPPK merupakan publikasi ilmiah yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian di bidang keuangan negara. Terbit pertama kali tahun 2010. Artikel yang diterbitkan dalam Jurnal BPPK telah melalui proses review, evaluasi dan penyuntingan oleh Dewan Redaksi, Mitra Bestari dan Anggota Staf Editorial. Jurnal BPPK terbuka untuk umum, praktisi, peneliti, pegawai, dan pemerhati masalah keuangan negara.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 4 (2012): Jurnal BPPK (printed version)" : 5 Documents clear
THE OPPORTUNITY OF PROFIT SHARING SCHEME IMPLEMENTATION ON MONEYLENDER IN EXPANDING ISLAMIC BANKING SERVICE, EVIDENCE FROM TRADITIONAL MARKET IN SURABAYA, INDONESIA Agni Alam Awirya; Komalia Rahmayani
Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Vol 4 (2012): Jurnal BPPK (printed version)
Publisher : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan - Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48108/jurnalbppk.v4i0.56

Abstract

This research dealt with microeconomics finance that focused on the opportunity to implement profit sharing design on moneylenders in order to develop the principles of Islamic banking service. The method of this research was using descriptive analysis and logistic regression that was applied to two kinds of respondents; namely, Moneylenders as the fund owner and Customer as the fund user in the traditional market in Surabaya, Indonesia. The result showed that moneylenders agree to use profit sharing design more than their customer. This finding could be used as a good opportunity for Islamic banking to apply its principles into traditional markets. There were some variables which influence moneylenders to agree with the design of profit sharing, they were: initial capital and the number of customer with positive direction and the number of dependents with negative direction. On the other hand, variables that influence customer to agree with profit sharing scheme were initial capital, turnover and the understanding of profit sharing scheme with positive direction and age with negative direction.
PENYERAPAN ANGGARAN DI KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI Agung Sunarya Sulaeman; Andy Prasetiawan Hamzah; Rame Priyanto
Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Vol 4 (2012): Jurnal BPPK (printed version)
Publisher : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan - Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48108/jurnalbppk.v4i0.57

Abstract

Penyerapan anggaran merupakan salah satu IKU Kementerian Keuangan. Tahun 2010, realisasinya belum memenuhi target yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyerapan anggaran di Kementerian Keuangan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian menerapkan metode deskriptif analitis untuk menggambarkan temuan dalam penelitian, selanjutnya dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan terhadap variabel yang diduga berpengaruh terhadap penyerapan anggaran, dengan hipotesis Ho : Sampel (variabel) belum memadai untuk dianalisis lebih lanjut; H1 : Sampel (variabel) sudah memadai untuk dianalisis lebih lanjut. Selanjutnya variabel yang memadai akan ditaksir dengan menggunakan model dimana yi adalah Serapan Anggaran dan xi adalah Variabel bebas. Hasil penelitian menunjukkan penyerapan anggaran di satuan kerja di lingkungan Kementerian Keuangan belum optimal. Faktor yang berpengaruh adalah perencanaan yang tidak matang;, pelaksanaan yang tidak sesuai jadwal;, prosedur pelaksanaan yang menghambat;, dan kurangnya koordinasi antar instansi terkait. Uji Hipotesis terhadap variabel operasional penelitian menunjukkan bahwa semua variabel memadai untuk dianalisis lebih lanjut. Pengaruh variabel operasional terhadap penyerapan anggaran dapat ditaksir dengan menggunakan model: Serapani = -0.116*Strukturali - 0.165*Perfi + 0.335*Plani + 0.054*Otoritasi Variabel perencanaan kegiatan (Plan), variabel kelemahan struktural dan sistemik (Struktural) dan variabel kinerja dan koordinasi dengan instansi lain (Perf) berpengaruh signifikan, sedangkan variabel otoritas anggaran (Otoritas) tidak berpengaruh signifikan. Variabel Struktural dan Variabel Perf berpengaruh negatif, sedangkan variabel Plan dan Variabel Otoritas berpengaruh Positif. Berdasarkan analisis penelitian untuk mengoptimalkan penyerapan anggaran, disarankan ke pemerintah untuk melakukan prioritas perbaikan pada ke empat variabel beserta indikator-indikator yang membentuknya. Sedangkan untuk peneliti lain disarankan untuk meneliti instansi lain dan menggunakan variabel-variabel yang lebih mendetail.
FISCAL DECENTRALIZATION, GROWTH AND DISPARITY AMONG REGION IN INDONESIA Rifa Surya
Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Vol 4 (2012): Jurnal BPPK (printed version)
Publisher : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan - Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48108/jurnalbppk.v4i0.58

Abstract

One of the main reasons for decentralization in Indonesia was to provide every regions the same opportunity to develop themselves based on their needs. Ever since fiscal decentralization was implemented, the central government had conducted an intergovernmental transfer scheme to local governments, thereby transferring almost 30% of central government revenue to local governments. The purpose of this paper was to find evidence about the impact of fiscal decentralization in Indonesia and economic development indicators, namely growth and regional income disparity, during the period of observation, (1995–2008). The analysis was carried out using autonomy indicators, production indicators and expenditure per capita as fiscal decentralization measurement tools. A data panel approach was then implemented to find consistency in the effect of these indicators. The results showed that higher autonomy indicators which represent local government own source revenue were related to lower GDP per capita growth and higher regional income disparity after fiscal decentralization. Upgrading capacity and capability among bureaucrats at the local and central levels was recommended in order to achieve positive effects of decentralization. However, further research with comprehensive methods and fiscal decentralization measurement might still be needed to prove the precise effects of fiscal decentralization on economic development indicators in Indonesia.
INFORMASI PENDAPATAN DAN BELANJA SECARA AKRUAL “KESESUAIANNYA DENGAN PENDAPATAN DAN BEBAN DALAM LAPORAN OPERASIONAL Sri Suryanovi
Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Vol 4 (2012): Jurnal BPPK (printed version)
Publisher : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan - Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48108/jurnalbppk.v4i0.59

Abstract

Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual merupakan suplemen laporan keuangan tahunan Pemerintah Pusat yang dibuat berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor PER-62/PB/2009 Tahun 2009. Dengan terbitnya PP Nomor 71 Tahun 2010, banyak pihak yang mempertanyakan apakah Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual sudah sesuai dengan pendapatan dan beban yang dilaporkan dalam laporan operasional (untuk selanjutnya disingkat LO) dan apabila belum sesuai apa yang menjadi penyebabnya. Kajian ini dimaksudkan untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut. Dari hasil kajian diketahui, pertama, Informasi Pendapatan dan Belanja Secara Akrual belum sepenuhnya sesuai dengan pendapatan dan beban yang dilaporkan dalam LO. Hal ini disebabkan karena potensi perbedaan antara keduanya cukup besar. Kedua, perbedaan antara informasi pendapatan secara akrual dengan pendapatan LO dapat terjadi karena adanya saldo pendapatan ditangguhkan dan penjualan aset tetap. Ketiga, perbedaan antara informasi belanja secara akrual dengan beban dapat terjadi karena adanya pembelian aset tetap; adanya saldo belanja modal yang masih harus dibayar; adanya saldo belanja modal dibayar di muka; adanya penyusutan aset tetap; adanya saldo persediaan; adanya belanja barang untuk pengesahan persediaan dari hibah dan belanja modal untuk pengesahan aset tetap/aset lainnya dari hibah.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI YIELD SUKUK NEGARA RITEL SERI SR001 DI PASAR SEKUNDER TAHUN 2009-2011 Hardo Wibowo; Wawan Sugiyarto
Jurnal BPPK : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Vol 4 (2012): Jurnal BPPK (printed version)
Publisher : Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan - Kementerian Keuangan Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48108/jurnalbppk.v4i0.60

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari inflasi, kurs, dan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terhadap variabel dependen yaitu yield Sukuk Negara Ritel seri SR001 di pasar sekunder. Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Penelitian ini mengolah data secara bulanan dengan urutan waktu atau time series dari Februari 2009 sampai dengan November 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel inflasi berpengaruh negatif yakni jika mengalami kenaikan 1%, maka yield SR001 di pasar sekunder akan turun sebesar 0.00311, variabel kurs berpengaruh positif yakni jika mengalami kenaikan 1%, maka yield SR001 di pasar sekunder akan naik sebesar 0.00002, sedangkan variabel SBI berpengaruh negatif yakni jika mengalami kenaikan 1%, maka yield SR001 di pasar sekunder akan turun sebesar 0.00282.

Page 1 of 1 | Total Record : 5