cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2016)" : 5 Documents clear
IDENTIFIKASI DAN EVALUASI AKSES PUBLIK DAN OPEN SPACE DI KAWASAN SENG HIE PONTIANAK Gultom, Bontor Jumaylinda Br.; Purnomo, Yudi; Gunawan, Ivan
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.377 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16719

Abstract

Sungai merupakan milik publik, sungai tidak hanya bisa dimanfatkan untuk media transportasi, tapi juga merupakan kekayaan alam yang dapat dinikmati secara visual. Jika dapat dinikmati dengan leluasa, masyarakat juga dapat mengawasi pemanfaatan sungai. Sungai yang tidak dapat diawasi dapat mengakibatkan kerusakan dan pencemaran sungai. Kota Pontianak merupakan kota air (waterfront city) yang pengembangannya mengharuskan menghargai sungai sebagai pusat orientasi. Sebagai media yang membantu berjalannya aktifitas transportasi dan pelayanan kegiatan perdagangan, sungai Kapuas merupakan milik publik. Untuk itu sungai harus bisa diakses publik dan dapat dinikmati sebagai area pelayanan masyarakat. Masyarakat berhak mengakses ke arah sungai, menikmati pemandangan dan aktifitas sungai, sehingga dapat ikut menjaga fasilitas yang disediakan bagi kepentingan publik. Namun dewasa ini, aktifitas di tepian sungai Kapuas di wilayah Seng Hie terbatas hanya pada pengguna langsung dari kawasan waterfront tersebut, yaitu pengguna sampan dan yang sudah terbiasa melakukan aktifitas memancing. Kondisi tersebut menjadi latar belakang penelitian, yang bertujuan untuk menganalisis keberadaaan akses publik dan open space di kawasan waterfront Seng Hie, serta apakah akses publik dan open space yang tersedia sudah memudahkan masyarakat untuk berhubungan langsung dan menikmati area waterfront, sehingga sesuaian dengan kaidah waterfront. Penelitian dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu mengidentifikasi akses publik dan open space di kawasan waterfront Seng Hie dan evaluasi kesesuaian dengan kaidah waterfront. Kawasan waterfront Seng Hie, memiliki keunikan yang memberi karakter yang menjadi citra Kota Pontianak.Anmun, berikut adalah hasil temuan dalam penelitian ini. Akses publik dan open space belum mampu menarik perhatian pengunjung. Akses yang berhadapan dengan jalan kebanyakan ditutupi dengan adanya PKL yang kumuh dan membuat orang tidak tertarik untuk berkunjung. Akses yang tersedia beragam lebar dan kondisi fisiknya, ada yang permanen namun ada juga yang masih menggunakan kayu dengan konstruksi yang rusak dan sudah tua. Kawasan ini telah dilengkapi dengan adanya promenade namun belum bisa melayani aktifitas publik dan memberi kenyamanan pada pengunjung. Terdapat aktifitas unik yaitu penyeberangan sungai menggunakan sampan. Tapi, belum terdapat sarana untuk bersosialisasi dengan maksimal. Promenade belum memberikan rasa nyaman dan aman, karena belum tersedia pagar pembatas agar pengunjung tidak jatuh ke sungai River is a public property. The river is can not only be used for the transportion, but also as a natural resource that can be enjoyed visually. If it can be enjoyed freely, people can also controll the use of the river. A river that can not be monitored can make the river damage and create a pollution. Pontianak is a riverfront city which it development requires a river as the center of the development orientation. As the transport medium and service trade, the Kapuas river should be accessible to the public and can be enjoyed as a public area. The public have a right to access the river, enjoy the scenery and river activities, and uses the facilities provided. In fact, the activity on the banks of the Kapuas river in the Seng Hie area, strictly limited to the direct users of the waterfront area. Communities outside the region can not enjoy waterfront area freely.This study aimed to analyze the existence of public access and open space in the Seng Hie  area, whether it meets the requirements according to the rules of  designing waterfront region. Stages of analysis used in the study consists of two phases, which is identifies public access and open space in the Seng Hie region and evaluate the suitability of the first stage identification result to the rules of designing waterfront region.Seng Hie area has a unique character that gives the image of the city of Pontianak. This area has the potential to be developed. This area already has the appeal of the inherent function, namely trade. This makes this area very easily become a magnet to invite more people to visit.REFERENCESBreen, Ann dan Dick Rigby. (1994). Waterfront, Cities Reclaim Their Edge. Mc.Graw Hill. New YorkBreen, Ann dan Dick Rigby. (1996). The New Waterfront: A Worldwide Urban Success Story. Mc.Graw Hill. New YorkDepartment of City Planning, Waterfront Urban Design Technical Advisory Committee. (1997). The Port of San Francisco Waterfront Design & Access: An Element of the Waterfront Land Use Plan, Port of San Francisco. San Francisco.Garnham, Harry Launce. (1985) Maintaining the Spirit of Place: a Process for the preservation of Town Character. PDA Publisher Corp. MadisonGarnham. H. L. (1976). Maintaining the Spirit of Place: A Guidebook for Citizen/professional Participation in the Preservation and Enhancement of Small Texas Towns.  A & M University Printing. Texas.Jumaylinda. (2007). Kualitas Visual Fasad Bangunan Komersil Seng Hie. Thesis. UGM. YogyakartaMaryono, Agus; Parikesit, Danang. (2003). Transportasi Sungai Mulai Ditinggalkan. Kompas, 01 Mei 2003Wrenn, Douglas M, dkk. (1983). Urban Waterfront Development. Urban Land Institute. Michigan
FILOSOFI DAN PENERAPAN KONSEPSI BUNGA PADMA DALAM PERWUJUDAN ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI Paramadhyaksa, I Nyoman Widya
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.591 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16720

Abstract

Padma adalah sebutan bunga teratai merah dalam bahasa Sanskerta. Padma tumbuh secara alami di media lumpur dengan kandungan air yang cukup. Akarnya tumbuh menjalar di media tanah, batangnya terendam di air, sedangkan daunnya yang lebar mengapung di permukaan air. Bunga padma yang sedang mekar berada di atas permukaan air, menengadah, bersih dari noda lumpur, dengan kelopaknya yang merekah sempurna ke segala arah. Karakter fisik padma yang sedemikian rupa ini telah lama melahirkan ilham dijadikannya padma sebagai bunga suci dalam ajaran Hindu dan Buddha. Dalam seni lukis dan seni arca timur, padma juga sering dijadikan lapik atau atribut yang digenggam tokoh dewa-dewi tertentu. Di Bali, padma juga dijadikan sebagai konsepsi dasar wujud bangunan suci dan arah mata angin. Kelopak-kelopak bunga padma yang merekah sempurna sering kali dikaitkan dengan keberadaan delapan arah mata angin utama yang diyakini dijaga oleh para dewata utama pula. Tulisan ini merupakan ringkasan dari suatu kajian yang menerapkan metode hermeneutik tentang filosofi bunga padma dan keterkaitannya dengan konsep arah mata angin utama yang dikenal dalam tatanan arsitektur tradisional Bali. Pada beberapa bagian juga akan dipaparkan gambaran wujud penerapan konsepsi bunga padma tersebut dalam berbagai perwujudan arsitektur tradisional Bali. Hasil akhir penelitian ini menunjukkan bahwa Konsepsi Padma ini telah terejawantahkan dalam tata ruang Pulau Bali, tata mandala pura, seni bangunan suci, dan seni ikonografis arca tradisional Bali. Padma refers to red water lily in Sanskrit. Padma grows naturally in the mud media with enough water content. Its roots spread in the soil planting media, the stem is submerged in water, while the leaves float on the water surface. Water lily flower blooms above the surface of the water, looking up, clean from mud, with petals that splitting all directions. Such padma’s physical characteristics have brought inspiration so that it becomes a sacred flower in Hinduism and Buddhism. In Eastern art, padma is often used as a pedestal or character attributes of certain gods or goddess. In Bali, padma serves as the basic concept of the sacred structure form and eight directions. The splitting petals of padma are often associated with the presence of the eight cardinal directions guarded by eight major gods. This paper is a summary of the study which applied the methods of philosophical hermeneutics on the philosophy of padma and its relevance to the concept of the main wind direction known in the order of traditional Balinese architecture. In some parts, it is also described the application description of Padma concept various embodiments of the Balinese traditional architecture. The final result of this research shows that Padma concept applied on Bali island masterplan, Hindu temple mandalas, holy buildings and iconographic of traditional Balinese sacred statues.REFERENCESAltman, Nathaniel (2002). Sacred Water: The Spiritual Source of Life. New Jersey: Paulist Press.Beer, Robert (2003). The Handbook of Tibetan Buddhist Symbols. Chicago: Serindia Publications, Inc.Debroy, Bibek dan Dipavali Debroy (2005). The History of Puranas. New Delhi: Bharatiya Kala Prakashan.Dwipayana, A. A. G. N. Ari dan Putra, I Nyoman Darma (2004). Bali Menuju Jagaditha: aneka perspektif. Denpasar: Pustaka Bali Post.Eiseman, Fred B. dan Margaret H. Eiseman (1989). Bali, Sekala and Niskala: Essays on religion, ritual, and art. Volume 1. London: Periplus Editions.Gupte, Ramesh Shankar (1980). Iconography of the Hindus, Buddhists, and Jains. Delhi: D. B. Taraporevala Sons.Heine-Geldern, Robert (1956). Conceptions of State and Kingship in Southeast Asia. New York: SEAP Publications.Kapur, Sohaila (1983). Witchcraft in Western India. New Delhi: Orient Longman.MacDonell, Arthur Anthony (1974). A Prctical Sanskrit Dictionary: with transliteration, accentuation, and etymological analysis throughout. London: Oxford University Press.Manuaba, Adnyana dan Supartha, Wayan (1999). Bali dan Masa Depannya. Denpasar: Penerbit Bali Post.Miksic, John N (1995). The Legacy of Majapahit. Singapore: National Heritage Board.Munandar, Agus Aris (2005). Istana Dewa Pulau Dewata: Makna Puri Bali Abad ke-14-19. Depok: Komunitas Bambu.Munandar, Agus Aris (2008). Ibukota Majapahit: Masa Jaya dan Pencapaian. Depok: Komunitas Bambu.Phalgunadi, I Gusti Putu (1991). Evolution of Hindu Culture in Bali: From the Earliest Period to the Present Time. Delhi: Sundeep Prakashan.Scheurleer, Pauline C. M. Lunsingh, dkk. (1988). Ancient Indonesian Bronzes: A Catalogue of the Exhibition in the Rijksmuseum Amsterdam with a General Introduction. Leiden: Brill Archive.Thompson, Richard L (2007). The Cosmology of the Bhagavata Purana: Mysteries of the Sacred Universe. Delhi: Motilal Banarsidass Publisher.Wiana, Ketut (2004). Mengapa Bali disebut Bali. Denpasar: Paramita
TIPE SETTING TERITORI TERAS AKIBAT AKTIVITAS TAMBAHAN PENGHUNI DI PERMUKIMAN PESISIR SUNGAI KAPUAS Nurhamsyah, Muhammad; Saputro, Nicko Maindra
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.336 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16721

Abstract

Teras merupakan ruang tambahan yang berfungsi untuk mewadahi aktivitas tambahanpenghuni rumah. Teras juga berperan sebagai ruang transisi yang bersifat publik. Pemakaianteras yang fleksibel merupakan salah satu alasan terbentuknya teras. Teritori teras dapattercipta dari pola perilaku penghuni yang melakukan kegiatan di teras yang berulang dankonstan. Lokasi penelitian berada di daerah pesisir kampung Bansir Laut, KecamatanPontianak tenggara, Kalimantan Barat. Topologi permukiman kampung Bansir yangmerupakan permukiman pinggiran sungai memiliki karakter permukiman yang dibangundiatas air. Teritori yang tidak jelas karena rumah yang didirikan berada diatas air merupakanalasan pemilik rumah membentuk suatu penanda atau batasan teritori rumahnya. Berdasarkanalasan tersebut dibentuklah teritori teras yang disesuaikan dengan kebutuhan dan mendukungaktivitas dalam teras. Permukiman kampung Bansir yang merupakan permukiman multi etnisdan berada di pesisir sungai, meciptakan pola perilaku yang khas dan dipengaruhi olehkeberadaan sungai Kapuas. Sehingga menciptakan karakteristik setting-setting tipe teras yangsama, namun memiliki fungsi teras yang berbeda. Penelitian ini hanya membahas khususterciptanya setting teritori teras yang dipengaruhi kebiasaan atau perilaku pemilik rumah danperuntukan teras sebagai ruang aktivitas tambahan. Dari hasil penelitian ini menghasilkandata mengenai karakteristik tipe setting teritori teras di pesisir sungai kampung Bansir The terrace is an additional space that serves to accommodate the additional residents. A flexible use of the terrace is one of the reasons for the formation of terraces. Territory patio can be created from the occupant behavior patterns that have activities in the patio repetitive and constant. The research location is at Bansir Laut village, sub-district of southeast Pontianak, West Kalimantan. Bansir village settlements topology which is a riverside settlement has the character of settlements built on the water. Territories that are not clearly established because the house is above the water is the reason homeowners form a boundary marker or their home territory. Based on these reasons, established territory of terrace tailored to the needs and support the activities of the terrace. Thus, creating the same characteristic of the porch/terrace setting, with a different function. This research only discusses the creation of setting that influenced by the habits or behaviors from the homeowners and the allocation of the terrace as an additional activity space. From the results of this study, it generates data on the characteristics of the territory setting type of the terraces at the river Bansir villageREFERENCESHaryadi, B. Setiawan (1996). Arsitektur Lingkungan dan Perilaku, Suatu Pengantar ke Teori, Metodologi  dan Aplikasi, Direktorat Jendral Pendidikan. YogyakartaHelmi, Avin Fadilla,(1999). Beberapa teori psikologi lingkungan, Universitas Gadja Mada. YogyakartaLaurens, Joyce M (2001). Studi Perilaku Lingkungan, Percetakan Universitas Kristen Petra. SurabayaLaurens, Joyce M (2004). Arsitektur dan Perilaku Manusia, Grasindo. JakartaPrabowo, Hendro (1998). Arsitektur Psikologi dan Masyarakat, Universitas Gunadarma. Jakarta
KARAKTERISTIK FASAD BANGUNAN RUMAH KOMPAK Apriyanti, Rahmatika; Alhamdani, Muhammad Ridha
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.795 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16722

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh sumber informasi yang sangat kurang mengenaikarakteristik fasad rumah kompak yang ada di Indonesia. Sehingga tujuan dari penelitian iniadalah menganalisa karakteristik fasad pada beberapa rumah kompak yang ada di Indonesia.Rumah kompak merupakan rumah yang memiliki keselarasan antara desain rumah danfurnitur. Konsep pemanfaatan ruang pada rumah kompak adalah pemanfaatan furnitur secaramaksimal karena furnitur adalah bagian dari ruang. Rumah kompak memiliki karakter khususterutama pada tata ruang dan fasad. Fasad rumah kompak terbentuk karena pada umumnyakonsep rumah kompak adalah simple dan juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. This research is motivated by the lack of resources about the chacarteristics of compact house facade. This research is aimed to analyze the characteristics of several facades of the compact house in Indonesia. Compact house is a house which have a balance between  the house and its funiture. The space allocation concept  inside the compact house applied by maximazing by the furniture because it is considered as a part of the space. The compact house have a specific characteristic especially in the space arrangement and the facade. The compact house facade formed in the simple concept and influenced by the surrounding.REFERENCESAdmadjaja, Jolanda Srisusana., Meydian Sartika Dewi (1999). Bab 4 Unsur Rupa Sebagai Elemen Komposisi. Gunadarma. JakartaAkmal, Imelda (2012). Compact House. Imaji. JakartaAkmal, Imelda (2012). Small & Budget House. Imaji. JakartaAkmal, Imelda (2013). Tropical Modern. Imaji. JakartaChing, Francis D.K (2008). Arsitektur:Bentuk,Ruang,danTatanan(EdisiKetiga). Erlangga.JakartaDewi, Ni Made Emmi Nutrisia. (2014). Kajian Interior Elemen Pembentuk  Dan  Pelengkap Pembentuk  Ruang. Program Studi Desain Interior, Sekolah Tinggi Desain BaliFauzy, Bachtiar., Purnama Salura., Agnes Kurnia (2013).  Sintesis Langgam Arsitektur Kolonial  Pada  Gedung  Restauran ‘Hallo Surabaya’ Di Surabaya . Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Katolik ParahyanganFitriyanin (….). Metode Penelitian. Universitas Komunikasi Indonesia. BandungKrier, Rob (2001). Komposisi Arsitektur. Erlangga. JakartaPujantara, Ruly (2010). Karakteristik  Fasade  Bangunan Peninggalan  Kolonialisme  Dan Sebaran Spasialnya Di Kota MakassarSaraswati, A.A.Ayu Oka. (2006). Bale Kulkur Sebagai Bangunan Penanda Pendukung Karakter Kota Budaya. Dosen Sejarah Arsitektur, Universitas Udayana BaliUtami., Mario Wibowo., Abdul Jabbar Faruk (2014). Kajian Bentuk dan Fasad Hotel Gino Feruci Bandung. Jurusan Teknik Aristektur, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Institut Teknologi Nasional BandungWidaningsih, Lilis (2004). Karakteristik Fasade Bangunan Factory  Outlet Di  Jalan Ir. H. Djuanda Bandung. Jurusan Teknik Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung
KARAKTERISTIK MEKANIS DAN PERILAKU LENTUR BALOK KAYU LAMINASI MEKANIK Putri, Ratna Prasetyowati; Yoresta, Fengky Satria
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.07 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16717

Abstract

Penggunaan paku atau baut maupun kombinasinya dengan perekat sebagai penghubungantar lamina pada balok kayu laminasi akan mempengaruhi karakteristik mekanis danperilaku keruntuhan balok tersebut. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristikmekanis dan menganalisa perilaku lentur balok kayu laminasi mekanik. Tiga tipe baloklaminasi digunakan dalam penelitian ini, ditambah balok glulam sebagai kontrol. Balok tipe 1menggunakan baut/paku di sepanjang bentang sebagai penghubung antar lamina. Balok tipe 2hanya menggunakan paku/baut pada sepertiga bentang di kedua ujung balok, sedangkan padasepertiga bentang lainnya menggunakan perekat. Paku atau baut pada balok tipe 3ditempatkan pada sepertiga bentang di tengah balok dan sisanya menggunakan perekat.Pengujian lentur dilakukan dengan metode one point centre loading dengan jarak antartumpuan 90cm. Hasil penelitian menyimpulkan balok tipe 3 memiliki nilai ModulusElastisitas (MOE) tertinggi dibandingkan balok tipe 1 dan tipe 2. MOE balok laminasitertinggi terdapat pada balok laminasi-paku diameter 0.3 cm tipe 3 (52162.95 kg/cm2)sedangkan terendah pada balok laminasi-paku diameter 0.3 cm tipe 1 (11077.41 kg/cm2).Modulus of Rupture (MOR) tertinggi terdapat pada balok laminasi-paku diameter 0.3 tipe 3(368.16 kg/cm2) dan terendah pada balok laminasi-baut diameter 0.5 cm tipe 3 (207.36kg/cm2). Balok kontrol memiliki nilai MOE dan MOR tertinggi dibandingkan semua baloklaminasi mekanik. Posisi penempatan baut, paku, dan perekat pada balok laminasi hanyaberpengaruh terhadap nilai MOE. Semua kerusakan yang ditemukan pada balok laminasimekanik adalah berupa kerusakan lentur dan geser antar lamina The use of nails or bolts or its combination with adhesive as connector between lamina on laminated wood beams will affect the mechanical characteristics and collapse behavior of the beam. This study aims to determine the mechanical characteristics and analyze the flexural behavior of mechanical-laminated wood beams. Three types of the mechanical-laminated beams used in this study beside glulam beams as control. The type 1 using bolts/nails along the span as a connector between laminas. Beam type 2 only using nails/bolts on the one-third span at both ends of the beam, while adhesive on the other space of span. Nails or bolts on beam type 3 is placed on the one-third span at the middle of the beam, and the other space using adhesive. Bending test was conducted by using one-point centre loading method with 90 cm of span. The study concluded that beam type 3 has the highest value of Modulus of Elasticity (MOE) compared to beam type 1 and type 2. The highest MOE for laminated beams is found on nail-laminated beam with diameter of 0.3 cm type 3 (52162.95 kg/cm2) while the lowest one is on nail-laminated beam with diameter of 0.3 cm type 1 (11077.41 kg/cm2). The highest Modulus of Rupture (MOR) is found on nail-laminated beam with diameter of 0.3 cm type 3 (368.16 kg/cm2), and the lowest one is on bolt-laminated beam with diameter of 0.5 cm type 3 (207.36 kg/cm2). The control beam has the highest value of MOE and MOR compared to all mechanical-laminated wood beams. Position of bolts, nails, and adhesive on the laminated beams is only affects to MOE. All damage found on the mechanical-laminated beams is in form of flexural collapse and shear failure among laminas.REFERENCESAnshari, B (2006). Pengaruh variasi tekanan kempa terhadap kuat lentur kayu laminasi dari kayu meranti dan keruing. Civil Engineering Dimension. 1(8):25-33.Gere, JM dan Timoshenko, SP (2000). Mekanika Bahan. Suryoatmono B, penerjemah; Hardani W, editor. Jakarta (ID): Penerbit Erlangga. Terjemahan dari: Mechanics of Material Fourth Edition.[JAS] Japanese Agricultural Standard (2003). Glued Laminated Timber. JAS 234:2003.Mardikanto, TR., Karlinasari, L., Bahtiar, ET (2011). Sifat Mekanis Kayu. Bogor (ID): IPB Press.Moody RC., Hernandez, R., Liu, JY (1999). Glued structural members. Di dalam: Wood and Handbook, Wood as Engineering Material. Madison, WI: USDA Forest Service, Forest Product Laboratory.P3HH (2008). Petunjuk Praktis Sifat-Sifat Dasar Jenis Kayu Indonesia. Indonesia (ID): Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) ITTO Project Pd 286/04.Sadiyo, S., Wahyudi, I., Yeyet (2011). Pengaruh diameter dan jumlah paku terhadap kekuatan sambungan geser ganda tiga jenis kayu. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Hutan. 4(1): 26-32.Widiati, KY (2001). Pengaruh Tekanan dan Waktu Tekan  terhadap Keteguhan Rekat dan Penetrasi Perekat pada Kayu Lamina Prosiding Seminar Nasional IV MAPEKI; 6-9 Agustus 2001; Samarinda (ID).Yap KHF (1999). Konstruksi Kayu. Bandung (ID): Trimitra Mandiri

Page 1 of 1 | Total Record : 5