cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Asia Pacific Studies
ISSN : 25806378     EISSN : 25807048     DOI : -
Jurnal Asia Pasific Studies (JAPS) is published by International Relations Department of Universitas Kristen Indonesia (UKI). It is a bi-annual journal publishing articles on International Relations and Asia Pacific issues. The journal focused on multidisciplinary and pluralistic perspectives and approaches regarding International Relations theories, research methodologies, and International Political Economy as well as Security Sudies within the scope of Asia Pacific.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019" : 8 Documents clear
PHILIPPINE – US DEFENSE COOPERATION: THE IMPLEMENTATION OF “THE ENHANCED DEFENSE COOPERATION AGREEMENT” TO RESPOND CHINA’S ASSERTIVENESS IN THE SOUTH CHINA SEA (2010 – 2016) Reynaldo Rudy Kristian Montolalu; Banyu Perwita
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1569.704 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.1032

Abstract

China assertiveness in the South China Sea has considered as part of its national ambition to dominate most of the sea area as stated in its claim on the “nine-dashed line”. This China assertiveness could be seen in its more active policy by projected military power in area disputing. As one of the claimant states, the Philippine felt that China’s actions toward the region have harmed their territorial sovereignty over the West Philippine Sea. The disputed matter between the Philippine and China count active to flare up from 2010 to 2016 which marked with several incidents between both of the countries navies in Scarborough Shoal and Second Thomas Shoal. In response to the condition in the South China Sea, the Philippine was trying to enhance their defense posture which considered weak through AFP Modernization Pact initiated by President Benigno Aquino III at the beginning of his administration. Constrained by military budget allowance and limited defense equipment, the Philippine is relying on its military alliance which is the United States that has been created since a long period of time, especially in order to enhance the Philippine external defense. In 2014, both of the countries signed the Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) which is the enhancement of the previous defense cooperation agreements: the Mutual Defense Treaty 1951 and the Visiting Forces Agreement 1998. This new defense cooperation agreement considered to play a significant role in supporting Philippine’ effort on responding the internal and external threats, including the unpredictable China militarization in the South China Sea. Keywords: South China Sea, China Assertiveness, Defense Cooperation, The Philippine – US bilateral relations, Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA) Abstrak Keagresifan Cina di Laut Cina Selatan merupakan suatu ambisi nasionalnya untuk menguasai sebagian besar wilayah laut sebagaimana tertuang dalam “Sembilan Garis Putus-Putus”. Bentuk keagresifan Cina ini terlihat dalam kebijakannya yang lebih aktif dengan cara memproyeksikan kekuatan militer di daerah yang masih disengketakan. Sebagai salah satu negara yang bersengketa, Filipina merasa tindakkan yang dilakukan Cina dikawasan telah merugikan kedaulatan teritorinya yaitu Laut Filipina Barat. Masalah sengketa Filipina dan Cina terhitung aktif bergejolak sejak 2010 hingga 2016 yang ditandai dengan beberapa insiden antara kapal angkatan laut kedua negara di Scarborough Shoal dan Second Thomas Shoal. Menanggapi kondisi di Laut Cina Selatan, Filipina mencoba memperkuat postur pertahanannya yang masih lemah melalui Pakta Modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina yang diinisiasi oleh Presiden Benigno Aquino III pada awal masa pemerintahannya. Terkendala masalah anggaran belanja dan keterbatasan alutsista, Filipina mengandalkan aliansi militernya dengan Amerika Serikat yang sudah terbentuk sejak lama, terlebih khusus dalam upaya memperkuat pertahanan eksternal Filipina. Pada tahun 2014, kedua negara menandatangani Perjanjian Peningkatan Kerjasama Pertahanan (EDCA) yang merupakan peningkatan dari perjanjian kerjasama pertahanan yang telah terbentuk, yaitu Perjanjian Pertahanan Bersama 1951 dan Perjanjian Kunjungan Pasukan 1998. Perjanjian kerjasama pertahanan yang baru ini dianggap dapat membantu Filipina dalam upaya melawan ancaman internal dan eksternal termasuk militerisasi Cina di Laut Cina Selatan yang sulit untuk diprediksi. Kata Kunci: Laut Cina Selatan, keagresifan Cina, kerjasama pertahanan, hubungan bilateral Filipina dan Amerika Serikat, Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA)
BELT AND ROAD INITIATIVE (BRI) AND ITS IMPLICATION ON MARITIME SECURITY IN ASIA PACIFIC: CASE STUDY ON CHINA-AUSTRALIA TRADE COOPERATION Muhammad Akbar
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.574 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.1031

Abstract

Belt and Road Initiative (BRI) or One Belt One Road (OBOR) first introduced by Xi Jinping on September 2013 in Kazakhstan, when he stated “Silk Road Economic Belt”, specifically. One month later, he stated the term “Maritime Silk Road” in Indonesia. OBOR is both a concept and a work plan that designed by China to connect towards Eurasia, Africa, and Oceania. The connections are both distance and political influence. China’s bargaining position on Australia is considered strong enough, and vice versa. Australia is important for China for its iron ore that exported to China. China will not put their position at a stake considering its 60% dependency of iron ore from Australia, based on the research by Professor Rory Medcalf from Australia National University (Medcalf 2017, 110). The complexity of the struggle for power in this region is increasing since Australia has been the ally of The United States of America (USA) to whom China is declaring Trade War. China’s expenditure and development of the Navy growing increasingly reflects the higher attention on maritime security. Political condition in Asia Pacific will be effected by this condition with the growing influence of the superpower of the South China Sea, the People’s Republic of China. This paper will explore about sea power in Asia Pacific and its relations with the growing and more advanced China-Australia relations. Keywords: OBOR (One Belt One Road), Maritime Security, Sea Power, Asia Pacific. Abstrak Istilah Belt and Road Initiative (BRI) atau dikenal juga dengan jargon One Belt One Road (OBOR) pertama kali digaungkan oleh Xi Jinping pada bulan September 2013 di Kazakhstan, ia mengucapkan “Silk Road Economic Belt”, secara spesifik. Sebulan kemudian, Ia menyinggung konsep “Maritime Silk Road” dalam kunjungannya ke Indonesia (Davies, 2016, 218). OBOR adalah sebuah konsep, sekaligus juga workplan yang dirancang sedemikian rupa oleh China untuk mendekatkannya dengan Eurasia, Afrika, dan Oceania. Dekat dalam artian keterhubungan melalui kemudahan transportasi, dan dekat secara pengaruh (political influence). Tulisan ini akan mengambil studi kasus kerja sama perdagangan yang dilakukan antara China dan Australia. Posisi tawar China terhadap Australia cukup kuat, dan begitu pula sebaliknya. Australia diunggulkan dengan komoditi biji besi yang diekspor ke China, sehingga membuat China memiliki ketergantungan terhadap Australia. Professor Rory Medcalf dari Australia National University (ANU) mengatakan bahwa China tidak akan mempertaruhkan hubungan perdagangannya dengan Australia, mengingat dependensi China terhadap impor biji besi dari Australia sebesar 60% (Medcalf 2017, 110). Australia adalah sekutu Amerika Serikat (AS) yang kini sedang dalam kondisi perang dagang dengan China, membuat hubungan diantara negara-negara ini menjadi kompleks. Anggaran belanja pertahanan dan percepatan pertumbuhan Armada Laut China cenderung meningkat, sehingga dapat disimpulkan adanya keseriusan dalam hal peningkatan keamanan maritim (maritime security). Kondisi politik regional di kawasan Asia Pasifik akan terdampak atas kedigdayaan maritim China di kawasan. Tulisan ini akan membahas mengenai Sea Power di kawasan Asia Pasifik dan kaitannya dengan hubungan dagang China-Australia yang semakin intens. Kata kunci: OBOR (One Belt One Road), Keamanan Maritim, Sea Power, Asia Pacific
HUMAN SECURITY FOR BORDER SOCIETY: A CASE STUDY AT WARIS COMMUNITY AT THE BORDERS OF RI-PNG Melyana Ratana Pugu; Yanyan Mochamad Yani
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1215.791 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.972

Abstract

This research is aimed to explain the border society situation at Waris District, which is located remote from government services. This condition reflects a threat on human security at the borders in Keerom regency, Papua, which is directly bordering Papua New Guinea (PNG). This research uses qualitative research method, in which it explains the human security threat in education and health at Waris District, which borders PNG. The education and health improvement and development for Waris community are organized through the provision infrastructure such as: the number of schools, teachers, community health centres. These are the indicators for the education and health improvement and development in the border region. The outcome of this research is a reference for the government in border region management in the sectors of education and health, as an effort to minimise human security threat for the Waris community at the borders between RI-PNG. Keywords: Human Security, Border Society, Waris, Indonesia, Papua New Guinea Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan situasi masyarakat perbatasan di Distrik Waris yang berlokasi terpencil jauh dari pelayanan publik dari pemerintah. Kondisi ini menyebabkan adanya ancaman terhadap keamanan manusia di daerah perbatasan Kabupaten Keerom, Papua yang langsung berbatasan dengan Papua Nugini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk menjelaskan ancaman terhadap keamanan manusia di bidang pendidikan dan kesehatan di Distrik Waris yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Pembangunan dan peningkatan bidang pendidikan dan kesehatan dilakukan melalui pengadaan infrastruktur seperti jumlah sekolah, guru, pusat-pusat kesehatan masyarakat. Ini semua merupakan indikator untuk pembangunan dan peningkatan bidang pendidikan dan kesehatan di kawasan perbatasan. Hasil penelitian menjadi bahan masukan bagi pemerintah dalam mengelola kawasan perbatasan terutama di sector pendidikan dan kesehatan, sebagai upaya untuk meminimalkan ancaman terhadap keamanan manusia di Distrik Waris yang berada di daerah perbatasan antara Republik Indonesia dan Papua Nugini. Kata Kunci: Keamanan Manusia, Masyarakat Perbatasan, Waris, Indonesia, Papua Nugini
RUSSIA - CHINA STRATEGIC PARTNERSHIP IN THE INDO-PACIFIC REGION: SYNERGIZING GREATER EURASIA WITH BELT AND ROAD INITIATIVE, 2016-2018 Hendra Manurung
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2057.06 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.1033

Abstract

Since 2017 to 2018, the world has been living through a period of progressive erosion, or collapse, of international orders have inherited from the Cold-War. Through the election of Donald Trump in 2016 and the rapid increase of U.S aggressive containment policy of Russia and China, which is both a consequence of the gradual erosion which represents deep internal and international contradictions as this process, entered its critical point. Therefore, in responding to the dynamic changes in International Relations, Kremlin has proactively proposed the Greater Eurasian Partnership for the international cooperation agenda in order to adopt within Belt and Road Initiative. This research attempts to assess the linking possibility of the Greater Eurasia integrate with the Belt and Road Initiative for improving cooperation in explanatory research that can be one of the major indicator to implement Vladimir Putin and Xi Jinping agenda-setting in the Indo-Pacific region. The strategic partnership between the development strategies of Russia and China in bilateral, regional, and global relations lays the foundation of improvement cooperation between a number of countries, regions, and organizations. Thus, for the Eurasian Partnership to succeed in the context of Indo-Pacific development, it must strictly comply to World Trade Organization (WTO) rules and take a tolerant attitude toward the diverse mechanisms for cooperation that various countries and regions have developed through. Keywords: Russia, China, Greater Eurasia, Belt and Road Initiative, Indo-Pacific Region Abstrak Sejak 2017 hingga 2018, dunia telah mengalami masa erosi progresif, atau runtuhnya tatanan internasional yang diwarisi dari Perang Dingin. Melalui pemilihan Donald Trump pada tahun 2016 dan peningkatan pesat kebijakan penangkalan agresif Amerika Serikat atas Rusia dan Tiongkok, yang keduanya merupakan konsekuensi dari erosi bertahap yang mewakili kontradiksi internal dan internasional yang mendalam ketika proses ini, memasuki titik kritisnya. Oleh karena itu, dalam menanggapi perubahan dinamis dalam Hubungan Internasional, Kremlin telah secara proaktif mengusulkan Kemitraan Eurasia Besar untuk agenda kerja sama internasional agar dapat diadopsi dalam Belt and Road Initiative. Penelitian ini mencoba untuk menilai kemungkinan keterkaitan Eurasia Besar dengan Inisiatif Sabuk dan Jalan untuk meningkatkan kerja sama dalam penelitian penjelas yang dapat menjadi salah satu indikator utama untuk mengimplementasikan Vladimir Putin dan penetapan agenda Xi Jinping di kawasan Indo-Pasifik. Kemitraan strategis antara strategi pembangunan Rusia dan Cina dalam hubungan bilateral, regional, dan global meletakkan fondasi peningkatan kerjasama antara sejumlah negara, wilayah, dan organisasi. Dengan demikian, agar Kemitraan Eurasia berhasil dalam konteks pembangunan Indo-Pasifik, ia harus benar-benar mematuhi aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan mengambil sikap toleran terhadap beragam mekanisme kerja sama yang telah dikembangkan oleh berbagai negara dan wilayah. Kata-kata kunci: Rusia, Tiongkok, Terbesar Eurasia, Inisiatif Sabuk dan Jalan, kawasan Indo-Pasifik
IMPLEMENTASI KERJASAMA INDONESIA – INGGRIS DALAM KERANGKA MULTISTAKEHOLDER FORESTRY PROGRAMME 3 (MFP 3) TERHADAP PENINGKATAN PRODUK KAYU INDONESIA Antoko Ridho; Laode Muhamad Fathun; Mansur Juned
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (804.241 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.967

Abstract

This study discusses the Implementation of Indonesian and British Cooperation in the Elite Cooperation of Multistakeholders Forestry Program. In this collaboration Indonesia and the UK have rules regarding the existence of illegal logging in Indonesia. Indonesia's policy is Certification of Timber Legality Verification. The United Kingdom or the European Union has a policy that is Law Enforcement and Forest Law Governance (FLEGT). This research was conducted on the Implementation of MFP 3 on Indonesian wood products. The Thinking Framework of this model uses the theory of International Cooperation, the Concept of Sustainable Development. This research uses descriptive method with a qualitative approach. The collaboration between Indonesia and the UK produces several impacts on Illegal Logging and timber production and forest management in Indonesia in 2014-2016.
FENOMENA INDO-PASIFIK DAN DIPLOMASI INDONESIA Sinta Herindrasti
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (970.902 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.965

Abstract

The emergence of the Indo-Pacific terminology since 2007 until 2013, which is still growing stronger up until now, has created a new “tension” dynamic among various actors in the region. The term Indo-Pacific at least reflects the exisiting new geopolitics transformation discourse in the regions between Indian and Pacific Oceans. With its strategic position, Indonesia is also active in the development of Indo-Pacific’s discourse and diplomacy. Considering the broad geographical area coverage of the Indo-Pacific concept and various state-actors including involvement of their power distribution and structure, comprehensive and critical analysis of Indo-Pacific phenomenon observation are therefore required. What is the purpose of Indonesia through its Indo-Pacific diplomatic action? Are there any current urgent needs which warrant involvement in these broad geopolitical issues? Does Indo-Pacific answer the needs of Indonesia and ASEAN in the middle of their various multilateral agendas? This paper would like to elaborate on the importance of Indonesia’s or ASEAN’s involvement in the Indo-Pacific by considering real situations, real needs and obstacles to be faced, especially in regards to politics-security challenges. Keywords: Indo-Pacific Phenomenon, Indonesia Diplomacy Abstrak Kemunculan terminologi Indo-Pasifik sejak tahun 2007 hingga 2013 yang menguat hingga sekarang telah menciptakan dinamika “ketegangan” baru antar berbagai aktor kawasan. Istilah Indo-Pasifik setidaknya mencerminkan adanya diskursus transformasi geopolitik baru di kawasan antara lautan Hindia dan Pasifik tersebut. Tidak ketinggalan Indonesia dengan posisi strategisnya juga terlibat aktif dalam pengembangan diskursus dan diplomasi Indo-Pasifik. Menimbang luasnya cakupan area geografis konsep Indo-Pasifik dan banyaknya aktor negara termasuk distribusi power dan struktur yang akan terlibat, maka diperlukan analisis komprehensif kritis dalam melihat fenomena Indo-Pasifik. Apa sebenarnya tujuan Indonesia melalui aksi diplomasi Indo-Pasifik? Apakah ada kebutuhan yang sangat mendesak saat ini untuk terlibat dalam isu geopolitik yang sangat luas ini? Apakah Indo-Pasifik menjawab kebutuhan Indonesia dan ASEAN di tengah agenda multilateral yang sudah sedemikian banyak? Paper ini ingin melihat urgensi keterlibatan Indonesia/ASEAN dalam Indo-Pasifik dengan mempertimbangkan situasi dan kebutuhan nyata serta kendala yang akan dihadapi terutama terkait tantangan dimensi politik-keamanan (security). Kata Kunci: Fenomena Indo-Pasifik, Diplomasi Indonesia
GEOPOLITIK CINA DAN JEPANG DI ASIA TIMUR: SENGKETA KEPULAUAN DIAOYU/SENKAKU Destrina Christianty; Geriel Jonathan; Lamtiur Simamora; Ribka Helena; Ruth Diana Rebecca; Sathya Reysha Wacanno
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.715 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.1072

Abstract

Pulau-pulau tak berpenghuni yang dikenal sebagai Senkaku untuk Jepang dan Diaoyu untuk Cina terletak sekitar170 km dari Okinawa dan Taiwan, dan 380 km dari daratan Cina. Kedua pihak saling mengklaim kepemilikandari pulau tersebut, berdasarkan pada bukti sejarah dan perjanjian. Namun, perbedaan interpretasi bukti sejarahdan perjanjian menjadikan perselisihan antara Cina dan Jepang tentang hak kepemilikan dari pula tersebut. Posisipulau yang sangat strategis di Samudera Pasifik dan pada tahun 1969 AS mengungkapkan, bahwa pulau-pulauitu mungkin memiliki cadangan minyak dan gas yang membuat Republik Rakyat Tiongkok mengklaim pulau-pulau itu hanya dua tahun kemudian. Kedua hal tersebut mempersulit dalam pencapaian kesepakatan dalam halkepemilikan dari pulau tersebut.
GEOPOLITIK TIONGKOK DI KAWASAN ASIA TENGGARA: JALUR PERDAGANGAN (OBOR) Fransiskus Radityo; Gabriella Rara; Indah Amelia; Rifal Efraim
Kajian Asia Pasifik Vol 3 No 1 (2019): January - June 2019
Publisher : International Relations Study Program of Universitas Kristen Indonesia (UKI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.725 KB) | DOI: 10.33541/japs.v3i1.1073

Abstract

Dalam perkembangan dinamika politik internasional, Tiongkok merupakan salah satu negara yang mulai muncul dan berperan sebagai emerging power serta memiliki kekuatan ekonomi yang banyak memberikan pengaruh bagi sistem ekonomi dunia. Geopolitik merupakan bentuk dari implementasi politik suatu negara dengan pengaruh keadaan geografisnya. Keadaan geografis dapat mempengaruhi kebijakan suatu negara atas upaya mencapai kepentingannya. Untuk mewujudkan kepentingannya maka Tiongkok menggunakan geostrategi. Perkembangan geostrategi politik Tiongkok sendiri dapat dilihat dari masa sejarah Tiongkok dimana sudah mulai adanya pertimbangan kebijakan yang menyesuaikan kondisi geografis. Dalam hal ini dapat dilihat dari bagaimana Tiongkok mampu memetakan jalur perdagangannya yang diperkenalkan dengan sebutan jalur sutra atau silk road. Di era Tiongkok modern atau kotemporer, Tiongkok semakin berkembang menjadi negara yang memiliki kemampuan bargaining power yang cukup kuat. Karena hal tersebut Tiongkok memetakan strateginya bukan hanya melihat dari aspek geografis namun juga melihat dari kondisi politik internasional.

Page 1 of 1 | Total Record : 8