cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Invensi (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni)
ISSN : 24600830     EISSN : 26152940     DOI : -
INVENSI adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni, Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan frekuensi terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal INVENSI memuat semua tulisan yang berobjek materi seni, baik seni pertunjukan, seni rupa, maupun seni media rekam dan bersifat multidimensional. INVENSI bermaksud untuk memberikan ruang mewadahi berbagai macam ide, gagasan, atau kritik yang merupakan hasil penelitian empiris kuantitatif dan kualitatif terkait dengan seni pertunjukan, seni rupa, dan seni media rekam yang belum pernah diterbitkan dalam bentuk apapun.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016" : 8 Documents clear
ANALISIS STRUKTURAL STIKER DIGITAL LINE POCONG PINKY Happy Yugo Prasetiya
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1046.689 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1613

Abstract

Stiker digital menjadi sarana baru dalam berkomunikasi melalui aplikasi penyampaian pesan. Stiker digital Pocong Pinky menjadi objek material utama karena memiliki konsep visual yang khas tentang kepercayaan mistis di Indonesia. Melalui analisis struktural sebagai pisau bedah, bisa membantu evaluasi terhadap objek material stiker digital. Sehingga stiker digital bisa menjadi sarana komunikasi bersifat visual yang mengandung nilai tertentu di dalamnya. LINE sebagai lembaga penyedia jasa sekaligus produk berperan penting pada perkembangan stiker digital, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembahasan. Penelitian ini melalui pengamatan terlibat dalam penggunaan aplikasi LINE dan stiker digital Pocong Pinky. Dari data-data dari objek penelitian, didapat hasil bahwa kreator stiker digital yang memiliki subjektifitas karya terikat aturan-aturan dalam berkarya yang diajukan oleh lembaga penyedia layanan yaitu LINE. Namun yang terpenting gagasan karya kreator pada penelitian ini memberikan perspektif dan nilai baru dalam mengangkat karakter makhluk mistis yang pada awalnya menakutkan bagi masyarakat dikemas dengan lucu, menyenangkan, dan menghibur.
EKSISTENSI GRUP MUSIK KERONCONG DIANTARA PENGGEMAR MUSIK DANGDUT STUDI KASUS: DESA SUKOREJO KECAMATAN TEGOWANU, KABUPATEN GROBOGAN Dani Nur Saputra
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.479 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1618

Abstract

Perkembangan musik keroncong di desa Sukorejo, kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan mengalami pasang surut, karena struktur masyarakat pinggir Pantai Utara Jawa yang kebanyakan menyukai musik dangdut. Kehadiran grup musik Sukmo Budaya dengan warna musik keroncong ternyata mampu menarik antusiasme masyarakat Desa Sukorejo Kecamatan Tegowanu di daerah pinggir Pantai Utara Jawa. Hal tersebut sesuai dengan data pengamatan berdasarkan fenomena yang terjadi dalam masyarakat Sukorejo kabupaten Grobogan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus agar dapat secara tepat menggambarkan, mengkaji, dan menganalisa eksistensi grup musik keroncong Sukmo Budaya. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang dilakukan dengan cara yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan menarik kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pengelolaan grup, ciri khas, panggilan pentas, bentuk penyajian, tempat pentas atau panggung, tata suara, tehnik bernyanyi keroncong, penggunaan alat musik, jenis lagu keroncong dan antusias masyarakat yang mendukung eksistensi grup musik keroncong Sukmo. Selain itu temuan lain yang muncul dengan adanya eksistensi grup Sukmo Budaya ialah dampak psikis yang terlihat dari masyarakat desa yang menunjukkan respons menyenangkan sebagai bagian dari kenyamanan hidup melalui waktu luang khususnya bagi para lansia. Kroncong music development in the village Tegowanu, district Sukorejo, Grobogan experiencing ups and downs, because the structure of the coastal communities of North Java who most love music dangdut. Then comes the music group Sukmo Budaya with the kroncong music is able to attract enthusiastic villagers Sukorejo subdistrict of Tegowanu at North coast of Java. It is in accordance with the observations made by researchers on a phenomenon that exists in the society Sukorejo Grobogan. This research uses qualitative research methods with the case study approach because it aptly describes, examine, and analyze the existence of kroncong music group Sukmo Budaya. The collection of data obtained through observation, interviews, and documentation. Technique of data analysis performed using analysis techniques, by reducting the data, presenting of the data, and draw conclusions or verification. The results showed the existence of factors that support the existence of the kroncong music group Sukmo consists of a management group, hallmark, calls the stage, form of presentation, stage, sound, makeup, singing keroncong techniques, the use of a musical instrument, a type of kroncong songs and enthusiastic communities against band kroncong. Besides research results that appear with the existence of a group of Sukmo Budaya is the psychological impact seen from villagers indicating feelings happy as a part of well-being through leissure time especially for the elderly.
INDIKASI PENCITRAAN DALAM UPACARA ADAT REBO PUNGKASAN DI WONOKROMO PLERET BANTUL YOGYAKARTA Galih Puspita Karti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.566 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1612

Abstract

Penelitian mengenai indikasi pencitraan dalam upacara adat Rebo Pungkasan bertujuan sebagai media introspeksi masyarakat agar selalu merawat nilai-nilai keaslian budaya dan spiritualnya. Kesadaran tentang upacara adat sebagai media untuk berhubungan dengan segala isi alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa perlu dibangunkan kembali guna menjadi pembatas agar tidak terjebak dalam sebuah pencitraan semata. Metode penelitian kualitatif dipilih untuk memperoleh segala informasi tentang upacara adat Rebo Pungkasan. Pada akhirnya sebuah indikasi pencitraan ditemukan dalam ritual tersebut. Pencitraan sudah merajalela dalam area ritual. Pada satu ruang lingkup upacara adat Rebo Pungkasan, pencitraan dapat dilihat jelas dalam kepalsuan lemper Boga Wiwaha yang dijadikan sebagai persembahan/caos dhahar. Wujud lemper dilebih-lebihkan dengan ukuran panjang antara dua meter dan diameter sekitar setengah meter supaya menarik untuk dijadikan sebuah ikon. Segalanya dikemas manis dan menarik seperti pada iklan di televisi, orasi pada kampanye, aktivitas dalam sosial media, dan sebagainya. Hampir dibalik itu semua terdapat sesuatu yang dilebih-lebihkan, kepalsuan bahkan kebohongan yang disembunyikan. Sesuatu yang disajikan/ditawarkan belum tentu sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Sebuah pencitraan sama halnya dengan sebuah topeng yang menjadi penutup citra yang sesungguhnya. Research on the imaging indication ceremonial Rebo Pungkasan intended as a medium of introspection people to always take care of the values of cultural and spiritual authenticity. Awareness about the ceremonies as a medium to get in touch with all the contents of the universe and God Almighty needs to be woken up again to be a barrier to not get stuck in an imaging alone. Qualitative research method was chosen to obtain any information about Rebo Pungkasan ceremonies. In the end an imaging indication is found in the ritual. Imaging is already rampant in the ritual area. In the scope of traditional ceremonies Rebo Pungkasan, imaging can be seen clearly in falsehood donuts Boga Wiwaha used as offerings / caos Dhahar. Exaggerated form of donuts with a length between two meters and a diameter of about half a meter so interesting to be an icon. Everything is packaged sweet and charming as the ads on TV, speeches on the campaign, the activity in the social media, and so on. Almost behind it all there is something exaggerated, even falsity lies hidden. Something that presented / offered not necessarily correspond with the reality of the matter. An imaging as well as a mask that became the cover image of the real thing.
PERWUJUDAN KONSEP KEBHINNEKAAN DALAM DESAIN KARAKTER SERIAL ANIMASI “VATALLA SANG PELINDUNG” Krisharyono Krisharyono
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1115.577 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1614

Abstract

Melihat dan menikmati sebuah film pada hakekatnya sama dengan membaca suatu teks dan konteks, yang di dalamnya mengandung suatu makna yang disampaikan melalui simbol atau metafora yang digunakan oleh sang kreator dan tertampil dalam jalinan cerita film tersebut. Demikian pula yang berusaha diungkapkan dalam film serial animasi Vatalla, dimana di dalamnya disematkan simbol-simbol mengenai isu nasionalisme, persatuan dan kesatuan bangsa yang dewasa ini sedang menghadapi beragam tantangan. Usaha tersebut terlihat secara jelas dari pembuatan desain karakter lima tokoh utama film serial animasi Vatalla yang mengadopsi unsur- unsur visual yang ada pada beragam motif etnik daerah di Indonesia. Desain karakter tokoh utama tersebut tampil dengan keragaman motif etnik yang disematkan pada pakaian dan asesoris yang mereka gunakan. Selain itu, kelima tokoh utama tersebut dirancang mempunyai ciri-ciri fisik yang cukup kontras berlainan satu sama lain untuk menunjukkan perbedaan suku dan ras di antara mereka (representasi dari beragam suku dan ras yang hidup di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia). Dengan demikian desain karakter tokoh utama film serial animasi Vatalla ini memang diarahkan untuk selaras dengan konsep kebhinnekaan, dimana bangsa Indonesia - semenjak kemerdekaannya dan sampai saat ini di usianya yang ke-71 tahun - telah final merumuskan konsep mengenai nasionalisme tersebut dalam semboyan dasar negara Pancasila, yaitu Bhinneka Tunggal Ika.
SENSASI COLOR SPLASH DALAM KARYA FOTOGRAFI EKSPRESI Syafriyandi Syafriyandi
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1013.776 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1615

Abstract

Fotografi ekspresi merupakan ungkapan jiwa yang mengutamakan ekspresi jati diri pribadi seseorang yang akan diekspresikan dalam karya seni murni. Ide penciptaan karya fotografi ini berawal dari problematika yang sering dijumpai dalam karya fotografi yang tidak mampu memberikan kesan ataupun sensasi yang merespon emosional kepada khalayak ramai. Dari sebab itu timbul kegelisahan penulis untuk menciptakan karya fotografi dengan subjek color splash dengan action figure, dengan adanya warna yang diolah kreatif menjadi color splash yaitu sebuah cipratan warna yang membentuk kedinamisan pola yang tidak terduga yang mampu memunculkan sebuah sensasi yang mengunsung suatu nilai yang pada ujungnya mampu memberikan impresi di dalam perasaan yang merespon emosional ataupun daya ganggu yang dapat diintepretasikan oleh khalayak ramai sesuai dengan pengalaman-pengalaman pribadi. Metode dalam penciptaan ini diawali dengan penggalian ide dan konsep yang dilanjutkan dengan setudi referensi dan eksplorasi yang kemudian diakhiri dengan keputusan eksekusi. Dari penciptaan karya ini sesuatu hal yang didapat yaitu pengaruh warna di setiap karya, dengan menghadirkan warna yang diolah kreatif menjadi suatu bentuk yang artistik didalam sebuah karya, dapat mengatasi sebuah karya agar tidak lagi menjadi suatu karya foto yang berhenti menjadi gambar indah saja. Tetapi dengan adanya warna didalam sebuah karya foto akan memberikan sensasi yang dapat merespon emosional penikmat karya. Photographic expression is an expression of the soul that promotes expression of one's personal identity to be expressed in a fine art. The idea of the creation of this photography project started from the problems that are often encountered in photographic work can not afford to give the impression or sensation that responds emotionally to the general public. From hence arises the anxiety authors to create works of photography with the subject color splash with action figures, with their color-treated creatively into color splash is a splash of color that make up the dynamic of a pattern that is not unexpected that is able to bring a sensation mengunsung a value which in the end able to give the impression in the sense that respond to emotional or interrupt power to Interpret the general public in accordance with personal experiences. The method in this creation begins with extracting ideas and concepts followed by the reference of the studies and exploration that later ended with the execution of the decision. From the creation of this work were obtained something that is the influence of color on each work, by presenting creative color processed into a form that is artistic in a work, can cope with a work so it will not be a work of photo stop being a wonderful image only. but with the absence of color in a photo work will give the sensation that can respond to an emotional audience of work.
KLASIFIKASI PRIORITAS KETERTARIKAN PERILAKU PENGUNJUNG PAMERAN TERHADAP KARYA SENI RUPA KONTEMPORER Dessy Rachma Waryanti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.633 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1611

Abstract

Many elements are presented to visitors during an exhibition of contemporary art. These elements include the overaching concept of the exhibit (Ko), issues raised in the exhibition (Is), the name of the artist whose popularity attracts patrons (Na), and visual forms of the art itself (Vi). Using these four elements I compiled questions and interviewed patrons with various backgrounds in the arts. The goal was to find out these patron’s interest priorities; in other words, which aspects of the exhibit were of most interest to them as an observer. Previous literature on visitor behavior and social response at contemporary art exhibitions has been used as a base for this research. This study aims to highlight the different interest priorities as a visitor behaviour and audiens reception due to exhibition. I My respondences in this research is the exhibition visitors who had a background in art, but not necessarily in the discipline being exhibited. The results of this study will serve to determine the interest of art exhibition patrons, so that artists and curators can be made more aware of the gaps that exist between exhibit creation and viewer interest, and how those gaps can be better closed.
STORY OF SHADOW KARYA KRIYA TEKSTIL DENGAN IDE INSPIRASI DARI PAPER CUT LIGHT BOX Centaury Harjani
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.633 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1616

Abstract

Sumber inspirasi penciptaan tidak harus dari karya-karya dengan material yang sejenis. Seperti karya kriya tekstil tidaklah harus memiliki sumber penciptaan dari karya-karya kriya tekstil sejenis yang lain. Pada tulisan kali ini akan dibahas sebuah karya kriya tekstil yang memiliki ide sumber penciptaan dari karya bermaterial kertas yaitu paper cutting. Penulisan artikel ini mengangkat teori mimesis (imitasi) Plato dan menggunakan metode eksperimen dalam melakukan uji coba pada material kain agar dapat diperlakukan seperti paper cutting pada material kertas. Artikel ini akan memberikan wawasan baru mengenai sumber ide bagaimana rasa kagum dalam pengalaman estetis dapat menginspirasi dalam mencipta sebuah karya yang memanfaatkan bayangan serta cahaya dalam perwujudannya.
IKONOGRAFI RESTORAN DAE JANG GEUM YOGYAKARTA (ORNAMEN LOTUS, PHOENIX, NAGA DAN HUI SEBAGAI ORNAMEN UTAMA) Ika Indriyani
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1303.28 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1617

Abstract

Restoran Dae Jang Geum adalah restoran pertama di Yogyakarta yang menerapkan konsep Istana Korea. Restoran Dae Jang Geum digolongkan dalam specialty restaurant di mana suasana dan dekorasi disesuaikan dengan masakan khas Korea. Penelitian ini mengkaji ornamen Korea beserta makna filosofinya dan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan ikonografi. Ornamen pada restoran bukan lukisan asli tetapi dari kertas yang dilukis. Hal tersebut tidak sesuai dengan yang ada di Korea yaitu dengan dilukis. Hasil penelitian menunjukkan ornamen yang terdapat pada restoran Dae Jang Geum baik dari bentuk, penempatan dan ukuran mendekati dengan ornamen asli Korea tetapi terdapat beberapa ornamen dari luar Korea yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari ornamen Korea. Warna ornamen pada restoran lebih cerah dibandingkan dengan aslinya. Dari segi fungsi ornamen tersebut hanya sebagai hiasan yang mendukung konsep Korea.

Page 1 of 1 | Total Record : 8