cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2017): June" : 6 Documents clear
PENGARUH JARINGAN PERDAGANGAN GLOBAL PADA STRUKTUR WILAYAH DAN KONFIGURASI SPASIAL PUSAT PEMERINTAHAN KESULTANAN-KESULTANAN MELAYU DI KALIMANTAN BARAT Fery Andi, Uray
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.532 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20395

Abstract

Lokasi pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat berada di sepanjang tepian sungai. Sungai menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan kesultanan, yaitu terkait dengan fungsinya sebagai sumber kehidupan dengan beragan jenis flora dan fauna, sebagai aksesibilitas dan jalur transportasi serta komunikasi. Keterbatasan wilayah tepian sungai menyebabkan perkembangan pusat kesultanan melebar sepanjang tepian sungai karena wilayah daratan masih berupa hutan dan kurang aman. Perkembangan aktivitas perdagangan global pada masa pemerintahan kesultanan yang semakin pesat menyebabkan jalur sungai semakin ramai dilalui oleh pedagang lokal, regional dan internasional. Keberadaan kongsi dagang Belanda (VOC) hingga menjadi pemerintahan Hindia Belanda turut mempengaruhi perkembangan pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jaringan perdagangan global terhadap struktur wilayah Borneo Barat dan konfigurasi spasialpusat pemerintahankesultanan-kesultanan Melayu di Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu dengan mengetahui perkembangan sistem jaringan perdagangan global dan korelasinya dengan sejarah pembentukan wilayah kesultanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan jaringan perdagangan mempengaruhi struktur wilayah Borneo Barat dengan sistem hulu-hilir dan konfigurasi spasial wilayah pusat pemerintahan kesultanan Melayu yang terbatas dan melebar sepanjang tepian sungai. Kata-kata kunci: jaringan perdagangan, struktur wilayah, konfigurasi spasial, kesultanan Melayu, Kalimantan Barat  THE INFLUENCE OF GLOBAL TRADING NETWORK ON THE MALAY SULTANATES CENTRAL OF GOVERNMENT STRUCTURE AND SPATIAL CONFIGURATION IN WEST KALIMANTANMalay sultanates central government in West Kalimantan were located along the banks of the river. The river became very important factor in the life of sultanates, which was related to its function as a source of life with a variety of floras and faunas, as well as accessibility, transportation lines and communication. Limitations of the riverbank area led to the development of the center of sultanates which extended along the river banks, because land area were still forested and less secure. The development of global trade activities during the reign of sultanates, which grew rapidly, led to increasingly crowded river path, traversed by local, regional and international traders. The existence of Dutch trade partnership (VOC) and later became the Dutch East Indies, also influenced the spatial development of administrative centers in West Kalimantan Malay sultanates. The purpose of this study was to determine the influence of global trading network on the spatial structure of Westeer Borneo Afdelling and on spatial configuration of the Malay sultanates region in West Kalimantan. The study was conducted using historical method, by mapping the development of a global trading network system and its correlation with the history of the region formation of the sultanates. The results showed that the trading systems and networks affected the structure of afdelling by upstream and downstream system, and the spatial configuration of the central region of Malay sultanates government became limited and spread along the riverbanks. Keywords: trading network, regional structure, spatial configuration, Malay sultanates, West Kalimantan REFERENCES_______. Tanpa Tahun. Sejarah Kerajaan Tanjungpura-Matan. Tanpa Penerbit. Andi, Uray Fery. (2016): Sejarah Perkembangan Arsitektur Istana Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat, Disertasi Doktor Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Bandung Barnet, Jonathan. (1974): Urban design as public policy: Practical methods for improving cities, Architectural Record Books Collins, J. T. (2001). Contesting Straits-Malayness : The Fact of Borneo. Journal of Southeast Asian Studies,32(3), 385–395. Coedes, George. (2010). Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Jakarta Damayanti, R., dan Handinoto. (2005). Kawasan “pusat kota” dalam perkembangan sejarah perkotaan di Jawa.Dimensi Teknik Arsitektur, 33 (1),34 – 42. De Graaf, H.J. & Pigeaud, T.H. (1989). Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan KITLV. Dick, HW & Rimmer, PJ, 1998: Beyond the third world city: the new urban geography of South-east Asia’, Urban Studies, vol. 35, no. 12, Enthoven, J. J. . (2013)Sejarah dan Geografi Daerah Sungai Kapuas Kalimantan Barat, Terjemahan Bijdragen Tot De Geographie van Borneo’s Wester-Afdeeling 1905. (P. O. C. Yeri, Ed.) (1st ed.), Pontianak, Institut Dayakologi. Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lindblad, J. T. (2012). Antara Dayak dan Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942 (1st ed.). Jakarta: KITLV-Jakarta. Leur, J. C. van. (1967). Indonesia Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History, The Hague, The Hague: W. Van Hoeve Publishers. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lontaan, J.U. (1975). Sejarah, Hukum Adat, dan Adat Istiadat Kalimantan-Barat. Pontianak: Pilindo. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Rahman, Ansar. (2000). Perspektif Berdirinya Kota Pontianak. Pontianak: Tanpa Penerbit.Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Reid, A. (2011). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2: Jaringan Perdaganga Global (2nd ed.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Usman, S. (2011). Kota Pontianak Sedjak Tempo Doeloe: Album dan Dokumen Masa Lampau. Pontianak. Ricklefs, M. C. (2010). Sejarah Indoensia Modern 1200-2008, Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta. Schutte, G.J, ed. (1994). State and Trade in Indonesian Archipelago, KITLV Press, Leiden Veth, P. (2012). Borneo Bagian Barat: Geografis, Statistik, Historis Jilid 1, Terjemahan Borneo’s Wester-Afdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch 1854, terjemahan oleh P. O. C. Yeri., Pontianak, Institut Dayakologi
WATER RESISTANCE OF RECYCLED PAPER PANEL Rani Suryandono, Alexander; Wihardyanto, Dimas
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.923 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20392

Abstract

Recycled paper has many benefits, from saving woods to reducing carbon footprints. Industrialized recycled paper were mainly made in developed countries. These processes are using high technology and utilize chemical reactions and materials that can only be done in large factories. Meanwhile, paper are also used in developing countries. Newspaper is one of the mass medias that use a high number of paper. Printed newspaper are still used by the majority of people which they prefer rather than the digital newspaper version. This paper focuses in newspaper recycling that can be done in a home industry without high technology involved so that the people of developing countries could easily do it. The paper is broken into cellulose and then glued using tapioca starch. The recycled paper is formed as a panel for partition in a house. The recycled panel paper is put into the water to measure the resistance level. This experiment will help to understand the recycled panel paper strength against water. Recycling process in a home industry can be a part of green solution, especially in paper use. Through this experiment method research, it can be seen that recycled paper panel has a certain resistance level from water and may be used for partition panel. Keywords: recycled paper, panel, partition, environmental friendly, building materials  KETAHANAN AIR PANEL KERTAS DAUR ULANGKertas daur ulang memiliki banyak manfaat, mulai dari mengurangi penggunaan kayu sampai karbon. Industri kertas daur ulang banyak terdapat di Negara maju. Proses ini membutuhkan teknologi tinggi dan menggunakan reaksi dan bahan kimia yang hanya mungkin dilakukan di pabrik besar. Sementara itu, kertas juga digunakan di Negara berkembang. Koran adalah satu dari media massa yang menggunakan banyak kertas. Koran cetak masih lebih banyak digunakan daripada media online. Paper ini membahas daur ulang kertas koran yang dapat dilakukan pada skala rumah tangga tanpa teknologu tinggi sehingga dapat dilakukan oleh orang awam di negara berkembang. Kertas koran dihancurkan menjadi selulosa dan menggunakan tepung tapioca sebagai perekat. Kertas daur ulang dibentuk menjadi panel untuk digunakan sebagai dinding partisi. Panel kertas daur ulang ini dimasukkan kedalam air untuk mengetahui ketahan terhadap air. Percobaan ini memperlihatkan tingkat ketahanan panel kertas daur ulang terhadap air. Proses daur ulang yang dapat dilakukan pada rumah tangga dapat menjadi bagian dari solusi hijau, khususnya pada penggunaan kertas. Melalui riset berbasis eksperimen ini, dapat dilihat bahwa panel kertas daur ulang memiliki ketahanan terhadap air dan dapat digunakan sebagai dinding partisi. Kata-kata kunci: kertas daur ulang, panel, partisi, ramah lingkungan, bahan bangunan REFERENCESAlice Wisler (2015) Facts about Recycling Paper. http://greenliving.lovetoknow.com/Facts_About_Recycling_Paper. Accessed 2 April 2016 Clay Miller (2011) 5 Benefits of Recycling Paper. http://www.ways2gogreenblog.com/2011/09/28/5-benefits-of-recycling-paper/. Accessed 10 May 2016 Hari Goyal (2015) Grades of Paper. http://www.paperonweb.com/grade.htm. Accessed 2 April 2016 Hari Goyal (2015) Properties of Paper. http://www.paperonweb.com/paperpro.htm. Accessed 2 April 2016 Kathryn Sukalich (2016) Everything You Need to Know about Paper Recycling. http://earth911.com/business-policy/business/paper-recycling-details-basics/. Accessed 15 July 2016 [U1] Larry West (2015) Why Recycle Paper. http://environment.about.com/od/recycling/a/The-Benefits-Of-Paper-Recycling-Why-Recycle-Paper.htm. Accesed 15 June 2016 Marie-Luise Blue (2008) The Advantages of Recycling Paper. http://education.seattlepi.com/advantages-recycling-paper-3440.html. Accessed 15 June 2016 Nina Spitzer (2009) http://www.sheknows.com/home-and-gardening/articles/810025/the-impact-of-disposable-coffee-cups-on-the-environment. Accessed 15 June 2016 Radio New Zealand (2010) Iwi not Giving Up Fight against Tasman Mill Discharges. http://www.radionz.co.nz/news/regional/64521/iwi-not-giving-up-fight-against-tasman-mill-discharges. Accessed 15 July 2016 Rick LeBlanc (2016) Paper Recycling Facts, Figures and Information Sources. https://www.thebalance.com/paper-recycling-facts-figures-and-information-sources-2877868?_ga=1.192832942.544061388.1477446686. Accesed 2 April 2016 Robinson Meyer (2016) Will More Newspapers Go Nonprofit? http://www.theatlantic.com/technology/archive/2016/01/newspapers-philadelphia-inquirer-daily-news-nonprofit-lol-taxes/423960/. Accessed 3 August 2016 School of Engineering at Darthmouth (2010) Forest and Paper Industry. http://engineering.dartmouth.edu/~d30345d/courses/engs171/Paper.pdf. Accessed 2 April 2016 T. Subramani, V. Angappan. (2015). Experimental Investigation of Papercrete Concrete. International Journal of Application or Innovation in Engineering and Management. Volume 4 Issue 5 page 134-143
PERUBAHAN RUANG BERBASIS TRADISI RUMAH JAWA PANARAGAN DI DESA KAPONAN Nurmayanti, Yunita; Dwi Wulandari, Lisa; Murti Nugroho, Agung
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2206.452 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20393

Abstract

Tatanan spasial (ruang) memperlihatkan hubungan antara arsitektur dan budaya masyarakat setempat. Manusia sebagai makhluk yang berpikir dinamis, memiliki peran besar untuk merubah lingkungan fisik maupun kebudayaan. Tatanan ruang tradisional merupakan warisan leluhur yang harmonis, senantiasa mengalami perubahan untuk beradaptasi dengan modernitas budaya global. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi dan menganalisis unsur-unsur ruang yang berubah dan (2) menjelaskan faktor-faktor sosial-budaya yang mempengaruhinya, pada objek rumah tinggal tradisional di wilayah kebudayaan Jawa Panaragan. Objek penelitian berupa rumah-rumah berlanggam arsitektur Jawa, yang telah berdiri sejak sebelum era kemerdekaan RI, terletak di wilayah tertua dari permukiman Desa Kaponan. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-rasionalistik dengan analisis deskriptif. Penggalian data melalui observasi langsung terhadap objek yang menjadi kasus penelitian dan wawancara silang dengan informan (narasumber dan keyperson) terkait. Variabel penelitian meliputi organisasi, fungsi, hirarki, orientasi serta teritori ruang sebagai panduan untuk mengamati perubahan ruang dalam 2 (dua) periode waktu. Objek/kasus penelitian dipilih secara sengaja berdasar kriteria meliputi rumah lurah, carik, pamong desa dan tokoh masyarakat yang menjabat pada masa lampau, dilengkapi dengan rumah petani serta buruh tani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur spasial (ruang) yang banyak berubah adalah organisasi dan teritori ruang sebagai konsekuensi dari penambahan jumlah, jenis dan fungsi ruang. Unsur spasial yang sedikit berubah adalah orientasi dan hirarki ruang karena kuatnya faktor kepercayaan leluhur. Faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan ruang terutama adalah struktur keluarga dan perubahan gaya hidup seiring meningkatnya pengetahuan dan pendidikan. Kata-kata kunci : perubahan ruang, rumah tradisional, Jawa Panaragan  THE TRADITION BASED ROOM CHANGES IN JAWA PANARAGAN HOUSE OF KAPONAN VILLAGESpatial order (space) shows the relationship between the architecture and the culture of local community. As dynamic thinking creature, human has a major role in changing the physical environment or culture. Order of the traditional spaces which is a harmonious ancestral heritage is constantly changing to adapt to the global culture of modernity. This research aimed to (1) identify and analyze the elements of spatial change and (2) explain the socio-cultural factors that affected it, on the object of traditional house in the Panaragan Javanese cultural area. The object of research were traditional Javanese type of home, built before the era of Indonesia independence (1945), located in the oldest settlement of the Kaponan Village. The research methodology used a qualitative–rationalistic approaches with descriptive analysis. Data mining was conducted through direct observation of objects that became case studies and interviews with related informants and keyperson. Variables of research include organization, function, hierarchy, orientation and territory of spatial (space) as a guide for observing spatial change between two periods of time. Object/case studies were deliberately chosen based on criteria include the house of the village head and officials, teacher and community leaders who served in the past, also added with home of farmers and farmworkers. The results showed that elements of the spatial (space) which was much changed was the organization and territorial spaces as a consequence of the addition of the number, type and function space. The elements of spatial orientation and space hierarchy was less changed, because of the strong ancestral belief and religion. The main factors affecting the occurrence of a spatial change was family structure and lifestyle changes, along with the increasing knowledge and education. Keywords: change spaces, traditional house, Jawa Panaragan REFERENCESAltman, I. & Chemers M.M. (1989). Culture & Environment. New York: Cambridge University Press. Habraken, N. J. (1988(. Type as a Social Agreement. Makalah dalam Asian Congress of Architect. Seoul. Habraken, N.J. (1982). Transformation of The Site. Massachusetts: MITT. Kartono, J.L. (2005). Konsep Ruang Tradisional Jawa dalam Konteks Budaya. Jurnal Dimensi Interior. III (2): 124-136. Marti, M, Jr. (1993). Space Operasional Analisis. USA: PDA Publisher Corporation. Rapoport, A. (2005). Culture, Architecture, and  Design. Chicago: Locke Scientific. Soegijono, Arkham, R, Zaenuri & Setiantoro. (2006). Sekilas Sejarah Desa Kaponan dan Silsilah Penduduknya. Tidak dipublikasikan. Ponorogo. Susilo, G.A. (2010). Peranan Arsitektur Tradisional Jawa dalam Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus Arsitektur Joglo Ponorogo).  Makalah dalam Seminar Nasional FTSP-ITN. Malang. Susilo, G.A. (2015). Model Tipe Bangunan Tradisional Ponorogo.  Makalah dalam Prosiding Temu Ilmiah IPLBI. E 137-E 144. Sutarto A. & Sudikan, S.Y. (Eds. ). (2004). Pendekatan Kebudayaan dalam Pembangunan Provinsi Jawa Timur. Sutarto, A. (2004).  "Studi  Pemetaan  Kebudayaan Jawa Timur" Jember: Kompyawisda
IDENTIFIKASI POLA STRUKTUR RUMAH TINGGAL, STUDI KASUS: ARSITEKTUR TRADISIONAL MELAYU DI KOTA PONTIANAK Zain, Zairin; Shafa Alam, Rinada
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.525 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20394

Abstract

Bangunan – bangunan tradisional yang berbeda secara etnis menjadi saksi fisik atas pembangunan pada masa lampau yang berlandaskan adat istiadat sehingga menjadikan bangunan tradisional etnis Melayu di Kelurahan Bansir Laut Kecamatan Pontianak Tenggara memiliki ciri dan pola struktur tersendiri. Oleh karena itu, perlu dilakukan identifikasi pola struktur yang menjadi dasar konstruksi pada bangunan rumah tradisional etnis Melayu ini untuk mendapatkan perkembangan jenis karya arsitektur tanpa arsitek ini. Pengamatan penelitian ini difokuskan pada sebuah bangunan tradisional Melayu di Kelurahan Bansir Laut dengan tujuan melakukan identifikasi pola struktur. Analisis dilakukan dengan cara mendeskripsikan struktur per segmen berdasarkan grid-grid yang ditemukan pada obyek penelitian. Grid tersebut dianalisis dengan pembagian struktur bawah, tengah dan atas. Grid-grid tersebut dihitung dan dianalisis terhadap volume material struktur dan volume ruang strukturnya. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa struktur bawah menopang 7/5 dari total konstruksi struktur bawah dan struktur atas. Dengan komparasi antarastruktur tengah, bawah dan atas maka disimpulkan bahwa volume material pada grid struktur bawah di studi kasus harus lebih besar dari volume material struktur tengah. Penggunaan material struktur bawah yang terlalu besar menyebabkan keborosan struktur jika dibandingan dengan volume ruang yang dinaungi.Hal ini sebagai konsekuensi grid struktur bawah menjadi elemen yang menopang struktur tengah dan atas bangunan rumah tradisional. Kata-kata kunci: pola struktur, rumah tradisional, komposisi  IDENTIFICATION OF HOUSE STRUCTURAL PATTERN, CASE STUDY: MALAY TRADITIONAL ARCHITECTURE IN PONTIANAK CITYTraditional buildings which different ethnically were physical witnesses of past development, which was based customed so this made the Malays traditional building in the Village of Sea Bansir District of Pontianak Southeast has the characteristics and the pattern of its own structure. Therefore, it is necessary to identify the pattern of the structure as base of the construction on the houses of traditional Malays to get the development of this architecture without architects. This study focused on a traditional Malay building in the Village Bansir Sea with the aim to identify the structural pattern. The analysis was performed by describing the structure per segment based on grids that were found on the object of study. The grid structure was analyzed by divide it into lower, middle and upper structure. Grids were calculated and analyzed in relation to the volume of structural material and volume of space structure. From this study it could be concluded that the structure under construction prop up 7/5 of the total bottom structure and the upper structure. By comparison between lower, middle and upper structure, it was concluded that the volume of material at the bottom of the structure grid in the case study should be greater than the volume of the structural material of the center. The use of massive lower structural materials caused structure dissipation when compared with the volume of shaded space. This was the consequence of lower grid structure element that sustained the structure of the middle and top of traditional houses. Keywords: Structural pattern, traditional house, composition REFERENCESKhaliesh, Hamdil. (2014). Arsitektur Tradisional Tionghoa: Tinjauan Terhadap Identitas, Karakter Budaya Dan Eksistensinya. Langkau Betang; Jurnal Arsitektur Universitas Tanjungpura (LANTANG UNTAN),Vol 1 No 1 (2014). Program Studi Arsitektur Universitas Tanjungpura. Pontianak Lestari; Zairin Zain; Rudiyono; Irwin. (2016). Mengenal Arsitektur Lokal : Konstruksi Rumah Kayu Di Tepian Sungai Kapuas. Langkau Betang; Jurnal Arsitektur Universitas Tanjungpura (LANTANG UNTAN), VOL 3 NO 2 (2016). Program Studi Arsitektur Universitas Tanjungpura. Pontianak Manurung, Parmonangan. (2014). Arsitektur Berkelanjutan, Belajar Dari Kearifan Arsitektur Nusantara. Prosiding pada Simposium Nasional RAPI XIII - 2014 FT Universitas Muhammadiyah Surakarta A75-81. ISSN 1412-9612. Mayasari, Maria Sicilia; Lintu Tulistyantoro; M Taufan Rizqy. (2014). Kajian Semiotik Ornamen Interior Pada Lamin Dayak Kenyah ( Studi Kasus Interior Lamin Di Desa Budaya Pampang). JURNAL INTRA Vol. 2, No. 2, (2014) 288-293 Rahmansah; Bakhrani Rauf. (2014). Arsitektur Tradisional Bugis Makassar (Survei Pada Atap Bangunan Kantor Di Kota Makassar). Jurnal Forum Bangunan : Volume 12 Nomor 2, Juli 2014 Suharjanto, Gatot. (2011). Membandingkan Istilah Arsitektur Tradisional Versus Arsitektur Vernakular: Studi Kasus Bangunan Minangkabau Dan Bangunan Bali. ComTech Vol.2 No. 2 Desember 2011: 592-602 Usop, Tari Budayanti. (2011). Kearifan Lokal Dalam Arsitektur Kalimantan Tengah Yang Berkesinambungan. Jurnal Perspektif Arsitektur Volume 6 Nomor 1 Juli 2011
PERUBAHAN BENTUK RUMAH TRADISIONAL BANUA SULU’ DI MASAMBA KABUPATEN LUWU’ UTARA PROPINSI SULAWESI SELATAN ., Mithen; Puteri Rinal, Karina
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.272 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20391

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan menelusuri perubahan bentuk rumah tradisional Banua Sulu’ di Masamba Kabupaten Luwu’ Utara. Jenis penelitian adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi eksploratif untuk mencari dokumen-dokumen masa lampau dan menelusuri  perubahan bentuk Banua Sulu’ Variabel penelitian, terdiri atas: Tata letak, tata ruang, Fasade, Struktur/material struktur, dan ornamen. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriftif kualitatif, yaitu menganalisis setiap  variabel secara deskriptif, memaknai setiap perubahan yang terjadi, yang terdiri atas empat alur kegiatan, yaitu  pemilihan data, penyajian data, analisis dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  telah terjadi perubahan bentuk secara signifikan  terutama dalam hal penggunaan material struktur. Hal ini  digunakan ketika adanya renovasi, dan elemen wujud fisik yang paling banyak berubah adalah  bagian Atap (Botting langi) terutama  coppo’ atau timpa’ laja’ yang awalnya bersusun dua, telah berubah  menjadi bersusun tiga, material atap juga berubah dari atap daun rumbia menjadi atap seng.  Pada bagian badan rumah ( Ale bola ) utamanya lantai dan dinding hampir keseluruhan diganti yang mengakibatkan  hilangnya identitas pada bentuk ornamen dinding, jumlah tiang juga bertambah dari 36 menjadi 43 buah, serta adanya penambahan ruang yang disebabkan oleh  kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas penghuni, yang telah berubah menjadi masyarakat modern. Kata-kata kunci: perubahan, bentuk, rumah tradisional, Banua Sulu’  THE TRANSFORMATION OF TRADITIONAL HOUSE OF BANUA SULU’ IN MASAMBA LUWU’ UTARA REGENCY SOUTH SULAWESI PROVINCEThis study aimed to see and track changes in the traditional house form of Banua Sulu' in North Masamba Luwu' Regency. This type of research is qualitative research. Data was collected by observation, interview, and exploratory documentation search for past documents and do track changes of Banua Sulu' shape. Variables of research consist of zone layout, spatial layout, facade, structure/material of structures, and ornaments. The data analysis technique used was descriptive qualitative analysis, which analyzed every variable descriptive and interpret the meaning of any changes that occurred, four-flow of activities, namely the selection of data, presentation of data, analysis, and conclusion. The results showed that there has been a significant change in shape, especially in terms of the use of structural materials. It is used when they did renovation and the most changing physical form elements was the roof (Botting langi) mainly coppo' or overwrite timpa’ laja', which was originally duplex, has turned into a three-tiered, roof material was also changed from the roof of sago palm leaves into tin roof. In the main shape of the house (Ale bola), main floor and walls were almost entirely replaced, resulting in a loss of identity in the form of wall ornaments, the number of poles also increased from 36 to 43 pieces, and the additional rooms caused by the need for space to accommodate the occupants, who has transformed into a modern society. Keywords: transformation, forms, traditional house, Banua Sulu’ REFERENCESAlbert, Grubauer. 1911. Foto-foto dokumentasi Keluarga. Altman, Irwin and Werner, Coral M. (1985). Volume 8. Home Environments Human Behavior and Environments. New York and London: Plenum Press. Depdikbud.  (2007). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: PN Balai Pustaka Le Corbusier.1923. Toward A New Architecture (Vers Une Architecture, Paris: G. Crès et Cie), Frederick Etchells (trans.), New York: Praeger, 1960; John Goodman (trans.) Santa Monica, CA: Getty Publications, 2007. Lullulangi, Mithen dan Sampebua’, Onesimus. (2007). Arsitektur Tradisional Toraja. Makassar : Badan Penerbit UNM. Machmud. (2006). Architecture Articles. Antariksa. diposting 8 Januari 2011. (http://antariksaarticle./, diakses 20 juli 2014) Mangunwijaya, Y.B. (1992). Wastu Citra. Jakarta: Gramedia. Miles, M.B  and  Huberman, A.M. (1992). Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press. Robinson. (1983). Rumah Adat, Tradisi Menre Bola, dan Dapur Orang Bugis Makassar. diposting 2008. Farid. (http://www.rappang.com, diakses 10 Desember 2013). Ronny Sondakh, Julianus Anthon. (2003). Arsitektur Vernaculer. Proposal Disertasi Pascasarjana UGM Yogyakarta. (online) (repository.unhas.ac.id, diakses 29 September 2014) Runa, I Wayan. (1993). Arsitektur Vernaculer. Proposal Disertasi Pascasarjana UGM Yogyakarta. (online) (repository.unhas.ac.id, diakses 29 September 2014). Ruskin, John.1849. The Seven Lamps of Architecture (London: Smith, Elder, and Co.), New York: Dover Publications, 1989. Said. (2004). Kearifan Lokal Masyarakat Kudus Kulon dalam Tradisi Perawatan Rumah. (http://www.arupadhatu.or.id/artikel/budaya/124-.html, diakses 07 Juni 2014) Soeroto, Myrtha. (2003). Sejarang dan Budaya Kebudayaan Toraja. Jakarta : Myrtle Publishing.
KARAKTERISTIK LANSEKAP BUDAYA DI DUSUN KAJUARA, KABUPATEN BONE SULAWESI SELATAN ., Hamka
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017): June
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1601.55 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20390

Abstract

Lansekap merupakan kondisi bentang alam dengan karakteristik unsur dan elemen tertentu pada suatu wilayah. Lansekap pada suatu permukiman merupakan hasil interaksi antara manusia dengan alam dan budaya yang menjadi latar belakang ciri identitas suatu lansekap.   Khususnya pada lansekap budaya dengan latar belakang sosial masyarakat yang berbeda-beda di tiap daerah di Indonesia. Peranan kondisi geografis dan budaya pada suatu kelompok masyarakat atau suku menarik dikaji kaitannya dalam hal lansekap budaya pada lingkungan permukiman. Kajian ini akan membahas karakteristik lansekap budaya permukiman Dusun Kajuara Kabupaten Bone dengan pendekatan metode kualitatif analsis deskriptif berdasarkan 13 komponen lansekap budaya. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa, letak geografis wilayah dan sosial budaya masyarakat di Dusun Kajuara yang sebagian besar sebagai petani berpengaruh terhadap karakter lansekap budaya permukiman yang masih didominasi oleh unsur dan elemen alami pada softscape dan hardscape lingkungan. Kata-kata kunci: komponenen lansekap, lansekap budaya, lansekap tradisional  THE CHARACTERISTICS OF CULTURAL LANDSCAPE IN KAJUARA VILLAGE, BONE REGENCY SOUTH SULAWESILandscape is a condition with its landscape elements characteristic and specific elements of the region. Landscape on a settlement is the result of interaction between human and nature and culture which blends into the background characteristics of the identity of a landscape. Particularly in the cultural landscape with socially different backgrounds of each region in Indonesia. The role of geography and culture of a community or ethnic group is interesting to study in terms of the cultural landscape in the neighborhoods. This review will discuss the characteristics of the cultural landscape settlements of Dusun Kajuara Bone district with qualitative method approach which is based on 13 components of the cultural landscape. The results of the discussion showed that the geographical location and social and cultural area in the Kajuara Village, mostly as farmers, affected the landscape character of the settlement that is still dominated by natural factors and elements on softscape and hardscape settlements. Keywords: cultural landscape, landscape component, traditional landscape REFERENCESHasan, & Prabowo. (2002). Perubahan Bentuk dan Fungsi Arsitektur Tradisional Bugis di Kawasan Pesisir Kamal Muara, Jakarta Utara. International Symposium Building Research and the Sustainability of the Built Environment in the Tropics’ Universitas Tarumanegara. Koentjaraningrat. (1999). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Djambatan: Jakarta. Nurjannah & Anisa. (2003). Pola Permukiman Bugis di Kendari. NALARs Volume 9 Nomor 2 Juli 2010 Page, Robert. R, Cathy Gilbert, Susan A.Dolan. (1998). Guide of Culture Landscape Report. Hal: 53 Plachter, H. dan Rossler, M. (1995). Cultural Landscape: Reconnecting Culture and Nature. Dalam van Droste, B., Placher, H., dan Rossler, M. (Editors). Cultural Landscape of Universal Value. Suwarno, Nindyo. (2000). Tipologi Spasial Permukiman Transmigran Spontan di Desa Tolai Kecamatan Sausu Kabupaten Donggala. Media Teknik UGM

Page 1 of 1 | Total Record : 6