cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Reproduksi
ISSN : 2302836X     EISSN : 2621461X     DOI : -
Core Subject : Health,
urnal Kesehatan Reproduksi is a scientific journal published by Association of Women and Children Reproductive Health Enthusiasts and Experts/Ikatan Pemerhati Anak dan Kesehatan Reproduksi/IPAKESPRO) who works closely with the Department of Obstetrics and Gynaecology, Faculty of Medicine, Public Health and Nursing, Universitas Gadjah Mada. Jurnal Kesehatan Reproduksi first printed version was published in 2014 with ISSN 2302-836X. In 2016, we also have an online journal version with ISSN 2621-461X. Currently, we already use the Online Journal System, requiring all authors to submit their papers online. Afterwards, authors, editors and reviewers will be able to monitor the manuscript processing. This journal is published annually every April, August and December.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2020)" : 9 Documents clear
Kejadian Infeksi Menular Seksual pada Wanita Kawin di Indonesia dan Variabel-variabel yang Memengaruhinya Wana Melia Simbolon; Winih Budiarti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.49847

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan salah satu jenis penyakit menular yang penularan utamanya melalui kontak seksual. Lebih dari 1 juta IMS terjadi setiap hari di seluruh dunia dan menempati peringkat 10 besar alasan berobat di banyak negara berkembang. IMS dapat memiliki konsekuensi kesehatan reproduksi yang serius di luar dampak langsung dari infeksi itu sendiri, misalnya infertilitas atau penularan dari ibu ke anak. Wanita kawin merupakan kelompok yang berisiko tinggi untuk terkena penularan IMS dari pasangannya.Tujuan: melihat gambaran umum kejadian IMS pada wanita kawin usia 15-49 tahun di Indonesia dan variabel-variabel yang memengaruhinyaMetode: Jenis penelitian observasional dengan menggunakan data hasil SDKI 2017. Unit analisis dalam penelitian ini adalah wanita kawin usia 15-49 tahun yang suaminya juga turut diwawancarai. Jumlah sampel yang digunakan adalah sebanyak 8.743 responden. Analisis yang digunakan adalah univariabel, bivariabel dan analisis regresi logistik biner.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 14,1 persen wanita kawin usia 15-49 tahun yang mengalami IMS/gejala IMS di Indonesia tahun 2017. Wanita yang berusia <25 tahun memiliki kecenderungan 1,421 kali untuk mengalami IMS. Kecenderungan wanita yang tidak pernah mendengar IMS 1,416 kali untuk mengalami IMS dibandingkan wanita pernah mendengar IMS. Wanita yang memiliki suami yang melakukan perilaku berisiko memiliki kecenderungan 1,548 kali untuk mengalami IMS.Kesimpulan: Usia wanita, status ekonomi, pernah mendengar IMS, dam perilaku berisiko suami merupakan variabel-variabel yang mempengaruhi kejadian IMS pada wanita kawin.
Pengetahuan dan Sikap Remaja Sekaa Teruna Teruni di Daerah Urban dan Sub Urban tentang Perilaku Seksual Berisiko Moh Fairuz Abadi; Dyah Pradnyaparamita Duarsa
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.51549

Abstract

 Background: Sexual risk behaviors  in teenagers, could be a serious  problems in health. Geographical  clould be influence  knowledge and attitudes. Sekaa Teruna Teruni is a Balinese youth organization, they can be  found in all traditional villages.Objective: The research aim’s  to find out the knowledge and attitudes of Sekaa Teruna Teruni in Urban and Sub Urban areas about risky sexual behavior.Methods: This is an cross-sectional study, respondents are 241 teenagers (15-21 years) sampling methode is consecutive, variables were measured  using a questionnaire that had been tested  before, analysis uses non-parametric mann whitney.Results adn Discussion:The results showed  that p score for  knowledge and attitudes <0.05 its means that there are significant.Conclusion: The level of knowledge and attitudes of respondents at the Urban location is higher, that because  the flow of information and the organizational activities, efforts are needed to increase knowledge and attitudes especially at the Sub-Urban. Keywords: Risky sexual behavior; Sekaa Teruna Teruni. 
Hubungan Anemia Pada Ibu Hamil Dengan Antropometri Bayi Baru Lahir Najwa Sufa Hilwa; Irmiya Rachmiyani; Cipta Pramana
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.51593

Abstract

Latar Belakang: Gangguan kesehatan yang terjadi selama kehamilan dapat mempengaruhi kesehatan janin dalam kandungan hingga kelahiran dan pertumbuhan bayi selanjutnya. Antropometri pada bayi baru lahir dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu anemia pada kehamilan, nutrisi maternal yang kurang, infeksi maternal dan fetal, dan ibu mengandung janin multipel. Anemia pada wanita hamil akan meningkatkan risiko mortalitas dan morbiditas perinatal karena dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan oksigenasi utero plasenta yang menimbulkan gangguan pertumbuhan hasil konsepsi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan anemia pada ibu hamil dengan antropometri bayi baru lahir.Metode: Analisis observasional dengan desain studi potong lintang dengan subjek penelitian ibu hamil yang melahirkan di RS pada bulan Januari 2017 - Juni 2018. Variabel yang dikumpulkan dan akan diteliti adalah kadar Hb trimester III, berat badan bayi lahir, panjang badan bayi lahir, dan lingkar kepala bayi lahir yang diperoleh dari data sekunder yaitu rekam medis.Hasil dan Pembahasan: Total subjek pada penelitian ini adalah 152 subjek, sebagian besar subjek penelitian berusia 26 - 30 tahun (41,4%) dengan ibu tidak anemia sebanyak 105 orang (69,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak ada hubungan antara berat badan bayi baru lahir dengan anemia pada ibu hamil, tidak ada hubungan antara panjang badan bayi baru lahir dengan anemia pada ibu hamil, ada hubungan antara lingkar kepala bayi baru lahir dengan anemia pada ibu hamil.Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan lingkar kepala bayi baru lahir (p = 0,050), tetapi didapatkan tidak terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil dengan berat badan bayi lahir (p = 0,374) dan panjang badan bayi lahir (p = 0,198). Kata Kunci : Anemia; Ibu Hamil; Hemoglobin trimester III; Antropometri bayi
Komplikasi Bedah, Luaran Fungsi Seksual dan Menstruasi dari Prosedur Vaginoplasti Sigmoid pada Pasien dengan Agenesis Vagina Roy Jansen Sinaga; Nuring Pangastuti; Ova Emilia
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.52149

Abstract

Background:  Vaginal agenesis is one form of abnormality found in the uroginecology with a prevalence of 1: 4000 births. Various reconstruction techniques, both non-surgical and surgical, have been introduced, one of which is sigmoid vaginoplasty. Research on the complications and outcomes of sigmoid vaginoplasty procedure is still limited.Objective: To assess surgical complications, sexual and menstrual function outcomes of sigmoid vaginoplasty procedure.Method: This is a prospective study. A total 11 patients with a variety of genital tract malformations have been performed for sigmoid vaginoplasty during January 2017 to January 2019. Data are described descriptively-analytically. All patients were assessed for surgical complications, menstrual and sexual function after surgery.Results and Discussion: A total of 10 cases (90.9%) were diagnosed with vaginal agenesis and 1 case (9.1%) was diagnosed with Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) syndrome. Durante surgery complications are severe bleeding and rectum injury, occurred in 2 cases (18.2%). Postoperative complication is surgical wound dehiscence, occurred in 2 cases (18.2%). All patients who have uterus (100%) showed good menstrual function outcomes. Of the 3 married patients, all patients (100%) showed good postoperative sexual function outcomes (FSFI score 27-30.4). Conclusion: The sigmoid vaginoplasty procedure is an effective procedure for patients with agenesis vaginal. This procedure has low surgical complications with good outcomes of menstrual and sexual function. Keywords: Sigmoid vaginoplasty; vaginal agenesis; menstrual function; sexual function.
Faktor yang Berhubungan dengan Penerimaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim Pascasalin di Samarinda Prima Derry Pella Todungbua&#039;; Ratnasari Dwi Cahyanti; Supriyadi Hari Respati
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.56939

Abstract

Background: Maternal mortality rate (MMR) in Indonesia is 305 per 100.000 live births. The intervention to suppress MMR according to four pillars of Safe Motherhood is reducing the possibility of woman becoming pregnant with Family Planning. The postpartum period is an important time to start, but underutilized. All contraceptive methods may be used, but the high rate of drop-out in non-long-term methods, counselling is directed to long-term methods like IUD.Objective: To determine factor that related postpartum IUD acceptance in Samarinda.Method: The research method is observational with cross sectional design. Sampling is done by purposive sampling. Data were obtained through questionnaire.Result: There was no significant association between age (p=0.438), parity (RR=0.7; p=0.077), education (RR=1.11; p=0.611), and income (RR=0.69; p=0.105)  with acceptance of postpartum IUD. Employment (RR=1.64; p=0.025), history of family planning counselling (RR=3.37; p<0.001), and husband's approval (RR=28.8; p=<0.001) have significant association with the acceptance of postpartum IUD.Conclusion: Age, parity, education, and income are not related factors of postpartum IUD acceptance, while employment, husband's approval, and history of family planning counselling are related factors of postpartum IUD acceptance in Samarinda.Keywords: Postpartum IUD, family planning counselling, husband's approval.           
Luaran Transfer Embrio Simpan Beku pada Pasien Endometriosis Pasca Operasi dan Non Endometriosis yang Menjalani IVF di Klinik Permata Hati RSUP Dr. Sardjito Rina Fatmawati; Shofwal Widad; Agung Dewanto
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.56940

Abstract

Background: Endometriosis is a chronic condition that is influenced by the hormone estrogen which affects women of childbearing age, and is associated with pelvic pain and infertility. In Vitro Fertilization (IVF) is currently the most efficient assisted reproductive technology and its high success rate is often done for infertility therapy in women associated with endometriosisObjective: The aim of this study is to determine whether postoperative endometriosis affected pregnancy outcomes in patients underwent frozen embryo transfer in IVF / ICSI programs.Method: This Research is done with a retrospective cohort design. The data was taken from medical records, research subjects who met the inclusion and exclusion criteria. The research data was collected, processed and analyzed using SPSS 23. Univariate, bivariate and multivariate data analysis was carried out to determine the effect between variablesResult: There were 458 research subjects in this study. Endometriosis patients were 119 subjects (26%). 57 subjects were categorized as minimum-mild endometriosis (47.9%) and moderate-severe subjects as many as 62 subjects (52.1%). The biochemical pregnancy rate (36.31%) and clinical pregnancy (29.4%) in patients with endometriosis was slightly higher than in non-endometriosis. But statistically it did not affect success rate of achieving biochemical (p = 0.428; RR 0.89; 95% CI: 0.71-1.24) and clinical pregnancy (p = 0.535; RR 0.883; 95% CI: 0.63- 1.22). The rate of miscarriage in postoperative endometriosis patients was higher than non-endometriosis patients (88.6% vs 80.7%) but was not statistically significant (p = 0.294; RR 1.69; 95% CI: 0.61-4.67) . Biochemical and clinical pregnancies were significantly affected by age, infertility, endometrial thickness, embryo age and embryo quality. The incidence of miscarriage was affected by the ovarian stimulation protocol.Conclusion: Endometriosis post operative statistically has no effect on pregnancy outcomes in the IVF / ICSI cycle with frozen embryo transfer compared with another cause of infertility .Keywords:Endometriosis, In Vitro Fertilization, Clinical pregnancy, biochemical pregnancy, miscarriage
Perbandingan Angka Ketahanan Hidup Penderita Kanker Ovarium yang Mendapat Terapi Regimen Kemoterapi Paclitaxel-Carboplatin dan Vyclophosphamide-Adriamycin-Cisplatin di RSUP Dr. Sardjito: Studi retrospektif Januari 2014-Desember 2018 Choery Novitasari; Ahsanuddin Attamimi; Heru Pradjatmo
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.57002

Abstract

Latar Belakang: Kanker merupakan penyebab kematian kedua terbanyak setelah penyakit kardiovaskular dan lebih dari 70% kematian yang disebabkan oleh kanker terjadi di negara berkembang. Kanker ovarium merupakan kanker terbanyak kesembilan pada wanita dan menjadi kanker dengan mortalitas ke-5 terbanyak, yaitu 8,6 per 100.000.Tujuan: Menilai angka ketahanan hidup penderita kanker ovarium yang diberikan kemoterapi dengan regimen Paclitaxel- Carboplatin dibandingkan dengan regimen Cyclophospamide-Adriamicyn-Cisplatin di RSUP Sardjito.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan studi analisis angka ketahanan hidup (survival rate) dari penderita kanker ovarium. Data akan diambil secara retrospektif dari rekam medis pasien kanker ovarium yang berobat ke RSUP dr. Sardjito kemudian ditelusuri riwayat kematiannya.Hasil dan Pembahasan: Terdapat 353 penderita kanker ovarium yang dilakukan kemoterapi, terdiri dari 265 subjek yang diterapi PC dan 88 subjek yang diterapi dengan CAP. Dari analisis bivariat didapatkan bahwa regimen kemoterapi PC dan CAP tidak memengaruhi angka ketahanan hidup (HR=1,15, p=0,64, CI95%=0,64-2,05).Usia <50 tahun (HR=0,42, p=0,01, CI95%=0,23-0,77), stadium klinis awal (HR=0,27,   p=0,00,   CI95%=0,14-0,49), dan CA125 pasca kemoterapi <70 U/mL (HR=0,21,        p=0,00,      CI95%=0,11-0,41) merupakan faktor protektif terhadap angka ketahanan hidup penderita kanker ovarium. Analisis multivariat dengan angka ketahanan hidup (cox’s regression) menunjukkan bahwa faktor yang dapat meningkatkan angka ketahanan hidup adalah stadium klinis awal (HR=0,45,   p=0,04,   CI95%=0,18-0,91)  dan CA125 pasca kemoterapi (HR=0,33, p=0,01, CI95%=0,15-0,74).Kesimpulan: Tidak ada perbedaan bermakna antara regimen kemoterapi PC dan CAP dengan angka ketahanan hidup penderita kanker ovarium yang dirawat di RSUP dr. Sardjito selama tahun 2014-2018. Faktor- faktor yang dapat meningkatkan angka ketahanan hidup pasien kanker ovarium adalah stadium klinis awal dan CA125 pasca kemoterapi <70 U/mL. Kata Kunci: Angka ketahanan hidup; kanker ovarium; regimen paclitaxel dan carboplatin; regimen cyclophosphamide, adriamycin, cisplatin 
Faktor-faktor yang Mendukung dan Menghambat Dilakukannya Versi Luar pada Kehamilan dengan Presentasi Bokong di Yogyakarta I Made Pariartha; Rukmono Siswishanto; Nuring Pangastuti
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.59811

Abstract

Background: Guidelines recommend that external cephalic version (ECV) should be offer to all women with fetus in breech presentation at term. Many literature show external cephalic version can lowering c-section rate caused by breech presentation.Objective: To explore the determinants (barriers and facilitators) affecting obstetricians and gynaecologists to do external cephalic version at Yogyakarta.Method: Explanatory mixed methods design with quantitative-qualitative model. Survey with validated questionnaire and in-depth interview with semi-structured question was done January 2019 until August 2019.Results and Discussion: 72 respondents (83.7%) was responded to questionnaire and in-depth interview was done to 12 respondents. Adherence to ECV guideline was varied: counselling (20.8%), advising for ECV (15.3%), and arranged for ECV to for (almost) all their clients (16.6%). Although 76.4% of respondents considered ECV to be an effective treatment for preventing caesarean childbirth, only 18.1% respondents agreed that every client with breech presentation should undergo ECV. Self-efficacy was the most important determinant influencing adherence. In-depth interview shows several determinants to performed or did not performed ECV: skill of clinicians, guideline for ECV, facility to emergency c-section, ECV characteristic, cost, other methods for breech presentation, perception about ECV in lowering c-section rate, perceived ECV risk and patient preferences.Conclusion: Most respondents agreed that ECV was effective intervention to reduce caesarean childbirth, but adherence to counselling, advising and arranging ECV for clients still very low. Several determinants influenced obstetrician and gynaecologists to perform or did not perform ECV.Keywords: External cephalic version; breech presentation; determinants.
Hubungan antara Preeklampsia Berat Awitan Dini dengan Pertumbuhan Janina Terhambat pada Pasien Preeklamsia Beratdi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Miftakhul Muslichah; Shinta Prawitasari; Irwan Taufiqur Rachman
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.59812

Abstract

Latar      Belakang: Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT) merupakan salah satu komplikasi janin yang sering terjadi pada pasien Preeklamsia Berat (PEB) dan eklamsia. Angka kejadian PEB awitan dini berkisar 5-20% dari keseluruhan kasus preeklamsia yang berhubungan dengan neonatal morbiditas dan mortalitas, dimana angka kejadian PJT sendiri berkisar 3-7%, sedangkan angka kejadian PEB awitan lanjut sebesar 75-80% dari keseluruhan kasus preeklamsia yang berhubungan dengan maternal morbiditas.Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara PEB awitan dini dan kejadian PJT di rumah sakit Sardjito Yogyakarta.Metode: rancangan penelitian adalah cross sectional study Populasi penelitian adalah pasien preeklamsia dengan janin tunggal yang lahir di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta tahun 2013-2015. Sampel penelitian adalah pasien PEB berjumlah 135 subyek, PEB awitan dini 105 subyek, dan awitan lanjut 30 subyek. Uji chi square digunakan untuk menghitung prevalensi PJT pada PEB awitan dini dan lanjut. Stratifikasi mantel-haneszel dilakukan untuk menilai variabel perancu. Multivariat menggunakan regresi logistik.Hasil dan Pembahasan: subyek dengan PEB awitan dini adalah 51 subyek (48,57%) yang mengalami PJT sedangkan awitan lanjut adalah 7 subyek (23,33%). Subyek dengan PEB awitan dini dan preeklamsia genuine memiliki prevalensi PJT lebih tinggi RP (CI 95%)=2,453 (1,170-5,141) dan p=0,007. Prevalensi PJT pada PEB awitan dini, OR (CI95%)=3,257 (1,244-8,530) dan p=0,016; usia OR (CI 95%)=0,488 (0,202–1,178) dan p=0,111; paritas OR (CI 95%)=1,159 (0,461–2,912) dan p=0,11; jenis PE OR (CI 95%)=0,730 (0,294–1,814) dan p=0,498; dan derajat proteinuria OR (CI 95%)=0,955 (0,464–1,968) dan p=0,901. Kesimpulan: PEB awitan dini mempunyai hubungan yang signifikan dengan PJT. Kata kunci: PEB; PEB awitan dini; PEB awitan lanjut; PJT.

Page 1 of 1 | Total Record : 9